Denada yang awalnya sedang menikmati pekerjaan nya, sebagai seorang pengacara. alias pengangguran banyak acara, mati dalam keadaan yang mengenaskan. bukannya mati dengan tenang, dia malah masuk ke salah satu cerita di dalam novel tersebut. apalagi sebagai figuran yang tak penting. sangat miris bukan. memiliki ibu selir yang terobsesi dengan kaisar, dan harus berjuang keras untuk mengindari masalah yang ada. bagiamana perjuangan Denada untuk terhindarkan dari permasalahan permasalah tersebut, akan kah dia berhasil, atau akan mati sia sia.
"Argh... wajah siapa ini?"
"Eh, kok suara ku menjadi berubah?"
"Sial, jangan bilang aku masuk, dan menjadi anaknya selir gila itu?" gumam Denada yang penuh rasa terkejut.
Ini bukan novel terjemahan, ini karangan author sendiri. kalau yang ga suka bisa skip
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon putrinw, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab.4
Mendengar ucapan bibi anti, membuat rose mengepalkan tangannya kuat kuat. sialan, kaisar itu malah pilih kasih kepada nya. Ini benar benar tidak adil. Bahkan ibunya sendiri juga tak perduli dengannya.
"Bibi, Terima kasih." ucap rose dengan tatapan tulus dan berkaca kaca nya.
walaupun dia sering bertindak kasar kepada bibi anti, tapi pelayan itu tak pernah sedikitpun, membenci nya. Ini sungguh membuat nya merasa sangat tersentuh. Dia janji, akan melindungi orang orang yang dia anggap Baik, dan menghancurkan orang orang yang dia anggap jahat.
"Tunggu pembalasanku, kaisar, dan anak kesayangan mu itu, akan ku balas perbuatan kalian selama ini, yang telah membuat rose tak sanggup menjalani hidup nya lagi. sekarang hanya ada Denada yang cantik, dan tak sombong yang akan membuat kalian bertekuk lutut." gumam rose sambil tersenyum smirk dan duduk dengan gaya elegan nya.
"Nona kecil. Kalau nona lapar, biar bibi ambilkan ya. Nona kecil tunggu disini, dan jangan kemana mana." ucap bibi anti yang telah selesai berbicara, dan merasa kasihan melihat nona kecil nya murung.
"Baiklah bibi, aku janji tak akan nakal." ucap nya dengan gaya cengengesan.
Bibi Anti tersenyum tipis, dan langsung berjalan keluar untuk, membawakan jatah makan siang Sang nona kecil nya.
Rose yang melihat kepergian bibi anti, langsung bernafas lega. Dan berjalan menuju ke arah jendela. Untuk melihat pemandangan yang seru.
"Wow, ada apa di sana, seperti pesta. Oh, aku ingat jadi ibu nya si rose ini, begitu perduli ya, dengan sang pangeran pertama. Kok bisa gitu ya, padahal kan permaisuri membenci sikap nya. Tapi kok malah menyuruh selir itu buat nyiapin pesta kedewasaan putra nya. Apakah ada konspirasi di dalam nya?" gumam rose sambil melihat ke arah jendela, dan melihat seorang wanita yang terlihat mondar-mandir dan memarahi para pelayan di bawah.
"Itu si selir agung ya. Ibunya si rose yang asli. Cantik sih, tapi gaya nya menor banget, omg. Kok sikap nya arogan banget. Wow, ini luar biasa. Aku bisa melihat mereka bertengkar, seru nya." gumam rose yang agak lain. apalagi bukanya marah tapi malah kesenangan saat melihat selir marry dan ratu elli yang terlihat berdebat.
Sambil duduk dan bergumam tak jelas, tak lama pelayan setia nya datang, membawa satu piring makanan dengan tatapan sendu.
bibi Anti merasa kasihan dengan nona kecil nya, dan jatah makanan yang seharusnya banyak, kini hanya tinggal sisa nya saja. apalagi para koki mengatakan tak ada sisa makanan untuk putri nya sang selir. Tentu saja semua nya sudah diatur dan dilarang oleh ratu elli.
"Nona, maafkan bibi. hanya ini saja yang bisa bibi ambil. mereka melarang bibi untuk memasak, dan memaksa bibi untuk memberikan lauk yang tersisa" ucap bibi anti dengan pandangan berkaca kaca.
Rose yang tadinya bergumam seru menonton pertunjukan di bawah, kini membalikkan badannya, dan tersenyum tipis melihat keperluan bibi anti, yang malah begitu perduli kepada nya melebihi ibu kandung nya sendiri. tak seperti ibunya itu yang menjatuhkan harga diri nya, hanya untuk, bisa mendapatkan perhatian sang kaisar.
