NovelToon NovelToon
7-14: Insiden 06-06

7-14: Insiden 06-06

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Time Travel / Mengubah Takdir
Popularitas:108
Nilai: 5
Nama Author: Dean Jeremia Sp

"Bagaimana cara menangkap pembunuh yang dilindungi oleh waktu itu sendiri?"

Insiden 06-06 bukan sekadar kecelakaan beruntun biasa. Di balik pekatnya polusi Jakarta dan pemadaman listrik total, ada konspirasi berdarah yang terencana rapi.

Samuel, seorang penyelidik BPI yang aslinya otaku garis keras, terpaksa harus menggunakan kartu as rahasianya: kemampuan memanipulasi waktu.
Bersama rekan jeniusnya, Ahmad, Samuel harus melompati belasan rute masa lalu, menjinakkan paradoks, dan menahan sakit kepala yang siap meremukkan otaknya. Baginya, angka 7-14 bukan lagi sekadar penanda hari, melainkan hitung mundur menuju kematian orang paling penting dalam hidupnya.
Saat waktu kehilangan maknanya, mampukah sang "Penguasa Waktu" memutus rantai takdir tak kasat mata ini?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dean Jeremia Sp, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Itu bukan aku!!

...Jakarta, 10 Juni 2025...

Langit Jakarta pagi ini masih sama seperti kemarin; kelabu dan enggan cerah. Di balkon apartemen, Riza Beatrice berdiri termenung menatap hamparan gedung bertingkat yang samar tertutup polusi. Ucapan Samuel kemarin pagi terus berputar di kepalanya. Ahmad sudah menemukan pelakunya. Bagaimana bisa seorang penyelidik tahu siapa pembunuhnya secepat itu, padahal bukti-bukti di TKP sangat kacau, jadi aku waktu sama dia sisa sedikit lagi ya. A-apa yang aku pikirkan?

Pukul 09.00 WIB

Samuel mengerjapkan mata, terbangun di atas sofa ruang tengah dengan kesadaran yang masih mengambang. Ingatan terakhirnya semalam adalah bermain game multiplayer bersama Riza hingga sekitar pukul sembilan malam. Setelah Riza pamit tidur, Samuel melanjutkan ambisinya untuk menamatkan game tersebut sendirian hingga larut.

Ia ingat betul semalam meja dan sofanya berantakan oleh bungkus camilan dan kaleng soda. Namun anehnya, pagi ini seluruh sampah itu sudah lenyap tak berbekas.

Sambil meregangkan otot-ototnya yang kaku, Samuel beranjak dari sofa dan menyalakan televisi. Hari ini, stasiun berita nasional dijadwalkan menyiarkan secara langsung konferensi pers mengenai kronologi, pola, dan motif di balik Insiden Tragis 06-06.

Sembari menunggu siaran dimulai, Samuel melangkah ke dapur untuk membuat sarapan sederhana: nasi goreng. Mendengar denting wajan dari arah dapur, Riza menghentikan lamunannya di balkon dan berjalan masuk.

"Selamat pagi, Sam," sapa Riza dengan wajah datarnya yang khas.

Hubungan antara tersangka dan penyelidik ini perlahan mulai mencair. Komunikasi intens dan sesi bermain game bersama beberapa hari terakhir berhasil mengikis dinding kecanggungan di antara mereka.

"Pagi. Ngapain lu di luar?" tanya Samuel tanpa menoleh, fokus mengaduk nasi di atas wajan.

Riza sedikit terkesiap sembari menutup rapat pintu kaca balkon. "Tidak... tidak ada apa-apa," jawabnya, sementara semburat merah tipis mendadak muncul di kedua pipinya.

Samuel memilih masa bodoh dan melanjutkan aktivitas memasaknya. Namun, Riza mendadak mendekat, berniat mengambil alih sodet di tangan Samuel. Maka mulailah perdebatan kecil di antara mereka—mirip seperti drama dua orang yang berebut ingin membayar kasir di kafe, bedanya, kali ini mereka berebut siapa yang berhak memasak sarapan.

