NovelToon NovelToon
Surga Yang Terlupakan

Surga Yang Terlupakan

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Konflik etika / Selingkuh / Pelakor
Popularitas:4.7k
Nilai: 5
Nama Author: Mbak Ainun

"Menikahimu adalah ibadah terpanjang yang pernah aku ikrarkan. Namun, mengapa kini aku merasa sedang menyembah kehampaan di rumah yang tak lagi bertuan?"

Sepuluh tahun lamanya, Hana percaya bahwa kesetiaan adalah fondasi tunggal yang akan menjaga atap rumah tangganya tetap kokoh. Ia telah memberikan segalanya—masa mudanya, impian-impiannya, hingga seluruh napasnya hanya untuk melayani Aris, suaminya. Bagi Hana, rumah mereka adalah "Surga" kecil yang ia bangun dengan tetesan keringat dan doa-doa di setiap sujud malamnya.

Namun, perlahan "Surga" itu mulai terasa dingin. Aris, pria yang dulu selalu pulang dengan senyum hangat, kini berubah menjadi sosok asing yang membawa aroma parfum yang tak pernah Hana kenali. Tatapan matanya yang dulu penuh cinta, kini kosong dan seolah menembus tubuh Hana seakan ia adalah bayangan yang tak kasat mata.

Petaka itu dimulai saat sebuah nama dari masa lalu Aris kembali muncul. Aris tidak hanya lupa jalan pulang ke pelukan Hana, ia mulai "melupakan" sel

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mbak Ainun, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 26: Pahat dan Perisai

Surabaya di pagi hari terasa seperti tungku yang mulai memanas, namun di dalam ruko "Ruang Temu", suasana terasa sejuk berkat pendingin ruangan yang baru saja terpasang. Hana berdiri di lantai dua, memandangi truk besar berwarna hijau lumut yang baru saja parkir di depan gerbang. Seorang pria dengan topi trucker dan kaus hitam pudar turun dari kabin kemudi, meregangkan tubuhnya yang tampak letih setelah perjalanan panjang dari Jawa Barat.

Itu Raka.

Hana hampir berlari menuruni anak tangga, mengabaikan martabatnya sebagai "Ketua Koperasi" di depan para staf. Begitu pintu kaca terbuka, ia langsung menghambur ke pelukan suaminya. Aroma kayu jati, keringat, dan bensin yang menempel di baju Raka justru terasa seperti parfum paling menenangkan bagi Hana.

"Kamu sampai lebih cepat dari dugaanku, Ka," bisik Hana, masih menyandarkan kepalanya di dada Raka yang bidang.

Raka terkekeh, mengecup puncak kepala Hana. "Aku tidak tahan memikirkanmu menghadapi 'Haris-Haris' Surabaya sendirian, Na. Aku membawa kiriman meja Barista cadangan dan... beberapa 'perisai' kayu untukmu."

Raka menunjuk ke bak truk. Di sana tertumpuk furnitur-furnitur berat yang dirancang khusus untuk cabang Surabaya. Namun, bagi Hana, kedatangan Raka adalah perisai yang sesungguhnya.

Siang harinya, suasana ruko berubah menjadi bengkel kerja sementara. Raka mulai membongkar muatan, dibantu oleh beberapa pemuda setempat yang ia rekrut secara mendadak. Dewi, yang sejak kejadian kemarin tampak lebih waspada, membantu menyeka debu-debu kayu yang berjatuhan.

"Ini namanya pahat bubut, Bu Dewi," suara Raka terdengar sabar saat ia menunjukkan salah satu alat kerjanya pada Dewi. "Kayu ini tadinya kasar, penuh urat yang tidak beraturan. Tapi kalau kita tahu cara menekannya dengan benar, dia bisa jadi kaki meja yang indah dan kuat. Sama seperti hidup kita."

Dewi mendengarkan dengan mata berbinar. Ia mulai menyadari bahwa di tempat ini, orang-orang bicara tentang "membangun", bukan "menghancurkan".

