Nadia Tujuah tahun menikah dengan Raka
mengurus Ibu mertuanya dengan baik
mengurus anak adopsi dengan baik
selalu bersabar karena dia hanyalah anak yatim piatu
Namun tepat di usia pernikahannya yang ke tujuh
Raka malam menikah lagi Dengan Ratna Sepupunya sendiri
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon santi damayanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
flashdisk ratna
Ratna kembali lagi ke rumah menggunakan ojek online.
Ia berdiri tak jauh dari pagar rumah sambil memperhatikan jalanan.
Begitu melihat Nadia benar-benar pergi dengan tergesa-gesa, bibir Ratna langsung melengkung tipis.
“Dasar wanita bodoh,” gumamnya mengejek. “Mau saja dibohongi.”
Ratna melihat ojek yang membawa Nadia semakin menjauh.
“Peduli sekali sama anak orang,” lanjutnya sambil terkekeh kecil. “Memang beda tipis orang baik sama orang bodoh.”
Setelah memastikan keadaan aman, Ratna melangkah mendekati rumah.
Ia membuka pagar perlahan agar tidak menimbulkan suara.
Lalu berjalan mengendap-endap masuk ke dalam rumah.
Ruang tengah kosong.
Suara televisi tidak terdengar.
Yuni sepertinya masih berada di kamar, sedangkan Mbak Tari sibuk di dapur.
Tatapan Ratna langsung tertuju pada pintu kamar Nadia yang sedikit terbuka.
Senyumnya semakin lebar.
“Ceroboh sekali,” bisiknya.
“Meninggalkan kamar tanpa dikunci.”
Ratna segera masuk ke kamar itu.
Matanya berkeliling menelusuri setiap sudut ruangan.
Kamar Nadia selalu rapi.
Wangi lembut khas lavender masih terasa.
Seprai tertata lurus.
Botol skincare tersusun rapi di meja rias.
Namun Ratna sama sekali tidak peduli.
“Sebentar lagi kamar ini jadi milikku, Nad,” gumamnya sambil membuka lemari pakaian.
“Kalau aku berhasil menemukan harta warisan orang tua kamu, Ayah pasti langsung menyingkirkan kamu.”
Ratna mulai mengobrak-abrik isi lemari.
Baju-baju Nadia ditarik keluar begitu saja lalu dilempar ke lantai.
Laci demi laci dibuka dengan kasar.
Kosong.
Ia berpindah ke meja rias.
Semua laci dibuka satu per satu.
Tetap tidak ada apa-apa.
Ratna mulai kesal.
Ia mengangkat bantal.
Membuka tas.
Bahkan mengangkat kasur.
Tetap nihil.
“Gila...” gerutunya frustrasi.
“Jangankan sertifikat atau buku rekening, perhiasan saja enggak punya.”
Ratna menatap kamar itu dengan heran.
“Padahal gaji Raka besar. Kalau aku mau, aku juga bisa suruh dia korupsi lebih banyak.”
Ia mencibir kecil.
“Kamu benar-benar bodoh, Nadia.”
Tatapannya kembali berkeliling.
Kini kamar itu berubah berantakan.
Baju berserakan di lantai.
Laci terbuka.
Bantal jatuh ke bawah.
Di atas meja rias, Ratna melihat sebuah buku kecil.
Keningnya langsung terangkat.
“Mungkin catatan pribadi.”
Ratna segera mengambil buku itu lalu membukanya cepat.
Beberapa detik kemudian, senyum sinis kembali muncul di wajahnya.
“Dasar bodoh,” gumamnya puas.
“Mau membawa Nanda pergi?”
Matanya menyipit tajam.
“Mimpi saja kamu.”
Ratna menggenggam buku itu erat.
Rencananya sederhana.
Buku ini akan ia gunakan untuk menekan Raka agar segera bertindak pada Nadia.
Namun tiba-tiba—
“Ratna, ngapain kamu di sini?”
Ratna tersentak.
Ia buru-buru menoleh.
Yuni sudah berdiri di ambang pintu dengan wajah dingin.
Tatapan wanita tua itu langsung jatuh pada kondisi kamar Nadia yang berantakan.
Ratna segera memasang ekspresi seolah dirinya tidak bersalah.
“Sini, Mah,” katanya cepat. “Aku curiga sama gelagat Nadia akhir-akhir ini.”
