Di kantor, Arkananta Dewangga adalah CEO dingin yang bicara seformal buku pelajaran. Namun saat malam tiba, ia adalah "Nightshade", penulis novel dewasa populer dengan imajinasi paling liar.
Rahasia besar itu runtuh saat sekretarisnya, Saffiya "Sia" Adhisti, menemukan draf novelnya dan memberi kritik pedas: "Adegan ini kaku sekali, Pak. Kurang rasa!"
Terpojok karena writer's block, Arkan memaksa Sia menjadi "Konsultan Riset". Sia harus membantu Arkan memahami sensasi nyata demi kelanjutan bab novelnya. Dari diskusi di ruang rapat hingga eksperimen rasa di apartemen pribadi, batasan profesional mulai kabur.
Di hadapan publik, Arkan tetaplah CEO yang tak tersentuh. Namun di balik pintu tertutup, Sia menyadari bahwa bosnya jauh lebih panas dari semua karakter yang pernah ia tulis.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wie Arpie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Aroma Sayur Asem
Sabtu siang itu, Jakarta sedang terik-teriknya. Sia menatap pantulan dirinya di kaca spion mobil Arkan untuk yang kesepuluh kalinya. Hari ini ia tampil sangat sederhana—hanya celana kain longgar dan kemeja katun berwarna biru langit. Tidak ada gaun midi pilihan Bu Ratna, tidak ada sanggul modern. Ia ingin Arkan melihat dunianya yang apa adanya, dunia yang selama ini ia sembunyikan di balik gedung-gedung pencakar langit tempat mereka bekerja.
Di kursi kemudi, Arkan tampak jauh lebih santai. Ia hanya mengenakan kemeja polo berwarna gelap yang lengannya digulung sedikit. Namun, tetap saja, aura "CEO Dewangga" itu tidak bisa hilang sepenuhnya. Mobil mewah yang mereka tumpangi terasa sedikit mencolok saat memasuki gang perumahan di daerah pinggiran yang jalannya hanya cukup untuk dua mobil berpapasan.
"Jalannya agak sempit, Kan. Kamu yakin nggak mau parkir di depan minimarket tadi?" tanya Sia cemas melihat spion mobil Arkan yang hampir bersenggolan dengan jemuran warga.
"Tenang saja, Sia. Yang penting kita sampai tepat waktu," jawab Arkan tenang, seolah ia sudah biasa masuk ke gang sempit setiap harinya.
Begitu sampai di depan sebuah rumah berpagar hijau dengan pohon mangga yang rimbun di halamannya, jantung Sia berdegup dua kali lebih cepat. Di teras rumah, seorang pria paruh baya dengan kaos oblong dan sarung yang diselempangkan di bahu sedang duduk sambil memegang koran. Itu Ayah Sia.
"Itu Ayah," bisik Sia.
Arkan mematikan mesin mobil, lalu menatap Sia. Ia meraih tangan wanita itu, meremasnya lembut.
Begitu mereka turun, Ayah Sia—Pak Gunawan—langsung berdiri. Matanya menyipit, mencoba mengenali siapa pria tinggi tegap yang turun dari mobil mengkilap itu.
"Ayah," sapa Sia sambil menghampiri dan mencium tangan ayahnya.
"Wah, sudah sampai," jawab Pak Gunawan. Matanya beralih ke Arkan yang kini berdiri di samping Sia.
"Selamat siang, Om. Saya Arkan," Arkan membungkuk hormat dan menyalami Pak Gunawan dengan sangat sopan. Sia sempat khawatir Arkan akan bersikap kaku seperti saat bertemu klien, tapi ternyata pria itu cukup pandai menempatkan diri.
"Siang, siang. Ayo masuk. Maaf ya, rumahnya agak berantakan. Ini si Ibu lagi di dapur," ujar Pak Gunawan sambil mempersilakan mereka masuk.
