NovelToon NovelToon
Gen Z Emperor

Gen Z Emperor

Status: sedang berlangsung
Genre:Angst / Fantasi / Reinkarnasi
Popularitas:51
Nilai: 5
Nama Author: AEERA-ALEA

maizy melihat berita tentang sepasang tulang dengan cincin pernikahan yang saling menggenggam romantis, menandakan cinta mereka tidak akan pernah tergerus oleh peradaban. Di bawah reruntuhan istana yang baru saja di temukan arkeolog Jerman, membuatnya penasaran namun harus menutup rasa ingin tahu nya di sekolah

pada perjalanan dia tidak sengaja bertabrakan dengan seorang anak laki laki yang sangat ia kenali, seseorang yang selalu menghujami nya dengan perkataan dan perundungan. Di sana Paul berdiri dengan angkuh di saat maizy dengan tertatih memungut buku nya..

perdebatan mereka masih berlanjut, sampai kedua nya muak dan memutuskan untuk beradu mulut dan malah membawa petaka. Kedua nya terjatuh dari tangga lantai 3

saat maizy terbangun, apa lah daya nya. dia terbangun di tengah tengah hutan hujan Jerman kuno, di keliling kuil kerajaan yang tidak asing, namun baru pertama kali ia datangi.

ternyata maizy terlempar ke masa lalu dan harus menduduki tahta ratu

apa yang akan dia lakuka

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AEERA-ALEA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

23

Tok! Tok! Tok!

Suara ketukan pintu yang keras, kaku, dan tanpa ritme sopan santun memotong momen hangat di antara Maizy dan Frederick. Suara itu begitu dominan hingga membuat Frederick refleks langsung berdiri tegap, memosisikan tubuhnya di depan Maizy dengan tangan kanan yang siaga di dekat gagang pedang panjangnya.

Pintu ganda itu didorong terbuka dari luar. Sosok Cade Reinart berdiri di sana dengan postur tubuh yang angkuh. Rambut hitam pendeknya tampak rapi, kulitnya yang putih pucat kontras dengan zirah perak fungsionalnya yang berdenting nyaring saat dia melangkah masuk tanpa permisi. Sepasang mata cokelat kemerahannya langsung menatap tajam ke arah Maizy yang masih terduduk di tepi ranjang.

"Drama melankolisnya sudah selesai, Aldrich?" sindir Cade dingin, melirik Frederick sesaat sebelum kembali memfokuskan tatapan jengahnya pada Maizy.

"Jaga bicaramu, Cade. Dia baru saja tenang," desis Frederick dengan nada bariton yang rendah dan berbahaya. Manik mata abu-abunya berkilat penuh ancaman, tidak suka karena ketenangan Maizy kembali terusik.

Cade mendengus miring, sama sekali tidak peduli dengan hawa membunuh yang dipancarkan Frederick. Sifat egois dan maunya sendiri membuat dia langsung menyampaikan perintah tanpa basa-basi.

"Simpan amarahmu untuk nanti. Perdana Menteri dan para menteri senior dewan agung sudah berkumpul di ruang konsul," ucap Cade tegas, suaranya terdengar seperti perintah mutlak. Dia beralih menatap Maizy sepenuhnya. "Nona Muda, kakekmu—Yang Mulia Kaisar—meminta kejelasan penuh mengenai 'kegilaan' yang kau bicarakan di ruang sidang tadi. Kau harus menjelaskan semuanya di depan Perdana Menteri sekarang juga. Bersiaplah, aku tidak suka menunggu."

Waduh, dipanggil Dewan Menteri sama Perdana Menteri?! batin Maizy, jantungnya mendadak berdegup kencang. Ini adalah ujian pertamanya setelah memutuskan untuk "bersenang-senang" di dunia ilusi ini. Dia harus menghadapi para politikus tua kekaisaran dengan informasi yang masih sangat minim.

Maizy perlahan berdiri, merapikan rok gaun sutra biru dongkernya yang megah agar kembali jatuh dengan anggun. Mengingat kesalahan aktingnya yang terlalu ceria tadi, dia buru-buru memasang ekspresi wajah yang tenang, kalem, dan sedikit sayu—mencoba meniru pembawaan asli sang putri agar tidak dicurigai oleh Cade yang bermata elang itu.

"Baiklah, Komandan Reinart. Saya akan pergi," ucap Maizy dengan suara yang lembut namun tegas, menjaga wibawanya di balik lensa kacamata.

