NovelToon NovelToon
Penyesalan Suami: Mengejar Mantan Terindah

Penyesalan Suami: Mengejar Mantan Terindah

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyesalan Suami / Single Mom / Berbaikan
Popularitas:69.2k
Nilai: 5
Nama Author: Santi Suki

Dalam hidupnya Arkana punya satu rasa penyesalan yang teramat sangat. Bahkan dia tidak tahu ketika berpisah dengan Kanaya, wanita itu sedang dalam keadaan hamil.

Sampai suatu hari Arkana bertemu kembali dengan Kanaya, mantan istrinya. Karena ingin menebus rasa bersalahnya, Arkana ingin rujuk dan membangun pernikahan yang sesungguhnya.

Namun, Kanaya yang masih menyimpan luka, enggan rujuk.

Apakah Arkana berhasil mendapatkan hati Kanaya kembali?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Santi Suki, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 16

Mendengar ucapan Arkana, Kanaya pun membeku. "Apa?"

"Aku tidak pernah menjatuhkan talak kepadamu."

Jantung Kanaya langsung berdegup kencang. Ingatan lima tahun lalu kembali memenuhi kepalanya. Ia ingat hari itu dirinya dipenuhi kemarahan. Mereka bertengkar hebat. Ia masih ingat rasa sakit hatinya. Namun, talak memang tidak pernah keluar dari mulut Arkana.

Wajah Kanaya perlahan memucat. Karena ia sadar apa yang dikatakan pria itu benar.

"Aku sudah bertanya kepada banyak orang yang lebih paham soal itu," lanjut Arkana. "Dan mereka mengatakan status kita masih suami istri."

Kanaya tidak mampu berkata-kata. Pikirannya mendadak kacau. Selama lima tahun ia hidup dengan keyakinan bahwa semuanya telah berakhir. Namun sekarang, Arkana kembali menghancurkan keyakinan itu hanya dengan satu kalimat.

Pria itu menatapnya penuh harapan. "Aya."

Kanaya perlahan mengangkat kepala.

"Ayo, kita perbaiki semuanya! Kita daftarkan pernikahan kita secara negara. Kita mulai dari awal. Aku ingin menjadi ayah bagi Abi dan Aya. Aku ingin menjadi suami yang seharusnya."

Suara Arkana bergetar hebat. "Aku tahu aku tidak pantas meminta kesempatan kedua. Tapi kalau masih ada sedikit saja ruang di hatimu ...."

Pria itu menundukkan kepala. Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, Arkana yang selalu terlihat kuat tampak begitu rapuh.

"Aku mohon izinkan aku memperbaiki semua kesalahanku."

Kanaya terdiam. Setelah lima tahun berpisah, keduanya kembali berdiri di persimpangan yang sama. Di antara luka masa lalu ada harapan yang perlahan mulai tumbuh kembali.

Angin sore berembus pelan melewati halaman rumah. Namun tidak satu pun dari mereka merasakan kesejukan itu. Hati keduanya sama-sama dipenuhi luka yang belum benar-benar sembuh.

Arkana masih berdiri di tempatnya dengan mata yang memerah. Seluruh harapan yang selama lima tahun ia kumpulkan kini bergantung pada jawaban Kanaya.

Sementara Kanaya justru terlihat semakin tenang. Dan ketenangan itu membuat Arkana takut.

Karena sering kali seseorang yang sudah benar-benar terluka tidak lagi menangis atau berteriak. Mereka hanya berhenti berharap.

"Aya..." panggil Arkana lirih.

Kanaya mengangkat pandangannya. Mata mereka bertemu.

Untuk sesaat Arkana kembali melihat perempuan yang dulu begitu dicintainya. Namun, hanya sesaat. Karena yang ada sekarang bukan lagi Kanaya yang sama. Perempuan di hadapannya sudah melewati terlalu banyak hal tanpa dirinya.

"Aku tidak tahu harus berkata apa lagi," ucap Arkana pelan. "Aku hanya ingin memperbaiki semuanya."

Kanaya tersenyum tipis. Namun senyum itu sama sekali tidak mengandung kebahagiaan.

"Masih belum mengerti juga, ya?"

Arkana mengernyit. "Maksudmu?"

Kanaya menatap lurus ke matanya. "Cinta itu sudah lama hilang, Mas."

