Franceska wanita cerdas berpendidikan tinggi, berparas cantik dan berprofesi sebagai guru matematika. Suatu kombinasi yang melengkapi penampilannya yang good looking, cemerlang dan bersinar dari keluarga sederhana.
Prestasi akademik, serta kecerdasannya mengola waktu dan kesempatan, menghentarkan dia pada kesuksesan di usia muda.
Suatu hari dia mengalami kecelakaan mobil, hingga membuatnya koma. Namun hidupnya tidak berakhir di ruang ICU. Dia menjalani penglihatan dan petualangan dengan identitas baru, yang menghatarkan dia pada arti kehidupan sesungguhnya.
》Apa yang terjadi dengan Franceska di dunia petualangannya?
》Ikuti kisahnya di Novel ini: "Petualangan Wanita Berduri."
Karya ini didedikasikan untuk yang selalu mendukungku berkarya. Tetaplah sehat dan bahagia di mana pun berada. ❤️ U 🤗
Selamat Membaca
❤️🙏🏻💚
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sopaatta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 16. PWB
...~•Happy Reading•~...
Setelah berdiskusi lama dengan kepala sekolah, Pak Murai keluar dari ruangan dengan tanggung jawab baru yang diemban untuk menjaga ketertiban sekolah.
Beberapa guru yang masih ada dalam ruang guru serius melihatnya. Mereka curiga sedang terjadi kesepakatan atau pemufakatan di ruang kepala sekolah.
"Akhirnya keluar juga." Sance berkata sinis.
"Bu Yeni, bilang kekasihnya fokus mengajar saja. Tidak usah ngurusin di luar tugasnya." Sance yang sudah lama menunggu dan penasaran, berkata kepada pacar Murai. Dia tersinggung, karena merasa diabaikan kepala sekolah yang lebih memilih Murai.
Murai jadi berdiri. "Sayang, apa aku sudah lewatin batas tanggung jawabku sebagai guru?" Tanyanya sambil melihat ke salah satu guru yang sedang cemas menatapnya.
"Tidak, sayang. Selagi di sekolah, anak-anak masih tanggung jawabmu." Ucapan Yeni membuat Sance emosi.
"Silahkan mengajar yang baik sayang, nanti pulang aku traktir ice cream." Murai berkata santai. Sance jadi melihatnya dengan mata seperti ikan mata bonsang.
"Terima kasih, sayang. Mari kita lakukan tugas dan tanggung jawab dengan baik. Permisi, bapak dan Ibu, kami mau ngajar." Yeni berdiri dan berjalan mendekati Murai.
Dia sengaja mengatakan demikian, karena sejak Murai masuk ke ruang kepala sekolah, telinganya sangat panas mendengar celetukan dan sindiran yang hampir membakar telinganya tentang keberadaan Murai di ruang kepala sekolah.
"Baik." Murai mengambil tas kerja lalu berjalan cepat mengikuti Yeni keluar dari ruang guru.
"Mas, apa ada masalah?" Bisik Yeni sambil berjalan di lorong menuju kelas.
"Kau tahu sendiri, kalau anak-anak itu sudah ber'ulah. Hmmmm..." Murai menarik nafas panjang. "Apa lagi setelah Frankie alami kecelakaan dan koma di ICU. Semua seperti sapi liar yang keluar dari kurungan."
"Jangan ambil tugas terlalu banyak. Ada yang tidak suka kedekatanmu dengan kepsek." Yeni mengingatkan.
"Aku ngga ambil tugas, tapi diserahkan tugas. Ya, mungkin bisa bantu sekolah ini sedikit tenang, supaya bisa sukses makan ice cream." Murai coba bercanda.
"Suasana lagi begini, masih bisa bercanda. Selesai ngajar baru kita bicarakan Frankiemu."
"Frankieku? Apa ada perkembangan baru dengannya? Aku ngga tahan pergi besuk dan lihat dia seperti manekin dipasang banyak slang." Murai jadi sedih.
"Kalau dipikirkan lagi, aku jadi menyesal, hari itu meledek dia hanya sebentar di sini. Seharusnya aku pantek dia di lorong ini, biar dia terlambat pulang. Jadi tidak alami kecelakaan dengan mobil itu." Murai makin sedih ingat pertemuan terakhirnya dengan Ceska.
"Sudah Mas, ngga ada yang tahu, dia mau alami kecelakaan hari itu." Yeni jadi ikut sedih.
"Tapi kalau bicara soal kompetisi, aku mau tepok jidat berulang kali dan sedih. Setelah Ceska alami kecelakaan, semua jadi liar dan tidak bisa dipegang. Masing-masing meracik bumbu sesuka hati. Apa lagi sekarang ada banyak perubahan."
"Perubahan gimana?" Murai terkejut mendengar suara Yeni yang sedih dan berat.
"Sepertinya banyak sekolah yang mau ikut berkompetisi, atau ada yang bermain kotor di belakang. Pihak penyelenggara merubah cara seleksi peserta."
"Sekolah dipercayakan untuk seleksi sendiri muridnya, baru kirim dua teratas sebagai utusan sekolah untuk ikut kompetisi." Yeni menjelaskan, dengan nada pelan seakan berbisik.
