NovelToon NovelToon
Dinikahi Untuk Dibenci

Dinikahi Untuk Dibenci

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Playboy / Konflik etika / Angst / Romansa / Menjual Anak Perempuan untuk Melunasi Hutang
Popularitas:18.5k
Nilai: 5
Nama Author: 𝕯𝖍𝖆𝖓𝖆𝖆𝟕𝟐𝟒

“Pastikan kau sembuh. Aku tidak menikahimu untuk jadi patung di rumah ini. Mulailah terapi. Atau…” Edward menunduk, berbisik di telinganya, “...aku pastikan kau tetap di kamar ini. Terikat. Tanpa busana. Menontonku bercinta dengan wanita lain di tempat tidur kita.”

Laras gemetar, tapi matanya tak lagi takut. “Kau memang sejak awal… tak lebih dari monster.”

Edward menyeringai. “Dan kau adalah istri dari monster itu.”

Laras tahu, Edward tidak pernah mencintainya. Tapi ia juga tahu, pria itu menyimpan rahasia yang lebih gelap dari amarahnya. Ia dinikahi bukan untuk dicintai, tapi untuk dihancurkan perlahan.

Dan yang lebih menyakitkan? Cinta sejatinya, Bayu, mungkin adalah korban dari semua ini.

Konflik, luka batin, dan rahasia yang akan terbuka satu per satu.
Siap masuk ke kisah pernikahan penuh luka, cinta, dan akhir yang tak terduga?

Yuk, baca sekarang: "Dinikahi Untuk Dibenci"!
(Happy ending. Dijamin!)

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon 𝕯𝖍𝖆𝖓𝖆𝖆𝟕𝟐𝟒, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

16. Merasa Kalah

Edward berdiri di depan jendela kaca besar, menatap kota yang sibuk. Kopi di mejanya dingin. Kepalanya penuh.

"Menikahi Sherin? Aku lebih baik menikahi ambisi kosongku sendiri." pikirnya getir.

Pintu diketuk. Sekretaris masuk.

“Pak Edward… Pak Darma ingin bertemu. Sudah menunggu di lobi sejak tadi.”

Edward mendengus. “Suruh naik.”

Beberapa menit kemudian, Darma duduk di kursi di seberang meja Edward. Wajahnya tenang, tapi ada tekanan di balik senyum formalnya.

“Edward, aku datang bukan sebagai ayah mertuamu… tapi sebagai ayah dari gadis yang kau nodai.”

“Langsung ke inti rupanya.” Suara Edward dingin. “Sherin menjebakku. Dan Bapak tahu itu.”

Darma mendekat, suaranya berat. “Mungkin. Tapi publik tidak tahu. Dan Sherin… mengandung anakmu.”

Edward terdiam sejenak. Rahangnya mengeras.

“Buktikan dulu anak itu anakku.”

“Kau akan benar-benar kejam di hadapan media. Dan ingat, Edward… kau sudah tidak muda. Laras tak bisa memberimu keturunan. Kau butuh pewaris. Ini kesempatan.”

Edward tertawa sumbang. “Jadi Sherin rahimnya, aku dompetnya?”

Darma menatapnya dengan ekspresi serius. “Sherin mencintaimu.”

Edward tertawa pendek, tajam.

Sherin mencintai kekuatan. Dan Anda… mencintai kesempatan.”

Darma menghela napas berat.

“Aku hanya ingin cucu yang sah.”

Edward menatap Darma tajam.

“Bukan anak dari tipuan. Aku tidak butuh penerus dari pengkhianatan.”

Darma berdiri perlahan. Sorot matanya tajam.

“Kalau kau menolak… kau bukan hanya melawan aku, Edward. Kau melawan nama baik perusahaan ini, nama baik Laras… dan nama baikmu sendiri.”

“Laras?” gumam Edward.

***

Rumah Edward– Sore Hari

Edward pulang lebih awal. Laras sedang membaca di balkon. Ia tak menoleh saat Edward datang.

