NovelToon NovelToon
Pembalasan Seorang ART

Pembalasan Seorang ART

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / CEO / Diam-Diam Cinta
Popularitas:1.8k
Nilai: 5
Nama Author: Imen Firewood

"Kenapa hanya diam berdiri di sana? ... Cepat kesini!" suruh Nyonya Laras, yang sedang duduk santai menyilangkan kakinya sambil bermain menatap ponselnya.

Karena merasa kaget sekaligus panik, Anya sedikit berlari kecil menghampiri wanita yang sedang duduk cantik di sofa panjang itu. Sofa panjang itu mengarahkan pandangan Anya kepada sebuah televisi besar yang terpajang di dinding. Membuat Anya kembali melamun.

Anya jadi tidak fokus, ketika suara Laras ternyata sudah sedari tadi memanggilnya beberapa kali dengan akhir yang kencang dan membuat Anya kaget.

"Hey!"

"Saya bertanya siapa nama mu?! Apakah kamu ingin bekerja di sini atau tidak? Kenapa hanya melamun dari tadi?" tanya Laras dengan bentakan kecil. Membuat anak polos dan lugu di hadapannya menjadi panik.

"Maaf Ibu ... Nama saya, Anya ..." ucapan Anya terpotong. Ketika Laras yang seakan tidak ingin mendengar ucapan Anya, langsung memanggil Bi Inah. Pembantu lain yang sudah cukup lama juga bekerja di keluarga Adiwijaya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Imen Firewood, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

CHAPTER 8

Bi Inah yang melihat dan tahu kejadian sebenarnya tentang Anya, merasa khawatir. Namun ia tidak bisa berbuat banyak membantu Anya. Mengetahui, kejahatan yang di lakukan majikannya kepada Anya.

Bi Inah perlahan dengan ragu membawa obat luka untuk Anya, ia terlihat sudah berada di depan kamar Anya saat ini.

Tok ...

Tok ...

Anya ...

Terdengar seperti suara Bi Inah yang memanggi Anya dari luar kamarnya. Anya langsung bergegas ingin menghampiri dan membuka pintu.

"Iyaa ... Tunggu, sebentar ..." teriak Anya pelan, ketika sedang menghapus air matanya dan beranjak berusaha berdiri dari tepi ranjangnya.

Ceklek ...

Suara Anya ketika membuka pintu. Ia tertegun kaget, melihat Bi Inah yang sudah berdiri di depan kamarnya sambil membawa obat luka untuk lutut Anya.

"Bi Inah?" kata Anya kaget, dengan ekspresi yang berusaha Anya tunjukan dengan normal. Seperti tidak terjadi apa-apa. Walaupun, sebenarnya Bi Inah sendiri juga sudah tahu.

"Boleh Bibi masuk?" balas Bi Inah, yang ingin setidaknya membantu Anya untuk mengobati lukanya.

"Bo-boleh Bi ... Silakan," sahut Anya, dengan ramah dan sopan santunnya ketika berbicara dengan orang yang lebih tua.

Di kasur tepi ranjang Anya saat ini. Ketika Bi Inah yang terlihat seperti berperan sebagai orang tua Anya, sedang mengobati luka di lututnya.

"Tadi ... Sewaktu kamu masuk ke dalam kamar, Bibi seperti melihat luka di lutut kamu ini ... Maka nya, Bibi dateng buat ngobatin luka ini ..." kata Bi Inah, seraya mengoleskan obat luka untuk Anya.

"Hah? ... Apa Bi Inah sebenarnya tahu, tentang kejadian tadi?" kata Anya merasa heran, berbicara di dalam hatinya ketika melihat kebaikan Bi Inah.

Sshh ... Aw!

Suara Anya ketika Bi Inah mulai mengobati luka kecil di lututnya, ia benar-benar perduli kepada orang seperti Anya.

"Ah, sakit yaa? ... Maaf-maaf ..." kata Bi Inah, berusaha agar Anya tidak sakit lagi dan cepat sembuh.

Anya tersenyum tiba-tiba. Ia seperti mendapatkan sosok ibu di dalam kediaman tempatnya bekerja ini. Bi Inah terlalu baik menurutnya, ia bahkan rela mengobati luka di kakinya seperti ini.

"Nggak, kok Bi ... Anya kaget aja tadi ..." jawab Anya, berusaha baik-baik saja di depan Bi Inah yang sedang menutup lukanya sekarang.

"Dah ... Sudah selesai!" kata Bi Inah sambil tersenyum. Ketika ia sudah mengobati dan menutup luka di lutut Anya. Ayan pun tersenyum berdiri berhadapan dengan Bi Inah, sosok baru yang sudah seperti ibu baginya.

"Terimakasih, yaa Bi ... Bibi mirip ibu Anya," kata Anya tiba-tiba, seraya menatap lama dengan tulus wajah Bi Inah.

"Iyaa, Anya ... Sama-sama. Terserah Anya mau panggil Bibi apa, yang penting kamu seneng ..." kata Bi Inah menyambut hangat senyuman Anya. Mereka pun tertawa bersama, seolah kedekatan mereka sekarang sudah semakin akrab.

"... Oh, iyaa. Kamu kalau mau makan, ambil aja lagi ... Masakannya juga masih banyak. Terus, kalau kamu ingin tidur ... Tidur saja, istirahat. Karena pekerjaan di rumah ini juga sudah beres," kata Bi Inah, khawatir dengan kesehatan Anya.

"Iyaa Bi ... Terimakasih banyak yaa, sudah perduli sama Anya ..." balas Anya, yang sangat beruntung bertemu dengan sosok seperti Bi Inah.

