NovelToon NovelToon
Hidup Santai Di Bukit Kultivasi

Hidup Santai Di Bukit Kultivasi

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi Timur / Sistem / Budidaya dan Peningkatan
Popularitas:1.5k
Nilai: 5
Nama Author: MishiSukki

Musim semi tiba, tapi Xiao An hanya mengeluh. Di dunia kultivator perkasa, ia malah dapat "Sistem" penipu yang memberinya perkamen dan pensil arang—bukan ramuan OP! "Sistem scam!" gerutunya. Ia tak tahu, "sampah" ini akan mengubah takdir keluarga Lin yang bobrok dan kekaisaran di ambang kehancuran. Dia cuma ingin sarapan enak, tapi alam semesta punya rencana yang jauh lebih "artistik" dan... menguntungkan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MishiSukki, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 16: Sketsa yang Ditolak

Keesokan harinya, sebelum matahari terlalu tinggi, Lin Cheng sudah bersiap. Dengan punggungnya yang kini terasa lebih kuat berkat Skin Tempering, ia memanggul keranjang besar berisi herbal yang telah ia kumpulkan dengan rajin. Herbal-herbal ini akan menjadi kunci rezeki mereka hari ini.

Dia harus menempuh perjalanan sejauh 15 kilometer dari Desa Mushan yang ditinggalkan menuju kota terdekat, Kota Bunga Giok.

Kota Bunga Giok

Kota Bunga Giok adalah sebuah permata kecil yang tersembunyi di balik perbukitan hijau. Dinding-dinding kotanya yang sudah tua terbuat dari batu abu-abu, diselimuti lumut di beberapa bagian, namun tetap kokoh berdiri. Gerbang utamanya terbuat dari kayu jati berukiran naga dan awan, meski catnya sudah pudar.

Begitu masuk, jalanan kota yang terbuat dari bebatuan kerikil tampak ramai. Berbagai macam toko berjejer rapi di kiri dan kanan, dengan atap genteng merah yang khas. Aroma rempah-rempah bercampur dengan bau masakan hangat dan wangi bunga dari toko bunga yang dipajang di pinggir jalan.

Pedagang kaki lima menawarkan dagangan mereka dengan teriakan nyaring, bersaing dengan suara hiruk pikuk penduduk yang berlalu-lalang. Anak-anak kecil berlarian di antara keramaian, tawa mereka mengisi udara.

Di tengah kota, terdapat sebuah menara yang menjulang tinggi, dengan lonceng perunggu yang sesekali berdentang, menandakan waktu. Meskipun bukan kota yang megah, Kota Bunga Giok memiliki pesonanya sendiri, penuh kehidupan dan aktivitas, menjadi pusat perdagangan bagi desa-desa kecil di sekitarnya.

Lin Cheng berjalan menyusuri jalanan Kota Bunga Giok yang ramai, mengabaikan teriakan pedagang dan aroma-aroma yang menggoda. Tujuannya jelas: kios jamu langganannya. Kios itu terletak di sebuah gang sempit, sedikit tersembunyi dari keramaian utama, namun selalu ramai dikunjungi tabib dan penduduk yang mencari pengobatan tradisional.

Kios itu milik seorang kakek tua bernama Tabib Li, seorang pria bijaksana dengan jenggot putih panjang dan mata yang selalu tampak lelah namun ramah. Di depan kiosnya, tumpukan akar-akaran kering, daun-daun beraroma kuat, dan berbagai ramuan herbal lainnya dipajang rapi.

Aroma tanah dan obat-obatan herbal yang kuat langsung menyergap indra penciuman Lin Cheng begitu ia mendekat.

"Tabib Li!" sapa Lin Cheng, suaranya ceria. Ia meletakkan keranjang besarnya di depan kios, siap untuk menjajakan hasil pencariannya hari ini.