“Kau dengar gosip kantor hari ini?”

Tanpa menoleh, Laras menjawab dengan tenang.

“Soal Sherin? Ya. Banyak yang membicarakannya. Mereka menunggu reaksiku.”

Edward memicingkan matanya.

“Dan kau tidak peduli?”

Laras tersenyum sinis.

“Haruskah aku peduli soal suamiku tidur dengan adikku?”

Edward terdiam. Untuk pertama kalinya, ia merasa kalah dalam percakapan.

“Kau tidak cemburu?”

Laras menatap Edward, tajam.

“Aku kecewa. Tapi tidak cemburu. Karena aku tahu siapa Sherin. Dan aku tahu siapa kamu.”

Edward menyembunyikan kekecewaannya melihat reaksi Laras. “Kau mengira aku rela menikahinya?”

“Aku tidak peduli siapa yang kau nikahi. Tapi jangan pakai namaku untuk menutupi kejatuhanmu.” Laras menjawab dengan suara datar tanpa ekspresi.

Edward bicara setengah berbisik. “Aku dijebak, Laras… Aku setengah sadar. Aku...”

“Tapi kau sadar saat menanggalkan bajumu." Laras memotong cepat. Jangan bertingkah seakan kau korban, Edward.”

Hening. Angin sore menyapu rambut Laras. Edward tak bisa berkata-kata.

“Kau pernah bilang aku terlalu tenang. Tapi aku diam bukan berarti buta. Kau pikir aku tidak tahu Sherin dari awal mengejar hidupku? Dan kau memanfaatkan dia untuk mendapatkan aku.”

Edward terdiam.

“Jadi, kalau kau mau menikahinya… silakan. Tapi jangan pernah berpikir aku akan menyerahkan satu inci pun dari posisiku hanya karena kau tidur dengan saudaraku.”

Edward menatap Laras, wanita yang dulu ia pikir bisa ia kendalikan. Tapi sekarang, Laras lebih kuat dari yang ia kira.

***

Sherin menatap test pack di tangannya. Positif. Senyum muncul di bibirnya.

“Akhirnya… satu langkah lagi, Ed…”

Darma masuk ke ruangan.

“Edward menolak.”

Sherin diam sejenak, lalu tertawa kecil. “Dia hanya belum menyerah. Aku punya waktu. Dan rahimku akan mengalahkan semua argumen logisnya.”

Darma menatap Sherin. “Kau yakin dia akan tunduk?”

Sherin tersenyum miring. “Bukan sekarang. Tapi saat dia lihat bayinya, dia akan. Pria seperti Edward tak akan membiarkan darahnya jatuh ke tangan orang lain.”

***

Seluruh kantor seolah penuh dengan bisik-bisik setiap kali Laras lewat. Tatapan-tatapan iba tak lagi disembunyikan. Sebagian teman kerja Laras bahkan mulai menjauhinya—bukan karena benci, tapi karena tak tahu harus bersikap bagaimana.

Berita tentang Sherin yang hamil anak Edward telah menyebar lebih cepat dari email divisi. Dan tak ada yang bisa menghentikannya.

Desi mendesah pelan saat melihat Laras masuk ke ruangannya dengan tenang seperti biasa, mengenakan setelan putih dan lipstik warna nude. Tak ada yang berubah. Bukan raut wajahnya, bukan langkahnya. Justru itu yang membuat Desi merasa tak tenang.

"Ras… kamu ada waktu sebentar?"

Laras menoleh. "Ada. Kenapa?"

"Aku... cuma pengen ngobrol."

Laras mengangguk. Mereka duduk di ruang pantry yang sedang kosong. Kopi di tangan Desi tak disentuh. Sementara Laras malah sempat menyeduh teh, menghirupnya, lalu duduk dengan tenang di kursi, seolah hari ini tak ada badai.

Desi menatap sahabatnya itu dengan campuran kagum dan khawatir. Wajah sahabatnya itu sama seperti biasa—tenang, rapi, bahkan terlalu tenang untuk seseorang yang sedang dihujani skandal.