Suasana di dalam rumah langsung berubah riuh. Dari arah dapur, muncul seorang wanita yang usianya mungkin beberapa tahun lebih muda dari almarhumah ibu Sia. Itu adalah Ibu Tiri Sia, ditemani seorang remaja laki-laki yang sedang asyik dengan ponselnya—Doni, adik tirinya.
"Eh, Sia sudah sampai. Ini siapa, Sia? Ganteng banget, kayak artis," seru Ibu Tiri Sia dengan gaya yang sedikit heboh.
"Ini Arkan, Tante. Pacar Sia." jawab Sia malu-malu.
Arkan kembali bersalaman dengan sopan. Sia memperhatikan bagaimana Arkan tetap tenang meskipun Ibu Tirinya mulai memberondong dengan pertanyaan khas ibu-ibu—mulai dari kerja di mana, tinggal di mana, sampai merek mobilnya apa.
"Sudah, Bu, jangan ditanya-tanya terus. Biar mereka duduk dulu," tegur Pak Gunawan. "Sia, bantu Ibu di dapur sana. Biar Ayah ngobrol sama Arkan di sini."
Sia melirik Arkan dengan tatapan 'kamu nggak apa-apa ditinggal sendiri?'. Arkan hanya mengangguk kecil, memberikan kode bahwa ia baik-baik saja.
Di dapur, aroma sayur asem yang segar mulai menusuk hidung. Sia membantu memindahkan tempe goreng dan sambal terasi ke piring.
"Sia, itu beneran calon kamu? Kelihatannya orang kaya banget ya? Kerja di mana sih dia?" bisik Ibu Tirinya sambil mengulek sambal.
"Dia punya usaha sendiri, Tan," jawab Sia singkat, tidak ingin menyebutkan jabatan CEO karena pasti akan makin heboh.
"Pantesan, mobilnya aja mewah begitu. Kamu pinter ya cari calon. Tapi dia orangnya baik, kan? Nggak galak?"
Sia tersenyum kecil teringat betapa "galak" dan kakunya Arkan di kantor. "Dia baik banget, Tan. Sangat menghargai Sia."
Sia sesekali melongok ke ruang tamu. Ia melihat Ayahnya dan Arkan sedang mengobrol serius. Ia khawatir Ayahnya akan menanyakan hal-hal yang membuat Arkan tidak nyaman. Namun, yang ia lihat justru sebaliknya. Arkan tampak mendengarkan cerita Ayahnya tentang hobi berkebun mangga dengan wajah yang serius—wajah yang sama saat ia mendengarkan laporan keuangan bulanan.
Tak lama kemudian, Doni, si adik tiri yang tadinya cuek, mulai ikut nimbrung. Sepertinya Arkan sedang menjelaskan sesuatu tentang game atau teknologi di ponsel Doni. Sia lega melihat Arkan bisa mencairkan suasana di rumah yang selama ini ia anggap "asing".
Makan siang pun dimulai. Mereka duduk lesehan di ruang tengah yang tidak terlalu luas. Di hadapan mereka tersedia sayur asem, ikan asin, tempe goreng, dan sambal terasi—menu yang sangat kontras dengan steak premium dan anggur merah di rumah Dewangga semalam.
Arkan tampak tidak ragu sama sekali. Ia menyiduk sayur asem ke piringnya dengan lahap.
"Gimana, Nak Arkan? Masakan Ayah Sia enak nggak?" tanya Pak Gunawan.
Arkan menyeruput kuah sayur asem itu, lalu matanya berbinar. "Ini enak sekali, Om. Segar. Saya jarang sekali bisa makan sayur asem yang rasanya seenak ini."
"Wah, kalau suka tambah lagi, jangan malu-malu. Sia bilang kamu itu sibuk sekali ya di kantor?"
Arkan meletakkan sendoknya sejenak. "Iya, Om. Kebetulan tanggung jawab di kantor memang lumayan besar. Tapi sejak ada Sia, semuanya jadi lebih mudah. Sia itu... asisten sekaligus orang yang paling mengerti saya."