"Sama-sama ... Bibi tinggal dulu," ucap Bi Inah, ia tersenyum sambil mengusap-usap bahu Anya sebelum pergi meninggalkan nya sendiri di dalam kamar.

Karena waktu terus berjalan, Anya melihat ke arah jam yang di pasang di dalam kamarnya. Waktu disana, menunjukan pukul 10 malam. Sudah waktunya bagi Anya sekarang beristirahat.

Bruk!

Suara Anya ketika merebahkan tubuhnya di atas kasur yang empuk. Ia baru pertama kali merasakan hangat dan lembutnya kasur besar seperti ini.

"Andai saja ... Semua orang di rumah ini seperti Bibi. Pasti, keadaan nya akan jauh lebih mudah bagi ku ..." gumam Anya pelan, berusaha untuk memejamkan mata lucu nya sebelum menjelang tidur.

Anya kembali tersenyum, ketika melihat sebuah plester kecil yang menutupi lukanya. Tanda kasih sayang dari seseorang Bibi yang baru saja ia temui, dan membuat Anya bisa bertahan melewati hari ini.

Di sisi lain. Tepatnya di dalam kamar pribadi Laras dan Adiwijaya. Terlihat di atas kasur besar berwarna putih itu Adi sudah tertidur miring.

Laras yang sudah mengenakan lingerie berwarna pastel mencoba mendekati Adi, berjalan perlahan untuk tidur di hadapan sang suami.

"Pih ... Kamu udah tidur?" tanya Laras pelan, suaranya lirih di tengah angin malam yang berada di dalam kamar mereka. Laras mengusap pelan pipi Adi yang kini berada dekat di wajahnya.

Laras kini mencoba menggoda Adiwijaya yang tengah tertidur di hadapannya. Namun, semakin Laras mencoba untuk menggodanya, rasa lelah yang ada pada diri suaminya mengalahkan bentuk tubuh ideal Laras.

"Pih ..." kata Laras lagi pelan, namun kali ini dengan suara yang semakin menggoda untuk memenuhi keinginan Laras.

Adi membuka matanya, melihat Laras yang sudah mengenakan lingerie sekarang berada dekat di hadapannya, ingin melakukan hubungan.

"Huh ..." tiba-tiba saja Adi membuang nafas pendeknya. "Aku lelah. Aku ingin tidur agar tidak kesiangan besok pagi," kata Adiwijaya menolak keinginan Laras. Ia berbalik badan sambil menarik selimutnya menutupi tubuhnya yang ia rasa dingin.

Kini hanya punggung suaminya yang bisa Laras lihat, ia merasa kali ini tidak bisa berbuat apa-apa sekarang. "Sial!" gerutu Laras dalam hati, ketika menghentikan usahanya yang terlihat sia-sia sekarang.

Laras kembali berdiri, beranjak cepat dari tempat tidurnya ingin mengganti pakaian yang lebih tebal karena merasa dingin juga. "Kalau gamau, aku ganti baju lagi, nih yaa pih ...?" kata Laras, yang tidak menemukan jawaban sama sekali dari suaminya.

Bruk!

Suara tubuh Laras yang dengan sengaja ia robohkan di kasur dengan sedikit keras, bermaksud agar suami yang sedang tertidur itu merasa dan terbangun. Namun Adiwijaya sama sekali tidur tidak bergerak sedikitpun. Masih memunggungi Laras yang sudah tidur di sampingnya.

Raut wajah Laras kini menjadi kesal, namun tidak bisa berbuat apa-apa karena sudah mendapat penolakan. Ia kini hanya bisa memandang langit-langit kamar, dan menutupi dirinya untuk berusaha tidur memejamkan mata dengan perasaan kesalnya.

Ting!

Suara notif pesan masuk yang berbunyi di ponsel Bianca. Ia masih merasakan kekesalannya yang belum puas terbalaskan kepada Anya.

"Sekarang?" isi sebuah pesan yang saat ini sedang di baca Bianca. Entah apa rencananya, tapi itu bukan hal yang baik bagi Anya yang sudah menjadi targetnya.

"Oke! ... Lu bisa mulai sekarang juga," balas Bianca untuk pesan itu. Sebuah senyum kecil mendarat di wajah Bianca ketika sedang merencakan hal jahat.

Ia melipir berjalan perlahan keluar dari kamarnya malam ini, memastikan kondisi di dalam rumah telah aman. Tidak ada siapa-siapa.

Tek ...

Tek ...

Tek ...

Suara dari detik jam yang masih berbunyi di dalam kamar Anya. Terlihat, sekarang dirinya tengah tertidur pulas. Usai melakukan pekerjaannya yang cukup berat di dalam rumah besar ini.

Cetak!

Bianca yang sudah berada tepat di hadapan pintu kamar Anya, melihat ke sisi samping pintunya, mematikan saklar lampu agar kamar Anya sekarang gelap gulita.

"Gua akan pastiin ... Lu nggak akan betah disini, Anya!" gerutu Bianca pelan, sebuah senyum jahat lagi-lagi mendarat di wajah Bianca. Ia perlahan menoleh ke kiri dan kanan, memastikan tidak ada yang melihat sebelum kembali pergi menuju kamarnya di lantai atas.

Bersambung ...

1
falea sezi
lanjuttt
Imenfirewood: Waah, terimakasih banyak ya, kak, udah mau membaca cerita ini. Mulai sekarang, ceritanya akan update setiap hari di jam 7 pagi. Pastikan kakak udah follow biar nggak ketinggalan cerita seru dari Anya. Terimakasih~ Luv!
total 1 replies
falea sezi
kpn mereka bangkrut🤣 ngemis klo. perlu sebel q
Imenfirewood: Kamu udah baca sampai sini?
total 1 replies
falea sezi
majikan laknat
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!