Jenna tak sengaja menyelamatkan seorang anak kecil yang terkurung bersamanya di gudang bar. Tak disangka, anak itu merupakan anak kesayangan seorang duda bangsawan.
Sebelumnya, Jenna selalu tersisih dari keluarganya. Kakaknya bahkan membuat kedua orang tua mereka berbalik memusuhinya. Sementara itu, pria yang dulu ia cintai justru berpihak kepada sang kakak.
Kali ini, Jenna tidak berniat mengalah. Ia ingin membalas semua yang telah dialaminya sekaligus mengejar kembali mimpinya menjadi aktris terkenal. Namun, setiap langkahnya selalu dihadang berbagai rencana licik dari kakaknya yang terus berusaha menjatuhkannya.
Saat Jenna perlahan membantu anak sang duda membuka diri dari trauma, pria itu mulai memperhatikannya dengan cara yang berbeda.
Akankah ia jatuh cinta pada Jenna?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DityaR, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tarian Selir Mabuk
Di lokasi syuting.
Begitu Jenna masuk, bisik-bisik langsung berhenti. Semua orang memandangnya dengan ekspresi aneh.
Sepertinya rumor sudah menyebar.
Di sudut, seseorang berbisik sinis, “Baru juga pendatang baru, sudah berani datang telat. Nggak lihat Maoy sudah datang dari tadi?”
Padahal bukan Jenna yang telat, tapi Maoy yang terlalu cepat.
“Nona Adiputra, kalian satu agensi. Rumor di internet itu benar nggak?”
“Ada yang bilang dia tidur dengan banyak orang di kru demi peran itu!”
“Parah banget! Royal nggak peduli?”
Menghadapi pertanyaan itu, Maoy menunjukkan ekspresi serba salah. “Kami masing-masing mengandalkan kemampuan sendiri, jadi perusahaan tidak ikut campur…”
Setelah bicara, dia seperti sadar ucapannya salah dan buru-buru menambahkan, “Maksudku, juniorku tidak melakukan itu. Jangan percaya rumor!”
Namun justru itu membuat orang semakin yakin.
Sampai sutradara datang dan menyuruh semua mulai bekerja, barulah kerumunan bubar.
Ekspresi polos di wajah Maoy langsung menghilang. Dia memanggil asistennya dan bertanya pelan, “Tugas yang aku kasih gimana?”
“Tenang saja, kak. Sudah beres! Bukannya dia alergi logam? Aku sudah campur bubuk logam ke alat makeup. Wajahnya bakal hancur…”
Hari ini Jenna akan syuting adegan tari. Tidak seperti kemarin yang harus memakai kostum istana yang berat, pakaian hari ini jauh lebih ringan, akhirnya dia bisa bernapas lega.
Begitu masuk ruang rias, Jenna sempat terdiam. Dia tidak menyangka akan melihat Prilly di sana. Dia pikir Prilly tidak akan datang.
Karena gagal mendapatkan peran pendukung kedua, sutradara mengundangnya untuk memerankan pendukung ketiga, Selir Ramona.
Peran itu juga tokoh yang menghancurkan negara, tapi porsinya lebih sedikit dari Jenna. Selain itu, dalam cerita dia justru disiksa oleh karakter Jenna.
Meski manajernya sudah menerima peran itu, Prilly jelas tidak senang. Dia bahkan tidak datang ke acara pembukaan dan sempat menyebarkan kabar akan mundur.
Jenna menduga dia datang karena tahu proyek ini mendapat investasi besar. Bagaimanapun, ini produksi besar.
Prilly sedang dirias. Begitu melihat Jenna lewat cermin, wajahnya langsung berubah kesal tanpa menutup-nutupi rasa bencinya.
Seperti Maoy, dia juga punya latar belakang keluarga kuat, jadi selalu bersikap arogan di lokasi. Reputasinya memang buruk, tapi penggemarnya membelanya habis-habisan, bahkan menyebutnya sebagai “wanita tercantik di dunia hiburan”.
Karena itu, Prilly sangat membenci Jenna. Bukan hanya karena peran direbut, tapi juga gelarnya.
