Rumah tangga Puann hancur seketika saat wanita dari masa lalu suaminya datang membawa kabar kehamilan, ditambah lagi fitnah bertubi-tubi yang membuatnya dikucilkan bahkan oleh keluarganya sendiri.
Di saat kepercayaannya sudah habis dan ia mulai bersandar pada laki-laki lain yang jauh lebih tulus, Bahlil, suaminya berjuang membuktikan bahwa semua itu hanyalah jebakan. Namun, kebenaran tentang masa lalu dan trauma besar yang disembunyikan Bahlil justru membuka luka yang jauh lebih dalam.
Di ambang perceraian dan di tengah pengakuan yang hampir menyatukan mereka kembali, sebuah skandal video pun muncul dan mematikan segala harapan.
Apakah cinta yang penuh kebohongan dan rasa sakit ini layak diperjuangkan, atau lebih baik diakhiri selamanya sebelum hati mereka benar-benar hancur lebur?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DityaR, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Orang Yang Menjagaku Bukan Suamiku
Puann bersandar di balik pintu sambil menangis diam-diam. Ia ingin sekali membuka pintu, memeluk laki-laki itu, dan bertanya sampai kapan ujian ini berlangsung. Namun rasa sakit hatinya lebih kuat menahannya.
"Maafin aku ya, Mas. Aku emang istri penakut dan lemah. Aku nggak sanggup lagi nemenin kamu kalau tiap hari harus perang sama masa lalu kamu," bisik Puann dengan napas tersengal.
Perasaannya makin kacau, ditambah ia belum makan dari pagi. Badannya sangat lemas dan kepalanya terasa berputar, namun ia terlalu sibuk menangis hingga tidak peduli pada dirinya sendiri.
Sahabatnya masuk membawa makanan dan berusaha membujuknya makan sedikit saja. Namun Puann hanya menggeleng dan menolak segala perhatian itu.
"Kamu harus makan, Puan. Badan kamu bisa sakit kalau gini terus. Kamu mau bikin aku khawatir ya?" ucap temannya cemas.
"Biarin aja. Mungkin kalau aku sakit, aku bisa lupa sejenak kalau aku punya rumah tangga yang berantakan gini," jawab Puann lirih.
Emosi yang meluap ditambah kondisi fisik lemah membuat kepala Puann makin berat. Pandangannya mulai kabur dan suara di sekelilingnya terdengar makin jauh.
Ia mencoba berjalan ke kamar mandi untuk membasuh wajah, namun kakinya tidak kuat lagi menopang berat badan. Pandangannya perlahan gelap, lalu tubuhnya ambruk jatuh ke lantai.
"Puaaaaann! Puann! Kamu kenapa?! Bangun dong, Puan!" teriak sahabatnya panik seketika.
Tubuh Puann terbaring diam tak bergerak di lantai. Sisa air mata masih ada di pipinya, namun kesadarannya sudah hilang tertelan rasa lelah yang sudah lama ia pendam.
...***...
Puann perlahan membuka mata. Pandangannya masih kabur, kepalanya terasa berat dan berdenyut nyeri. Ia mencoba mengingat kejadian sebelumnya, lalu menyadari dirinya sudah berbaring di atas kasur empuk dalam ruangan asing yang bersih dan wangi.
"Kamu udah sadar? Syukur deh, aku khawatir banget," ujar suara laki-laki yang lembut dan tenang.
Puann menoleh perlahan. Di samping tempat tidurnya duduk lah Gibran, teman lama Puann, yang juga satu rekan kerja dengan Ririn, sahabatnya.
"Mas Gibran? Kok aku bisa ada di sini? Terus suamiku tahu nggak kalau aku sakit?" tanya Puann lirih dengan suara serak dan lemah.
"Ririn telepon pas kamu pingsan. Dia panik, jadi aku bawa kamu ke sini. Soal suamimu, aku dengar dia nyariin kamu semalaman, tapi aku nggak kasih tahu keberadaanmu," jawab Gibran.
Puann menundukkan wajah. Perasaannya bercampur aduk. Saat ia membutuhkan pertolongan dan tempat istirahat, orang yang mendampinginya justru bukan Bahlil.
"Makasih ya mas. Tapi kenapa kamu mau bantuin aku?" ucap Puann, matanya mulai berkaca-kaca.
"Aku tahu bebanmu berat banget belakangan ini. Aku tahu kamu terus-terusan sedih, Ririn udah cerita semuanya ... mana tega aku biarin kamu sakit sendirian?" jawab Gibran tulus.
...***...
Di tempat lain, Bahlil berjalan sempoyongan di jalanan. Ia telah mengunjungi rumah saudara, tetangga, dan tempat biasa dikunjungi Puann sepanjang malam, namun tanpa hasil. Wajahnya pucat, matanya bengkak, dan penampilannya sangat berantakan.
Bahlil tahu Puann sedang marah dan kecewa, tetapi tidak menyangka istrinya akan menghilang sejauh ini. Rasa takut kehilangan Puann makin besar, apalagi kabar kehamilan Arifatul terus menghantuinya.
"Aku tahu Aku salah, Puann. Kamu di mana? Pulanglah, aku mohon," gumamnya parau.
Sementara itu, Gibran merawat Puann dengan sangat perhatian. Ia membawakan makanan bergizi dan obat, lalu duduk mendengarkan seluruh curhatan Puann tanpa menyela sedikit pun.
"Semua orang nyalahin aku, Mas. Keluargaku malah dukung perempuan lain, suamiku sendiri bawa masalah masa lalu nya ke rumah tangga kami. Rasanya aku kayak orang asing di hidupku sendiri," tangis Puann.
"Kamu nggak salah apa-apa. Kamu cuma terlalu baik sama orang lain sampai lupa jaga diri kamu sendiri. Kalau aku jadi kamu, mungkin udah nyerah dari dulu," jawab Gibran lembut.
Kalimat itu langsung menembus hati Puann. Untuk pertama kalinya, ada orang yang memahami rasa sakitnya dan memihak dia sepenuhnya.
"Makasih ya, Mas. Cuma kamu yang bisa ngertiin aku sekarang. Lega banget rasanya bisa ngomong gini sama orang yang beneran dengerin," ucap Puann pelan.
Gibran tersenyum tipis. Ia menggenggam tangan Puann yang dingin dengan lembut namun tegas, memberi kekuatan. Tatapannya berubah makin serius dan dalam dari sebelumnya.
"Kamu nggak perlu nanggung semuanya sendirian. Kamu berhak bahagia dan dijaga sama orang yang mau prioritasin kamu. Kalau suamimu nggak bisa ngasih itu dan malah nyakitin terus, biar aku aja yang gantiin."
Puann tertegun kaget sambil menatapnya dengan mata terbelalak. Beberapa saat kemudian, Gibran mengulangi ucapannya dengan suara lebih berat dan penuh kepastian.
"Kalau dia nggak bisa jaga kamu, biar aku. Aku jamin kamu nggak bakal nangis atau sedih lagi mulai hari ini."