NovelToon NovelToon
Nafas Sang Terbuang

Nafas Sang Terbuang

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi Timur / Perperangan / Kebangkitan pecundang / Action / Budidaya dan Peningkatan / Mengubah Takdir
Popularitas:2k
Nilai: 5
Nama Author: ohmyzan

Menceritakan Jihan seorang pemuda berusia 14 tahun, lahir dengan akar spiritualnya yang rusak. Demi ibunya yang sakit, ia menentang takdir dan menapaki jalan kultivasinya sendiri, sebuah jalan yang tak pernah terbayangkan bahkan oleh langit sekalipun.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ohmyzan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 26

Perintah Penatua Wira yang dingin dan final itu seketika memadamkan riuh harapan di alun-alun, menggantinya dengan keheningan yang berat dan tegang. Seleksi Perguruan Pedang Awan telah resmi dimulai.

Di bawah matahari yang mulai terik, udara terasa menyesakkan, seolah ikut menekan pundak setiap peserta yang menunggu giliran.

Antrean panjang para pemuda dan pemudi, semua berusia di bawah enam belas tahun, mulai terbentuk di kaki panggung. Wajah-wajah yang tadinya berseri oleh mimpi kini pias, terhantam oleh kenyataan yang berdiri di hadapan mereka. Ada yang menggigit bibir, ada yang meremas-remas ujung pakaiannya; semua tatapan tertuju pada Batu Penguji Roh yang berkilau lembut di telapak tangan penatua itu.

Sebab di dalam batu itulah vonis takdir mereka tersembunyi; sebuah jawaban tunggal yang akan menentukan arah seluruh sisa hidup mereka.

Bagi mereka yang berhasil, jalan kemuliaan akan terbuka. Mereka akan menjadi murid dari perguruan terhormat, mendapatkan sumber daya kultivasi, dan mengangkat derajat keluarga mereka dari lumpur kemiskinan.

Namun bagi mereka yang gagal… mereka akan kembali ke ladang dan hutan, melanjutkan sisa hidup di desa, terus bekerja keras dalam lingkaran kemiskinan yang tak berujung.

Keheningan pecah saat satu sosok memisahkan diri dari kerumunan. Gading. Dengan dagu terangkat dan langkah yang dibuat-buat angkuh, ia menjadi yang pertama maju. Ia menaiki panggung kayu dengan gerakan yang teatrikal, seolah panggung itu sudah menjadi miliknya, diiringi decak kagum dan bisik-bisik penduduk yang melihat jubah sutra merahnya.

Gading mengabaikan mereka. Ia menarik napas dalam-dalam, lalu dengan gerakan mantap, meletakkan telapak tangannya di atas permukaan batu kristal yang dingin dan halus itu. Untuk sesaat, tidak terjadi apa-apa. Lalu, seberkas cahaya merah berdenyut dari dalam batu. Cahaya itu tumbuh semakin terang, memancarkan warna merah keemasan yang hangat dan menyelimuti tangannya.

Sebuah seruan kagum kolektif terdengar dari penduduk desa.

“Akar Spiritual Api, tingkat menengah. Cukup,”

Suara penatua Wira bergema, nadanya tetap datar tanpa emosi.

Gading menarik tangannya, napas yang sejak tadi ia tahan akhirnya terlepas dalam satu embusan lega yang panjang. Wajahnya berseri-seri, bukan hanya karena bangga, tetapi lebih karena beban seberat gunung dari tuntutan ayahnya akhirnya terangkat dari pundaknya. Ia berhasil.

Pandangannya yang penuh kemenangan langsung menyapu kerumunan, mencari satu sosok. Jihan. Ia memberikan tatapan sinis yang sarat akan pesan, ‘bahwa ini adalah perbedaan diantara kita, ini lah takdirku dan kau tidak akan pernah bisa menggapainya.’