“Oh, bukannya ini si nomor satu di dunia hiburan? Dengan banyak sponsor, kenapa masih ikut berdesakan di ruang rias kecil kayak gini?” ejeknya sinis.
Jenna tetap tenang. Dia duduk, membuka naskah, dan membaca tanpa peduli.
Dia punya kebiasaan. Begitu masuk lokasi, dia fokus penuh pada pekerjaan.
“Jenna, maksud kamu apa? kamu mengabaikan aku?” Prilly membanting sisir.
Jenna tetap membaca, seolah tidak mendengar.
Penata rias di samping akhirnya angkat bicara, “Dia pakai earphone, mungkin nggak dengar.”
Baru saat itu Prilly sadar. Dia merasa seperti meninju kapas. Entah benar tidak dengar atau pura-pura.
Sebenarnya Jenna memang sengaja. Begitu melihat Prilly, dia langsung memasang earphone untuk menghindari konflik.
Dalam situasi seperti ini, konflik hanya akan merugikan dirinya.
“Nona Prilly, riasannya sudah selesai. Mau dilihat?” tanya penata rias hati-hati.
“Nggak suka. Ulang!” jawab Prilly tanpa melihat.
“Bagian mana yang perlu diperbaiki?”
“Semuanya!”
Penata rias hanya bisa menurut.
Karena kesal pada Jenna, Prilly melampiaskan emosi ke penata rias. Penata rias tidak berani melawan, hanya melirik Jenna dengan kesal. Dia tahu sebenarnya Jenna yang jadi sasaran.
Karena hanya pemeran utama yang punya ruang rias sendiri, Jenna harus menunggu sampai selesai.
Akhirnya, setelah didesak manajernya, Prilly pergi, ia masih sempat melotot ke arah Jenna.
Saat giliran Jenna dirias, penata rias dengan kasar memindahkan alat-alatnya. “Jenna, sini!”
Jenna meletakkan naskah dan berjalan mendekat. “Maaf merepotkan.”
Saat penata rias hendak mulai, Jenna menghentikannya. “Ada apa?”
“Ritta, boleh pakai makeup sendiri? Kulit aku sensitif, takut alergi…”
“Nggak bisa. Aturannya nggak begitu. Kalau hasilnya jelek, kamu mau tanggung?” jawab Ritta tidak sabar.
Jenna diam-diam menyelipkan amplop merah ke tangannya. “Tolong ya… kita kan kerja pakai wajah…”
Ritta merasakan isinya, lalu pura-pura enggan. “Baiklah. Tapi kalau ada masalah, kamu yang tanggung jawab.”
“Tentu.”
Setelah itu, sikap Ritta langsung berubah. Riasannya bahkan lebih bagus dari kemarin.
Begitu dia pergi, Jenna memeriksa kostum. Dia mengeluarkan magnet besar dan menyapukannya ke pakaian, lalu ke sepatu.
Aman.
Dia menyimpan magnet dan menjulurkan lidah. Kalau profesional, seharusnya pakai trik lain. Jarum di pakaian, atau paku kecil di sepatu. Dia sudah terlalu sering melihat trik seperti itu.
Dia memang tidak bisa mengecek makeup, tapi dia tahu kelemahannya. Alergi logam. Kemungkinan besar mereka akan pakai cara itu.
Setelah berganti, dia mengikuti pelatih tari. Tak lama, sutradara datang. “Gimana? kamu pernah belajar tari, kan?”
“Seharusnya bisa,” jawab Jenna. Pelatih tersenyum. “Nanti juga lihat sendiri.”
“Baik, kita mulai.”
Adegan dimulai.
Setelah seleksi besar, selir baru masuk. Kaisar mengadakan jamuan.
Perhatiannya hanya pada selir baru. Bahkan Selir Arimbi diabaikan.
Selir Ramona yang dulu paling disukai merasa puas melihat itu. “Di istana, yang baru selalu tersenyum, yang lama menangis. Dia pikir kecantikannya bisa menahan kaisar selamanya?”
