NovelToon NovelToon
PACAR PALSU, JODOH ASLI

PACAR PALSU, JODOH ASLI

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak / Romansa / Perjodohan
Popularitas:997
Nilai: 5
Nama Author: Althea Shalmaira

Pacar Palsu, Jodoh Asli

Almira Valencia Pradipta, pewaris Pradipta Corporation, selalu menolak gagasan perjodohan. Baginya, cinta harus dipilih sendiri. Namun hidupnya berubah ketika ia terus-menerus dipertemukan dengan Reynard Arsenio Mahardika, pewaris Mahardika Holdings yang arogan, menyebalkan, dan selalu berhasil memancing emosinya. Lelah menghadapi tekanan keluarga dan gosip yang beredar, mereka sepakat berpura-pura menjadi pasangan agar semua orang berhenti ikut campur. Awalnya hanya sandiwara tanpa perasaan, tetapi semakin lama bersama, batas antara pura-pura dan kenyataan mulai menghilang. Saat benih cinta tumbuh, sebuah rahasia besar terungkap: keluarga mereka ternyata telah menjodohkan mereka sejak lahir. Kini Almira dan Reynard harus memilih, melawan takdir yang telah diatur atau mengikuti suara hati yang tak lagi bisa berbohong.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Althea Shalmaira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

15. Bayangan di Balik Proyek

Pagi datang terlalu cepat.

Atau setidaknya begitulah yang dirasakan Almira Valencia Pradipta.

Ia membuka mata dengan perasaan seolah baru saja memejamkan mata selama lima menit, bukan hampir tiga jam. Jam digital di samping tempat tidur menunjukkan pukul 06.15.

Kurang dari dua jam lagi mereka harus kembali ke lokasi proyek.

Kurang dari dua jam lagi mereka harus berpura-pura bahwa semuanya baik-baik saja.

Padahal kenyataannya tidak.

Sama sekali tidak.

Data yang hilang semalam masih memenuhi pikirannya.

Lebih tepatnya, fakta bahwa pola kehilangan itu muncul di beberapa wilayah sekaligus.

Itu berarti satu hal.

Seseorang sedang bermain di dalam sistem.

Dan orang itu cukup pintar untuk tidak meninggalkan jejak yang jelas.

Almira mengusap wajahnya perlahan.

Ini bukan lagi sekadar proyek kerja sama.

Ini sudah berubah menjadi sesuatu yang jauh lebih serius.

Ketika keluar dari kamar, ia mendapati Reynard sudah berada di ruang tamu suite.

Pria itu duduk di depan laptop dengan secangkir kopi di sampingnya.

Matanya terlihat lelah.

Sangat lelah.

Namun tetap fokus.

"Kamu tidak tidur?"

tanya Almira.

Reynard menoleh.

"Hanya sebentar."

"Itu bukan jawaban."

"Itu jawaban yang jujur."

Almira menghela napas.

"Kamu akan sakit."

"Kamu juga."

"Kita tidak sedang membahas aku."

"Kita selalu sedang membahas kamu."

Almira mengambil bantal sofa dan melemparkannya.

Reynard menangkapnya tanpa melihat.

Kebiasaan baru yang mulai terbentuk.

Dan anehnya, hal itu membuat suasana sedikit lebih ringan.

Mereka sarapan lebih cepat dari biasanya.

Hari ini tidak ada waktu untuk santai.

Tidak ada waktu untuk menikmati pemandangan kota.

Tidak ada waktu untuk menghindari kenyataan.

Karena investigasi harus dimulai.

Namun mereka juga tidak bisa bertindak sembarangan.

Jika memang ada seseorang yang bermain di balik proyek ini, mereka tidak boleh membuat orang itu sadar bahwa mereka sudah mulai curiga.

Mereka harus terlihat normal.

Tetap profesional.

Tetap menjalankan agenda seperti biasa.

Sementara diam-diam mencari jawaban.

Pukul delapan pagi, mereka tiba di gudang distribusi pesisir yang semalam menjadi pusat perhatian.

Bangunan itu terlihat biasa saja.

Tidak ada yang mencurigakan.

Tidak ada aktivitas aneh.

Para pekerja datang seperti biasa.

Truk keluar masuk.

Barang dipindahkan.

Dokumen diperiksa.

Semuanya terlihat normal.

Terlalu normal.

Dan justru itu yang membuat Almira semakin waspada.

"Pak Reynard."

Seorang supervisor gudang menyambut mereka.