Satu demi satu, pemuda desa melangkah maju untuk mengadu nasib. Sebagian berhasil memantik cahaya redup dari batu kristal dan dinyatakan lolos dengan kualifikasi 'tingkat rendah'. Namun, jauh lebih banyak yang gagal, batu itu tetap diam membisu, tak memberi reaksi sedikit pun. Mereka melangkah gontai kembali ke kerumunan dengan wajah tertunduk lesu.

Tinggal beberapa orang lagi sebelum giliran Jihan. Matanya kini tertuju pada sosok yang baru saja menaiki panggung: seorang gadis muda yang belum pernah ia lihat seumur hidupnya.

Berbeda dengan peserta lain yang maju dengan langkah ragu-ragu, gadis ini berjalan dengan punggung tegak dan dagu terangkat. Jihan mengernyit, memperhatikan rambut ikalnya yang legam, kulitnya yang sawo matang, dan sepasang mata tajam yang menatap lurus ke Batu Penguji Roh tanpa keraguan sedikit pun.

Jihan berguman pada diri sendiri.

‘Mungkinkah ia berasal dari desa tetangga?’

Tanpa basa-basi, gadis itu meletakkan telapak tangannya di atas batu kristal. Hening sejenak, lalu,

BLARR!

Sebuah pilar cahaya emas, padat dan berkilau bak akik, meledak dari batu itu, menembus langit. Sinarnya begitu cemerlang, melampaui kilau milik Gading, hingga terik matahari pun seolah meredup, digantikan bayang-bayang keemasan yang menyelimuti seluruh alun-alun.

Jihan refleks mengangkat lengan, melindungi matanya dari pancaran itu. Di sekelilingnya, orang-orang terhuyung mundur, wajah mereka menyipit menahan silau yang nyaris menusuk. Cahaya itu terasa murni dan dahsyat, seperti kekuatan yang tak seharusnya muncul di desa terpencil ini.

Bahkan Penatua Wira, yang sejak tadi berdiri tanpa emosi, kini tampak benar-benar terguncang. Wajahnya yang tenang kini dipenuhi keterkejutan murni.

“Akar… Spiritual Bumi…”

“…Tingkat Puncak!”

Ia bergumam pada dirinya sendiri, nada datarnya lenyap, digantikan oleh kekaguman yang tak bisa disembunyikan.

‘Tidak kusangka… menemukan bibit jenius seperti ini di tempat terpencil. Patriark Perguruan pasti akan sangat, sangat gembira.’

Riuh rendah yang sempat terdengar kini lenyap, digantikan oleh keheningan yang penuh kekaguman. Tidak ada yang berani bersuara, seolah satu bisikan pun akan menodai momen keagungan yang baru saja mereka saksikan.

Di tengah keheningan itu, gadis berambut ikal menarik tangannya dari batu kristal, lalu melangkah dengan ketenangan yang luar biasa. Ia bergabung di sisi panggung bersama Gading dan beberapa anak lain yang telah dinyatakan lolos. Tatapannya tetap lurus dan dingin, sama sekali tak terpengaruh oleh ratusan pasang mata yang mengawasinya.

Di antara para peserta lain, pandangan mereka kini dipenuhi campuran kekaguman dan iri yang tak lagi disamarkan. Sementara itu, bisik-bisik mulai terdengar dari arah para tetua desa yang duduk di kursi kehormatan.

“Hei nenek tua, kau kenal anak itu?”

“Aku sudah puluhan tahun di sini, rasanya tak pernah lihat wajahnya.”

Wanita tua di sebelahnya menggeleng.

“Jangan tanya aku. Memangnya aku ini penjaga gerbang desa?”

“Kalian berdua bodoh,”

“Tak perlu bertanya. Lihat saja wajah Kepala Desa. Bahkan beliau pun tampak bingung. Jelas sekali gadis itu dari luar desa.”

Lelaki itu benar. Dari kursinya, dahi Arya Jaya memang berkerut dalam. Tatapannya yang tajam terkunci pada gadis misterius itu, penuh selidik, Namun, kecemasan itu segera beralih ke arah lain. Berikutnya adalah giliran Jihan.

