Genre: Romance, Psychological Thriller, Suspense, Drama
Tag: CEO, Mantan Istri, Posesif, Psikopat, Penyesalan, Second Chance Romance
Sinopsis Resmi:
Dua tahun setelah menceraikan Kirana karena keangkuhannya, CEO Adrian Dirgantara didera penyesalan mendalam. Saat ia berniat merebut kembali hati mantan istrinya, Adrian mendapati Kirana telah menikah lagi dengan Rendy Baskoro.
Di mata publik, Rendy adalah suami sempurna. Namun di balik pintu rumah, Rendy adalah seorang psikopat manipulatif yang menyiksa dan menyekap Kirana dalam teror obsesi yang gila.
Menyadari Kirana dalam bahaya maut, Adrian mempertaruhkan nyawa dan seluruh kekuasaannya untuk menghancurkan Rendy. Akankah Kirana yang penuh trauma bisa kembali luluh dan selamat di pelukan Adrian?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon aera_yong, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Jejak yang Dingin
Tiga jam yang dijanjikan oleh Tuan Lim di Singapura baru saja berakhir ketika sebuah dokumen resmi berstempel Otoritas Pelabuhan Singapura (*PSA*) mendarat di meja kerja Adrian di kantor cabang Dirgantara Group. Semua kapal kargo mereka dinyatakan bersih dari barang ilegal dan diizinkan berlayar malam itu juga.
Rendra menutup teleponnya dengan helaan napas lega yang panjang. "Kapal-kapal kita sudah mulai bergerak keluar dari pelabuhan, Adrian. Blokade Rendy di Singapura resmi hancur."
Namun, Adrian tidak merayakan kemenangan itu. Ia berdiri diam di dekat jendela kantornya yang berada di lantai tiga puluh, menatap lampu-lampu kota Singapura yang berkilauan. Genggaman tangan kanannya pada cangkir kopi begitu erat. Perasaan tidak enak yang sejak siang tadi mengusik dadanya kini semakin menguat, berubah menjadi firasat buruk yang mencekik.
"Rendra, hubungi rumah aman Megamendung," perintah Adrian tiba-tiba, suaranya terdengar sangat rendah dan dingin.
Rendra mengernyitkan dahi. "Rumah aman itu tidak menggunakan jaringan internet atau ponsel, Adrian, untuk menghindari pelacakan digital Rendy. Kita harus menggunakan jalur telepon kabel satelit khusus melalui pos penjagaan desa di bawah."
"Lakukan sekarang. Perasaanku tidak enak," desis Adrian, berbalik dan menatap Rendra dengan mata elangnya yang tajam.
Rendra segera merogoh ponselnya, menekan kode enkripsi untuk menghubungkan panggilan ke pos pantau terdekat di Megamendung. Panggilan tersambung, namun setelah beberapa detik mendengarkan suara di seberang sana, wajah Rendra mendadak berubah menjadi seputih kertas. Ponsel di tangannya hampir saja tergelincir.
"Adrian..." suara Rendra bergetar hebat. "Pos pantau desa baru saja naik ke rumah aman karena lampu indikator darurat di sana menyala. Mereka... mereka menemukan Pak Joko dan para penjaga tergeletak tidak sadarkan diri. Rumah aman itu porak-poranda."
*PRANGGG!*
Cangkir kopi di tangan Adrian terhempas ke lantai marmer, hancur berkeping-keping. Darah di dalam tubuh Adrian seolah membeku seketika. Amarah yang luar biasa hebat, yang belum pernah ia rasakan seumur hidupnya, meledak di dalam dadanya hingga membuat napasnya memburu kasar.
"Kirana..." gumam Adrian, suaranya bergetar menahan badai emosi. "Bajingan itu... dia berhasil menemukannya."
"Tim di lapangan sedang memeriksa rekaman kamera jalan tol terdekat, Adrian. Mereka menduga penculikan terjadi sekitar satu jam yang lalu," tambah Rendra dengan panik.
"Siapkan jet pribadi sekarang juga! Kita kembali ke Jakarta detik ini!" bentak Adrian, suaranya menggelegar memenuhi ruangan. Ia menyambar jasnya, mengabaikan rasa perih yang kembali menusuk di lengan kirinya akibat gerakan yang tiba-tiba.
Rendy Baskoro sengaja mengorbankan seluruh aset dan jaringannya di Singapura hanya untuk satu tujuan: memisahkan Adrian dari Kirana sejauh mungkin. Dan Adrian tersadar, ia telah masuk ke dalam umpan tersebut.
---
Sementara itu, kesadaran Kirana perlahan-lahan kembali. Hal pertama yang ia rasakan adalah rasa pening yang luar biasa hebat di kepalanya akibat sisa-sisa kloroform. Tenggorokannya terasa kering bak padang pasir, dan aroma bahan kimia yang menyengat masih menempel di hidungnya.