"Selamat pagi."

"Pagi."

"Bu Almira."

"Pagi."

Supervisor itu tampak santai.

Tidak gugup.

Tidak cemas.

Tidak menunjukkan tanda-tanda bahwa ia sedang menyembunyikan sesuatu.

Namun pengalaman mengajarkan Almira satu hal.

Orang yang bersalah tidak selalu terlihat bersalah.

Mereka mulai melakukan inspeksi lapangan.

Bukan inspeksi resmi.

Hanya kunjungan rutin yang memang sudah dijadwalkan.

Setidaknya itulah yang dipikirkan semua orang.

Namun sebenarnya mereka sedang mengamati.

Mencatat.

Membandingkan.

Mencari detail sekecil apa pun.

Dan semakin lama mereka mengamati, semakin banyak hal kecil yang mulai terasa janggal.

"Perhatikan itu."

Almira berbicara pelan ketika mereka berjalan melewati area penyimpanan.

Reynard mengikuti arah pandangannya.

Salah satu staf gudang baru saja memindahkan beberapa dokumen ke ruang administrasi.

"Apa?"

"Map merah."

Reynard memperhatikan.

"Lalu?"

"Tadi pagi ada di meja lain."

"Kamu ingat?"

"Aku selalu ingat."

Reynard tidak terkejut.

Almira memang memiliki ingatan yang mengerikan.

Dalam arti yang mengesankan.

Mereka terus mengamati.

Dan menjelang siang, sebuah pola mulai terlihat.

Beberapa dokumen tertentu selalu berpindah tangan melalui orang yang sama.

Seorang staf administrasi bernama Dimas.

Tidak ada yang salah dengan hal itu.

Namun dalam investigasi, kadang petunjuk pertama muncul dari sesuatu yang tampak biasa.

Ketika waktu makan siang tiba, seluruh tim berkumpul di kantin gudang.

Suasana santai.

Orang-orang bercanda.

Tertawa.

Membicarakan hal-hal ringan.

Sementara Almira dan Reynard duduk berseberangan sambil bertukar pandangan sesekali.

Tanpa perlu berbicara, mereka sudah tahu apa yang dipikirkan satu sama lain.

Dimas.

Mereka perlu mencari tahu lebih banyak tentang pria itu.

Kesempatan datang lebih cepat dari yang diperkirakan.

Sore harinya, salah satu sistem gudang mengalami gangguan kecil.

Tidak serius.

Namun cukup untuk membuat beberapa staf harus kembali memeriksa arsip manual.

Termasuk Dimas.

Ketika pria itu meninggalkan mejanya, Almira dan Reynard saling menatap.

"Ini kesempatan."

kata Almira.

"Kamu membaca pikiranku."

jawab Reynard.

"Itu mengerikan."

"Sedikit."

Beberapa menit kemudian mereka berada di ruang administrasi.

Bukan untuk menggeledah.

Mereka tidak bisa melakukan itu tanpa bukti.

Namun mereka bisa memeriksa dokumen yang memang berkaitan dengan proyek.

Dan itulah yang mereka lakukan.

Laci.

Arsip.

Laporan distribusi.

Data pengiriman.

Sampai akhirnya Reynard menemukan sesuatu.

"Almira."

Nada suaranya berubah.

Almira langsung mendekat.

"Apa?"

Reynard menyerahkan sebuah dokumen.

"Ini."

Untuk sesaat Almira tidak berkata apa-apa.

Matanya membaca halaman demi halaman.

Lalu ekspresinya berubah.

Karena dokumen itu menunjukkan revisi data.

Revisi yang tidak pernah masuk ke sistem utama.

Revisi yang mengubah jumlah barang pada beberapa pengiriman tertentu.

Dan yang paling penting...

Revisi itu dilakukan menggunakan akun otorisasi tingkat tinggi.

"Tidak mungkin."

gumam Almira.

Reynard mengangguk pelan.

Karena ia memikirkan hal yang sama.

Akun tersebut seharusnya hanya bisa digunakan oleh manajemen pusat.

Bukan staf lokal.

"Itu berarti..."

Almira berhenti.

Karena kalimat berikutnya terlalu serius untuk diucapkan sembarangan.

"Itu berarti masalahnya lebih besar."

lanjut Reynard.

Mereka saling menatap.

Dan untuk pertama kalinya sejak investigasi dimulai, keduanya menyadari bahwa mereka mungkin sedang berhadapan dengan sesuatu yang melibatkan lebih dari satu orang.