"Orang-orang... ngomongin kamu. Aku yakin kamu tahu."

Laras tersenyum tipis. "Tahu. Aku bukan tuli."

"Dan kamu nggak apa-apa?"

Laras mengangkat bahu. "Nggak ada yang bisa kulakukan juga. Mereka mau bilang apa, terserah."

Desi mencondongkan tubuhnya. Wajahnya serius. "Laras, kamu tahu aku sahabatmu. Aku tahu kamu kuat. Tapi manusia tetap manusia. Kalau kamu pengin cerita, nangis, marah, apapun... bilang ke aku."

Laras menunduk sebentar, lalu mendongak lagi. Tatapannya datar tapi jernih. "Aku baik-baik saja, Des."

“Kamu nggak perlu pura-pura kuat, Ras.”

Laras hanya menyeruput tehnya, lalu menatap ke arah jendela.

“Kenapa aku harus pura-pura?”

Desi menelan ludah. “Semua orang ngomongin kamu. Mereka bilang... Edward tidur sama adikmu, Sherin. Dan sekarang dia hamil.”

“Aku tahu.”

Suara Laras terdengar datar, tidak bergelombang. Tidak retak. Tidak meledak.

“Ras…” Desi meraih tangan sahabatnya. “Kalau kamu mau cerita, nangis, marah, apa aja... aku di sini.”

Laras menoleh. Kali ini matanya menatap dalam-dalam. “Aku nggak marah, Des. Aku cuma muak.”

Desi mengerutkan dahi. “Muak?”

“Aku nggak pernah cinta sama Edward,” bisik Laras. “Aku menikah karena dia memaksaku. Memaksaku... demi dendam dan egonya.”

Desi menegang. “Jadi... itu benar?”

Laras tersenyum getir. “Semua orang pasti sudah tahu aku pernah menolak dia, mempermalukannya di depan umum. Edward—dengan segala egonya—nggak bisa menerima. Dia merasa aku menginjak harga dirinya. Jadi dia mempermainkan hidupku.”

Desi terdiam. Selama ini ia tahu bahwa di balik senyum tipis Laras, tersimpan luka dalam. Ia tahu siapa yang Laras cintai. Bayu.

Desi menghela napas pelan.

"Kalau kamu nggak cinta sama Edward, kenapa kamu nggak gunain kesempatan ini buat pisah darinya?"

Laras menunduk, tersenyum pahit.

"Karena aku tak pantas untuk Bayu."

"Kenapa?"

"Ada hal yang tak ingin aku bagi dengan orang lain."

***

Malam di Rumah

Edward memasuki rumah dengan wajah lelah. Tapi saat melihat Laras duduk di ruang tamu, jantungnya berdetak lebih kencang. Ia benci mengakuinya, tapi Laras selalu punya pengaruh aneh pada emosinya.

“Laras…” panggilnya pelan.

“Kamu sudah tahu Sherin hamil?” tanya Laras tanpa menoleh.

Edward mendekat, tapi menjaga jarak.

“Anak itu memang anakku.”

Laras tertawa pelan. “Kamu bahagia? Sudah berhasil tidur dengan adikku?”

Edward memicingkan mata. “Kamu nggak peduli 'kan?”

Laras berdiri. Matanya menatap tajam. “Tentu saja aku nggak peduli. Kamu pikir aku bertahan di sini karena cinta? Saat waktunya tiba nanti, aku akan pergi.”

Edward mendekat. “Kau pikir kamu bisa semudah itu pergi?”

Laras menatap Edward datar.

"Kita lihat saja nanti.” Ia berbalik hendak pergi

Edward mencengkeram lengannya. “Aku belum selesai denganmu, Laras.”

Laras menatap Edward dengan senyum miring yang dingin, seolah ucapannya hanyalah fakta yang tak perlu diperdebatkan.

“Terlalu terlambat,” katanya pelan, tapi tajam. “Aku sudah selesai denganmu... sejak lama.”