Kirana mencoba menggerakkan tangannya, namun suara gemerincing besi langsung terdengar. Kedua pergelangan tangannya telah diikat dengan rantai besi kecil yang dikunci pada sebuah tiang baja kokoh di belakangnya.
Ia membuka matanya yang masih buram. Ruangan di sekelilingnya sangat luas, dingin, dan remang-remang, hanya diterangi oleh beberapa lampu pijar kuning yang menggantung tinggi di langit-langit beratap seng. Udara di dalam ruangan itu pengap, dipenuhi aroma karat, debu, dan oli bekas. Ini bukan sebuah rumah, melainkan sebuah gudang tua yang terbengkalai.
"Ah, kamu sudah bangun, Sayang."
Suara bariton yang sangat akrab, yang selalu menjadi mimpi buruk terkunci di dalam kepalanya, terdengar dari arah kegelapan di depannya.
Kirana tersentak, tubuhnya menegang hebat. Dari balik bayangan tiang-tiang beton, sosok Rendy Baskoro melangkah maju. Pria itu tidak lagi mengenakan setelan jas mahalnya, melainkan jaket kulit hitam dengan kemeja yang sedikit kotor. Wajahnya yang tampan tampak kusut dan dipenuhi oleh kilatan kegilaan psikopat yang kini tidak lagi disembunyikan di balik topeng keramahannya.
Rendy berlutut di depan Kirana, mengulurkan tangan kanannya untuk mengusap pipi Kirana yang pucat. Kirana memalingkan wajahnya dengan jijik dan ketakutan, mencoba menjauh, namun rantai di tangannya menahannya dengan kasar.
"Jangan bergerak seperti itu, Kirana. Kamu membuatku terluka," ujar Rendy dengan nada suara yang lembut namun terdengar sangat mengerikan. Jari-jarinya mencengkeram rahang Kirana dengan kuat, memaksanya untuk menatap langsung ke dalam matanya yang kosong tanpa emosi manusia. "Lihat apa yang sudah kamu lakukan padaku? Karena kamu melarikan diri bersama bajingan itu, aku kehilangan perusahaanku, rumahku, dan reputasiku di Jakarta. Aku sekarang menjadi buronan."
"Kamu... kamu yang menghancurkan dirimu sendiri, Rendy!" tangis Kirana pecah, air matanya meluncur deras membasahi jari-jari Rendy yang mencengkeram rahangnya. "Kamu monster! Lepaskan aku! Mas Adrian pasti akan menemukanmu dan membunuhmu!"
Mendengar nama Adrian disebut, seringai di wajah Rendy lenyap seketika, digantikan oleh ekspresi gelap penuh amarah yang menakutkan. Ia menghempaskan wajah Kirana dengan kasar.
"Adrian tidak akan bisa menyelamatkanmu kali ini, Kirana!" bentak Rendy, suaranya menggema di dalam gudang kosong tersebut. Pria itu bangkit berdiri, mondar-mandir di depan Kirana sambil tertawa sinis. "Dia saat ini sedang berada di Singapura, sibuk mengurus kapal-kapalnya yang berharga. Pada saat dia menyadari kamu sudah hilang dan tiba di Jakarta, semuanya sudah terlambat."
Rendy berjalan mendekati sebuah meja kayu di sudut ruangan, mengambil sebuah ponsel satelit dan sebuah botol cairan bening dari dalam tasnya.
"Tempat ini adalah gudang logistik lama milik keluargaku di Cikarang yang sudah dihapus dari sertifikat resmi. Tidak ada yang tahu tempat ini ada," ujar Rendy, berbalik menatap Kirana dengan pandangan mata seorang predator yang telah mengunci mangsanya. "Malam ini, aku akan mengirimkan video reuni kecil kita kepada Adrian. Aku ingin melihat bagaimana wajah CEO terhormat itu saat melihat istrinya... kembali ke pelukan pemiliknya yang sah. Dan jika dia berani datang ke sini..."
Rendy mengeluarkan pistol hitam dari balik jaketnya, mengocoknya pelan di depan wajah Kirana. "...aku akan memastikan tempat ini menjadi kuburan massal untuk kalian berdua."
Kirana hanya bisa menangis sesenggukan, menyembunyikan wajahnya di balik lututnya yang gemetar. Di dalam kegelapan gudang yang dingin itu, harapan kebebasan yang sempat ia rasakan beberapa jam lalu kini runtuh sepenuhnya, digantikan oleh ketakutan bahwa maut sedang mengintai dirinya dan pria yang ia cintai.
---
Bersambung ke Episode 17