Warning 21+ guys ... harap cek umur dulu sebelum baca.
***
Arya seorang Presdir di sebuah perusahaan terjebak pesona sekretaris pribadinya sendiri yang setiap hari sering berinteraksi dengannya.
Suatu hari mereka terpaksa tinggal satu kamar dan tidur satu ranjang. Bisakah Arya bertahan dengan godaan ranjang dari sekretaris mudanya itu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Puryani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
17. Tanggung, Mas!
"Mas Arya!" seru Nisa yang dia buat seperti orang yang panik agar kedua orang di dalam ruangan tidak curiga padanya bahwa sebenarnya dia telah mengetahui perselingkuhan antara Arya dan Anna.
"Aku panggil OB ya buat dobrak pintu kantor kamu!" umum Nisa. "Aku takut kamu kenapa-kenapa di dalam."
"Tidak usah!" sahut Arya dari dalam ruangan. "Aku tidak apa-apa, Nis. Hanya sedang menyembunyikan dokumen penting dan rahasia saja," dustanya.
"Beneran, Mas?" tanya Nisa yang dia buat agar terdengar seragu mungkin.
"Iya, Sayang!" jawab Arya yang langsung dipelototi oleh Anna yang cemburu saat lelaki dewasa itu mengucapkan kata sayang pada istri sahnya.
"Maaf, aku nggak sengaja bikin kamu cemburu," bisik Arya pada Anna yang sedang badmood. "Aku sengaja manggil Nisa dengan sebutan sayang agar dia nggak curiga."
"Iyain aja lah," sahut Anna yang suaranya kentara sekali sedang cemburu.
Saat Arya berusaha melepaskan diri dari dalam tubuh Anna, wanita cantik itu menghentikan gerakannya.
"Mas, tanggung," rajuk Anna manja yang malah mendekatkan kembali tubuhnya pada tubuh Arya.
"Tapi Nisa udah nungguin di depan."
"Bilang aja kalau banyak berkas yang harus diperiksa dan disimpan ke dalam brangkas," saran Anna. "Kita lanjut lagi ya sampai kita sampai ke puncak. Nggak enak juga kalau berhenti sebelum sampai *******," rayu wanita itu yang kini mulai berinisiatif memulai gerakan lebih dulu.
"Baiklah," jawab Arya yang setuju dengan saran Anna. Lagi pula alasan yang diajukan oleh selingkuhannya itu masuk akal sekali.
Anna dan Arya pun melanjutkan aktivitas panas mereka sambil menahan diri agar tidak menimbulkan suara-suara aneh.
"Mas!" seru Nisa yang sudah tidak sabar ingin dibukakan pintu. "Kok lama banget sih?"
"Tunggu se-bentar, Sayang! Ma-sih banyak berkas yang ha-rus aku masukan," jawab Arya beralasan.
Padahal tidak ada berkas yang sedang dia masukan ke dalam brangkas, justru adik kecilnya yang sedang dia masukan berulang kali ke dalam diri Anna yang ada di atas pangkuannya.
Nisa yang ada di luar dibuat penasaran karena pintu itu lama sekali terbuka.
"Kenapa lama sekali," gumamnya yang kini mulai mendekat lagi ke arah jendela kaca.
"Astagfirullah, Mas," lirih Nisa kaget yang sungguh tidak menyangka suaminya malah melanjutkan aktivitas panasnya padahal di depan pintu ada istri sahnya.
"Sungguh binatang kalian berdua. Bisa-bisanya malah terus melanjutkan perzinahan itu." tangan Nisa terkepal kuat karena rasa marah di dalam hatinya yang sungguh tidak terperi.
Puncak dari aktivitas panas suaminya dan selingkuhannya itu pun Nisa lihat dengan kedua matanya sendiri.
"Bisa-bisanya kalian masih sempat tersenyum satu sama lain di saat genting seperti ini," lirih Nisa dengan mata berkaca-kaca.
Deg ....
Hati Nisa terasa diremas kuat oleh sebuah tangan yang tak kasat mata saat dia melihat Arya suaminya mengecup kening Anna dengan pandangan mata penuh cinta dan gerakan bibir Arya yang mengucapkan terimakasih pun bisa Nisa baca dari kejauhan.
"Makasih ya, Sayang. Permainan kamu selalu memuaskan dan bikin nagih. Aku sayang dan cinta banget sama kamu," ucap Arya yang diakhiri dengan kecupan singkat di bibir Anna.
"Kamu juga selalu bikin aku merasa puas, Mas," puji Anna.
Di dekat jendela Nisa masih terus memperhatikan, "Aku kira kamu itu orang yang datar-datar aja, Mas," lirih Nisa. "Makanya sewaktu kamu langsung ninggalin aku, aku maklum, tapi ternyata ...."