Pertemuan Elina dengan Alex seorang mafia kejam yang dikenal dengan julukan "Raja Iblis" memiliki kekuasaan diberbagai wilayah, Alex yang memiliki masa lalu kelam dan telah melakukan banyak kekejaman dalam mencapai kekuasaannya, tetapi ia memiliki prinsip untuk melindungi yang lemah dan tidak berdaya.
Ketika seorang wanita muda bernama Elina dikejar oleh geng rival, ia berlari menuju klub malam mewah yang terkenal dan ternyata merupakan milik Alex, untuk menghindari kejaran geng rival dan mencari perlindungan Elina pun memasuki klub malam tersebut.
Di dalam klub tersebut Elina tak sengaja bertabrakan dengan Alex, Alex yang terkejut mencoba untuk mencerna apa yang terjadi pada wanita yang menabraknya. Elina yang tak tau siapa itu Alex, langsung meminta pertolongan padanya. Pertemuan ini pun menjadi awal dari cerita yang akan penuh dengan aksi, romansa dan intrik.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MY QUEEN ATRI, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pengorbanan
Langit sore di atas kota tampak tenang dan sejuk, terlalu tenang. Elina berdiri di balkon kamarnya, mencoba menghirup udara segar. Sejak pengkhianatan Dani terbongkar, pengamanan di rumah Alex semakin diperketat. Jumlah pengawal bertambah dua kali lipat dari sebelumnya, CCTV tambahan dipasang Disetiap sudut ruangan, hingga membuat semua terasa seperti benteng.
Namun justru di balik keamanan itu, Elina merasa semakin terkurung. Dilain sisi Alex saat ini sedang keluar untuk rapat darurat, dia berjanji pada Elina bahwa dirinya tidak akan lama dan akan segera kembali.
"Kau akan aman di sini" katan Alex sebelum pergi keluar untuk rapat. Kalimat itu seharusnya menenangkan, tapi sore itu, entah kenapa....... Elina merasa gelisah.
Di luar gerbang utama rumah Alex, ada sebuah mobil hitam berhenti di sudut jalan. Di dalam mobil itu, seorang pria menatap layar tablet yang menampilkan peta rumah Alex.
"Pengalihan perhatian sudah siap?" tanyanya dingin.
"Ya, Tuan. Ledakan kecil di gudang lama akan membuat mereka menarik sebagian pengawal, disaat itu kita akan menjalankan rencana kita" Senyum tipis terukir di wajahnya.
"Ayo..... mulai" perintahnya.
Sementara itu, di salah satu gudang milik organisasi Alex, ledakan kecil mengguncang suasana kediamannya. Tidak besar, tapi cukup untuk memicu alarm. Ponsel milik Andre berdering, wajahnya menegang.
"Gudang timur diserang, Bos" ucap Andre.
Alex yang sedang dalam perjalanan langsung memerintahkan sebagian anak buahnya untuk bergerak cepat. Ia tidak tahu, kalau sebenarnya itu hanya umpan untuk mengalihkan perhatian.
Di rumah utama, jumlah pengawal berkurang akibat ledakan yang terjadi di gudang. Elina sedang duduk di ruang tamu ketika listrik tiba-tiba padam, ruangan itu langsung gelap dan tidak ada pengawal disekitarnya. Melihat situasi itu jantungnya berdegup kencang, ia berusaha menenangkan diri.
"Tenang… ini hanya gangguan" gumam Elina mencoba meyakinkan diri.
Namun tiba-tiba suara kaca pecah mematahkan keyakinan Elina, teriakan seorang pria yang memberi perintah terdengar dari halaman belakang. Elina segera berdiri, tubuhnya gemetar. Ia bingung mau kemana dan meminta perlindungan pada siapa, beberapa pria bertopeng hitam menerobos masuk.
"Cari gadis itu......!" perintahnya.