Tabib Li, dengan kacamata bertengger di ujung hidungnya, mengangguk menyapa Lin Cheng. Tanpa banyak bicara, ia meraih salah satu genggam herbal dari keranjang dan mendekatkannya ke hidung, mencium aromanya dengan seksama. Jari-jemarinya yang sudah keriput lincah memeriksa setiap daun dan akar, memastikan tidak ada cacat atau kerusakan.

"Hmm, Daun Hati Naga ini cukup tua," gumam Tabib Li, memisahkannya ke satu tumpukan.

"Akar Ginseng Langka ini juga lumayan, meski ukurannya kecil."

Ia terus memeriksa seluruh isi keranjang Lin Cheng dengan teliti, mengklasifikasikan setiap jenis herbal. Lin Cheng berdiri sabar, menunggu penilaian sang tabib. Beberapa saat kemudian, setelah selesai memeriksa, Tabib Li menegakkan punggungnya, menarik napas dalam.

"Untuk semua ini," kata Tabib Li, menunjuk tumpukan herbal biasa,

"Aku bisa memberimu dua puluh keping perunggu." Wajah Lin Cheng sedikit muram, itu jumlah yang biasa dan pas-pasan.

"Tapi," lanjut Tabib Li, menggeser fokus ke beberapa herbal yang lebih langka, termasuk beberapa jenis yang Lin Cheng temukan berkat peningkatan Skin Tempering-nya,

"Untuk yang ini... Aku bisa menambahkan tiga puluh keping perunggu lagi. Total lima puluh keping perunggu."

Angka itu sedikit lebih baik dari biasanya, membuat Lin Cheng mengangguk puas. Lima puluh keping perunggu cukup untuk membeli beberapa karung tepung dan sedikit daging.

Setelah menerima pembayaran dari Tabib Li, Lin Cheng memasukkan kepingan perunggu ke dalam kantongnya. Keranjangnya kini terasa ringan, kosong melompong kecuali satu gulungan perkamen yang tersimpan rapi di dasarnya: lukisan sketsa Xiao An.

Dengan langkah yang lebih ringan dan hati yang penuh harap, Lin Cheng meninggalkan gang sempit itu dan menuju jalan utama Kota Bunga Giok. Jalanan utama jauh lebih ramai dan megah dibandingkan gang tempat kios jamu.

Bangunan-bangunan di sini tampak lebih besar dan dihiasi dengan ukiran yang rumit. Para pejalan kaki lebih bervariasi, dari pedagang berbusana mewah, sarjana dengan jubah rapi, hingga beberapa kultivator yang membawa pedang di pinggang mereka.

Lin Cheng harus melewati kerumunan orang, menghindari gerobak sayur yang sibuk, dan menyelinap di antara penjual makanan yang menjajakan hidangan lezat. Aroma roti baru dipanggang bercampur dengan wangi parfum dan bau kuda, menciptakan simfoni bau khas kota.

Ia melewati toko kain yang memajang sutra berwarna-warni, toko porselen yang berkilauan dengan vas-vas indah, dan kedai teh yang sibuk dengan obrolan hangat.

Matanya menelusuri setiap papan nama, mencari tanda yang menunjukkan toko seni. Akhirnya, di salah satu persimpangan, ia melihat sebuah bangunan dengan jendela besar yang memajang gulungan lukisan dan kuas. Sebuah papan kayu di atasnya bertuliskan aksara elegan:

"Galeri Seni Awan Merah". Lin Cheng tersenyum kecil. Ini dia tempatnya.

Lin Cheng melangkah masuk ke dalam Galeri Seni Awan Merah. Udara di dalamnya terasa lebih sejuk dan hening dibandingkan keramaian di luar. Bau tinta dan kertas baru memenuhi indra penciumannya. Dinding-dindingnya dicat dengan warna krem lembut, dan diterangi oleh beberapa lentera kertas yang menggantung anggun, memancarkan cahaya kuning hangat.

Di sekelilingnya, berbagai macam lukisan dan kaligrafi terpajang rapi. Ada gulungan lanskap pegunungan yang megah, potret para cendekiawan dengan ekspresi bijaksana, hingga kaligrafi aksara yang mengalir indah.

