NovelToon NovelToon
Alvaro

Alvaro

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Mafia
Popularitas:1.1k
Nilai: 5
Nama Author: Patmandari Nugraheni

Alvaro Zaidan Alexander adalah anak ketiga dari empat bersaudara, ia adalah anak tengah yang hampir terlupakan oleh keluarganya sendiri semenjak sang mamah meninggal, keluarganya yang dulunya harmonis dan hangat sekaranh hanya keluarga dingin dan juga kaku.
Dan ada satu kejadian yang membuatnya berubah yaitu musuh bebuyutan sang Papah yang mengincarnya yang membuat sang Papah dan 3 saudaranya berubah seketika...

Apa yang di inginkan oleh musuh Papah kepada Alvaro?
Apakah mereka berhasil melindungi Alvaro atau tidak?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Patmandari Nugraheni, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Part 24 Kepanikan yang Kembali di Ruang Rawat

[Ruang rawat Alvaro - 12.00]

Seperti tadi pagi petugas rumah sakit membawakan makan siang yang ada di atas troli khusus untuk Alvaro.

"Permisi pak, ini makan siang untuk dek Alvaro" ucap petugas tersebut.

"Oh ya taruh situ saja mas, terimakasih ya" ujar Arlan kepada petugas tersebut.

"Iya sama-sama, saya permisi dulu" ucap petugas tersebut.

Setelah menaruh makan siang untuk Alvaro petugas itu pun pergi untuk mengantarkan makan siang untuk pasien yang lainnya.

"Ayo Var makan" ucap sang papah sambil mendorong troli meja mendekat di brakar Alvaro.

"Biar Ek yang suapin saja pah" ujar Elvano kepada sang papah.

"Ya sudah papah kasih sini ya makanannya" ucap sang papah kepada Elvano dan hanya mendapatkan anggukan dari Elvano.

"Ayo Al makan aku suapin" mohon Elvano kepada Alvaro.

"Bentra El, pah kata papah mau telpon uncle?" ujar Alvaro kepada sang papah.

"Kata papahkan besok Al" jawab sang papah.

"Sekarang aja pahh, aku kangen uncle" mohon Alvaro.

"Ok, papah telpin uncle tapi habis ini kamu makan ya" ucap sang papah kepada Alvaro dan Alvaro pun hanya menjawabnya dengan anggukan.

"Pahh" panggil Arlan kepada sang papah.

"Iya kenapa Ar?" tanya sang papah.

"Papah mau telpon uncle Samkan tolong suruh uncle Sam buat ambilin baju ku sama El soalnya kita berdua gak bawa baju ganti tadi aku lupa mau bilang ke bi Sari" ucap Arlan yang duduk di sofa ruang rawat.

"Hadeh kamu tuh kebiasaan, iya papah bilanin uncle Sam" ujar sang papah.

"Makasih pah" ucap Arlan lagi dan hanya mendapatkan anggukan dari sang papah.

Papah pun langsung mengambil hpnya yang ada di saku celana dan berniat untuk menelpon Sam untuk datang kerumah sakit dan sekalian membawakan baju Arlan dan juga Elvano.

"Halo Sam" ucap sang papah.

"Iya tuan, ada yang bisa saya bantu?" tanya uncle sam yang berada di sebrang.

"Bisakah kau datang kerumah sakit dan bawakan baju ganti untuk Arlan dan juga Elvano" jawab sang papah.

"Permisi tuan saya mau tanya siapa yang sakit?" tanya uncle Sam.

"Al yang sakit, kau bisa bawa yang saya minta?" tanya sang papah.

"Bisa tuan, saya akan bawa yang anda minta" ucap uncle Sam.

"Saya tunggu di ruang rawat VVIP A lantai tiga kamar nomor 245" ujar sang papah.

"Baik tuan" ucap uncle Sam.

Tutt

Tutt tutt

Papah pun mematikan telpon secara sepihak dengan uncle Sam dan ia pun memasukkan kembali hpnya kedalam saku celananya kembali.

"Uncle Sam sudah papah telpon, sekarang kamu makan sambil nunggu uncle Sam" ucap sang papah kepada Alvaro yang dari tadi menunggunya yang sedang menelpon Sam.

"Ok pah" ujar Alvaro cukup semangat saat uncle Sam yang akan ke rumah sakit.

10 menit kemudia Alvaro pun sudah memakan setengah buburnya dan tiba-tiba ia merasa perutnya tidak enak dan seperti tadi pagi ia memalingkan mukanya sebagai tanda ia sudah tidak ingin memakan makanannya.