Jauh lebih besar daripada sekadar kesalahan gudang.

Namun sebelum mereka bisa membahas lebih lanjut, suara langkah kaki terdengar dari luar.

Cepat.

Refleks.

Almira langsung menutup dokumen.

Reynard mengembalikannya ke tempat semula.

Detik berikutnya pintu terbuka.

Dimas masuk.

Pria itu terlihat sedikit terkejut melihat mereka.

"Pak Reynard? Bu Almira?"

Reynard tersenyum tenang.

"Kami sedang mencari laporan distribusi minggu lalu."

"Oh."

Dimas tampak santai.

"Tadi ada di rak sebelah."

"Terima kasih."

"Tidak masalah."

Pria itu berlalu begitu saja.

Namun setelah pintu kembali tertutup, Almira menghembuskan napas panjang.

"Itu dekat."

"Sangat dekat."

"Menurutmu dia terlibat?"

Reynard berpikir sejenak.

"Aku tidak tahu."

Dan itulah jawaban yang paling jujur.

Karena saat ini mereka masih memiliki terlalu sedikit informasi.

Menjelang malam, agenda kunjungan akhirnya selesai.

Tim proyek kembali ke hotel.

Sebagian besar staf tampak puas dengan hasil hari itu.

Tidak ada yang menyadari bahwa dua pimpinan proyek mereka sedang memikirkan kemungkinan adanya manipulasi data berskala besar.

Dan untuk sementara, memang lebih baik begitu.

Setelah makan malam, Almira dan Reynard kembali mengadakan rapat kecil di suite.

Kali ini hanya mereka berdua.

Laptop terbuka.

Dokumen berserakan.

Catatan memenuhi meja.

Persis seperti malam sebelumnya.

Namun suasananya berbeda.

Karena sekarang mereka memiliki petunjuk nyata.

"Akun otorisasi tingkat tinggi."

kata Almira.

"Itu bagian yang paling mengganggu."

Reynard mengangguk.

"Kalau seseorang bisa mengakses akun itu, berarti dia punya koneksi ke pusat."

"Atau memiliki izin yang tidak seharusnya."

"Kemungkinan kedua lebih buruk."

Almira setuju.

Karena jika benar ada orang dalam yang terlibat, maka proyek mereka sedang menghadapi ancaman dari dalam.

Dan ancaman seperti itu selalu lebih berbahaya.

Malam semakin larut.

Namun kali ini mereka tidak terlalu tegang.

Bukan karena masalahnya kecil.

Melainkan karena mereka mulai menemukan arah.

Untuk pertama kalinya sejak data hilang ditemukan, mereka merasa sedang bergerak maju.

Meski perlahan.

Meski penuh risiko.

Pukul sebelas malam, mereka akhirnya memutuskan berhenti.

Besok mereka harus kembali ke Jakarta.

Dan investigasi harus dilanjutkan dari sana.

Namun sebelum masuk ke kamar masing-masing, Almira tiba-tiba berbicara.

"Terima kasih."

Reynard terlihat terkejut.

"Untuk apa?"

"Karena tidak panik."

"Itu pujian yang aneh."

"Aku serius."

Reynard tersenyum kecil.

"Lalu terima kasih juga."

"Untuk apa?"

"Karena kamu ada di sini."

Untuk sesaat dunia terasa hening.

Benar-benar hening.

Dan entah kenapa, kalimat sederhana itu membuat jantung Almira berdetak sedikit lebih cepat.

Di tempat lain, jauh dari Makassar, seseorang menerima pesan singkat.

Sebuah laporan.

Laporan bahwa Almira dan Reynard mulai menemukan petunjuk.

Orang itu membaca pesan tersebut perlahan.

Lalu tersenyum.

Bukan senyum panik.

Bukan senyum takut.

Melainkan senyum seseorang yang sudah memperhitungkan semuanya.

"Bermainlah lebih jauh."

gumamnya.

"Baru sekarang menjadi menarik."

Layar ponsel dimatikan.

Ruangan kembali gelap.

Dan tanpa disadari Almira maupun Reynard, mereka baru saja melangkah satu langkah lebih dekat menuju rahasia yang jauh lebih besar daripada yang mereka bayangkan.

Sebuah rahasia yang tidak hanya mengancam proyek mereka.

Tetapi juga akan menyeret keluarga mereka ke dalam pusaran masalah yang sama.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!