Ratna menyodorkan buku kecil itu pada Yuni.
“Ternyata dia merencanakan ini.”
Yuni mengambil buku itu perlahan.
Tatapannya membaca beberapa halaman.
Wajahnya langsung berubah.
“Nadia mau membawa Nanda pergi?”
Ratna mengangguk.
“Makanya aku cari tahu tadi.”
Yuni mengembuskan napas panjang.
“Kamu juga enggak boleh masuk kamar orang sembarangan, Ratna.”
Ratna mendengus pelan.
“Sudahlah, Mah. Jangan marah terus.”
Lalu ia menatap Yuni tajam.
“Atau semuanya aku bongkar sekalian.”
Kalimat itu membuat wajah Yuni langsung menegang.
Wanita tua itu hanya mampu menarik napas berat.
“Pergi sana sebelum Nadia pulang.”
Ratna langsung tersenyum puas.
“Oke, mamahku sayang.”
Ia melangkah keluar kamar sambil terus menggerutu kecil.
“Sialan...
Sebenarnya di mana Nadia menyimpan warisan orang tuanya?”
Setelah Ratna pergi, Yuni masih berdiri memandangi kamar yang berantakan itu.
Dadanya terasa sesak.
Entah karena takut...
Atau karena mulai sadar bahwa Nadia benar-benar akan meninggalkan rumah ini.
“Tari!” panggil Yuni keras.
Mbak Tari segera datang tergopoh-gopoh dari dapur.
“Ada apa, Bu?”
Begitu melihat kamar Nadia, matanya langsung membelalak.
“Astaga... ini kenapa berantakan begini?”
“Enggak usah banyak tanya,” potong Yuni cepat.
“Cepat rapikan sebelum Nadia pulang.”
Mbak Tari mulai membereskan kamar Nadia yang berantakan.
Satu per satu pakaian yang berserakan di lantai dilipat kembali lalu digantung rapi ke dalam lemari.
Bantal yang jatuh ke bawah dikembalikan ke tempatnya.
Kasur yang tadi bergeser didorong perlahan hingga kembali seperti semula.
Ia lalu merapikan seprai yang kusut, menarik setiap sudut kain hingga kembali licin dan tertata rapi seperti biasanya.
Laci-laci yang tadi terbuka ditutup satu per satu.
Botol-botol skincare di meja rias juga kembali disusun rapi sesuai urutannya.
Mbak Tari sampai hafal letak setiap barang Nadia karena hampir setiap hari melihat perempuan itu merawat semuanya dengan teratur.
Saat sedang menyusun botol toner, matanya menangkap sebuah flashdisk putih kecil terselip di sudut meja.
Keningnya langsung berkerut.
Di bagian atas benda itu tertulis “8 GB”.
“Ini pasti punya Mbak Nadia,” gumamnya pelan.
Mbak Tari mengambil flashdisk itu lalu menatap sekeliling bingung.
Ia tidak tahu benda itu sebelumnya berada di mana.
Kalau dimasukkan ke laci, takut Nadia kesulitan mencarinya.
Kalau dipindahkan sembarangan, takut malah dianggap hilang.
Setelah berpikir beberapa detik, Mbak Tari akhirnya menaruh flashdisk itu di atas meja rias, tepat di tempat yang mudah terlihat.
“Kalau penting pasti Mbak Nadia langsung lihat,” bisiknya.
Setelah semuanya selesai, Mbak Tari mengedarkan pandangan ke seluruh kamar.
Kini kamar itu kembali rapi.
Tidak ada tanda-tanda seseorang sempat mengobrak-abrik isinya.
Mbak Tari mengembuskan napas lega lalu keluar kamar.
Begitu sampai di depan pintu, suara Yuni langsung terdengar.
“Tari.”
“Iya, Bu?”
“Jangan sampai Nadia tahu kalau ada orang masuk ke kamarnya.”
Mbak Tari tampak ragu sesaat.
Namun akhirnya ia hanya mengangguk pelan.
“Baik, Bu.”
Walau dalam hati ia bingung...
Rumah itu semakin hari terasa semakin penuh rahasia.
“Tari, cepat berkemas. Ikut Ibu belanja,” perintah Yuni sambil keluar dari kamar.
Mbak Tari yang sedang menyapu ruang makan langsung menoleh.
“Tapi pekerjaan rumah belum selesai, Bu. Bu Nadia juga belum pulang.”
