Pada masa putih abu-abu. Jeviza menjalin cinta dengan Keandra, tetapi baru 1 tahun pacaran, hubungan keduanya harus berakhir karena sebuah kesalah pahaman. Lalu keduanya dipertemukan lagi setelah 2 tahun berpisah, lebih gilanya, Jevi dan Kean berada di satu rumah. Seatap dengan mantan itu lah yang terjadi setelah perpisahan.
Mantan tapi masih cemburu, cinta tapi gengsi menjadi bumbu kehidupan keduanya setelah berada di satu rumah yang sama.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Riria Raffasya Alfharizqi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Salam Perpisahan Versi Puspa-Arlo
Udara di joga tidak sepanas jakarta, tetapi juga tidak bisa dikatakan sejuk seperti bandung. Jeviza baru saja selesai membersihkan diri saat namanya kembali diteriaki, kali ini pelakunya ialah Puspa, siapa lagi memangnya di rumah yang paling sering meneriaki namanya kalau bukan wanita itu.
"Je! Jepi!"
Jevi berdecak, menaruh ponselnya melempar ponselnya ke ranjang sebelum keluar kamar.
"Apa kak? halus dikit napa manggilnya," kesal Jevi duduk di kursi makan.
"Lo nggak bisa dihalusi kata si Jo," ungkap Puspa terkikik geli.
Jeviza mendengus, duduk di depan Puspa yang terlihat sedang meng-roll rambutnya.
"Malam ini makan di luar yuk Je, gue lagi males masak buat makan malam," ajaknya seketika membuat Jeviza duduk tegap.
"Oke, gue ganti baju bentar kak," jawabnya beraleri menuju tangga.
"Cepetan ya, mas Arlo udah lagi manasin mobil," teriak Puspa tidak lagi mendapat jawaban Jeviza.
Puspa menghampiri Arlo yang duduk di teras depan rumah, kopi di cangkirnya masih setengah.
"Mas, Kean belum jadi ke sini?" tanya Puspa melihat Arlo yang tampak sedang mengetik sesuatu pada ponselnya.
Tanpa disengaja Puspa melihat room chat suaminya itu dengan orang tua Kean.
"Belum yang, tadi aja mas sempet nemui dia bentar di depan kampus."
Puspa mengangguk pelan. Menatap suaminya yang menyelipkan benda pipih itu ke dalam saku.
"Aku tuh sebenarnya kasian sama dia, dituntut perfect gitu buat jadi pengurus." Puspa menatap Arlo yang menghela napas dalam.
"Ya mau gimana, dia satu-satunya anak om sama tante, mau nggak mau, suka nggak suka harus dijalani."
Bruk
Puspa dan Arlo langsung berdiri, keduanya terdiam di depan pintu, menatap Jeviza yang tersungkur tidak jauh dari sofa.
Memejamkan matanya, Puspa lalu menggeleng pelan. "Mau salto Je?" tanyanya sarkas.
Jeviza mendongak, meringis dengan wajah kesalnya.
"Tolongin kek kak, bukan malah ngomel," kesal Jeviza mencoba berdiri.
"Lo kebiasaan banget, ceroboh," meski tetap mengomel, nyatanya Puspa membantu Jevi untuk berdiri.
Malam ini, langit Jogja sangat berteman. Tidak ada gerimis ata rintik hujan yang membasahi seperti pagi tadi.
Jevi duduk bersandar sembari memainkan ponselnya. Ia sempat membaca akun gosip kampus yang mengangkat beritanya tentang hukumannya kemarin. Tetapi untuk hari inim Jevi bisa bernapas lebih lega, semua berjalan lebih baik dari pada hari kemarin saat awal OSPEK.
"Lo, pengen makan apa Je?" Puspa menoleh ke belakang, keningnya mengernyit mendapati Jevi yang sudah tertidur di belakang.
"Tidur ya yang, anaknya?" Arlo melirik ke arah kaca mobil di atasnya. Memperlihatkan Jevi yang tampak diam dengan mata tertutup.
"Bangunin kalau udah sampai aja mas, capek kayaknya kegiatan OSPEK,"
Arlo tampak mengangguk, jari-jarinya mengetuk pada setir mobil diiringi musik jaz kesukaan Puspa yang memenuhi kabin.
Lampu yang bersinar temaram dengan kertas berserakan di meja juga sofa sudah menjadi rutinitas di apartemen Keandra.
Cowok itu duduk lesehan di karpet bulu yang tebal dan empuk, bersandar pada sofa apartemennya. Di depannya terdapat laptop dan tab yang masih menyala, tetapi dibiarkan begitu saja tanpa disentuh.
Terdengar helaan napas yang sangat dalam, lalu Kean menengadahkan kepalanya ke atas, matanya terpejam beberapa saat, sebelum getaran pada ponselnya terdengar.
Nama yang sama kembali menghubunginya. Tetapi kali ini sengaja Kean biarkan begitu saja. Kepalanya sudah mau pecah dengan tugas kampus juga rapat online yang baru saja usai dengan klien papanya.
