NovelToon NovelToon
Apakah Itu Kamu?

Apakah Itu Kamu?

Status: sedang berlangsung
Genre:Beda Usia / Cerai / Selingkuh / Janda / Romansa / Berondong
Popularitas:1.1k
Nilai: 5
Nama Author: Serena Muna

Mengisahkan Livia Winarti Samego, seorang wanita 30 tahun yang harus menerima nasib bahwa ia diduakan oleh suaminya, Attar Pangestu dengan wanita lain yang tidak bukan adalah Sheila Nandhita, teman baiknya. Livia harus berjuang seorang diri dalam perpisahannya dengan Attar hingga takdir mempertemukannya dengan Ayub Sangaji, seorang mahasiswa jurusan pendidikan olahraga di sebuah kampus yang tampan dan menggoda.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Serena Muna, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Cerai

Tepat saat itu, cahaya lampu apartemen perlahan menyala kembali. Genset gedung akhirnya berfungsi. Cahaya lampu yang terang benderang memperlihatkan pemandangan yang memilukan: ruangan yang berantakan, darah yang berceceran di lantai parket, Livia yang terluka di pelukan Attar, dan Sheila yang tergeletak tak berdaya di sudut ruangan dengan luka di kepalanya.

Di ambang pintu yang terbuka, Ayub muncul dengan napas tersengal-sengal. Ia melihat pemandangan itu dengan mata yang membelalak. Ia melihat Livia dalam pelukan Attar, dan ia melihat kegilaan malam itu akhirnya mencapai titik nadir.

Ayub terpaku di depan pintu, melihat pria yang telah menghancurkan hidup Livia kini menjadi penyelamatnya di saat terakhir. Ada rasa pahit yang muncul di tenggorokannya, namun yang terpenting baginya adalah Livia masih bernapas.

****

Cahaya lampu apartemen yang baru saja menyala kembali terasa begitu menyilaukan, seolah memaksa kenyataan pahit untuk menampakkan dirinya tanpa sisa. Di tengah ruang tamu yang hancur berantakan, bau amis darah bercampur dengan aroma ozon dari sisa petir yang menyambar. Attar masih mendekap Livia, namun dekapan itu terasa kosong—sebuah pelukan dari masa lalu yang tak lagi memiliki tempat di masa depan.

Suara sepatu bot yang berat berderap di lorong. Lima orang petugas kepolisian merangsek masuk ke dalam unit tersebut, diikuti oleh tim medis yang membawa tandu. Mereka segera mengepung sosok Sheila yang tergeletak di lantai, namun saat seorang petugas mencoba memborgol tangannya, tubuh wanita itu tersentak.

Sheila Nandhita belum kalah. Ia membuka matanya yang merah dan liar.

"Lepaskan aku! Hahahaha! Lepaskan!" Sheila meronta dengan kekuatan yang mengerikan. Saat polisi menyeretnya berdiri, ia tidak menunjukkan rasa sakit akibat hantaman tongkat besi Attar. Darah mengalir dari pelipisnya, membasahi wajahnya yang putih pucat, namun bibirnya tetap menyeringai lebar.

Ia menoleh ke arah Attar dan Livia dengan tatapan yang bisa membekukan darah siapa pun yang melihatnya. "Kalian pikir borgol ini bisa menghentikanku? Kalian pikir dinding penjara bisa menahan api?!"

Tepat saat itu, guntur menggelegar dahsyat, menggetarkan kaca jendela apartemen. Suara petir itu seolah menyatu dengan tawa Sheila yang melengking tinggi, menciptakan simfoni horor yang memenuhi ruangan.

"Aku bersumpah!" Sheila berteriak, suaranya parau dan penuh kebencian. "Aku akan keluar! Aku akan mencari celah, aku akan merayap di kegelapan, dan aku akan kembali untuk mencabut nyawa kalian satu per satu! Attar, kamu tidak akan pernah tenang! Livia, aku akan menghantuimu sampai kamu memohon untuk mati! Hahahaha!"

Tawanya meledak lagi, histeris dan brutal. Ia meludahi lantai, wajahnya dipenuhi cairan tangis dan ingus yang menjijikkan, namun ia terus tertawa saat polisi memaksanya keluar dari ruangan. Suara tawa itu masih menggema di lorong apartemen bahkan setelah pintu tertutup, perlahan menjauh namun meninggalkan jejak ketakutan yang permanen di dinding-dinding hati Livia.

****

Setelah kegaduhan itu sirna, hanya menyisakan tim medis yang sedang membalut luka di lengan Livia. Attar berdiri di sampingnya, mencoba menyentuh bahu Livia dengan tangan yang gemetar.

"Liv... lukamu harus dijahit. Biarkan aku mengantarmu ke rumah sakit," ucap Attar dengan suara yang sangat lembut, penuh dengan nada memohon.

Livia menjauhkan bahunya. Ia berdiri dengan bantuan seorang perawat, matanya menatap lurus ke jendela yang masih dibasahi hujan. Suasana mendadak menjadi sangat sunyi, tipe kesunyian yang lebih menyesakkan daripada suara teriakan Sheila tadi.

