NovelToon NovelToon
Mahkota Untuk Aurora

Mahkota Untuk Aurora

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi
Popularitas:99
Nilai: 5
Nama Author: apel manis

Di malam gerhana darah yang terkutuk, Kerajaan Aethelgard kehilangan jantungnya. Putri Aurora Lyris Valerius, sang pewaris tunggal yang baru berusia satu tahun, diculik dalam kabut sihir hitam, meninggalkan tujuh kakak angkatnya dalam penyesalan abadi. Delapan belas tahun berlalu, sang Putri tidak tumbuh di atas ranjang sutra,melainkan di bawah cambukan dingin Kerajaan Noxvallys. Dikenal hanya sebagai "Ara", ia hidup sebagai pelayan rendahan yang disiksa oleh Putri Morena Valeska yang semena-mena.


Warning!!Cerita asli dan murni dari pikiran penulis.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon apel manis, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 16

Kembalinya rombongan pangeran dan Aurora dari desa Eldervale disambut dengan suasana yang campur aduk di gerbang Istana Aethelgard. Fajar yang mulai menyingsing menerangi wajah-wajah para ksatria yang kelelahan, namun di mata rakyat yang mulai berkumpul di sepanjang jalan istana, ada secercah harapan baru. Berita tentang keberanian Aurora yang memadamkan api dan menghancurkan bayangan Morena telah menyebar lebih cepat daripada angin pagi.

Raja Alaric dan Ratu Elara sudah menunggu di pelataran utama. Melihat putrinya turun dari kuda dengan pakaian yang kotor dan wajah yang terkena jelaga, namun dengan dagu yang tetap tegak, Ratu Elara hampir jatuh lemas karena lega.

"Kau tidak terluka, Nak?" tanya Ratu sambil memeluk Aurora erat-erat.

"Aku baik-baik saja, Bunda. Tapi Eldervale... warga di sana menderita karena Morena," jawab Aurora dengan suara yang bergetar namun tetap kuat.

Raja Alaric menatap ketujuh putranya. "Alistair, jelaskan apa yang terjadi."

Alistair maju, ia berlutut sejenak sebelum memberikan laporan. "Ayah, Morena telah menggunakan sihir bayangan Malakor. Namun, kekuatan Aurora—melalui Tongkat Cahaya Bintang—berhasil memukul mereka mundur. Dia bukan lagi hanya putri kita yang hilang, Ayah. Dia adalah pelindung kerajaan ini."

Raja Alaric menatap tongkat emas di pinggang Aurora yang kini telah kembali menjadi pulpen cendana biasa. Ia menarik napas panjang. Keputusan yang selama ini ia pertimbangkan kini telah bulat.

"Malam ini juga, kita akan mengadakan upacara resmi. Bukan sekadar pesta penyambutan, tapi penobatan Aurora sebagai Putri Mahkota Aethelgard. Rakyat harus tahu siapa yang memimpin mereka menghadapi kegelapan!"

Persiapan penobatan dilakukan dalam waktu yang sangat singkat, namun tetap sangat megah. Ketujuh pangeran mengambil tanggung jawab masing-masing. Benedict dan Darian memastikan keamanan tembok istana, sementara Fabian dan Gideon mengawasi distribusi makanan dan bantuan untuk warga Eldervale yang mengungsi ke istana.

Di dalam kamar rias, Aurora duduk dengan tenang. Kali ini, ia tidak mengenakan gaun sutra yang lembut. Atas permintaannya sendiri, ia mengenakan zirah ringan yang dilapisi emas putih di atas gaun perangnya yang berwarna biru tua. Ia ingin rakyat melihatnya bukan sebagai boneka istana, melainkan sebagai pejuang.

"Kak Alistair?" panggil Aurora saat melihat kakak tertuanya masuk ke ruangan.

Alistair membawa sebuah kotak kayu panjang. "Bunda meminta ini diberikan padamu. Ini adalah jubah kebesaran Ratu terdahulu. Hanya putri yang memiliki keberanian murni yang boleh mengenakannya."

Alistair membantu memasangkan jubah berwarna putih perak itu ke bahu Aurora. Ia menatap adiknya melalui cermin. "Aurora, kau tahu bahwa setelah ini, Malakor akan menyerang dengan seluruh kekuatannya. Kau tidak menyesal?"

Aurora berbalik, menatap Alistair dengan mata biru yang jernih. "Aku menghabiskan delapan belas tahun sebagai pelayan yang ketakutan, Kak. Aku lebih baik mati sebagai putri yang melindungi rakyatku daripada hidup seribu tahun sebagai budak di Noxvallys."

Alistair tersenyum bangga. "Kami ketujuh naga Valerius akan memastikan kau tidak akan pernah mati, Aurora."