Anehnya, karena berduet dengan Jenna akting Prilly yang biasanya biasa saja malah terlihat bagus.
Sutradara sangat puas.
Jenna bersandar miring di kursi panjang sambil meminum anggur. Di sekelilingnya ramai dan bising, tetapi dia tampak seperti berada di dunianya sendiri.
Alkohol yang kuat melewati bibir merahnya, turun perlahan di lehernya yang jenjang, lalu mengalir ke dalam kerah pakaiannya, memancing imajinasi liar.
Pemandangan itu begitu memikat hingga para pria yang hadir menatapnya tanpa berkedip.
Kameramen sengaja mendekatkan kamera untuk mengambil gambar close-up.
“Angin badai menyelimuti sungai, hujan menggelapkan desa, empat gunung bergemuruh seperti ombak…” Jenna melafalkan puisi dengan suara mabuk, lalu berdiri dengan langkah goyah.
Detik berikutnya, dia melempar cawan anggur. Dengan langkah tidak stabil, dia mulai menari. “Api menyala hangat, aku dan kucingku tak ingin keluar rumah…”
Pinggang rampingnya meliuk seperti ranting willow, lentur lalu bangkit kembali. Kain tipis berayun mengikuti gerakannya, tatapannya berubah memikat dan menggoda.
“Berbaring diam di desa sunyi, Aku tak bersedih untuk diri sendiri. Yang kuinginkan hanya menjaga perbatasan, Dan mendapat tempat di sana…”
Dia mengambil kendi anggur dan meneguknya.
Gerakannya seperti tarian, namun juga seperti tarian perang. Dari sosok yang memikat berubah menjadi jenderal yang memimpin pertempuran, perubahannya begitu mencolok.
Identitas asli Selir Arimbi adalah jenderal wanita. Keluarganya berjuang untuk negara, tetapi berakhir dihukum mati, menyisakan dirinya seorang diri. Dia masuk istana bukan hanya untuk membalas dendam, tapi juga menghancurkan kerajaan ini.
Kaisar yang berada di dekatnya tampak tidak menyadari bahaya. Dia terpesona, tidak bisa berpaling.
Melihat kembali ketertarikan kaisar, Selir Ramona dan para selir lain dipenuhi iri dan benci.
“Di malam sunyi aku mendengar Angin dan hujan berdesir, Kuda perang melintasi sungai beku, Seperti dulu, kembali dalam mimpiku… Seperti dulu, kembali dalam mimpiku… Seperti dulu, kembali dalam mimpiku…”
Baris terakhir diucapkan tiga kali, dengan emosi berbeda. Setelah itu, Jenna bersandar di pelukan kaisar dengan penuh pesona, menjeratnya dalam permainan balas dendamnya.
Begitu adegan selesai, sutradara hampir lupa berteriak.
“Cut! Bagus sekali!” Mamayo bertepuk tangan. “Tarian Jenna sangat profesional. Ekspresi semua orang juga bagus. Yang mengejutkan justru Prilly, ekspresinya pas sekali!”
Wajah Prilly gelap. Itu bukan akting, tapi benar-benar iri. Aktor yang memerankan kaisar tersenyum. “Aku benar-benar terpukau, bukan akting.”
“Aku sudah bilang kemampuan juniorku luar biasa,” kata Maoy.
Namun di dalam hati, dia hampir menggertakkan gigi. Setelah syuting selesai, Maoy menarik asistennya.
“Ada apa? Kenapa dia nggak bereaksi sama sekali?”
Asisten panik. “Aku sudah campur ke semua makeup… mungkin reaksinya terlambat?”
“Tidak mungkin. Setengah jam saja harusnya sudah muncul reaksi!” kata Maoy.
“Mungkin dia nggak pakai—”
“Nggak berguna! Kenapa nggak sekalian di kostum juga!”
“Maaf ... Aku salah…”
Maoy menahan marah. Masih banyak kesempatan. Apalagi dari tatapan Prilly tadi, jelas penuh kebencian.
Dia tersenyum dingin. "Jenna, kamu pikir bisa tenang? aku bakal bikin kamu jatuh lebih sakit."