Agil membawa Laila tinggal di rumah besar Baskoro. Baskoro mulai menunjukkan ketertarikan yang tidak wajar pada Laila, melalui bantuan finansial yang menjerat.
Disaat Agil perlahan menemukan keganjalan, Baskoro bermain trik dengan...
Simak selengkapnya, hanya dalam novel berikut.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rhiy Navya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Perangkap di Balik Kabut
Suara sirine polisi yang meraung-raung di luar hotel bintang lima itu seharusnya menjadi simfoni kemenangan bagi Agil. Namun, saat asap putih mulai menipis dan Agil mendekap tubuh Laila yang bergetar hebat, ia merasakan sesuatu yang janggal. Gito, yang baru saja melumpuhkan Baskoro dengan tendangan telak, tiba-tiba berdiri mematung.
"Pak Agil... ada yang aneh," bisik Gito. Matanya menatap borgol yang sedang dipasangkan oleh petugas kepolisian ke tangan Baskoro.
Baskoro tidak melawan. Ia tidak meronta. Sebaliknya, ia justru tersenyum lebar ke arah kamera-kamera wartawan yang mulai merangsek masuk ke dalam ballroom. Pria tua itu menoleh ke arah Agil, tatapannya tidak menunjukkan kekalahan, melainkan kepuasan yang mengerikan.
"Kau belajar dengan cepat, Agil," ucap Baskoro saat petugas mulai menggiringnya. "Tapi kau lupa satu hal: di negara ini, hukum adalah milik siapa yang menulis ceknya paling besar."
Pengkhianatan di Detik Terakhir
Baru saja Baskoro melangkah keluar dari pintu utama, tiba-tiba sekelompok pria berseragam hitam dengan senjata lengkap masuk dan memblokade jalan. Mereka bukan polisi. Mereka adalah tim keamanan swasta elit yang dikenal sebagai 'The Praetorians', unit yang secara resmi dibayar oleh dewan komisaris Baskoro Group untuk "menjaga stabilitas aset".
Seorang pria paruh baya dengan setelan abu-abu yang sangat rapi berjalan masuk. Dia adalah Pak Hartono, pengacara legendaris yang dikenal sebagai 'Pembersih Dosa' para elit.
"Mohon maaf, Inspektur," ucap Hartono kepada polisi yang memegang Baskoro. "Kami baru saja menerima surat perintah penangguhan dari Kejaksaan Agung. Kasus Proyek Icarus telah diambil alih oleh otoritas militer karena dianggap menyangkut ketahanan energi nasional. Klien saya, Tuan Baskoro, harus ikut bersama kami untuk pemeriksaan tertutup."
Polisi itu tampak bingung, namun setelah melihat dokumen berstempel emas yang disodorkan Hartono, ia perlahan melepaskan pegangannya pada lengan Baskoro.
Agil tertegun. "Apa-apaan ini?! Dia sudah mengaku! Dia menyandera istrinya sendiri di depan ratusan orang!" teriak Agil.
Baskoro merapikan jasnya yang sedikit kusut. Ia berjalan mendekati Agil yang masih memeluk Laila. "Penyanderaan? Oh, Agil... kau terlalu dramatis. Semua orang di sini melihat aku sedang mencoba menyelamatkan Laila dari seorang penyusup kotor yang menyerang pesta kami. Bukankah begitu, para tamu?"
Baskoro menoleh ke arah tamu-tamu undangan. Seolah-olah telah dikomando, para pejabat dan pengusaha yang tadi sempat menjauh, kini kembali mendekat dan mengangguk ragu. Mereka tahu, memihak Agil yang baru pulang tanpa modal adalah bunuh diri karir, sementara Baskoro masih memiliki "kartu as" di tangan pemerintah.
Perangkap Psikologis: Dokumen Icarus
"Dan soal data Icarus yang kau banggakan itu..." Baskoro merogoh saku jasnya dan mengeluarkan sebuah flashdisk yang identik dengan milik Agil. "Terima kasih sudah membawanya pulang, Agil. Andy di London? Dia sudah bekerja untukku sejak hari kedua kau menemuinya. Dia hanya memberikanmu data yang sudah aku 'modifikasi'. Data yang kau sebar ke otoritas internasional itu sebenarnya berisi jejak aliran dana yang... ironisnya... semuanya bermuara ke rekening pribadimu."
Agil merasa dunianya berputar. "Tidak... itu tidak mungkin. Andy..."
"Andy adalah orang yang setia pada uang, bukan pada kebenaran. Sekarang, di mata hukum internasional, kaulah yang bertanggung jawab atas pencucian uang Proyek Icarus. Kaulah yang akan menjadi buronan, bukan aku," Baskoro tertawa dingin.