Frederick langsung berbalik menghadap Maizy, matanya yang abu-abu memancarkan rasa khawatir yang teramat sangat. "Maizy, kau tidak perlu memaksakan diri jika kepalamu masih sakit. Aku bisa menghadapi mereka untukmu—"

"Tidak apa-apa, Frederick," potong Maizy lembut, memberikan senyuman tipis yang menenangkan pada pria itu sebelum melirik Cade dengan pandangan formal. "Lebih baik kita selesaikan kesalahpahaman ini secepatnya."

Melihat Maizy yang mendadak bersikap sangat patuh dan tenang, Cade hanya menaikkan satu alisnya, sedikit heran karena tidak ada makian "mesum" atau rontaan kaku seperti di hutan tadi. Namun, sifat cueknya membuat dia tidak ambil pusing. Cade berbalik kaku, memimpin jalan keluar paviliun barat dengan langkah bot baja yang mantap, sementara Frederick berjalan mepet di sisi kanan Maizy, siap menjadi perisai hidup jika sidang dewan menteri nanti berjalan terlalu menyudutkan gadis yang dicintainya.

Pintu ruang konsul yang terbuat dari kayu jati berlapis perunggu didorong terbuka oleh penjaga. Begitu Maizy melangkah masuk diapit oleh Frederick dan Cade, atmosfer di dalam ruangan langsung terasa mencekik.

Jiers... banyak banget orangnya! batin Maizy, menahan napas sejenak di balik ekspresi kalemnya.

Di dalam ruangan berbentuk amfiteater kecil itu, seluruh Perdana Menteri dan jajaran menteri senior Dewan Agung sudah duduk melingkar. Tidak ada Kaisar Harleyton di sana; kursi takhta tinggi di ujung meja tampak kosong, menandakan bahwa sidang ini memang sengaja diserahkan kepada para pejabat sipil untuk menginterogasi "kegilaan" sang Nona Muda. Puluhan pasang mata tua yang tajam, skeptis, dan penuh kalkulasi politik langsung tertuju lurus pada gaun biru dongker Maizy.

Perdana Menteri utama, seorang pria tua berjanggut putih panjang dengan jubah beludru ungu pekat, mengetukkan tongkat peraknya ke lantai.

"Selamat datang kembali, Nona Muda Maizy," ucap sang Perdana Menteri dengan suara berat yang menggema kaku. "Kami berkumpul di sini atas titah Yang Mulia Kaisar untuk mendengar kejelasan. Dokumen resmi Kekaisaran Agung Winterhall tidak mencatat adanya riwayat penyakit jiwa pada silsilah darah Anda. Jadi, jelaskan pada kami apa maksud dari igauan Anda di ruang sidang tadi?"

DEG!

Kata-kata "Kekaisaran Agung Winterhall" yang keluar dari mulut Perdana Menteri seketika menghantam otak Maizy layaknya gada besi. Lensa kacamatanya sampai hampir bergeser karena dia refleks terbelalak syok.

Loh?! Winterhall?! pekik Maizy histeris, tentu saja hanya di dalam hati. Kok nama kerajaannya Winterhall?! Itu kan nama sekolah gue di Berlin tahun 2026?!

Kepala Maizy mendadak berdenyut lebih kencang. Kebetulan macam apa ini? Pertama, wajah kakeknya yang mirip dengan Kaisar Harleyton Falkenhayn. Kedua, nama belakang Paman Michael yang sama dengan sang Kaisar. Dan sekarang, nama sekolah modern tempat dia belajar justru menjadi nama kerajaan kuno abad ke-19 ini?! Sifat nya yang analitis langsung berputar liar, mencoba mencari benang merah di antara semua kegilaan ini. Apakah ini benar-benar sekadar kilas balik sebelum mati, atau ada rahasia yang jauh lebih besar?

"Nona Muda?" Cade Reinart di sisi kirinya berdeham rendah, suara baritonnya yang ketus memecah lamunan Maizy. Mata cokelat kemerahannya menatap Maizy dengan pandangan jengah karena gadis itu mendadak mematung. "Para menteri sedang menunggu jawabanmu. Jangan membuat kami terlihat bodoh karena membawakan gadis linglung ke ruangan ini."

Frederick langsung mengambil satu langkah maju, menutupi sebagian tubuh Maizy dari tatapan menuntut para menteri. Manik mata abu-abunya berkilat protektif, sementara tangan kekarnya mengepal di sisi jubah hitamnya.

"Mohon pertimbangan Anda, Tuan Perdana Menteri," seru Frederick tegas, suaranya yang berwibawa menggema demi melindungi Maizy. "Seperti yang sudah hamba laporkan, Nona Muda Maizy baru saja keluar dari hutan terlarang. Ingatannya tentang Kekaisaran Winterhall masih tumpang tindih akibat trauma."

Maizy meremas kain gaunnya, mencoba menenangkan debaran jantungnya yang menggila. Dia tahu dia harus bicara sekarang sebelum para menteri tua ini kehilangan kesabaran.

