“Mereka tidak ditakdirkan untuk menyelamatkan dunia. Mereka ditakdirkan untuk menguasainya.”
Di depan publik, Kael Arden adalah Perdana Menteri termuda yang sempurna—dingin, klimis, dan jenius politik yang tak tersentuh. Namun, reputasi itu hancur saat Aurelia Vane, CEO Vane Group sekaligus Ratu dunia bawah tanah, mempermalukannya di panggung internasional. Bagi Kael, Aurelia adalah ancaman negara yang harus dihancurkan. Bagi Aurelia, Kael hanyalah pria sombong yang perlu diajari cara berlutut.
Perang ego di depan kamera berubah menjadi obsesi gelap di balik pintu tertutup. Dari ruang kerja yang sunyi hingga pesta pelelangan rahasia, setiap konfrontasi verbal mereka selalu berakhir dengan ketegangan sensual yang menyesakkan napas. Kael yang terbiasa mengendalikan negara justru kehilangan kendali atas dirinya sendiri, sementara Aurelia dengan manipulatif memanfaatkan hasrat pria itu untuk menghancurkan pemerintahannya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Amila FM, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
The Fallen City
Langkah kaki boots taktis Kael Arden bergema berat di sepanjang lorong bawah tanah kastil Isla de la Rosa. Lorong ini bukanlah terowongan tanah yang lembap, melainkan sebuah mahakarya arsitektur militer modern yang dilapisi dinding baja anti ledak setebal tiga puluh sentimeter. Di atas kepala mereka, getaran hebat beruntun berdegup secara periodik, menandakan bahwa artileri tebing barat milik Vane Group sedang aktif memuntahkan proyektil-proyektil pemusnah ke arah sekoci taktis militer dunia atas yang mencoba merapat.
Kael tidak lagi mengenakan kemeja putih birokratnya yang rapi. Ia telah menanggalkan jasnya yang terkoyak, menyisakan sehelai kaus taktis hitam ketat yang melekat pada tubuh kekarnya. Balutan perban darurat di bahu kirinya kembali memerah karena rembesan darah baru, namun wajahnya sama sekali tidak menampilkan ekspresi kesakitan. Sepasang matanya yang setajam elang hanya fokus pada satu titik koordinat, punggung Aurelia Vane yang berjalan beberapa langkah di depannya.
Aurelia melangkah dengan keanggunan seorang dewi perang yang memimpin pasukannya menuju gerbang neraka. Gaun satin hitamnya yang robek hingga ke pangkal paha bergoyang mengikuti irama langkahnya, menyingkap kaki jenjangnya yang mulus namun kokoh. Di tangan kanannya, pistol perak mawar hitam terayun santai, seolah senjata mematikan itu hanyalah sebuah aksesori pesta biasa.
Di belakang mereka berdua, Lucian Volkov dan sepasang pengawal elit Vane Group berjalan dengan senapan serbu yang siaga, memberikan perimeter perlindungan penuh dari arah belakang. Atmosfer female dominance dan reverse harem yang kental tetap mendominasi dinamika kelompok kecil ini. Meskipun Kael telah membuktikan kegilaannya dengan menghancurkan pemerintahan, ia tetap menempatkan dirinya sebagai tameng pelindung yang berjalan di orbit sang Ratu.
"Sistem satelit cadangan kita telah aktif, Ratu," suara Lucian memecah keheningan terowongan taktis. Pria Rusia itu menatap komputer pergelangan tangannya. "Dokumen-dokumen rahasia yang dilepaskan oleh Tuan Arden telah memicu kekacauan mutlak di ibu kota. Parlemen saat ini sedang dikepung oleh protes massa dan kerusuhan sipil. Wakil Perdana Menteri Vance telah mengeluarkan perintah penarikan darurat untuk sebagian besar armada Pasifik untuk menjaga stabilitas domestik. Bajingan-bajingan itu kini sedang sibuk menyelamatkan kulit mereka sendiri."
Aurelia tidak menghentikan langkahnya. Ia hanya melirik sekilas melalui bahunya, memberikan senyuman dingin yang mematikan ke arah Kael. "Kau mendengar itu, Kael? Mantan sekutu-sekutumu di parlemen kini sedang merangkak di bawah meja mereka, mencoba menghapus jejak dosa yang kau telanjangi ke hadapan publik."
Kael menyunggingkan seringai predatornya yang khas. Tangan kanannya bergerak cepat, meraih pinggang ramping Aurelia dari samping tanpa memedulikan tatapan hormat dari Lucian di belakang mereka. Dengan satu tarikan posesif, Kael merapatkan tubuh Aurelia ke sisi tubuhnya, memaksa wanita itu berjalan dalam ritme yang sama dengannya.
"Mereka bukan sekutuku, Aurelia," bisik Kael, suaranya parau dan dipenuhi intensitas emosional yang pekat. "Mereka hanyalah pion-pion catur yang kugunakan untuk mencapai puncak tertinggi. Dan sekarang, setelah aku menemukan papan catur yang jauh lebih besar di dalam pelukanmu, pion-pion itu sudah tidak lagi memiliki fungsi. Biarkan mereka terbakar bersama sistem yang mereka agungkan."