Aula Agung Aethelgard dipenuhi oleh ribuan orang. Saat pintu besar terbuka, ketujuh pangeran berjalan lebih dulu, membentuk barisan ksatria di sisi kanan dan kiri karpet merah. Aurora berjalan di tengah, langkahnya mantap. Setiap langkah yang ia ambil seolah membawa kekuatan yang menenangkan seluruh ruangan.

Raja Alaric berdiri di depan singgasana, memegang mahkota safir yang indah. "Rakyat Aethelgard! Kegelapan telah mencoba mencuri cahaya kita. Mereka mengirim penipu, mereka mengirim api, dan mereka mengirim ketakutan. Tapi hari ini, Cahaya Bintang telah kembali!"

Raja meletakkan mahkota itu di kepala Aurora. "Kukukuhkan kau, Aurora Lyris Valerius, sebagai Putri Mahkota Aethelgard. Pemimpin pasukan cahaya dan jantung dari kerajaan ini!"

Sorak-sorai rakyat mengguncang lngit-langit aula. Namun, di tengah kegembiraan itu, Aurora merasakan getaran aneh di sakunya. Pulpen Cendana Emas itu mendadak menjadi sangat panas.

“Aurora... dengarkan aku...”

Sebuah suara wanita yang sangat lembut, mirip dengan suara Ratu Elara namun lebih berwibawa, berbisik di dalam pikiran Aurora.

“Senjata itu belum sepenuhnya bangkit. Cahaya Bintang membutuhkan tiga permata inti yang disembunyikan di kuil-kuil suci. Tanpanya, kau tidak akan bisa mengalahkan kegelapan abadi Malakor.”

Aurora terkesiap. Ia menyadari bahwa kekuatannya di Eldervale hanyalah sebagian kecil dari potensi sebenarnya. Morena dan Malakor pasti juga mengetahui hal ini, dan mereka mungkin sudah bergerak menuju permata-permata tersebut.

Upacara berakhir, namun tugas baru sudah menanti. Di ruang strategi, Aurora menceritakan bisikan yang ia dengar kepada ketujuh kakaknya.

"Tiga permata inti?" Caspian segera membuka peta kuno yang tersimpan di bawah meja kaca. "Jika legenda itu benar, satu permata ada di Danau Cermin, satu di Puncak Langit, dan satu lagi berada di tengah Hutan Terlarang."

"Kita harus membagi tim," usul Benedict. "Malakor pasti sudah mengirimkan pasukan bayangannya ke sana."

"Aku akan pergi ke Danau Cermin," ucap Aurora. "Aku merasa permata itu memanggilku."

"Aku dan Gideon akan menemanimu," sahut Alistair tegas. "Benedict dan Fabian akan menjaga perbatasan utara karena aku yakin Morena akan melakukan serangan pengalih perhatian. Caspian, Evander, dan Darian tetap di istana untuk mengamankan Ayah dan Bunda serta meneliti lebih lanjut tentang sihir Malakor."

Gideon tampak bersemangat. "Danau Cermin? Itu tempat yang indah, tapi katanya dihuni oleh pelindung air yang sangat galak. Aurora, kau siap untuk sedikit berenang?"

Aurora tersenyum kecil. "Setelah apa yang kulewati di Noxvallys, air danau bukanlah masalah."

Malam itu, sebelum keberangkatan, Aurora berdiri di balkon kamar, memandangi bintang-bintang. Tiba-tiba, bayangan gelap melesat di depan matanya. Seekor burung gagak hitam dengan mata merah hinggap di pagar balkon. Di kakinya terikat sebuah gulungan kecil.

Aurora mengambilnya dengan waspada. Isinya singkat namun membuat darahnya berdesir dingin.

..."Selamat atas mahkotamu, adik tersayang. Nikmatilah beratnya logam itu di kepalamu, karena saat kita bertemu di Danau Cermin nanti, aku akan memastikan mahkota itu tenggelam bersama tubuhmu ke dasar air yang paling dalam. - M"...

"Morena sudah tahu," bisik Aurora pada kegelapan malam.

Ia meremas kertas itu hingga hancur. Ia tidak merasa takut seperti dulu. Di dalam dirinya, ada kekuatan ribuan tahun leluhur yang mengalir. Ia menatap ke arah utara, ke arah kegelapan yang mengintai.

"Ayo, Morena," gumam Aurora. "Mari kita lihat, siapa yang akan tenggelam lebih dulu."

Fajar belum sepenuhnya pecah di ufuk timur ketika gerbang belakang Istana Aethelgard terbuka perlahan. Suara derap kaki kuda yang dilapisi kain agar tidak menimbulkan bunyi keras bergema di atas jalanan batu. Ini adalah keberangkatan rahasia. Sesuai rencana, Alistair dan Gideon akan mengawal Aurora menuju Danau Cermin, sementara pangeran lainnya menyebarkan kabar palsu bahwa sang Putri sedang beristirahat di dalam kamarnya untuk memulihkan diri.