Namun, ketenangan itu kembali terusik. Sebuah sedan hitam mewah kembali berhenti di depan ruko. Kali ini, bukan hanya ajudan berbadan besar yang turun. Seorang pria paruh baya dengan kemeja batik sutra dan kacamata hitam turun dengan langkah angkuh. Haris. Suami Dewi.

Haris melangkah masuk ke dalam area konstruksi tanpa melepas kacamatanya. Ia menatap sekeliling dengan pandangan menghina. "Jadi, ini tempat penampungan istri-istri pembangkang itu?"

Dewi seketika menciut, ia menjatuhkan kain lapnya dan mundur ke belakang mesin kopi yang belum terpasang. Raka, yang sedang memegang palu kayu, langsung berdiri di depan Dewi, sementara Hana melangkah maju menghadapi Haris.

"Selamat siang, Tuan Haris," sapa Hana, suaranya sedingin es namun sangat sopan. "Area ini masih dalam tahap konstruksi dan tertutup untuk umum. Ada yang bisa saya bantu?"

Haris melepas kacamatanya, menatap Hana dengan tatapan predator. "Ibu Hana, saya tahu siapa Anda. Saya tahu sejarah Anda dengan Aris Gunawan di Jakarta. Jangan pikir karena Anda punya dukungan kementerian, Anda bisa ikut campur urusan rumah tangga saya. Dewi itu tidak stabil. Dia butuh pengobatan medis, bukan kursus menyeduh kopi."

Hana tersenyum tipis, sebuah senyuman yang membuat Haris sedikit mengernyit. "Menarik. Aris dulu juga bilang saya 'tidak stabil' saat saya mulai menuntut hak saya. Sepertinya pria-pria seperti Anda punya buku panduan yang sama untuk membungkam istri mereka."

"Jaga mulutmu, perempuan!" bentak Haris, langkahnya maju satu tindak mendekati Hana.

Raka meletakkan palu kayunya di atas meja dengan bunyi dentuman yang cukup keras untuk mengalihkan perhatian. Ia melangkah maju, berdiri di samping Hana. Tubuh Raka yang lebih tinggi dan berotot karena kerja fisik membuat Haris sedikit goyah.

"Tuan," suara Raka rendah dan berwibawa. "Istri saya sedang bicara dengan Anda secara profesional. Tolong jaga nada bicara Anda. Ini adalah properti koperasi, dan setiap jengkalnya dilindungi hukum."

Haris mendengus, mencoba mengembalikan kewibawaannya yang mulai retak. "Hukum? Di Surabaya ini, hukum ada di saku saya. Dewi, ikut pulang sekarang atau jangan harap kamu bisa melihat anak-anakmu lagi!"

Dewi menangis tersedu-sedu di belakang. Ancaman tentang anak adalah senjata nuklir bagi setiap ibu. Hana bisa merasakan ketakutan Dewi, namun ia juga tahu bahwa jika Dewi menyerah sekarang, ia akan kehilangan segalanya selamanya.

"Dewi, jangan bergerak," perintah Hana tanpa menoleh. Lalu ia kembali menatap Haris. "Tuan Haris, pengacara kami, Maya, sudah mendaftarkan gugatan hak asuh anak dan laporan atas tindakan intimidasi serta penelantaran istri ke Polda Jawa Timur pagi ini. Kami punya rekaman CCTV saat ajudan Anda mencoba membawa paksa Dewi kemarin. Dan perlu Anda tahu, tim kementerian sedang mengawasi kasus ini sebagai bagian dari perlindungan anggota koperasi nasional."

Haris tampak terkejut. Ia tidak menyangka Hana akan bergerak secepat itu. "Anda berani menggugat saya?"

"Bukan saya yang menggugat, tapi hukum yang berbicara," balas Hana. "Jika Anda ingin bicara soal anak-anak, silakan bicara lewat pengacara kami di kantor polisi. Sekarang, silakan tinggalkan tempat ini sebelum saya meminta petugas keamanan kementerian untuk menyeret Anda keluar."

