Bagi kebanyakan orang, aku adalah penjahatnya. Tapi bagi seseorang, aku adalah pelindungnya.
Clara Agatha, agen pembunuh bayaran kelas kakap di organisasi Blade. Hidupnya yang monoton membuat dia tak memiliki teman di organisasi, sampai pada akhirnya penghianatan dari organisasinya membawa dia ke dalam kematian.
Clara pikir semua sudah selesai, namun dia terbangun di raga orang lain dan menjadi ibu dua anak yang di buang suaminya. Clara tak tahu cara mengurus anak kecil, dia berpikir jika mereka merepotkan.
Namun, pemikiran itu berubah saat kedua anaknya menunjukan kebencian yang begitu besar padanya. Clara merasa aneh, bagaimana bisa anak polos seperti mereka membenci ibunya sendiri? Clara bertekad untuk mencari tahu alasannya, dan menuntut balas pada suami dan juga organisasinya yang telah membuat dia mengalami kejadian menyedihkan seperti itu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon eka zeya257, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 16
Bangunan tersebut berubah menjadi neraka dalam hitungan detik.
Aldric bergerak lebih dulu. Tubuhnya melesat rendah, menghindari rentetan peluru yang menghantam dinding besi di belakangnya. Percikan api memantul liar, suara tembakan saling bersahutan memekakkan telinga.
Aldric berguling ke samping, mengambil besi panjang yang tergeletak di lantai, lalu melemparkannya tepat ke wajah salah satu anak buah Black Spider.
Dugh!
Pria itu terjengkang, hidungnya patah sebelum sempat menarik pelatuknya.
Toby tidak kalah cepat. Dia meloncat ke atas peti kayu, lalu menjatuhkan diri dengan siku menghantam tengkuk lawan. Suara tulang beradu terdengar kering. Tanpa menunggu, Toby merebut senjata lawan dan menembak lutut pria lain yang berlari ke arahnya.
Aldric sudah berada di tengah kerumunan. Gerakannya efisien, tanpa emosi berlebih. Satu pukulan ke rahang, satu tendangan ke perut, siku menghantam tulang rusuk. Dia tidak membuang tenaga untuk hal yang tidak perlu. Setiap serangan ditujukan untuk melumpuhkan.
Seorang pria menyerangnya dari belakang dengan pisau.
Aldric memutar tubuh, menangkap pergelangan tangan itu, lalu mematahkannya tanpa ragu.
Krak!
Jeritan menggema, namun terputus ketika kepala pria itu dihantam lantai beton.
Walker mundur setapak. Untuk pertama kalinya, wajahnya menunjukkan kepanikan yang nyata. Anak buahnya tumbang satu per satu. Bukan mati semuanya, tetapi cukup banyak yang tak lagi bisa berdiri.
"Sial…" gumam Walker.
Dia mengangkat pistol, membidik Aldric yang tengah menumbangkan dua orang sekaligus. Jarum pelatuk hampir ditarik, namun peluru lain sudah terbang lebih dulu.
Dor!
Peluru Walker meleset lagi, mengenai bahu anak buahnya sendiri. Aldric menoleh perlahan. Tatapan itu membuat darah Walker terasa membeku.
"Aku sudah memperingatkanmu," kata Aldric datar.
Walker menggeram, lalu mencabut pisau dari pinggangnya. "Jangan sok berkuasa di wilayahku!"
Dia menerjang, menusuk brutal. Aldric menangkis dengan lengan, membelokkan arah tusukan, lalu menghantam pergelangan Walker dengan lutut. Pisau terlepas dan terlempar jauh.
Namun Walker tidak berhenti. Dia menyerang dengan kepala, menghantam dahi Aldric.
Dugh!
Aldric terdorong setengah langkah ke belakang. Darah mengalir tipis dari pelipisnya. Toby berteriak, hendak mendekat, tetapi Aldric mengangkat tangan tanda jangan ikut campur.
Senyum kecil muncul di bibir Aldric. Tipis. Berbahaya.
"Bagus," katanya pelan. "Setidaknya kau tidak mati seperti tikus."
Walker mengayunkan tinju. Aldric menangkis, lalu membalas dengan pukulan lurus ke solar plexus. Walker terbatuk keras, napasnya tersedak. Aldric tidak memberi waktu. Siku menghantam rahang, disusul tendangan rendah ke lutut.
Krak!
Walker berteriak. Tubuhnya ambruk ke lantai.
Aldric berdiri di atasnya, menatap dingin. Tangannya mencengkeram kerah Walker, mengangkatnya sedikit.
"Sekarang dengarkan aku baik-baik," ucap Aldric rendah. "Aku tidak peduli siapa yang menyuruhmu. Aku tidak peduli seberapa besar jaringanmu."
Dia menekan kepala Walker ke lantai.
"Sentuh adikku lagi, atau bahkan menyebut namanya, dan aku akan memastikan tidak ada satu pun dari Black Spider yang tersisa."