Darah Elina seakan membeku, ia berlari ke arah tangga mencoba mencapai kamar atas. Tapi naasnya, salah satu pria berhasil menangkap pergelangan tangan Elina.
"Lepaskan!" teriaknya Elina.
Beruntung saat itu Elina mengingat latihan bela diri yang sudah diajarkan Alex beberapa hari yang lalu. Dengan sisa keberanian, ia menghantam sikunya ke perut pria itu dan berhasil melepaskan diri.
Namun jumlah orang yang menerobos masuk terlalu banyak, sehingga Elina tertangkap. Sebuah kain ditekan ke mulut dan hidungnya, aroma tajam memenuhi hidungnya. Pandangan Elina mulai kabur. Tapi ketika kesadaran Elina mulai hilang, yang ada dipikirannya saat itu.....Alex.
Mobil yang membawa Elina melaju cepat meninggalkan kediaman Alex. Di dalam mobil itu, salah satu pria tertawa kecil.
"Alex pasti akan mengamuk" ucap salah satu pria.
"Biarkan saja, itulah yang kita inginkan" jawab pemimpin mereka.
Setengah jam kemudian, Alex menerima panggilan dari anak buahnya "Bos… mereka menculik Nona Elina" ucapnya, dunia Alex seakan berhenti berputar.
"Apa kau bilang, kenapa itu bisa terjadi?" tanya Alex.
"Tadi terjadi ledakan, Bos. Di gudang dan sebagian pengawal berlari untuk melihat yang terjadi. Saat itulah nona Elina diculik" ucap anak buahnya.
"Dan ada beberapa orang yang menyusup masuk dan menyerang" lanjutnya.
Rumahnya yang biasanya seperti benteng kini terasa seperti kuburan sunyi saat ia kembali, pecahan kaca berserakan. Beberapa pengawal terkapar, wajah Alex berubah melihat kekacauan yang terjadi dirumahnya, wajahnya bukan lagi sekadar dingin, melainkan mengerikan.
"Siapa?" tanyanya pelan.
"Kelompok Zerka, kemungkinan besar" jawab Andre. Alex mengepalkan tangan begitu kuat hingga buku-bukunya memutih.
"Aktifkan semua jaringan, tutup semua pelabuhan dan bandara. Aku ingin mereka tidak punya jalan keluar" perintah Alex dengan suaranya yang rendah. Namun semua orang tahu, badai sesungguhnya telah dimulai.
Elina terbangun di ruangan gelap dan lembap, tangannya terikat ke kursi. Kepalanya masih terasa berat, di depannya berdiri seorang pria berjas abu-abu, wajahnya tampan namun matanya dingin.
"Akhirnya kau bangun, nona" ucapnya santai.
"Siapa kau?" suara Elina serak. Ia belum sepenuhnya sadar.
Pria itu tersenyum tipis, ia ingin melihat bagaimana reaksi sang mafia jika mainannya dirusak. Elina menatap pri di depannya dengan berani, meski tubuhnya gemetar.
"Aku bukan mainannya" ucap Elina dengan suara lantang dan berani.
"Oh, kau lebih dari itu. Kau hanya kelemahannya" ucapnya
Pintu terbuka, salah satu anak buah pria itu masuk tergesa-gesa. "Tuan...... orang-orang Alex sudah mulai bergerak" ucap anak buah pria itu. Pria itu tertawa kecil.
"Bagus. Biarkan dia datang" ucap pria itu.
Pria itu mendekat ke Elina dan mengangkat dagunya paksa.
"Kau tahu? Aku kehilangan adikku karena perang wilayah dengan Alex. Hari ini, dia akan merasakan kehilangan yang sama" ucapnya.
Jantung Elina berdegup kencang, namun di tengah ketakutannya, ia justru memikirkan satu hal......Alex akan datang. Ia tahu, saat itu terjadi darah akan tumpah.
Ditempat lain, Alex berhasil melacak lokasi sinyal terakhir dari ponsel Elina, sebuah gudang tua di pelabuhan timur.