Jihan mengikuti sosok gadis itu dengan pandangan sesaat, dadanya berdegup lebih cepat. Pilar cahaya emas yang luar biasa tadi masih terpatri di retinanya, berpendar setiap kali ia mengedip. Ia menarik napas panjang, berusaha menenangkan gelombang di dalam benaknya.

Riuh rendah kekaguman perlahan mereda, digantikan oleh ketegangan yang kian pekat dan terpusat. Semua mata kini beralih ke ujung antrean, tertuju padanya. Tatapan mereka adalah campuran dari rasa ingin tahu, harapan, dan keraguan yang blak-blakan. Dari arah kelompok Gading, terdengar bisik-bisik dan tawa kecil yang sengaja dibuat untuk menusuknya.

Tapi Jihan menulikan telinganya dari semua itu. Ia menarik napas dalam-dalam, mengabaikan semua suara. Ia memusatkan seluruh kesadarannya, bukan pada kerumunan atau pada Penatua Wira, melainkan pada satu bayangan di dalam benaknya: senyum lemah ibunya semalam, dan janjinya sendiri yang terasa mengikat jiwa. Itulah sauh harapannya, sumber kekuatannya yang sejati.

Tinggal beberapa langkah menuju panggung. Di depan, Penatua Wira berdiri tegak, menelusuri Jihan dari kepala hingga kaki, sorot matanya tajam seolah menimbang nilainya bahkan sebelum ia menyentuh Batu Penguji Roh.

Jihan menelan ludah. Tangannya mengepal, jemarinya dingin meski keringat telah membasahi telapak. Ia melangkah maju, setiap langkah terasa berat, bukan karena takut, tapi karena menanggung beban dari satu titik penentuan.

Saat kakinya menginjak panggung, dunia seolah meredup. Tak ada lagi wajah-wajah di sekelilingnya, tak ada lagi gumaman penonton, hanya panggung kayu, Batu Penguji Roh yang terasa memanggil, dan degup jantungnya sendiri yang menggema di telinga.

Dengan tangan yang sedikit gemetar, ia meletakkannya di permukaan batu yang terasa dingin di bawah telapak tangannya. Menutup mata, Jihan memusatkan seluruh harapannya dalam satu doa tanpa suara, sebuah permohonan yang ditujukan pada ibunya, pada langit, pada takdir itu sendiri.

Satu detik…

Dua detik…

Tiga detik…

Hening.

1
DownBaby
Temponya lambat tapi pas dipertengah seru parah, semangat thor upnya
Zhareeva Mumtazah anjazani
akhirmya ingat juga
Zhareeva Mumtazah anjazani
Raras Muria putri kerajaan Muria😍
Embun Pagi
Lanjut thor
Embun Pagi
Jika saja tanpa dukungan moral ibunya sudah pasti Jihan akan menjadi gila dengan situasi seperti itu
Embun Pagi
GILA GILA GILA INI SERU BGT, KASIHAN MC BERADA DITITIK TERENDAHNYA😭
Embun Pagi
GILA GILA INI MC LAGI DITITIK TERENDAHNYA BAKAL MEMUASKAN KALO NANTI JADI KUAT
Embun Pagi
ini kalimat bakal terngiang" sih kejam bgt
Embun Pagi
sudah kuduga /Sob/
Embun Pagi
Sudah saatnya perekrutan murid
Embun Pagi
NAH INI DIA BGUS JIHAN AKHIRNYA SADAR👍
Embun Pagi
pasti punya alasan lain
Embun Pagi
sudah jelas berbohong /Facepalm/
Embun Pagi
Tabib Sari sangat sus/Doge/
Ar`vinno
menjadi anak berbakti kepada ibu Respect Jihan👍
Erigo
ayo Jihan💪
DownBaby
mkin seru
DownBaby
Ayo ribut
DownBaby
apakah bakal selamat?
DownBaby
apakah itu tuan putri?
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!