"Bibi, jangan menangis, dan terima kasih. Ayo kita makan bersama ya."
"Nona, jangan saya sudah makan. Ini untuk nona kecil aja." ucap nya berbohong.
"bibi, jangan menolak ya. Bibi sudah menjaga ku, sepanjang hari. Kini saat nya aku membalas Budi. Jangan menolak ya bibi. kita makan bersama."
"Nona, ini tak sopan. Anda adalah seorang gadis bangsawan, sedangkan saya hanya seorang pelayan rendahan."
"Bibi, apakah bibi melihat aku hidup sebagai seorang putri. Atau hidup bahagia selama ini. Tidak kan, hidup ku penuh intrik, dan penuh masalah. Jadi bibi tak boleh menyebut diri bibi sebagai pelayan rendahan. Bibi sama sama manusia, jadi ayo kita makan bersama sama. Tak perlu sungkan ya bi." ucap rose dengan bijak nya.
Mata bibi anti berkaca kaca mendengar ucapan nona kecil nya. Ini pertama kalinya, sang nona sungguh begitu berubah,dan tak sekasar dulu lagi.
Setelah selesai makan, bibi anti kembali mengucapkan terima kasih. Nona nya sungguh begitu pengertian dan bersifat sangat manis. Dia berjanji akan selalu setia.
"Nona, terima kasih." ucap bibi anti dengan tulus nya.
"Bibi, aku yang seharusnya berterima kasih. Bibi telah menjaga ku, dengan sangat baik. Bahkan bibi juga, begitu perduli kepada ku. Dibandingkan ibu ku sendiri. terima kasih ya bibi. Aku menyayangimu."
"Nona, kau sangat manis sekali. Aku senang melihat perubahan mu ini." ucap bibi anti yang memeluk rose spontan.
Rose tersenyum bahagia, di saat dia merasa sendirian, Hanya pelayan setia nya yang menemani nya disini. Dia sangat terharu dan sekaligus merasa senang. Setidaknya gadis kecil yang dia tempati, memiliki satu orang yang perduli.
"Dulu aku memang orang yang, bodoh bibi. Mengharapkan kasih sayang, dari ibu dan ayah ku itu. Tapi sekarang tidak lagi, aku akan berjalan sesuai dengan keinginan ku." ucap rose dengan penuh tekad yang kuat.
"Bibi akan mendampingi nona kecil, dan akan setia kepada nona kecil."
Setelah berbincang santai, rose yang merasa bosen pun, meminta kepada bibi anti, menemani nya keluar. Dan melihat kondisi do istana ini.
"Nona, apakah nona yakin ingin berjalan jalan ke sekitaran istana ini?"
"Iya bibi, ayolah. aku sangat bosen." ucap nya dengan bibir yang manyun.
"Sangat menggemaskan." batin bibi anti yang tersenyum tipis melihat nona kecil nya merajuk.
Setelah beberapa kali bujukan, akhirnya bibi anti menemani nona kecil nya, untuk berjalan jalan di sekitar.
"Wow, gila ini sangat indah. Bangunan kastil nya benar benar luar biasa. gue dulu suka banget liat Berbie di film. Dan sekarang gue ngeliat bangunan istana langsung. Wih, keren air pancur nya dan patung singa nya benar benar keren." sepanjang perjalanan, rose bergumam dalam hati, mengagumi setiap benda yang ada di sekitar nya. Bibi anti yang melihat nya hanya merasa heran, dan lady rose benar benar seperti orang yang berbeda. Bagaimana tidak, dulu gadis itu selalu berjalan angkuh, dan menatap sinis orang orang disini termasuk para pelayan. Tapi sepanjang jalan, kini gadis itu tersenyum ramah, apalagi kepada prajurit yang berjaga.
"Siang paman paman, semangat kerja nya ya."
"Hei, bibi semangat kerja nya."
"Wah, hati hati ya bibi, lantai nya licin sekali itu."
begitulah ocehan rose saat melihat para pelayan yang sedang, bekerja. Bahkan mereka yang melihat nya pun tak kalah kaget. lady rose yang dulunya sangat sinis kepada mereka, dan selalu memandang rendah ke arah mereka, kini tersenyum ramah. Dan bahkan menyapa mereka semua dengan senyuman terbaik nya. ini benar benar berita yang besar.
semoga paman sam..... gak ketahuan membantu selir dan rose
kalau boleh pergi ke negara kau semula jumpa bapak kau itu
raja gila buncin sangat huhuhuh