Laila mencengkeram kemeja Agil. Ia menyadari bahwa suaminya baru saja masuk ke dalam jebakan yang jauh lebih mengerikan. Baskoro tidak pernah bermaksud mengirim Agil ke London untuk belajar bisnis; ia mengirim Agil ke sana untuk dijadikan kambing hitam atas semua dosa korporasinya.
"Sekarang, berikan Laila padaku," perintah Baskoro. "Atau tim keamanan ini akan memastikan kau tidak akan pernah keluar dari hotel ini hidup-hidup."
Lika-Liku Pelarian
"Jangan pernah mimpi!" Agil menarik Laila dan memberi isyarat pada Gito.
"Pak Agil, lewat dapur sekarang!" teriak Gito sambil melepaskan gas air mata kedua ke arah tim keamanan Praetorians.
Kericuhan kembali pecah, namun kali ini lebih brutal. Suara tembakan peringatan terdengar di langit-langit ballroom. Agil menggendong Laila yang lemas dan berlari menembus kepulan asap menuju pintu servis. Gito bertarung mati-matian di belakang mereka, menahan dua orang penjaga bersenjata hanya dengan tangan kosong.
Mereka berhasil mencapai area parkir bawah tanah, namun di sana sudah menunggu tiga mobil hitam yang siap mengepung. Agil menyadari bahwa setiap sudut hotel ini sudah dikuasai oleh orang-orang ayahnya.
"Mas... tinggalkan aku," tangis Laila. "Papa hanya menginginkanku. Jika kamu pergi sekarang, kamu bisa menyelamatkan dirimu dan membuktikan kebenarannya dari luar."
"Diam, Laila! Aku tidak akan kehilanganmu dua kali!" Agil melihat sebuah mobil bak terbuka milik petugas kebersihan. Tanpa pikir panjang, ia memecahkan kacanya dan menyalakan mesin secara paksa.
Pelarian mereka menjadi kejar-kejaran maut di jalanan Jakarta yang tengah diguyur hujan deras. Baskoro duduk tenang di dalam limosinnya, memantau pergerakan mobil Agil melalui GPS yang ternyata sudah dipasang di jaket Agil sejak ia masih di pelabuhan.
"Biarkan mereka lari sebentar," ujar Baskoro kepada sopirnya. "Aku ingin dia merasa punya harapan sebelum aku menghancurkannya berkeping-keping. Dan pastikan beritanya keluar besok pagi: 'Anak Durhaka Koruptor Melarikan Diri Setelah Mencoba Membunuh Ayahnya Sendiri'."
Malam yang Panjang di Tempat Persembunyian
Setelah berhasil mengecoh para pengejar di gang-gang sempit kawasan Kota Tua, Agil membawa Laila ke sebuah rumah petak kumuh yang disiapkan Gito sebagai rencana cadangan terakhir. Rumah itu berbau apek dan bocor di sana-sini, sangat jauh dari kemewahan yang biasa mereka rasakan.
Laila terduduk di atas kasur tipis di lantai. Ia terus gemetar. Traumanya selama tiga bulan dan ketakutan malam ini membuatnya hampir kehilangan kesadaran.
Agil duduk di sampingnya, mencoba memeriksa luka di leher Laila akibat pisau Baskoro tadi. "Hanya luka kecil, Sayang. Aku akan mengobatinya."
"Kenapa Papa sejahat itu, Mas?" suara Laila pecah. "Dia bukan manusia. Dia iblis yang memakai topeng manusia."
Agil terdiam. Ia menatap tangannya yang penuh noda oli dan darah. Ia menyadari betapa naifnya dia. Dia pikir dengan sedikit data dan keberanian, ia bisa meruntuhkan raksasa. Ia tidak sadar bahwa Baskoro telah membangun jaring laba-laba ini selama puluhan tahun.
"Laila, dengarkan aku," Agil memegang kedua pipi istrinya. "Kita tidak bisa lagi menggunakan jalur hukum biasa. Papa sudah membeli hukum. Kita harus bermain di area abu-abu. Aku akan menghubungi musuh-musuh politik Papa yang lebih kuat darinya."
"Tapi bagaimana dengan fitnah itu? Dunia mengira kamu yang bersalah," ucap Laila cemas.
"Biarkan saja. Untuk sementara, kita harus menghilang. Kita akan menjadi hantu bagi Papa," mata Agil berkilat dengan jenis kemarahan yang berbeda—bukan lagi kemarahan yang meledak-ledak, melainkan kemarahan yang tenang dan mematikan.
Di luar, hujan semakin lebat. Agil tahu bahwa esok pagi, foto wajahnya akan terpampang di setiap saluran berita sebagai buronan paling dicari. Ia kini harus bertahan hidup di bawah tanah, merawat istri yang jiwanya hancur, sambil merencanakan serangan balik yang sesungguhnya.
Konfrontasi di pesta itu hanyalah pembukaan. Perang yang sesungguhnya baru saja dimulai, dan kali ini, Agil tidak akan bermain dengan aturan yang dibuat oleh ayahnya.