Berkat sifat kepala batu Samuel yang keras kepala, Riza akhirnya mengalah. Ia menyerahkan kekuasaan penuh dapur kepada Samuel dan memilih duduk di depan televisi. Begitu nasi goreng matang, mereka menikmatinya bersama di meja makan. Riza duduk lebih dulu, disusul Samuel yang sengaja memilih posisi kursi yang tidak berhadapan langsung dengannya. Rasa malu lamanya sebagai otaku yang jarang berinteraksi dengan wanita sesekali masih muncul tanpa diundang.

Pukul 12.00 WIB

Selepas mandi dan bersiap di kamar tamu yang ia tempati sementara, telinga Samuel menangkap suara volume televisi dari ruang tengah yang mendadak dikeraskan. Suara sang penyiar berita terdengar menggelegar.

Sadar siaran penting telah dimulai, Samuel buru-buru berpakaian dan berlari kencang ke ruang tamu. Kemunculannya yang tiba-tiba dan grasa-grusu langsung mengejutkan Riza yang sedang menonton dengan santai.

"Waah! Ngapain sih? Bikin kaget saja!" seru Riza spontan.

Plak!

Sebuah tamparan refleks mendarat mulus di pipi Samuel.

"Maaf..." cicit Samuel seketika, mengusap pipinya yang terasa panas. Nyali detektif elitnya langsung mengkerut. Dengan gerakan super pelan dan sopan, ia duduk di ujung sofa, menjaga jarak aman di sebelah Riza, lalu memfokuskan pandangan ke layar kaca.

"Setelah bungkam selama beberapa hari, pihak BPI akhirnya memberikan jawaban resmi kepada publik," ujar sang penyiar berita di layar kaca. Di belakangnya, sebuah layar digital besar menampilkan infografis runtutan Kasus 06-06.

"Seperti yang pemirsa dapat lihat, tiga komponen utama dalam kejadian ini adalah tabrakan beruntun, padamnya listrik total, dan aksi pembunuhan. sesuai dengan dugaan awal kepolisian, tragedi tabrakan beruntun ini terjadi karena sebuah truk yang mengalami rem blong. Dan hebatnya, sabotase rem tersebut sengaja dilakukan oleh seseorang."

Penyiar itu menatap tajam ke arah kamera, memberikan penekanan emosional. "Semua kejadian di sini saling berhubungan, Pemirsa. Jadi, harap perhatikan baik-baik.

"

Ia sempat menjeda kalimatnya sejenak untuk membuka permen produk sponsor acara—sebuah trik iklan yang biasa dilakukan di televisi nasional—sebelum melanjutkan, "Setelah tabrakan beruntun yang direncanakan, menyusul pemadaman listrik massal. Polisi memastikan ini adalah hasil sabotase, terlihat dari bekas benturan keras pada tiang gardu utama. Namun, pertanyaannya, mengapa pihak PLN sempat menyembunyikan fakta ini?"

Bzzzt.

Di saat yang sama, ponsel di saku celana Samuel bergetar. Sebuah pesan masuk dari Ahmad. Pesan itu berisi file dokumen rahasia BPI beserta sebuah catatan singkat:

'Kalau penyiarnya terlalu banyak iklan, baca saja berkas ini. Kasih lihat juga ke pacar tersangkamu itu, wkwkwk :v'

Samuel memutar bola matanya malas, mengabaikan lelucon gila sahabatnya. Ia melirik ke samping kanan. Riza sama sekali tidak memedulikan ponsel Samuel; wanita itu tampak terhipnotis, fokus 100% pada televisi saat sang penyiar mulai masuk ke inti kasus.

"Pemirsa sekalian, kedua insiden awal tadi sengaja diciptakan hanya untuk satu tujuan: menutupi kasus pembunuhan berencana. Namun, sang eksekutor tampaknya kurang cerdik untuk mengelabui detektif elit kita. Untuk menjelaskan kronologi lengkapnya, saya persilakan kepada Tuan Ahmad Supriadi dari BPI."