Armada yang saat ini menyerang Isla de la Rosa tidak lagi memiliki legitimasi hukum yang kuat, karena pemerintahan yang mengirim mereka sedang berada di ambang kejatuhan total.
Mereka akhirnya tiba di sebuah ruangan bundar berskala masif di ujung terowongan: Dermaga Subterania Isla de la Rosa. Ruangan ini dipahat langsung dari perut bumi pulau vulkanik tersebut, menampung sebuah laguna buatan yang terhubung langsung ke samudra dalam. Di tengah laguna, sebuah kapal selam siluman berteknologi fusi hitam mengapung dengan gagah, memancarkan pendar lampu neon biru dari lambungnya yang aerodinamis.
Nikolai, Tanaka dan Alejandro sudah berada di sana, dikelilingi oleh puluhan pengawal pribadi yang sedang memuat peti-peti berisi emas murni, peluru enkripsi, dan peladen data portabel milik Vane Group ke dalam palka kapal selam.
"Semua persiapan evakuasi telah selesai sembilan puluh persen, Ratu," Tanaka membungkuk hormat saat Aurelia dan Kael melangkah masuk ke area dermaga maritim. "Kapal selam ini mampu menyelam hingga kedalaman empat ribu meter tanpa terdeteksi oleh sonar militer mana pun di bumi. Kita bisa menuju pangkalan rahasia di bawah es Antartika dalam waktu tujuh hari."
Aurelia melepaskan diri dari cengkeraman tangan Kael perlahan, lalu melangkah menuju tepi dermaga besi, menatap pantulan lampu biru pada permukaan air laguna. Angin malam yang membawa bau garam dan belerang berembus kencang melalui pintu palka air yang terbuka di ujung gua.
"Antartika adalah tempat yang bagus untuk mendinginkan kepala, Tanaka," ujar Aurelia, suaranya bergema penuh otoritas mutlak. "Namun, aku tidak memiliki niat untuk bersembunyi seperti buronan kelas teri. Vane Group mengendalikan jalur suplai energi dunia bawah. Kehancuran pemerintahan malam ini adalah peluang pasar terbesar dalam abad ini. Kita tidak sedang melarikan diri... kita sedang bersiap untuk mengambil alih sisa-sisa reruntuhan mereka."
Aurelia berbalik, gaun hitamnya berkelebat megah. Pandangannya yang sehitam obsidian menyapu kelima bos mafia tertinggi yang kini berbaris di hadapannya, termasuk Kael Arden yang berdiri tegap dengan aura dominasi maskulinnya yang gelap.
"Mulai malam ini, batas antara pemerintah pusat dan dunia bawah telah dihapus oleh mantan Perdana Menteri kita," lanjut Aurelia, matanya terkunci pada Kael dengan tatapan yang sarat akan kepuasan sensual yang pekat. "Tidak ada lagi hukum parlemen. Yang ada hanyalah hukum Vane. Dan siapa pun di antara kalian yang berpikir untuk memanfaatkan situasi kekacauan ini untuk membangun kerajaan mandiri... ingatlah nasib Marcus."
Para gembong kriminal itu menundukkan kepala mereka serentak, menyatakan kepatuhan absolut yang tidak bisa diganggu gugat lagi. Mereka menyadari bahwa aliansi antara Aurelia Vane dan Kael Arden telah menciptakan sebuah entitas kekuasaan baru yang tidak memiliki tandingan di permukaan bumi.
Kael melangkah maju, memotong barisan bos mafia tersebut hingga ia berdiri tepat di hadapan Aurelia, hanya berjarak beberapa sentimeter dari tubuh wanita itu. Ia mengulurkan tangan kanannya, menyentuh dagu Aurelia, memaksa sang Ratu untuk menatap langsung ke dalam sepasang matanya yang menyala oleh api obsesi yang tak kunjung padam.
"Kau adalah ratuku, Aurelia," Kael berbisik parau, suaranya begitu mengintimidasi namun dipenuhi oleh penyerahan jiwa yang mutlak. "Dan aku adalah monster yang akan memastikan bahwa mahkotamu tidak akan pernah goyah, bahkan jika kita harus menenggelamkan seluruh benua ini ke dalam lautan darah. Di Antartika, di pusat kota, atau di dasar neraka sekalipun... kau adalah milikku, dan tidak akan ada satu manusia pun yang bisa merebutmu dari sisiku."
Aurelia menyunggingkan senyum sensualnya yang paling mematikan. Ia menggenggam pergelangan tangan Kael yang berada di dagunya, merasakan denyut nadi pria itu yang bergetar gila oleh hasrat kepemilikan yang murni. Malam pengkhianatan telah berlalu, dan di atas reruntuhan tatanan dunia yang lama, dinasti kegelapan mereka telah resmi berlayar menuju era penaklukan yang baru.