"Terima kasih sudah datang tadi, Attar," ucap Livia pelan. Kalimat itu memberikan secercah harapan di mata Attar, namun kalimat berikutnya menghancurkannya berkeping-keping. "Tapi itu tidak mengubah apa pun. Keputusanku untuk bercerai sudah bulat. Besok, pengacaraku akan memastikan semua berkas ditandatangani."

Attar terpaku. "Liv, setelah semua ini? Setelah aku menyelamatkan nyawamu? Aku hampir kehilangan nyawaku untukmu tadi! Kita bisa mulai lagi, kita bisa pindah dari kota ini, kita bisa—"

"Kita tidak bisa apa-apa lagi, Attar," sela Livia, suaranya stabil namun penuh dengan duka yang mendalam. Ia menoleh, menatap Attar dengan tatapan yang menunjukkan bahwa pintu itu sudah terkunci rapat dan kuncinya telah dibuang ke dasar samudra. "Kamu menyelamatkanku dari Sheila, tapi siapa yang menyelamatkanku darimu? Dari rasa sakit yang kamu tanam selama satu tahun ini? Dari kematian Mama Rahmi?"

Mendengar nama ibunya disebut, Attar terdiam. Lidahnya kelu.

"Pintu hatiku untukmu sudah tertutup, Attar. Dan aku sudah memaku pintunya rapat-rapat. Kehadiranmu di sini hanyalah sebuah kewajiban moral sebagai manusia, bukan sebagai suami. Pergilah. Temui pengacaramu, dan lepaskan aku. Itu adalah satu-satunya cara kamu bisa benar-benar 'menyelamatkanku'."

****

Attar menatap Livia lama. Ia melihat ketegasan di wajah wanita yang dulu sangat memujanya itu. Di sana, di tengah puing-puing apartemen, Attar akhirnya menyadari bahwa beberapa hal di dunia ini memang tidak bisa diperbaiki, tidak peduli seberapa besar penyesalan yang dibawa.

Dengan bahu yang merosot dan hati yang hancur, Attar berbalik. Ia berjalan melewati Ayub yang sejak tadi berdiri di ambang pintu. Attar berhenti sejenak di depan Ayub, menatap pemuda itu dengan pandangan yang sulit diartikan—antara benci, cemburu, dan rasa terima kasih karena Ayub-lah yang sebenarnya menjaga Livia saat ia sibuk dengan dosanya.

Attar melangkah pergi tanpa mengucapkan satu patah kata pun, menghilang di balik lift yang baru saja berfungsi kembali.

Livia menghela napas panjang, sebuah napas yang seolah mengeluarkan seluruh beban dari paru-parunya. Ia menoleh ke arah Ayub. Pemuda itu mendekat, memberikan jaketnya untuk menutupi tubuh Livia yang kedinginan.

"Mbak... kita ke rumah sakit sekarang?" tanya Ayub lirih.

Livia mengangguk lemah. Ia menyandarkan kepalanya sejenak di bahu Ayub, mencari sisa kekuatan. Di luar, hujan mulai mereda, menyisakan langit malam yang hitam pekat. Badai fisik mungkin telah berlalu, namun Livia tahu, ia baru saja memulai perjalanan panjang untuk menyembuhkan jiwanya sendiri, tanpa Attar, dan di bawah ancaman sumpah Sheila yang masih bergaung di telinganya.

Keheningan malam itu terasa nyata, seolah-olah dunia sedang memberikan ruang bagi Livia untuk meratapi kehilangan, sekaligus merayakan kebebasan yang pahit.

****

Gedung Pengadilan Agama itu tampak berdiri kokoh di bawah langit yang mendung, seolah menjadi saksi bisu atas runtuhnya sebuah istana yang telah dibangun selama beberapa tahun. Bagi Livia, setiap jengkal lantai marmer yang ia pijak menuju ruang sidang utama terasa seperti langkah menuju kehidupan yang baru. Tidak ada lagi beban rahasia, tidak ada lagi bayang-bayang pengkhianatan yang mencekik napasnya.

Livia hadir dengan setelan blazer abu-abu yang elegan. Rambutnya disanggul rapi, memperlihatkan garis wajahnya yang tegas dan tegar. Di sampingnya, Ayub setia mendampingi, berdiri seperti benteng yang tak kasat mata.

Di dalam ruang sidang, suasana begitu hening hingga suara detak jarum jam dinding terdengar seperti dentuman. Hakim Ketua memperbaiki posisi kacamatanya sebelum membacakan lembaran sakral itu.

"Menimbang segala bukti dan kesaksian yang ada... maka dengan ini menyatakan, pernikahan antara Attar Pangestu bin Hilman Pangestu dan Livia Winarti binti Samego dinyatakan putus karena perceraian," suara Hakim bergema, dingin dan final.

TOK! TOK! TOK!

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!