Bagaimana cara Maizy menjelaskan tentang "Winterhall" versi dirinya tanpa membuat dewan menteri mengiranya semakin gila?

Di antara jajaran menteri senior yang berambut putih, ternyata ada beberapa menteri muda berusia rata-rata 30-an yang duduk di barisan depan. Mereka adalah para politikus baru yang ambisius, haus kekuasaan, dan tidak terlalu peduli pada status Maizy sebagai cucu kaisar.

Salah satu yang paling vokal adalah Menteri Aldermann. Pria berusia 32 tahun itu memiliki rambut pirang klimis yang disisir rapi ke belakang dan sepasang mata biru yang dingin laksana es. Sejak Maizy melangkah masuk, tatapan Aldermann sudah mengunci gadis itu dengan pandangan merendahkan.

Begitu Frederick selesai mencoba membela Maizy, Aldermann langsung menegakkan tubuhnya, mengetukkan pena bulunya ke atas meja dokumen dengan suara *tuk-tuk* yang sengaja dibuat provokatif.

"Trauma? Ingatan tumpang tindih? Oh, Komandan Aldrich, tolong jangan membuat akal sehat kami ikut tumpul karena sifat protektifmu yang berlebihan itu," sindir Aldermann, suaranya yang tajam dan sinis langsung memotong pembelaan Frederick.

Aldermann beralih menatap Maizy lekat-lekat, menyandarkan punggungnya ke kursi dengan senyum miring yang sangat menyebalkan.

"Nona Muda Maizy yang terhormat," panggil Aldermann, nadanya terdengar sopan namun penuh racun. "Mari kita kesampingkan dongeng tentang 'dunia modern' atau 'Berlin' yang Anda teriakkan tadi. Pertanyaan saya sederhana: Apakah aksi melarikan diri Anda ke hutan terlarang kemarin, dan sandiwara amnesia yang Anda pertontonkan sekarang, adalah bentuk konspirasi sengaja untuk mempermalukan Kekaisaran Winterhall di hadapan kerajaan lawan?"

Deg! Pertanyaan itu langsung membuat suasana ruangan semakin tegang. Sifat ENFJ Maizy seketika menangkap niat busuk pria ini; Aldermann sedang mencoba menyudutkannya ke arah tuduhan pengkhianatan politik.

"Aldermann! Jaga batasanmu!" gertak Frederick. Rahangnya yang ber mengeras total, dan manik mata abu-abunya berkilat penuh amarah yang mendidih. Dia siap maju jika politikus muda itu berani mengeluarkan kata-kata yang lebih menusuk lagi.

Namun, Aldermann sama sekali tidak gentar. Dia justru beralih menyerang mental Maizy lagi dengan pertanyaan yang jauh lebih menyakitkan.

"Mengapa Anda diam, Nona? Apakah karena tebakan saya benar?" cecar Aldermann dingin, matanya menatap tajam di balik lensa kacamata Maizy. "Seluruh rakyat Winterhall memuja Anda sebagai simbol kedamaian, kakek Anda—Yang Mulia Kaisar—bahkan harus menahan beban politik yang besar demi mengamankan posisi Anda. Tapi apa balasan Anda? Anda bertingkah kekanak-kanakan, kabur seperti buronan, dan sekarang kembali dengan otak yang mendadak kosong? Jika Anda memang sudah tidak sudi mengabdi pada kekaisaran ini, bukankah lebih baik status bangsawan Anda dicabut saja daripada terus merepotkan dua divisi pasukan militer?"

Plak! Cade Reinart yang sedari tadi bersedekap dada mendadak menghentakkan bot bajunya ke lantai dengan keras, menciptakan gema logam yang nyaring dan menghentikan kalimat Aldermann. Meskipun Cade sangat kesal pada Maizy, dia jauh lebih tidak suka melihat orang sipil seperti Aldermann mengintervensi urusan militer dan keluarga kekaisaran dengan cara yang menjijikkan.

Mata cokelat kemerahan Cade berkilat tajam menatap Aldermann. "Kau sudah bicara terlalu banyak, Menteri Muda," desis Cade ketus dan penuh dominasi.

Di tengah kepungan intimidasi dari Aldermann dan pembelaan dari kedua komandannya, Maizy meremas tangannya kuat-kuat di balik lipatan gaun sutra birunya. Otak cerdasnya langsung berputar cepat. Dia tidak boleh membiarkan pria pirang menyebalkan bernama Aldermann ini merusak rencananya untuk bersenang-senang di dunia Winterhall ini. Dia harus membalas pertanyaan sakit itu dengan elegan.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!