Tanpa menunggu reaksi, ia menepis tangan Edward yang mencoba menahannya—gerakan halus namun penuh penolakan.

Lalu ia berbalik, langkahnya ringan namun mantap, meninggalkan Edward yang terdiam dalam bayang-bayang kekalahannya sendiri.

Edward meletup marah. Sorot matanya gelap, rahangnya mengeras. Tapi di balik kemarahan itu, ada sesuatu yang tak bisa ia sembunyikan—kepanikan yang mencuat dari celah egonya yang retak.

“Aku kira... setelah membuat hidup Laras berantakan, aku akan merasa puas.” Suaranya serak, nyaris seperti pengakuan yang tak ingin ia ucapkan.

“Tapi semakin dia bersikap acuh... semakin aku merasa kalah.”

Ia menggeleng pelan, mencengkeram sisi meja dengan tangan bergetar.

“Dan itulah yang paling aku benci. Aku benci merasa kalah darinya.”

...🍁💦🍁...

.

To be continued

1
Fadillah Ahmad
Hadir Kak Nana. 🙏🙏🙏
Herman Lim
moga arka sang prajurit BS tolong laras
@💤ιиɑ͜͡✦⍣⃝కꫝ🎸🇵🇸
bayu, kau harus tau. laras berada di tempat yg aman. sekarang kau bisa lari meninggalkan ayah sombongmu itu. cari laras bayu.
@💤ιиɑ͜͡✦⍣⃝కꫝ🎸🇵🇸
semoga arka & rekan2 militernya bisa melindungi laras & menghancurkan Edward.
Khanza Orioncraft
novel pling menantang adrenalin yg prnh aq baca di NT...bkin g sabar dg kelanjutannya,
Siti Jumiati
Alhamdulillah 🤲 Laras dapat perlindungan dari pak militer gk nyangka istri nya baik dan mau ikut melindungi Laras, semoga setelah ini Edward ditangkap masuk penjara karena kdrt dan Laras bisa cerai dari Edward.
semangat kak sehat selalu 🤲
mbok Darmi
semoga edward segera hancur lebur diceraikan laras dan justru dia yg ajan dikuliti sama arka
Agus Tina
Bagus ceritanya, cuma jangan biarkan Edward berhasil menangkap Laras kembali dgn cara menghancurkan orang2 baik yang telah menolongnya ...
abimasta
semoga laras benar2 aman bersama arka dan keluarganya
syisya
psikopet, edward gila
axm
sebenernya laras ditinggalin banyak warisan kasian diambil
Herman Lim
moga yg tolong Laras org yg baik yg BS bawa Laras ke bahagia yg sesungguhnya nya
Siti Jumiati
semoga setelah ini kebahagiaan menyertai mu Laras/Sob//Sob//Sob//Sob/
kamu sudah lama menderita dan kamu pantas untuk bahagia Laras...
Semangatt kak lanjut... sehat selalu 🤲
Dzimar Rezkiansyah
thor satukan Laras dgn Bayu ..kasian mereka saling cinta meskipun mereka sma2 dari 0
abimasta
semoga laras bisa lepas dari edward
@💤ιиɑ͜͡✦⍣⃝కꫝ🎸🇵🇸
semangat laras. kamu kuat pasti selamat
mbok Darmi
saat nya pembalasan laras jgn patah semangat kamu hanya sebatang kara ngga ada yg perlu kamu cemaskan dan takutkan seandainya mati pun tidak akan ada yg menangisi jenasah mu yg ada ortu angkat mu seneng dan sherin adik lucknut mu pasti jadi sasaran kemarahan edward
axm
sykurlah larasa selamat,ayo laras tinggal balas mereka semua.bikin edward menangis darah dalama penyesalan
Dek Sri
semoga Laras selamat
@💤ιиɑ͜͡✦⍣⃝కꫝ🎸🇵🇸
semoga Edward tidak membunuh laras. andai dia melakukan KDRT, itu akan memudahkan jalan laras
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!