Demi membalas kehancuran masa depan putranya oleh Ratu Komunitas yang tak tersentuh, seorang mantan konsultan branding melakukan balas dendam sosial dan intelektual dengan meruntuhkan reputasi musuhnya di mata para ibu elit.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yukipoki, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Data dan Pemanasan Grup
Pagi hari setelah penyusupan ke Ruang Arsip, Kota Jakarta terasa seperti berdetak dengan ritme yang asing bagi Nadia. Dia menghabiskan sebagian besar malamnya menganalisis file data e-mail Kirana di laptopnya, sambil sesekali melirik Aksa yang tidur nyenyak di kamarnya. Aksa adalah jangkar moralnya, pengingat konstan mengapa ia harus meninggalkan etika lama dan memeluk strategi kotor.
Di Grup WA Inner Circle yang ia dan Rina targetkan, efek surat anonymous tentang bullying Rio telah mencapai puncaknya. Ponsel Rina pasti berdering tanpa henti semalaman, dipenuhi pesan simpati dan kemarahan diam-diam terhadap Ibu-Ibu Penindas yang anaknya terlibat.
Simpati pada Rina adalah transfer kekuasaan yang Nadia harapkan. Rina, si Ibu Beta yang lemah, kini menjadi korban yang dicintai oleh komunitas.
Nadia memposisikan dirinya di dapur, menikmati kopi yang dingin, seolah-olah ia hanya seorang ibu rumah tangga biasa. Ia membuka Grup WA Elite Moms—grup yang merupakan benteng Kirana.
[Kirana Widjaja]: "Pagi, Moms! Jadwal untuk Gala Dinner sudah final. Kita harus tampilkan kesatuan yang sempurna. Tolong jangan biarkan issue kecil dan gossip murahan dari luar mengganggu fokus kita."
Nadia melihat bagaimana Kirana dengan cepat mencoba menenangkan air yang keruh, meremehkan bullying sebagai "isu kecil" dan "gossip murahan". Ia sedang melakukan damage control secara branding, mencoba menambal retakan di temboknya.
[Ibu Siska]: "Tepat, Bu Kirana. Mereka yang menyebar drama hanya iri pada kesatuan kita."
[Ibu Vanya]: "Kasihan sekali yang membesar-besarkan masalah anak kecil. Memalukan. Kita adalah orang dewasa."
Nadia memperhatikan balasan itu. Mereka adalah balasan yang diprogram; cepat, tegas, dan menolak mengakui keberadaan masalah. Ini menunjukkan bahwa ketakutan di grup itu lebih besar daripada keinginan akan kebenaran. Nadia tahu ia tidak bisa menyerang frontal di sini. Ia harus menyerang aset emosional Kirana, sesuatu yang Kirana anggap tak tersentuh.
***
Aset emosional Kirana, yang paling rentan, adalah Yayasan Tangan Emas.
Nadia membuka file yang ia curi tadi malam: "Dana Peningkatan Kualitas Yayasan Tangan Emas." Kirana adalah Ketua Kehormatan Yayasan yang fokus pada pendidikan anak yatim. Di setiap acara, Kirana selalu menekankan kontribusinya, membangun citra angel amal.
Dalam korespondensi e-mail internal Kirana dengan akuntan suaminya, Nadia menemukan sebuah pola. Kirana terus menerus menekankan "pengurangan dana operasional demi memaksimalkan donasi untuk anak-anak." Sebuah narasi yang indah dan mulia.
Namun, Nadia menemukan satu e-mail yang ia temukan semalam, dikirim Kirana kepada akuntan suaminya: —'Pastikan donasi kita ke Yayasan Tangan Emas tahun ini mencapai 5 Miliar. Itu penting untuk tax deduction dan publikasi. Tapi sisakan 3% untuk dana operasional Komite, tanpa dicantumkan di laporan publikasi. Kebutuhan branding kita lebih penting daripada biaya administrasi yayasan.'—
Tiga persen dari 5 Miliar, yaitu 150 Juta Rupiah. Dana yang seharusnya dialokasikan untuk kepentingan langsung anak-anak yatim piatu, dialihkan ke dana taktis Komite untuk membiayai branding Kirana—mungkin untuk membeli goodie bag mewah atau membiayai display bunga di acara Komite.
Ini bukan korupsi kriminal, karena dana itu tetap berputar di lingkaran mereka, tetapi ini adalah pengkhianatan moral yang sempurna. Menggunakan amal sebagai kendaraan citra pribadi, mengorbankan penerima manfaat demi branding publik. Inilah yang akan menghancurkan Kirana di mata para donatur utama dan ibu-ibu yang memujanya.
***
Nadia memutuskan serangan pertamanya adalah: Kampanye Kebocoran Data (Data Leak Campaign).