“Ya tunggu Nadia lah,” jawab Yuni enteng. “Kamu bereskan saja seadanya. Sisanya biar Nadia yang kerjakan.”
“Baik, Bu.”
Setelah Yuni kembali masuk ke kamar untuk bersiap, Mbak Tari buru-buru melanjutkan pekerjaannya.
Tangannya bergerak cepat membereskan meja makan, tetapi pikirannya terasa penuh.
Rumah itu semakin hari semakin aneh.
Satu suami.
Dua istri.
Saling sindir.
Saling menyakiti.
Dan di tengah semua kekacauan itu...
Ada Nanda yang masih terlalu kecil untuk memahami apa pun.
“Benar-benar enggak sehat,” gumam Mbak Tari pelan.
Ia hanya bisa mengembuskan napas panjang.
Tak lama kemudian, suara pagar depan terbuka terdengar.
Mbak Tari melongok ke ruang tengah.
Yuni sudah keluar dari kamar dengan pakaian rapi dan tas di tangan.
Beberapa detik kemudian, Nadia masuk ke dalam rumah.
Wajahnya masih terlihat pucat setelah kepanikan di sekolah tadi.
“Dari mana saja kamu, Nadia?” tanya Yuni cepat.
“Kamu pergi sudah izin belum sama Raka?”
“Aku habis dari sekolah Nanda, Bu. Ada kabar kalau Nanda sakit.”
Wajah Yuni langsung berubah panik.
“Sakit apa Nanda?”
“Cuma kabar palsu,” jawab Nadia pelan. “Ternyata Nanda baik-baik saja.”
Yuni tampak mengembuskan napas lega.
Untuk sesaat, wanita tua itu benar-benar terlihat khawatir.
Dan anehnya...
Ia tidak memarahi Nadia karena pergi terburu-buru tanpa memastikan kabarnya terlebih dahulu.
Seolah dalam hati kecilnya, Yuni sadar...
Apa yang dilakukan Nadia tadi adalah reaksi wajar seorang ibu.
“Aku mau pergi sama Tari,” ujar Yuni kemudian. “Kamu jangan ke mana-mana.”
“Ya, Bu.”
Yuni menatap Nadia kesal.
“Kamu enggak tanya Ibu mau ke mana?”
Nadia hanya mengembuskan napas pelan.
“Nanti saya dibilang terlalu mengatur lagi.”
Jawaban itu membuat wajah Yuni makin masam.
“Cih.
Ngomong sama kamu bikin emosi saja.”
Yuni langsung melirik Mbak Tari.
“Tari, ayo pergi.”
“Iya, Bu.”
Setelah mereka keluar rumah, Nadia berjalan pelan menuju kamarnya.
Begitu membuka pintu, langkahnya langsung terhenti.
Kamarnya terlalu rapi.
Seprai licin.
Bantal tertata.
Botol skincare tersusun sempurna.
Padahal tadi pagi kamar itu belum serapi ini.
“Nggak mungkin serapi ini kalau bukan Mbak Tari yang bersihin,” gumam Nadia pelan.
Ia masuk lebih dalam sambil mengedarkan pandangan ke seluruh sudut kamar.
Perasaannya mulai tidak nyaman.
“Ada yang masuk ke kamarku...”
Tatapannya berhenti pada sebuah benda kecil di atas meja rias.
Sebuah flashdisk putih.
Nadia mengernyit.
“Flashdisk model lama...”
Ia mengambil benda itu perlahan.
Di bagian sudutnya ada huruf kecil yang hampir pudar.
R.
Mata Nadia langsung menyipit.
“Ratna.”
Napasnya tertahan sesaat.
“Jadi dia benar-benar masuk ke kamarku.”
Nadia terkekeh kecil tanpa senyum.
“Pasti cari harta warisan Ayah.”
Ia menggeleng pelan.
“Kamu enggak akan menemukan apa-apa, Ratna.
Semua dokumen penting sudah aku titipkan ke Sindi.”
Nadia kembali memandangi flashdisk di tangannya.
Keningnya perlahan berkerut.
“Memangnya...
Apa isi flashdisk ini?”
raka tak bakal setuju cerai kan kamu
nadia terlalu bego sdh tau di jdi kan keluarga toxin jdi baby sister gratis tetap mau bertahan di dlm rmh demi nanda ank selingkuh raka/ ratna 🤭