NovelToon NovelToon
Oops! Teman Kontrakanku Dosen Paling Hot Di Kampus

Oops! Teman Kontrakanku Dosen Paling Hot Di Kampus

Status: sedang berlangsung
Genre:Dosen / Beda Usia / Cinta Seiring Waktu / Kehidupan di Sekolah/Kampus
Popularitas:1.6k
Nilai: 5
Nama Author: Aliska Rosemary

Paris seharusnya menjadi mimpi indah bagi Kiandra Zanitha. Namun, karena kecerobohan agen properti dan aturan Clause de Solidarité yang menjerat, mimpi itu berubah menjadi jerat yang menyesakkan. Kiandra terpaksa berbagi apartemen sempit di Rue de Rivoli dengan seorang pria asing yang langsung mengacaukan kewarasannya sejak hari pertama.


Pertemuan pertama mereka adalah bencana yang memalukan: sebuah handuk yang melorot, tubuh atletis yang basah, dan tatapan hazel yang seolah mampu menelanjangi rahasia terdalam Kiandra. Namun, kejutan sebenarnya baru dimulai saat fajar tiba. Pria provokatif yang melihatnya tersipu malu di dapur itu ternyata adalah Enzo Romano—dosen senior di Le Cordon Bleu sekaligus pakar kuliner yang memegang kendali atas masa depan studinya.


Di kampus, Enzo adalah otoritas yang dingin dan disiplin. Di apartemen, dia adalah pria yang gemar menguji batas kesabaran—dan iman—Kiandra. Di antara uap mentega di dapur dan denting gelas wine, garis antara dosen dan teman s

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aliska Rosemary, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 14: Rahasia yang Terendus

Empat pasang mata itu tidak berkedip. Mereka menatap Kiandra dengan intensitas yang sanggup membuat nyali seorang terpidana mati menciut seketika. Di bawah siraman lampu neon ungu yang berkedip ritmis, meja bundar di sudut penthouse itu mendadak berubah menjadi kursi pesakitan di ruang interogasi paling kejam di Paris.

Diya Kapoor mengetuk-ngetukkan kuku panjangnya yang berpoles merah darah di atas meja kaca. Suara tik... tik... tik... itu terdengar seperti detak bom waktu di telinga Kiandra.

"Jadi, Kiandra Zanitha?" Diya memulai, suaranya rendah namun tajam, membelah kebisingan musik deep house yang berdentum di sekitar mereka. "Kenapa Chef Romano tadi sampai mengangkat gelas ke arahmu? Apa hubunganmu sebenarnya dengan dia?"

Kiandra menelan ludah dengan susah payah. Tenggorokannya terasa seperti baru saja menelan segenggam pasir gurun. Ia meremas clutch kecilnya kuat-kuat, merasakan jemarinya mendadak lembap oleh keringat dingin yang merembes keluar.

"Hubungan apa?" Kiandra mencoba tertawa, namun suaranya terdengar canggung dan pecah. "Dia cuma menyapa mahasiswinya. Wajar, kan? Kita semua di sini mahasiswanya."

Mei Ling mendengus keras, nyaris menyemburkan sisa sampanye di mulutnya. "Menyapa pakai gelas wine sambil senyum miring begitu? Nggak wajar, Ki! Kami semua melihat itu. Tatapannya itu... kayak singa yang baru saja menandai wilayahnya."

"Chef Romano tidak pernah seramah itu pada siapa pun, Kiandra," Juliette Laurent menimpali dengan ketenangan yang justru lebih mengintimidasi. Ia menyesap sampanyenya perlahan, matanya yang hijau zamrud seolah sedang membedah setiap lapisan kebohongan di wajah Kiandra. "Bahkan pada senior yang paling berbakat sekalipun, dia hanya memberikan anggukan dingin. Tapi tadi? Itu adalah gestur yang sangat personal."

"Mungkin dia sedang mabuk?" Kiandra memaksakan tawa lagi, kali ini sedikit lebih keras namun tetap terdengar palsu. "Atau suasana hatinya lagi bagus karena wine-nya enak? Kalian tahu sendiri kan dia wine expert."

Adele Moreau memiringkan kepalanya, menatap Kiandra dengan tatapan lembut namun menembus pertahanan. "Tanganmu gemetar, Ki. Kamu menyembunyikan sesuatu yang besar."

Kiandra tersentak. Ia segera menyembunyikan tangannya di bawah meja dengan gerakan panik yang justru semakin mengonfirmasi kecurigaan teman-temannya. Jantungnya berdegup brutal, menghantam tulang rusuknya seolah ingin melarikan diri dari situasi ini.