Getaran pada ponselnya berhenti, tetapi tidak bertahan lama, karena sedetik kemudian, nama yang sama kembali mencoba menghubunginya. Kali ini dengan sedikit berat, Kean menerima panggilan telepon tersebut.
"Kenapa lagi pa?"
Kean, klien papa sangat senang dengan rapat tadi, kamu diundang untuk makan siang bersama besok, papa akan mengirim jet pribadi untuk jemput kamu
Kean tampak memijit pangkal hidungnya, lalu menghela napas dalam.
"Pa, aku mengiyakan untuk ikut rapat tadi, tetapi untuk makan bersama tidak bisa, masih ada tanggung jawab di kampus."
Papa bisa minta ijin ke rektor, kamu siap-siap saja besok
Sambungan telepon terputus, menyisakan Kean yang mengeraskan rahangnya, tidak berniat protes untuk menolak lagi, percuma karena keputusan papanya adalah mutlak.
Pagi ini, Jevi sudah siap untuk memulai kegiatan OSPEK nya, masih dengan baju yang sama seperti di hari pertama, bedanya rambut panjangnya sudah tidak dikepang dua lagi, hari ini para maba sudah tidak diwajibkan untuk mengepang rambut. Hari ini mengesankan santai untuk mereka, tidak setegang kemarin-kemarin.
"Tumben udah siap? Nggak harus diteriaki dulu," komentar Puspa melihat Jeviza rapih untuk bersiap pergi ke kampus.
"Gue rajin gini dikomentari, giliran salah dikit dimarahi, kak Puspa maunya apa sih dari gue?" balas Jeviza dramatis.
"Gue maunya lo nurut, nggak susah dibilangi."
Jevi mendengus, mengambil nasi beserta lauk ke piring.
"Memangnya kapan gue nggak nurut? Perasaan aman-aman aja deh dari kemarin."
"Kaya yang gue nggak tahu aja tabiat lu Je, sekarang aja masih baru di sini lo nurut, entar deh 2 bulan ke depan, yakin gue lo bakalan ijin buat main malam-malam."
Arlo yang baru saja datang terkekeh mendengar obrolan kedua perempuan di depannya, lalu mengecup lembut kening Puspa di depan Jeviza.
Sudah menjadi hal biasa sejak datang ke rumah Puspa, Jeviza tidak lagi merasa malu melihat kemesraan kakak sepupunya dan suami. Jevi mulai terbiasa.
"Namanya anak muda wajar dong sayang, kalau suatu saat Jevi mau pergi main sama temennya, kita nggak bisa larang, yang penting Jevi masih ijin sama kita, nggak asal pergi."
"Tuh denger kak, mas Arlo aja sebijak itu, kak Puspa kaya yang nggak pernah muda aja."
Puspa melirik keduanya secara bergantian, lalu menghela napas dalam. "Kakak kaya gini karena jauh dari ortu Je, kakak sama mas Ar sekarang bertanggung jawab penuh ke lo, jadi ya wajar kalau protect, itu tandanya kakak nggak mau terjadi hal yang tidak baik sama lo."
Jeviza mengangguk dengan senyum tipis. "Iya deh iya, nurut gue sama kak Pus."
Ketiganya sarapan dengan diselingi sedikit obrolan, tetapi sebelum benar-benar beranjak dari meja makan, Arlo menatap Puspa serius. Seakan menimang kata yang tepat agar istrinya itu tidak marah dan memberinya ijin.
"Pagi tadi, Ke telepon," ujar Arlo lebih serius nada ucapannya.
Jeviza yang baru saja selesai melirik keduanya secara bergantian, lalu membawa piring kotor untuk memberi waktu keduanya, Jevi tahu ada hal penting yang mungkin dirinya tidak harus tahu.
"Gue tunggu di depan ya mas," ujarnya diangguki Arlo.
"Ada masalah?" tanya Puspa mulai sedikit cemas.
Arlo menggeleng, mengambil tangan Puspa untuk dia genggam.
"Kemarin sore, Kean ikut rapat via zoom, dan ternyata klien sangat setuju dengan usulannya," ada jeda ketika Arlo menjelaskan pada Puspa.
"Dia diminta makan siang bareng hari ini, tapi karena masih banyak tugas, Kean minta tolong mas buat wakili itu, mas ijin ke jakarta ya hari ini? Nanti malam mas langsung pulang kalau nggak ada agenda dadakan."
Puspa tampak menghela napas dalam, tetapi ia menganggukan kepalanya, memberi ijin suaminya untuk pergi menggantikan adik sepupunya itu.
"Ya udah nggak papa, biar aku siapin baju kamu dulu mas," ujar Puspa mendapat gelengan kepala Arlo.
"Nggak perlu yang, abis nganter Jevi, aku balik ke rumah lagi, ambil baju sama-" sorot mata Arlo penuh akan sesuatu, membuat Puspa mendengus kesal tetapi dengan semburat merah di wajahnya.
"Ya udah sana, hati-hati, aku beresin ini dulu."
Arlo mengangguk, mengecup lembut bibir Puspa. "Tunggu mas ya? Kita salam perpisahan dulu sebelum mas berangkat ke jakarta."
bomloppp deh😍
tahan ke,,, tahan!!!