Haris menatap Hana dengan kebencian yang mendalam, lalu beralih ke Dewi yang masih gemetar. "Kamu akan menyesal, Dewi. Kamu memilih orang yang salah untuk berlindung."

Setelah mobil Haris melesat pergi, suasana ruko terasa sangat hening. Dewi jatuh terduduk di lantai, menutupi wajahnya dengan tangan. Hana segera menghampirinya, memeluknya erat.

"Sudah, Dewi. Dia tidak bisa menyentuhmu di sini," bisik Hana.

Malam harinya, setelah semua ketegangan mereda, Hana dan Raka duduk di lantai atas ruko yang masih beralaskan karpet sementara. Di luar, lampu-lampu kota Surabaya tampak berkerlap-kerlip.

"Aku tidak menyangka akan seberat ini di sini, Ka," aku Hana, menyandarkan kepalanya di bahu Raka. "Haris itu jauh lebih licin dan berkuasa di daerahnya daripada Aris di Jakarta."

Raka mengusap tangan Hana, jemarinya yang kasar memberikan sensasi kekuatan yang nyata. "Kayu yang paling keras sekalipun, Na, kalau terus dipahat dengan kesabaran dan teknik yang benar, akhirnya akan membentuk pola yang kita inginkan. Haris itu seperti kayu jati yang tua dan keras kepala. Kita tidak bisa menghantamnya sekaligus. Kita harus memahatnya lewat jalur hukum, sedikit demi sedikit, sampai dia tidak punya ruang untuk bergerak."

Hana menatap Raka. "Terima kasih sudah datang, Ka. Tadi, saat dia membentakku, aku sempat merasa kecil lagi. Tapi saat aku merasakan kehadiranmu di sampingku, aku merasa punya perisai yang tak terlihat."

"Kamu adalah perisaimu sendiri, Hana," koreksi Raka lembut. "Aku hanya pengingat bahwa kamu tidak perlu menanggung beban dunia sendirian."

Bab 26 ini ditutup dengan sebuah momen penting. Esok harinya, berita tentang keberanian Hana menghadapi pengusaha besar Surabaya mulai tersebar di kalangan aktivis perempuan setempat. "Ruang Temu" belum resmi dibuka, namun pintunya sudah mulai diketuk oleh wanita-wanita lain yang memiliki cerita serupa dengan Dewi.

Hana menyadari bahwa perjalanannya di Surabaya adalah sebuah peperangan simbolis. Jika ia berhasil memenangkan kasus Dewi, maka "Ruang Temu" akan menjadi mercusuar bagi seluruh wanita di Jawa Timur.

Ia mengambil buku catatannya, menuliskan satu refleksi sebelum tidur:

"Terkadang, musuh terbesarmu bukan pria yang berdiri di depanmu dengan ancaman, tapi rasa takutmu sendiri yang membisikkan bahwa kamu tidak cukup kuat. Hari ini, aku belajar bahwa suara kebenaran, sekecil apa pun, jika diucapkan dengan teguh, bisa meruntuhkan keangkuhan yang paling kokoh sekalipun."

Di bawah sinar lampu temaram, Raka masih sibuk merakit sebuah kursi kecil di sudut ruangan. Suara palu yang beradu dengan pasak kayu terdengar seperti detak jantung harapan yang baru. Surabaya mungkin panas dan keras, namun di dalam ruko ini, sebuah revolusi kecil sedang dibangun dengan cinta dan keberanian.

1
Weni suci Fajar wati
sungguh karya yang luar biasa,,👍
Weni suci Fajar wati
Kak aku membaca dari awal sampai di titik ini,,, banyak sekali hal yang aku pelajari dari cerita kakak,,, makasih untuk cerita yang luar biasa ini,,, semangat Kak,,,aku tunggu cerita selanjutnya,,,
PNC
bener bener Satra
PNC
kereeeeeennnn
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!