Aurora menunggangi seekor kuda putih yang tangkas, mengenakan jubah perjalanan berwarna kelabu untuk menutupi zirah emas putihnya. Di pinggangnya, Tongkat Cahaya Bintang yang kembali menyamar menjadi pulpen cendana terasa hangat, seolah memberikan semangat.

"Ingat, jangan lepaskan tudung kepalamu sampai kita melewati perbatasan hutan," bisik Alistair yang menunggangi kuda hitam besarnya di samping Aurora. Matanya yang tajam terus menyapu keadaan sekitar, mencari tanda-tanda pengintai Noxvallys.

Gideon, yang berada di sisi lain Aurora, tampak berusaha menahan kantuknya meski tetap waspada. Di punggungnya terikat busur besar dan dua kantong penuh anak panah. "Kak Alistair selalu saja terlalu serius. Di jam seperti ini, mata-mata Morena pun pasti masih meringkuk di balik selimut mereka," gerutunya pelan.

"Kecerobohan adalah pintu masuk bagi maut, Gideon," sahut Alistair tanpa menoleh.

"Iya, iya, Tuan Komandan Sempurna," Gideon memutar matanya, lalu menoleh ke arah Aurora dengan senyum lebar. "Tenang saja, Aurora. Jika ada bahaya, aku akan menembak mereka tepat di hidungnya sebelum mereka sempat berkedip. Danau Cermin itu sangat indah, kau akan menyukainya. Airnya begitu bening sampai kau bisa melihat masa lalumu... atau setidaknya begitulah kata buku-buku tua yang sering dibaca Caspian."

Aurora tersenyum kecil. Keberadaan Gideon selalu berhasil meringankan beban di pundaknya. "Terima kasih, Kak Gideon. Aku hanya berharap kita bisa sampai di sana sebelum Morena."

Perjalanan melintasi Lembah Hijau memakan waktu hampir seharian. Semakin jauh mereka meninggalkan istana, pemandangan berubah menjadi hutan pinus yang lebat dengan kabut tipis yang menyelimuti tanah. Udara mulai terasa dingin dan lembap, menandakan mereka mulai mendekati wilayah perairan suci.

Saat matahari mulai terbenam, mereka memutuskan untuk beristirahat di sebuah celah gua kecil agar tidak terlihat dari udara. Alistair menyalakan api kecil yang tersembunyi di balik tumpukan batu, sementara Gideon mengeluarkan persediaan daging kering dan roti.

"Aurora, makanlah yang banyak," ucap Gideon sambil memberikan potongan daging terbaik pada adiknya. "Besok kita akan memasuki wilayah Pelindung Air. Katanya, mereka tidak suka pada manusia yang membawa senjata, meskipun itu senjata suci."

"Apa mereka akan menyerang kita?" tanya Aurora cemas.

Alistair mengangguk pelan sambil mengasah belatinya. "Mereka tidak akan menyerang jika hatimu murni. Danau Cermin adalah tempat yang bisa memantulkan apa yang ada di dalam jiwamu. Jika kau membawa kebencian, air itu akan berubah menjadi monster. Jika kau membawa ketakutan, kau akan tenggelam."

Aurora terdiam, tangannya tanpa sadar meraba surat mawar hitam dari Morena yang masih ia simpan. Ia takut kebenciannya pada Morena akan menjadi penghalang.

Melihat adiknya melamun, Gideon segera bertingkah konyol. Ia mengambil dua buah kentang kecil dan meletakkannya di matanya sambil meniru suara kakek tua penjaga perpustakaan. "Ooooh, aku adalah Pelindung Air! Berikan aku makanan atau aku akan mengubah kalian menjadi berudu!"

Aurora tertawa kecil melihat tingkah kakaknya. Alistair pun hanya bisa menggelengkan kepala sambil menyembunyikan senyum tipisnya.

"Gideon, berhenti bermain dengan makanan," tegur Alistair, meski suaranya tidak sedingin biasanya.

"Setidaknya aku membuat Putri kita tertawa, Kak! Itu lebih penting daripada mengasah belatimu yang sudah bisa membelah sehelai rambut itu," balas Gideon riang.

Keesokan paginya, mereka tiba di tepi Danau Cermin. Pemandangannya sungguh luar biasa. Danau itu sangat luas dengan permukaan yang begitu tenang, benar-benar seperti sebuah cermin raksasa yang memantulkan langit biru dan awan putih dengan sempurna. Tidak ada riak, tidak ada suara burung, hanya keheningan yang suci.