"Nggak ada! Aku cuma kaget saja disapa dosen killer di luar kampus. Siapa yang nggak jantungan coba?"

Diya menyeringai tipis, melirik teman-temannya dengan tatapan penuh arti yang membuat bulu kuduk Kiandra meremang. "Baiklah, kita biarkan dia bernapas untuk malam ini. Tapi jangan pikir kami akan lupa."

Mei Ling menghela napas panjang, tampak belum puas namun akhirnya menyerah karena melihat wajah Kiandra yang sudah sepucat kertas. "Kami pasti akan tahu suatu saat nanti, apa yang kamu sembunyikan, cantik. Rahasia di Paris itu punya cara unik untuk bocor ke permukaan."

Kiandra mengembuskan napas lega yang sangat panjang. Bahunya merosot turun seolah baru saja terlepas dari hukuman gantung yang mencekik lehernya. Ia segera menyesap jus jeruknya, mencoba mendinginkan saraf-sarafnya yang nyaris korslet.

***

Waktu berlalu dalam kabut musik dan obrolan yang tidak lagi Kiandra simak sepenuhnya. Pukul 23:30, udara malam Paris yang menusuk hingga ke sumsum tulang menyambutnya saat ia keluar dari gedung penthouse.

Sebuah taksi kuning berhenti tepat di depan gedung apartemen Haussmann yang megah di Rue de Rivoli. Kiandra turun dengan gerakan hati-hati, merapatkan mantel wolnya di atas gaun satin hijaunya yang tipis. Dinginnya malam itu terasa kontras dengan panas yang masih tersisa di pipinya.

Mei Ling membuka pintu taksi, bersiap ikut turun dengan wajah yang masih terlihat sangat penasaran. "Aku temani sampai atas, ya? Aku mau memastikan kamu nggak pingsan karena memikirkan Chef Romano."

Kiandra menahan pintu taksi dengan cepat, matanya membelalak panik. "Nggak usah! Aku bisa naik sendiri, Mei. Kamu dan Jaxson langsung pulang saja. Ini sudah hampir tengah malam."

Jaxson Cole menjulurkan kepalanya dari kursi depan taksi, menyeringai lebar. "Yakin, Ki? Nanti kalau ada hantu Prancis yang ganteng menggodamu di lift gimana?"

"Yakin! Satpam gedung ada di dalam, aku aman. Dah, Mei! Jax!" Kiandra melambai cepat, memberikan isyarat agar taksi segera pergi.

Mei Ling cemberut kesal, melipat tangan di dada. "Kamu cuma nggak mau aku lihat ‘sepupu’ seksimu lagi, kan? Ngaku deh!"

Kiandra tidak menjawab, ia justru mendorong bahu Mei Ling masuk kembali ke dalam taksi dengan paksa. "Bukan! Udah malam, sana pulang! Besok kita ada kelas pagi!"

Jaxson tertawa keras saat taksi itu akhirnya melaju pergi, meninggalkan Kiandra yang berdiri sendirian di trotoar yang sunyi. Kiandra mengusap dadanya, merasakan detak jantungnya mulai melambat. Ia merasa baru saja lolos dari lubang jarum mematikan yang bisa menghancurkan reputasinya dalam sekejap.

Ia melangkah masuk ke dalam lobi gedung yang mewah, menyapa satpam dengan anggukan singkat, lalu naik lift menuju lantai empat. Kaki yang terbungkus sepatu hak tinggi itu mulai terasa pegal, namun rasa penasaran tentang apa yang akan ia temukan di dalam apartemen jauh lebih mendominasi pikirannya.

Kiandra memasukkan kunci perak ke lubangnya. Klik.

Ia melangkah masuk perlahan, menutup pintu tanpa suara. Suasana apartemen itu temaram, hanya diterangi oleh lampu berdiri di sudut ruangan yang memancarkan cahaya kuning hangat. Alunan musik jazz lembut dari saksofon terdengar mengalun rendah, berbaur dengan aroma sandalwood yang kini terasa begitu akrab di indra penciumannya.

Kiandra tertegun di ujung lorong. Matanya membulat tak percaya melihat pemandangan di depannya.

Enzo Romano duduk santai di sofa yang sama, di posisi yang sama persis seperti saat Kiandra meninggalkannya beberapa jam lalu. Ia sedang membaca buku tebal dengan kacamata baca bertengger di hidung mancungnya.

Dan dia masih bertelanjang dada. Hanya mengenakan celana piyama hitam yang longgar.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!