Kalimat itu membuat tubuh Arkana seolah membatu. Dunia di sekelilingnya seperti berhenti berputar. Ia sudah mempersiapkan diri menghadapi kemarahan dan mempersiapkan diri menghadapi kebencian. Akan tetapi, tidak untuk kalimat itu.

Cinta itu sudah lama hilang. Rasanya jauh lebih menyakitkan daripada bentakan apa pun.

"Aya..."

"Aku serius." Suara Kanaya terdengar tenang. "Aku sudah tidak mencintaimu lagi."

Arkana menggeleng pelan. Ia tidak mau percaya.

"Aya, jangan bilang begitu," ujar Arkana dengan tatapan memohon.

"Itu kenyataannya," balas wanita berjilbab itu dengan tatapan dingin.

Kanaya menarik napas panjang. Lalu menatap ke arah taman di halaman rumah. Seolah lebih mudah berbicara kepada bunga-bunga di sana daripada menatap pria yang pernah menjadi pusat dunianya.

"Kamu tahu apa yang terjadi setelah aku pergi?"

Arkana terdiam.

Kanaya tertawa kecil. Tawa yang terdengar pahit. Matanya mulai berkaca-kaca.

"Tentu saja tidak, kan? Waktu aku pergi dari rumahmu, aku bahkan tidak tahu kalau aku sedang hamil."

Arkana langsung membeku. Napasnya tertahan.

Kanaya melanjutkan dengan suara yang mulai bergetar. Air mata mulai jatuh perlahan dari matanya.

"Aku benar-benar tidak tahu. Namun, aku sering merasa aneh. Aku cepat lelah, aku pikir itu karena stres."

Arkana menggenggam kedua tangannya erat-erat. Dadanya mulai terasa sesak.

Kanaya menundukkan kepala. "Sampai suatu malam aku merasakan sesuatu bergerak di dalam perutku."

Suara perempuan itu pecah. Luka yang selama ini disembunyikan mulai terbuka. Air mata terus mengalir membasahi pipinya.

"Aku ketakutan dan menangis sendirian," lanjut Kanaya menahan isak tangis. "Keesokan harinya aku pergi ke dokter. Dan dokter bilang aku sudah hamil empat bulan."

Kanaya mengalihkan pandangannya sehingga mata mereka bertemu kembali.

Arkana bahkan hampir tidak berani bernapas. Seolah ada tangan tak terlihat yang meremas jantung Arkana sekuat-kuatnya.

"Empat bulan? Artinya saat itu Kanaya sudah cukup lama mengandung anak mereka."

Arkana menutup wajahnya dengan kedua tangan. Air mata jatuh begitu saja. Di saat istrinya hamil dia tidak ada di sisinya untuk menjaga dan melindunginya.

"Aya ...." Suara pria itu terdengar sangat hancur. "Aku tidak tahu."

Kanaya mengangguk pelan. "Aku menjalani kehamilan itu sendirian."

Kalimat itu membuat Arkana semakin terpukul.

Karena memang benar. Ia tidak tahu. Dan ketidaktahuannya tidak menghapus rasa sakit yang dialami Kanaya.

"Ketika dokter bilang aku mengandung anak kembar, aku bahkan tidak tahu harus senang atau takut." Suara Kanaya semakin lirih. "Aku hanya duduk di ruang praktik dan menangis."

Arkana memejamkan mata. Air mata terus mengalir tanpa bisa dihentikan. Ia membayangkan Kanaya yang duduk sendirian di ruang dokter. Tanpa suami. Tanpa tempat bersandar. Dan tak ada suami yang bisa menggenggam tangannya.

Padahal seharusnya ia ada di sana. Seharusnya ia yang pertama kali mendengar kabar tentang anak-anak mereka. Namun semua itu sudah terlambat.

"Aya..." Arkana mencoba mendekat.

Namun Kanaya mundur satu langkah. Gerakan kecil itu terasa seperti tamparan.

"Aku tidak membencimu lagi, Arkana. Tapi aku juga tidak mencintaimu lagi."

Arkana terdiam. Kalimat itu kembali menghantamnya lebih keras dari sebelumnya. Karena kali ini Arkana bisa melihat kesungguhan di mata Kanaya. Tidak ada lagi amarah atau kebencian. Yang ada hanya kelelahan. Kelelahan seseorang yang sudah terlalu lama berjuang sendirian.

Air mata Kanaya kembali jatuh.