Tanpa menunggu pasukan lengkap, Alex langsung bergerak dengan beberapa orang kepercayaannya.
"Bosss...... terlalu berbahaya jika masuk sekarang" ucap Andre yang memperingatkan Alex.
Setiap detik terasa berbahaya baginya, tidak ada yang berani membantah lagi. Hari sudah malam, malam itu terasa lebih gelap ketika mereka tiba, Alex masuk lebih dulu. Suara tembakan pecah memecah kesunyian, anak buah Zerka tumbang satu per satu.
Alex bergerak tanpa ragu, seperti mesin yang hanya mengenal satu tujuan. Sampai akhirnya Ia melihatnya, Elina yang terikat ditengah ruangan. Di belakang Alex, pria berjas abu-abu menodongkan pistol ke kepalanya.
"Tepat waktu" ucap pria itu sambil tertawa kecil.
"Lepaskan dia" suara Alex rendah, namun terdengar mematikan.
"Turunkan senjatamu dulu" ucap pemimpin Zerka.
Anak buah Alex menegang, Andre berbisik "Boss.."
Alex mengangkat tangan memberi isyarat agar tetap diam, Perlahan Alex menjatuhkan pistolnya ke lantai. Elina yang melihat itu membelalak.
"Jangan!" Teriak Elina.
"Jadi benar… kau rela menyerahkan nyawamu, demi wanita ini" ucap pemimpin Zerka dengan tawanya. Alex melangkah maju tanpa senjata.
"Urusanmu adalah dengan, ambil aku dan lepaskan dia" ucap Alex, ruangan menjadi sunyi. Elina merasa napasnya tercekat.
"Alex, jangan lakukan ini…" ucap Elina dengan suara bergetar, mata berkaca-kaca. Namun tatapan Alex terus tertuju pada Elina, untuk pertama kali dalam hidupnya, sang mafia kejam itu menawarkan dirinya sebagai gantinya.
Pria berjas abu-abu, yaitu pemimpin Zerka tampak berpikir.
Lalu Suara tembakan terdengar, semua terjadi begitu cepat. Andre menembak dari sisi lain ruangan, peluru itu mengenai bahu pemimpin Zerka. Situasi menjadi kacau pecah, Alex langsung menerjang ke arah Elina, memutuskan tali yang mengikat tangannya.
"Kau baik-baik saja?" Tanya Alex, suaranya penuh ketegangan.
Elina mengangguk sambil menangis, namun sebelum mereka sempat keluar, pemimpin Zerka yang terluka itu masih sempat mengangkat pistolnya sekali lagi dan mengarahkannya pada Alex. Elina yang melihat itu tanpa berpikir panjang, segera mendorong tubuh Alex menjauh.
DOOORRRR!!!! Suara tembakan menggema diruangan itu. Tubuh Elina terkena tembakan dan terhuyung darah perlahan merembes dari bahunya.
"Elinaaa!" teriak Alex, suaranya mengguncang ruangan. Waktu terasa berhenti, ia menangkap tubuh Elina sebelum jatuh ke lantai.
"Kenapa kau lakukan itu…" suaranya bergetar untuk pertama kalinya.
Elina tersenyum lemah, salah satu tangannya memegang wajah Alex "Karena… aku tidak ingin melihatmu terluka lagi…" ucap Elina dengan suara samar-samar.
Mata Alex memerah, Pemimpin Zerka akhirnya tumbang oleh tembakan anak buah Alex. Namun kemenangan itu terasa pahit bagi Alex, ia mengangkat Elina dalam pelukannya.
"Siapkan mobil! Sekarang!" Tegas Alex.
Saat mobil melaju menuju rumah sakit, Alex menggenggam erat tangan Elina "Jangan tutup matamu" ucap Alex, suaranya bergetar.
"Aku… tidak akan pergi" bisik Elina pelan.
kak lanjut epsd 3 dong 🔥🔥