Beberapa di antaranya bahkan terlihat sangat tua, disimpan dalam kotak kaca dengan bingkai kayu mahal. Suasana di dalam toko terasa tenang dan berkelas, jauh berbeda dari kios jamu yang ramai atau jalanan kota yang hiruk pikuk.

Di salah satu sudut, seorang wanita muda dengan kimono sederhana sedang sibuk mengatur beberapa kuas di meja panjang. Tidak ada banyak pembeli, hanya seorang pria paruh baya yang sedang meneliti sebuah lukisan bambu di dinding. Lin Cheng merasa sedikit canggung, namun tekad untuk menjual sketsa Xiao An memberinya keberanian.

Penjaga galeri itu adalah pria muda yang sombong, rambutnya tertata rapi, mengenakan jubah sutra mahal yang sedikit terlalu ketat di bahunya. Ia melirik Lin Cheng dengan tatapan meremehkan, seolah melihat pengemis yang tersesat.

Lin Cheng menyodorkan gulungan perkamen. "Permisi, Tuan. Saya punya sebuah lukisan. Mungkin Tuan tertarik untuk melihatnya?" suaranya sedikit ragu.

Pria muda itu mendengus. Ia mengambil gulungan perkamen dengan ujung dua jari, seolah jijik menyentuhnya. Dengan gerakan angkuh, ia membukanya. Matanya menyapu sketsa itu sekilas, tanpa jeda sedikit pun untuk mengapresiasi detailnya. Senyum mencemooh langsung terukir di bibirnya.

"Apa-apaan ini?" katanya dengan nada menghina, melemparkan kembali gulungan perkamen itu ke tangan Lin Cheng.

"Ini hanyalah goresan pensil arang yang kasar! Tidak ada warna, tidak ada pigmen. Terlalu sederhana untuk standar galeri kami. Ini bahkan tidak bisa disebut lukisan!"

Dia melambaikan tangannya, seolah mengusir lalat.

"Bawa pergi sampah ini dari sini. Kami menjual karya seni, bukan coretan anak kecil. Jangan buang-buang waktuku!"

Lin Cheng mengepalkan tangannya, menahan amarah yang membuncah di dadanya. Namun, ia tidak bisa menyerah begitu saja. Ini bukan hanya lukisan, ini adalah harapan Xiao An, sahabat barunya yang polos dan kelaparan.

Bagaimana pun, ini adalah lukisan sahabatnya, maka dia pun harus setidaknya memperjuangkan untuk sampai terjual.

"Tunggu, Tuan!" Lin Cheng berseru, suaranya sedikit memohon, bahkan mungkin terdengar terlalu berlebihan.

"Tolong, lihat sekali lagi! Lukisan ini... ini bukan coretan biasa. Ini adalah karya yang luar biasa! Teman saya menggambarnya dengan hati, dan dia sangat membutuhkan uang dari ini!"

Lin Cheng mendekat, mencoba menyodorkan perkamen itu lagi.

"Mungkin Tuan belum melihat detailnya. Lihatlah ekspresi di mata pemuda kultivator ini, dan bagaimana pedang itu seolah benar-benar menusuk surga!" Ia bahkan sedikit membungkuk, menunjukkan kesungguhan yang putus asa.

"Saya mohon, Tuan. Berikan kesempatan kedua. Ini pasti akan terjual, saya yakin!"

Penjaga galeri itu mendengus jijik, menggelengkan kepalanya. Wajahnya yang memang sudah angkuh kini semakin sombong dan menjadi-jadi.

"Sudah kubilang, bawa pergi sampah ini!" ucapnya dengan nada dingin, sama sekali tidak terpengaruh oleh permohonan Lin Cheng.

"Kami tidak tertarik pada coretan-coretan tak bermutu. Jika kamu terus memaksa, aku akan memanggil penjaga untuk menyeretmu keluar!"

Ia melipat tangannya di dada, menatap Lin Cheng dengan pandangan merendahkan.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!