Ia tidak akan memublikasikan e-mail itu, karena itu akan mengarah langsung padanya. Nadia akan memublikasikan data yang sudah terdistorsi sedemikian rupa sehingga Kirana harus berjuang untuk menyanggahnya, tanpa bisa menuduh Nadia.
Ia merancang sebuah pesan yang singkat dan ambigu, ditujukan kepada tiga donatur utama Yayasan yang Kirana selalu banggakan, termasuk Ibu Nina (pemilik butik yang diam di Grup WA). Nadia menggunakan e-mail sekali pakai yang sangat terenkripsi.
Isi pesan itu hanya terdiri dari satu kalimat, dikirim dari alamat yang tidak terdeteksi: —'Tolong cek laporan alokasi dana operasional Yayasan Tangan Emas. Ada selisih 3% yang dialokasikan untuk kebutuhan yang tidak ada hubungannya dengan anak-anak. Cek sebelum Gala Dinner.'—
Itu saja. Nadia tidak menyertakan bukti. Ia hanya menanam benih keraguan. Donatur elit seperti mereka, yang sangat sensitif terhadap tax deduction dan publikasi, pasti akan panik. Mereka akan memulai penyelidikan internal mereka sendiri.
***
Nadia meletakkan ponselnya. Kini ia harus mengamankan simpul loyalitas dari Rina.
Ia menelepon Rina, suaranya hangat dan simpatik.
"Bu Rina, bagaimana kondisi Rio hari ini? Saya lihat pesan itu menyebar sangat cepat semalam."
Suara Rina terdengar lelah, namun bersemangat. "Bu Nadia, itu luar biasa! Rio hari ini mau sekolah. Anak-anak yang menindasnya mulai terdiam di grup. Orang tua mereka pasti melihat pesan itu. Saya merasa sangat kuat. Terima kasih banyak, Bu Nadia, Anda menyelamatkan Rio."
Nadia memanfaatkan momen itu. "Senang mendengarnya, Bu Rina. Saya harus jujur, saya melakukan itu untuk Rio karena saya tahu rasanya. Saya ingin membantu Anda sepenuhnya, Bu. Anda adalah orang yang saya percaya di Komite ini."
Rina, yang tidak terbiasa dengan kepercayaan tulus, terdengar sangat terharu. "Apa pun yang Anda butuhkan, Bu Nadia. Termasuk soal Ruang Arsip, itu urusan Anda."
"Terima kasih, Bu Rina," kata Nadia, suaranya berubah menjadi sedikit lebih serius. "Soal arsip itu, saya menemukan sesuatu. Kirana menyembunyikan berkas lama. Berkas itu menunjukkan dia melakukan hal-hal yang tidak etis, Bu Rina. Saya butuh bantuan Anda untuk tetap diam dan tidak menunjukkan curiga. Jika dia tahu saya punya akses ke data, dia akan menghancurkan kita berdua."
Nadia tidak berbohong. Ia hanya memilih kebenaran yang bisa ia sampaikan. Rina, yang sudah terikat secara emosional dan takut pada Kirana, langsung menyetujui. "Saya akan diam. Saya percaya Anda, Bu Nadia. Kirana sudah keterlaluan."
Nadia telah berhasil mengubah Rina dari mole yang tidak sengaja menjadi sekutu yang bersumpah setia dalam kerahasiaan. Nadia kini memiliki mata dan telinga di lingkaran terdalam Kirana, yang akan melaporkan setiap kepanikan yang disebabkan oleh serangan data leak yang baru saja ia luncurkan.
Sore harinya, saat Komite mengadakan rapat dadakan untuk membahas seating chart Gala Dinner, Kirana terlihat sedikit tegang. Wajahnya yang biasanya sempurna menunjukkan sedikit kelelahan di bawah riasan.
Di tengah rapat yang membahas harga table cloth, ponsel Kirana bergetar keras dengan nada dering pribadi. Kirana mengabaikannya. Lima detik kemudian, bergetar lagi, kali ini nada yang lebih formal.
Kirana meminta izin, wajahnya pucat. Ia keluar ruangan.
Nadia memperhatikan Rina. Rina menghindari kontak mata dengannya, tetapi jari-jarinya mengetuk meja dengan gugup. Itu adalah sinyal bahwa sesuatu yang besar sedang terjadi.
Nadia tersenyum kecil ke arah Rina. Data leak telah mendarat. Kirana telah menerima panggilan dari salah satu Donatur utama yang menanyakan tentang "selisih 3%" yang ambigu itu. Serangan pertama Nadia telah berhasil.
Ia menunggu. Balas dendam terbaik adalah yang membuat musuh menghancurkan diri mereka sendiri karena panik.