"Indah sekali..." bisik Aurora terpaku.

Namun, saat Aurora melangkah mendekati tepian air, permukaan danau mendadak bergetar. Sebuah pusaran air muncul di tengah danau, dan dari dalamnya bangkit sosok raksasa yang terbuat dari air murni.

Wajahnya tidak memiliki mata, namun Aurora bisa merasakan bahwa makhluk itu sedang menatap langsung ke dalam sukmanya.

"Siapa yang berani mengusik ketenangan Cermin Kehidupan?" suara raksasa itu bergema seperti suara air terjun yang jatuh ke bebatuan.

Alistair dan Gideon segera memasang posisi siaga, namun raksasa air itu mengibaskan tangannya, menciptakan dinding air yang memisahkan kedua pangeran itu dari Aurora.

"Hanya sang pembawa cahaya yang boleh maju!" perintah makhluk itu.

"Aurora, jangan!" teriak Gideon, mencoba menembus dinding air namun ia terpental kembali.

Aurora menarik napas dalam. Ia memberi isyarat kepada kakak-kakaknya agar tetap tenang. Ia melangkah maju hingga ujung sepatunya menyentuh air danau. Anehnya, ia tidak tenggelam. Ia berdiri di atas permukaan air seolah-olah itu adalah lantai kaca.

"Aku adalah Aurora Lyris Valerius," ucapnya dengan lantang. "Aku datang untuk mengambil Permata Inti Pertama demi melindungi Aethelgard dari kegelapan."

"Kau ingin cahaya, namun jiwamu masih menyimpan kegelapan dari Noxvallys," ucap Pelindung Air. "Lihatlah ke bawah, Putri. Apa yang kau lihat?"

Aurora menunduk melihat bayangannya di air. Namun, bayangan yang ia lihat bukan dirinya yang sekarang. Ia melihat dirinya saat masih menjadi pelayan, gemetar ketakutan di bawah kaki Morena. Bayangan itu menangis, memohon ampun, dan dipenuhi dengan rasa benci yang hitam.

"Itu bukan aku yang sekarang," bisik Aurora, air mata mulai mengalir di pipinya. "Aku bukan lagi budak itu."

"Jika kau ingin permata itu, kau harus memaafkan dirimu yang dulu. Kau harus melepaskan beban yang diberikan musuhmu," suara raksasa itu mulai mengecil saat Aurora perlahan berlutut di atas air.

Aurora menyentuh permukaan danau. Ia membayangkan Morena, ia membayangkan rasa sakitnya, lalu ia membayangkan wajah Alistair yang menyesal dan tawa konyol Gideon. Ia memilih untuk melepaskan rasa pahit itu.

"Aku memaafkan diriku karena telah menjadi lemah. Dan aku tidak akan membiarkan kebencian pada Morena menguasai cahayaku," ucap Aurora mantap.

Seketika, bayangan pelayan yang menyedihkan itu berubah menjadi sosok putri yang bersinar. Dari dasar danau, sebuah permata berwarna biru safir melesat naik dan hinggap di tangan Aurora. Begitu permata itu menyentuh tongkatnya, senjata itu mengeluarkan denting merdu dan cahayanya menjadi sepuluh kali lebih terang.

Raksasa air itu membungkuk hormat sebelum akhirnya meluruh kembali menjadi air danau yang tenang. Dinding air yang menghalangi pangeran pun lenyap.

"Aurora!" Gideon berlari mendekat, hampir terpeleset di tepian danau. "Kau hebat! Aku tadi hampir saja ingin meminum seluruh air danau ini agar bisa menyelamatkanmu!"

Alistair menghampiri dan meletakkan tangan di kepala Aurora. "Kau telah melewati ujian pertama, Aurora. Ujian hati. Itu adalah yang tersulit."

Namun, kemenangan mereka tidak berlangsung lama. Sebuah tawa melengking terdengar dari arah hutan pinus. Morena muncul dari balik bayang-bayang, didampingi oleh sepasukan ksatria hitam.

"Sangat menyentuh," ucap Morena sambil bertepuk tangan perlahan. "Kau mendapatkan permatanya, adikku. Tapi terima kasih sudah mengambilkannya untukku. Sekarang, serahkan atau aku akan memastikan kedua kakakmu ini menjadi santapan bayanganku."

Alistair mengeluarkan pedangnya, auranya berubah menjadi sangat mematikan. "Kau tidak akan menyentuhnya, Morena."

1
leci_mannis
alurnya benerbenerr dibuat campur aduk ada rasa kasihan, kesel, bahagia, dan romantis.
apalagi ngebayangin 7 pangeran yang hebat, dan penasaran banget sama akhirnya gimana dan nasib putri jahat nya gimana.
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!