Walker terengah, wajahnya pucat. "K-kau gila…"
Aldric melepaskannya dan berdiri. "Mungkin. Tapi kau sudah melihat akibatnya."
Dia berbalik, berjalan menuju pintu. Toby menyusul, menendang senjata terakhir yang tergeletak di lantai sebelum pergi.
Di ambang pintu, Aldric berhenti sejenak. Tanpa menoleh, dia berkata, "Dan satu hal lagi, Walker."
Walker mengangkat kepala dengan susah payah.
"Wanita yang kau sebutkan tadi," lanjut Aldric, suaranya dingin. "Jika aku menemukannya lebih dulu kau sebaiknya berdoa dia bukan musuhku, kalau dia benar berada di pihakmu kau akan kehilangan segalanya."
Pintu gudang tertutup keras.
Di luar, udara malam terasa dingin. Aldric mengusap darah di pelipisnya, lalu menatap langit gelap.
Di benaknya, terlintas wajah adiknya dan bayangan seorang wanita yang menyerang adiknya sampai babak belur seperti itu. Meski dia tak ingin percaya namun rasa penasarannya terlalu tinggi untuk di abaikan.
"Toby, selidiki wanita yang di sebutkan oleh Gino." Titah Aldric.
Toby mengangguk, "Baik Tuan."
***
Pagi datang perlahan di rumah itu, disertai cahaya matahari yang menyelinap lewat sela-sela tirai jendela dapur.
Aurora berdiri di depan kompor dengan celemek sederhana melilit pinggangnya. Rambutnya diikat rapi ke belakang, wajahnya tenang tanpa riasan berlebih.
Tangannya cekatan mengaduk sup hangat di dalam panci, uap tipis mengepul membawa aroma kaldu yang lembut. Di sebelahnya, dua orang pelayan sedang membantu menyiapkan sarapan mereka memotong buah, menata roti, dan menyeduh susu hangat untuk anak-anak.
Tidak ada yang aneh dari pemandangan itu. Namun justru di situlah kejanggalannya mulai terasa jelas.
Aurora yang biasanya menjaga jarak, jarang turun langsung ke dapur, kini berdiri di sana sejak subuh. Dia tidak memerintah, tidak membentak, bahkan tidak terlihat canggung. Sikapnya terlalu… tenang dan santai seakan-akan wanita itu baru saja keluar dari cangkangnya yang tersembunyi.
Salah satu pelayan wanita melirik ke arah Aurora, lalu mendekat sedikit ke rekannya. Suaranya direndahkan, hampir tak terdengar.
"Nyonya sejak kapan suka masak sendiri?" bisiknya.
Pelayan lainnya menggeleng pelan. "Entahlah. Sejak kemarin rasanya beliau berbeda."
"Maksudmu?"
"Biasanya wajah Nyonya datar, dingin, tapi seperti tembok," jawab pelayan itu lirih. "Sekarang… masih dingin, tapi rasanya bukan karena tidak peduli dengan anak-anaknya."
Pelayan pertama menelan ludah, kembali melirik Aurora yang sedang mencicipi masakan dengan sendok kecil, lalu menambahkan sedikit garam.
"Seperti orang yang menahan sesuatu," lanjut pelayan kedua. "Atau mungkin… menyesal."
Aurora tidak menoleh. Namun telinganya menangkap setiap kata. Ekspresinya tidak berubah sedikit pun, seolah bisikan itu tidak ada. Dia hanya mematikan kompor, lalu memindahkan sup ke dalam mangkuk kecil dengan hati-hati.
"Ini untuk Riven," katanya datar, menyerahkan mangkuk pada salah satu pelayan. "Jangan terlalu panas."
"I-iya, Nyonya."
Aurora kemudian menata piring lain. Telur dadar dipotong rapi, sayuran ditumis sederhana, dan segelas susu diletakkan di sisi piring yang lebih kecil.
"Arjuna tidak suka wortel," ucapnya tanpa menoleh. "Tolong singkirkan."
Pelayan itu terkejut. "Nyonya ingat?"
Aurora berhenti sejenak. Hanya sesaat. Lalu kembali bergerak seperti biasa.
"Aku ibunya, tentu saja aku ingat apa yang anakku tidak suka," jawabnya singkat.
Kalimat itu membuat dapur kembali hening.
Bisik-bisik pun terhenti.
Aurora mengambil nampan berisi sarapan, lalu berjalan keluar dapur menuju ruang makan. Langkahnya tenang, punggungnya tegak, wajahnya tetap tanpa ekspresi hangat. Namun di balik dinginnya raut itu, ada sesuatu yang perlahan berubah secara halus, nyaris tak terlihat.
Di lantai atas, pintu kamar anak-anak masih tertutup. Aurora berhenti di depan tangga, menatap ke atas beberapa detik lebih lama dari biasanya.
"Ayo, Rora. Aku pasti bisa," ujarnya pada diri sendiri.