Sia tersipu, sementara Ayahnya mengangguk-angguk. "Sia itu anaknya mandiri, Arkan. Sejak Ibunya meninggal, dia apa-apa sendiri. Ayah sebenarnya sedih waktu dia mutusin tinggal sendiri, tapi Ayah tahu dia butuh ruang."
Suasana mendadak menjadi sedikit melankolis. Sia menatap Ayahnya, lalu beralih ke Arkan.
"Om," Arkan membuka suara, kali ini dengan nada yang jauh lebih serius. "Tujuan saya ke sini, selain untuk bersilaturahmi, saya ingin meminta izin secara resmi kepada Om. Saya serius dengan Sia. Saya ingin menjaga Sia, bukan cuma sebagai rekan kerja, tapi sebagai pendamping hidup saya."
Hening sejenak. Ibu Tiri Sia berhenti mengunyah, Doni mendongak dari ponselnya. Pak Gunawan menatap Arkan dalam-dalam, mencari kejujuran di mata pria itu.
"Arkan," ujar Pak Gunawan tenang. "Ayah nggak butuh menantu yang kaya raya atau punya jabatan tinggi. Ayah cuma mau Sia bahagia. Sia sudah melewati banyak masa sulit sendirian. Kalau kamu bisa janji untuk nggak bikin dia merasa sendirian lagi, Ayah kasih izin."
Arkan mengangguk mantap. "Saya janji, Om. Sia adalah rumah tempat saya pulang. Saya tidak akan pernah membiarkannya merasa sendirian lagi."
Sia merasakan matanya memanas. Rasa canggung yang selama ini ia rasakan di rumah ini perlahan menguap, digantikan oleh kehangatan yang nyata. Ternyata, selama ini pintunya selalu terbuka, ia hanya terlalu takut untuk mengetuknya kembali sampai Arkan datang dan membantunya membuka pintu itu.
Sore harinya, sebelum mereka pulang, Pak Gunawan mengajak Arkan ke halaman depan untuk memetik mangga yang sudah matang.
"Bawa ini buat Ibu kamu di rumah, Arkan. Bilang ini mangga asli dari pohon Ayah Sia," ujar Pak Gunawan sambil memasukkan mangga ke dalam plastik.
"Terima kasih banyak, Om. Pasti Mama suka sekali," sahut Arkan tulus.
Saat mereka sudah di dalam mobil dan hendak berangkat, Sia melambaikan tangan kepada Ayah, Ibu Tiri, dan adiknya. Ia melihat Ayahnya tersenyum lebar—senyum yang jarang ia lihat sejak Ibunya meninggal.
Di perjalanan pulang, Sia bersandar di pundak Arkan. "Makasih ya, Kan. Aku nggak nyangka kamu bakal seakrab itu sama Ayah."
"Ayah kamu orang yang hebat, Sia. Beliau sangat menyayangimu dengan caranya sendiri," Arkan mengusap rambut Sia. "Dan sayur asemnya... aku beneran nggak bohong, itu enak banget. Kita harus belajar resepnya nanti kalau sudah punya dapur sendiri."
Sia tertawa. "Kamu mau masak sayur asem?"
"Kenapa nggak? Nightshade saja bisa nulis cerita cinta, masa Arkananta nggak bisa bikin sayur asem?" goda Arkan.
Sia tersenyum lebar. Ia merasa bebannya benar-benar terangkat. Rahasia besar Arkan sebagai Nightshade tetap terjaga, keluarga besar Dewangga sudah menerimanya, dan kini hubungannya dengan Ayahnya pun mulai membaik.
Sia menatap keluar jendela, melihat gedung-gedung Jakarta yang mulai menyala di bawah langit senja. Ia tahu, perjalanan mereka ke depan mungkin masih akan menemui banyak tantangan—mulai dari gosip kantor hingga persiapan pernikahan yang pasti melelahkan. Namun, dengan Arkan di sampingnya, ia tidak lagi takut pada apa pun.
"Kan," panggil Sia pelan.
"Hmm?"
"Aku sayang kamu."
Arkan menoleh sekilas, memberikan senyum paling manis yang pernah Sia lihat. "Aku lebih sayang kamu."