"Ah, mengapa dibatasi hanya dua? Padahal saat Frankie ketentuannya maksimal lima murid. Pasti ada manuver jahat dan uang akan menang." Murai jadi berhenti dan bicara serius.
"Sepertinya, begitu. Tadi aku dengar bisik-bisik Ibu wakil di telpon dan juga cs nya."
"Mengapa tadi kepsek ngga ngomong ke aku soal itu? Apa wakepsek dapat bocoran dari atas?"
"Mas tahu sendiri jaringannya. Sepertinya dia sedang cari dukungan, supaya bisa ganti kepsek."
"Huuuu.... Kalau hanya dua, sekolah ini makin panas. Peluang saling sikut makin tidak terkendali."
"Itu yang aku pikirkan dari tadi, Mas. Sudahlah, kita mengajar dulu. Nanti baru kita bicara lagi." Bisik Yeni, karena melihat ada guru yang keluar di lorong.
"Kau ke kelas duluan. Aku mau lihat Nita sebentar di klinik." Murai menunjuk dengan wajah ke arah klinik.
"Hati-hati Mas. Jangan terlalu dekat dan sering bela Nita. Ada mata-mata dan banyak penjilat di sini tidak suka prestasinya" Yeni mengingatkan lagi. Murai mengangguk mengerti.
~▪︎▪︎~
Beberapa waktu kemudian, para guru yang sudah selesai mengajar, berjalan sambil berbisik di lorong. Mereka menahan nafas melihat dua ibu sosialita berjalan cepat ke arah ruangan ketua yayasan.
Para guru sudah tahu akan ada kejutan, kalau mereka datang ke sekolah. Apa lagi anak-anaknya baru ribut di ruang guru dengan Hernita.
Mama Lenox dan Juke masuk ruangan ketua yayasan tanpa mengetuk. "Sebentar, ibu-ibu. Saya kasih tahu Pak ketua." Asisten ketua yayasan berdiri.
Mama Lenox yang lebih dominan mengangkat tangan, mencegah. "Kami bisa masuk sendiri." Mereka langsung menuju kantor ketua yayasan. Mengetuk satu kali dan langsung masuk.
"Ada apa?" Bentak ketua yayasan yang mengira asistennya masuk.
"Kenapa ibu-ibu datang tanpa pemberitahuan?" Ketua yayasan terkejut saat melihat yang masuk ke ruangannya adalah orang tua murid.
"Anda yang tidak memberitahukan tentang kondisi anak-anak kami." Mama Lenox meluapkan amarahnya. "Segera laksanakan yang kami minta, atau suami-suami kami akan bertindak." Ucap Mama Lenox tegas.
Seketika ruangan ketua yayasan berubah jadi arena pertempuran ancam-mengancam dan adu kekuatan juga kekuasaan.
Saat bubar sekolah, semua murid berkumpul untuk membaca pengumuman yang sudah ditempel oleh asisten ketua yayasan.
Reaksi murid dan guru ada yang girang, heran, terkejut, saat membaca nama utusan sekolah yang mengikuti kompetisi olimpiade matematika mewakili sekolah adalah Lenox dan Juke.
Hernita yang melihat itu, langsung oleng dan tasnya hampir jatuh dari bahu. "Nita, kau sudah ikut seleksi?" Tanya Sarah yang melihat wajah Hernita pucat.
Hernita tidak menjawab. Dia berjalan menjauh, karena hatinya sangat sedih. Harapannya pupus dan kerja kerasnya sia-sia.
Namun hati Ceska membara saat melihat dua ibu sosialita berjalan di lorong dengan wajah penuh kemenangan. 'Semua ini belum berakhir.' Ucapan Ceska membuat Hernita melihat sekeliling. Dia heran, bisa mendengar suara marah seperti di toilet.
Hernita melihat sekeliling untuk mencari sumber suara. Tetapi hanya melihat dua ibu berpenampilan menyolok berjalan mendekati dia.
"Kau berani menyentuh anak kami? Itu baru permulaan. Tunggu kami melemparmu keluar dari sini." Bentak Mama Lenox.
Hernita terdiam, tapi tidak dengan Ceska. "Terima kasih, Bu. Sudah menjawab ketidaktahuan saya, mengapa tiba-tiba dua nama itu muncul tanpa seleksi."
"Apa maksudmu?" Kedua Ibu terkejut mendengar ucapan Ceska.
"Ibu tidak mengerti maksud saya? Saya sedang bersyukur, mengetahui yang melakukan itu." Ceska menunjuk papan pengumuman. "Jadi saya tahu sedang berkompetisi dengan siapa."
"Hei, anak kurang ajar. Kau berani menjawab kami?" Teriak Mama Lenox.
"Bu, kalau tidak mau mendengar jawaban, jangan bertanya. Dan jangan berteriak. Telinga saya masih waras." Ceska berbalik meninggalkan dua ibu yang terpaku di lantai lorong.
...~▪︎▪︎▪︎~...
...~•○¤○•~...