"Selama lima tahun aku belajar berdiri sendiri. Aku belajar menjadi ibu sekaligus ayah. Aku belajar kuat menerima kenyataan."

Suara perempuan itu bergetar. "Dan sekarang aku bahagia bersama anak-anak."

Arkana menggeleng cepat. "Aku bisa membuatmu bahagia lagi."

"Tidak."

"Aya ...."

"Tidak, Arkana." Kanaya menatapnya tegas. "Kita sudah selesai."

Hati Arkana terasa remuk. Benar-benar remuk.

"Aku tidak melarang kamu bertemu Abi dan Aya."

Arkana sedikit terkejut.

Kanaya melanjutkan. "Mereka berhak mengenal ayah kandungnya."

Namun sebelum harapan itu tumbuh terlalu besar, Kanaya kembali berbicara. "Tapi jangan berharap lebih dari itu."

Wajah Arkana langsung pucat. "Aya..."

"Aku tidak mau kembali membangun rumah tangga denganmu."

Suasana kembali hening. Hanya suara angin yang terdengar pelan.

"Aku yakin tidak akan ada kebaikan dari hubungan kita jika dipaksakan."

"Jangan bilang begitu."

"Aku serius." Kanaya menyeka air matanya. "Lebih baik kita mencari kebahagiaan masing-masing."

Kalimat itu membuat Arkana langsung mengangkat kepala. Tatapannya berubah.

1
Sugiharti Rusli
perlahan tapi pasti semoga apa yang kamu impikan bersama keluarga kecil kalian yang utuh bisa segera terwujud yah Ar,,,
Sugiharti Rusli
tapi melihat ketulusan Arkana menjaganya bersama sang bunda semalaman, akhirnya pertahanannya runtuh juga,,,
Sugiharti Rusli
mungkin selama ini sejatinya Abi juga merindukan sosok yang ingin dia panggil ayah, tapi masih menahan dirinya,,,
Sugiharti Rusli
ternyata benar yah ikatan emosional itu sangat penting disamping kedekatan fisik
Sugiharti Rusli
ah ikutan melow bacanya sih😪😪😪
Sugiharti Rusli
apalagi di saat sekarang putra mereka sakit dan ternyata ga suka minum obat jadi proses pemulihannya jadi ga mudah,,,
Sugiharti Rusli
intinya si Arkana memang sabar saja nunggu proses Kanaya mau menerima diri nya lagi seutuhnya yah,,,
Sugiharti Rusli
etapi si Kanaya saat Arka panggil sayang dia reflek langsung menyahut donk😝😝😝
Sugiharti Rusli
Aya kamu peka dan jujur sekali sih bilang kalo ayahnya cemburu😅😅😅
Sugiharti Rusli
wah ternyata ada salah satu klien katering Kanaya yang menyapa mereka rupanya,,,
Sugiharti Rusli
Arkana juga bisa menjaga batasannya dan dia ga mau terlihat mendominasi yah,,,
Sugiharti Rusli
dan yang paling terpenting Kanaya tidak membatasi anak" saat akan menghabiskan bersama kedua buah hatinya dan dia tidak merasa insecure perhatian mereka jadi berat sebelah,,,
ken darsihk
Alhamdulillah Abi sudah membaik dan bisa menerima Arkana sebagai ayah nya 😍😍
Sugiharti Rusli
tapi membangun kedekatan itu bukan hanya secara fisik, tapi juga emosional dan itu ga bisa dipupuk dalam waktu singkat
Sugiharti Rusli
biar kembar, mereka punya kehendak masing" sih dan Arkana ga mau memaksakan putranya juga langsung jadi dekat,,,
Sugiharti Rusli
kalo diperhatiakn Anaya memang tipikal yang ekspresif yah, jadi paling tidak Arkana lebih mudah jadi dekat sama sang putri
Sugiharti Rusli
bahagia itu memang sederhana sih asal bersama orang" yang kita sayangi,,,
Sugiharti Rusli
apalagi Kanaya berhasil mendidik mereka menjadi anak baik dan santun, meski masih anak",,,
Sugiharti Rusli
tapi di luar itu kehadiran si kembar, khusus nya Anaya yang sangat hangat dan menerima dengan tangan terbuka, itu yang jadi penyemangat kamu,,,
RosMa🌹🌹🌹
Alhamdulillah Abi sudah sembuh..
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!