Samuel hampir saja menyemburkan napasnya saat sosok Ahmad dengan setelan jas rapi muncul di layar televisi. "Ahmad?! Kok bisa?! Selain Mas Dimas, kenapa dia yang diizinkan memimpin konferensi pers?!"

Melihat reaksi heboh Samuel yang sampai melompat kecil di sofa, Riza tidak bisa menahan tawa kecilnya.

Tepat di detik itu, ponsel Samuel berdering lagi. Panggilan video (video call) dari Ahmad. Belum sempat Samuel berpikir apa motif pria itu menelepon, ia menyadari sesuatu. Di layar televisi, Ahmad tampak memasukkan satu tangannya ke dalam kantong celana. Di layar ponsel Samuel, sudut pandang kamera memperlihatkan bagian dalam kantong celana Ahmad yang gelap dan samar-samar menampilkan situasi di balik panggung siaran. Ahmad sengaja menyalakan kamera secara sembunyi-sembunyi!

Samuel sengaja membiarkan panggilan itu berdering tanpa berniat mengangkatnya. Dan di layar kaca, Ahmad tampak menyeringai kecil, seolah tahu teleponnya diabaikan.

Kini giliran Ahmad yang memegang kendali mikrofon di depan media.

"Eee... Selamat siang para pemirsa," buka Ahmad dengan gaya santai yang menyebalkan. "Saya harap Anda sekalian memperhatikan penjelasan ini dengan saksama. Terutama... untuk Anda yang saat ini sedang duduk berdua di atas sofa bersama pacar tersangka Anda, hahahaha. Maaf, keceplosan."

Urat kekesalan langsung menonjol di dahi Samuel, walau di sudut hatinya ia merasa terhibur dengan mental baja sahabatnya yang berani bercanda di siaran langsung nasional.

"Oke, mari kita serius," lanjut Ahmad, mengetuk layar digital di belakangnya. "Korban berinisial C, seorang pejabat pemerintahan berusia 56 tahun. Motif utama eksekusi ini adalah balas dendam pribadi. Dari tiga orang yang mulanya dicurigai, pelakunya adalah Yogi."

Ahmad menjeda kalimatnya, memberikan waktu bagi pemirsa untuk mencerna informasi tersebut.

"Kenapa Yogi? Semasa hidupnya, korban berinisial C ini pernah mencuri ide proyek besar milik Yogi demi mendongkrak jabatannya sendiri di pemerintahan, meninggalkan Yogi dalam keterpurukan. Mengapa BPI bisa seyakin itu? Senjata yang digunakan adalah Glock 19, ditembakkan dari sudut bawah langsung mengarah ke tengkorak korban hingga menghancurkan wajahnya. Di senjata tersebut sama sekali tidak ditemukan sidik jari. Bukan karena dihapus, melainkan karena pelaku—yaitu Yogi—secara medis sudah tidak memiliki sidik jari akibat kecelakaan kerja di masa lalu."

Ahmad berjalan mendekati kamera, menatap langsung ke lensa.

"Saya membaca banyak teori di media sosial yang menuduh Wisnu adalah pelakunya hanya karena dia terlihat mengenakan sarung tangan di sekitar TKP. Sayang sekali, asumsi Anda patah. Senjata api ilegal di negara kita bukanlah barang yang murah, dan Wisnu hanyalah pekerja instansi swasta biasa dengan kondisi ekonomi yang jauh dari kata sejahtera. Dia tidak akan mampu membeli senjata itu. Dan untuk menjawab pertanyaan terakhir kalian: Apakah Yogi juga yang mendalangi pemadaman listrik dan tabrakan beruntun tersebut? Jawabannya singkat... Ya."

Layar televisi mendadak beralih menampilkan siaran langsung dari kamera pengawas ruang tunggu BPI. Di dalam layar kaca itu, sosok Yogi tampak berdiri dramatis, menunjuk-nunjuk ke arah speaker ruangan sambil berteriak histeris hingga suaranya memecah keheningan apartemen Samuel, "ITU BUKAN AKU!!"

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!