"El sudah" ucap Alvaro kepada Elvano yang sedang menyuapinya.

"Sekali lagi ya" mohon Elvano kepada Alvaro dan tetap saja Alvaro memalingkan mukanya sabagai tanda ia menolak.

"Ya sudah, aku beresin ini dulu ya" ucap Elvano dan Alvaro pun hanya mengagguk.

"Biar kakak yang beresin El" ujar Erlan kepada Elvano.

"Makasih ya kak" ucap Elvano.

"Iya sama-sama" jawabnya.

Lalu Erlan pun menyingkirkan bekas makan siang Alvaro dan menaruhnya di troli meja supaya petugas bisa langsung mengambil bekas makanannya.

Tak lama setelah Erlan menyingkirkan bekas makan milik Alvaro di atas troli meja, terdengar ketukan pintu dari arah luar kamar rawat Alvaro. Secara perlahan petugas rumah sakit yang tadi mengantarkan makanan pun kembali untuk mengambil sisa makanan yang tidak habis.

"Permisi pak saya mau mengambil piringnya, apakah sudah selesai?" tanya petugas tersebut kepada Erlan.

"Oh iya mas ini, silahkan. Sudah selesai kok" jawab Erlan.

"Untuk troli mejanya saya tinggal ya pak" ucap petugas tersebut.

"Iya mas" jawab Erlan.

"Baik terima kasih ya pak saya permisi" ucap petugas tersebut dan Erlan hanya menganggukan kepalanya sebagai jawaban.

Suasana di kemar rawat Alvaro pun tampak tenang dengan sang papah, bang Arlan dan kak Erlan yang duduk di sofa yang ada di ruang rawat dan sementara Elvano duduk di samping brakar milik Alvaro.

Namun, ketenang itu tidak berlangsung lama 10 menit kemudian tiba-tiba Alvaro memegang perutnya karena rasa nyeri yang ada di perutnya. Wajahnya yang semulanya sudah tidak terlalu pucat kini kembali pucat seperti pagi tadi, keringat dingin pun keluar dari pelipis Alvaro dan Elvano yang berada di dekatnya itu pun langsung merasa panik.

"Al kamu kenapa? Ada yang sakit? Di sebelah mana, pliss jangan bikin aku panik" ucap Elvano panik saat melihat wajah pucat milik Alvaro.

Alvaro tidak bisa menjawab semua pertanyaan dari Elvano karena rasa sakit yang tidak bisa ia tahan, ia hanya bisa memejamkan matanya dan sambil meremat perutnya untuk menetralisir rasa mual dan juga perih secara bersamaan yang dapat ia rasakan.

Melihat kondisi Alvaro dari arah sofa dan juga melihat wajah panik anak bungsunya yaitu Elvano, sang papah pun tanpa berpikir panjang langsung beranjak dari sofa menuju kearah kedua anaknya tersebut.

"Kenapa El?" tanya sang papah kepada Elvano saat melihat wajah panim Elvano.

"Tiba-tiba perutnya Al sakit, pah" jawab Elvano dengan wajah panik.

"Al, bagian mana yang sakit son? Bilang sama papah" ucap sang papah berusaha menenangkan Alvaro yang sedang menahan sakit.

"Perut Alva sakittt... pahh... mual juga" jawab Alvaro terbata-bata ke arah sang papah.

"Bang Arlan, panggil dokter sekarang!!" perintah Elvano sambil berteriak ke arah kedua kakaknya.

Arlan pun yang mendengar perintah dari adik bungsunya itu dengan cepat beranjak dari duduknya. Namun, belum sempat ia melangkah menuju tombol darurat yang ada di dinding, pintu rawat pun tiba-tiba terbuka oleh seseorang.

Seseorang itu adalah uncle Sam dengan jasnya yang rapi dan sambil menjinjing sebuah tas besar berisi pakaian ganti.

"Permisi tuan, ini pakaian ganti yang anda...." ucap uncle Sam pun tiba-tiba berhenti di saat ia melihat situasi tegang di ruang rawat. Ia pun melihat ke arah brakar dan melihat Alvaro yang sedang menahan sakit di atas brakar sambil di kelilingi oleh Elvano dan sang papah.

"Sam!! Carikan dokter sekarangg" perintah sang papah dengan nada keras ke arah uncle Sam yang baru saja sampai di ruang rawat Alvaro.

Tanpa berpikir panjang uncle Sam pun menaruh tas jinjing besar itu di dekat pintu dan segera berlari kembali ke koridor untuk mencari dokter dan juga suster yang ada di rumah sakit yang ia temui.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!