NovelToon NovelToon
Cinta Terakhir Untuk Anjani

Cinta Terakhir Untuk Anjani

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Romansa Fantasi / Diam-Diam Cinta
Popularitas:487
Nilai: 5
Nama Author: Naydiendee

Saat remaja, Aldenbashra Gavinda berubah menjadi pemberontak setelah kematian ibunya dan keputusan ayahnya menikah lagi dengan asisten rumah tangga mereka. Kemarahan itu membuatnya menjadi kasar, liar, dan sulit dikendalikan.

Di tengah kekacauan hidupnya, ada Anjani Lestari, gadis cerewet yang selalu mengawasinya atas permintaan ayah Alden. Alden menganggap Anjani menyebalkan dan sengaja menyakitinya dengan ucapan maupun sikap kasar agar gadis itu menjauh. Padahal diam-diam, Alden memendam rasa cinta yang besar pada Anjani, namun terlalu takut dan gengsi untuk mengakuinya.

Bertahun-tahun kemudian, setelah hidupnya mulai tertata, Alden justru dihadapkan pada kenyataan pahit tentang penyakit yang menggerogoti tubuhnya.
Di tengah rasa sakit yang semakin parah dan cinta yang terus tumbuh, Alden terjebak pada pilihan yang menyakitkan: tetap mendekati Anjani dan meninggalkan luka saat ia pergi nanti, atau menjauh demi melindungi wanita yang paling ia cintai.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Naydiendee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

23. Alasan Untuk Bertahan

Hari-hari berikutnya menjadi masa penantian yang melelahkan bagi Alden.

Kabar tentang Anjani belum juga datang.

Semakin lama menunggu, semakin sulit baginya menjaga pikirannya tetap tenang.

Dokter Handoko sudah berkali-kali mengingatkan bahwa stres hanya akan memperburuk kondisinya. Namun kenyataannya, itu jauh lebih mudah diucapkan daripada dilakukan.

Ada hari-hari ketika tubuhnya terasa cukup kuat untuk duduk di beranda atau berjalan sebentar di halaman rumah.

Namun ada pula hari-hari ketika rasa lelah datang begitu saja tanpa alasan yang jelas, memaksanya menghabiskan sebagian besar waktu di atas ranjang.

Bu Susi yang datang setiap pagi dan sore beberapa kali mengingatkan agar ia tidak terlalu banyak berpikir.

Sayangnya, hampir setiap kali memejamkan mata, yang muncul justru wajah Anjani.

Dan bersama wajah itu, datang pula ketakutan yang semakin sulit ia abaikan.

Bagaimana jika ia terlambat menemukannya?

Bagaimana jika waktunya habis lebih dulu?

Pikiran-pikiran itu terus menghantuinya, membuat hari-hari terasa berjalan jauh lebih lambat dari biasanya.

Pada siang yang tenang itu, Alden kembali duduk bersandar di ranjang sambil memandangi foto lama yang sudah mulai kusam di sudut-sudutnya.

Foto Anjani.

Belakangan ini, benda kecil itu menjadi satu-satunya hal yang mampu menenangkan pikirannya.

Tatapannya menelusuri wajah gadis yang selama sembilan tahun tidak pernah benar-benar hilang dari ingatannya.

Tanpa sadar, berbagai kenangan kembali bermunculan.

Tentang Anjani yang selalu serius saat mencatat pelajaran.

Tentang tawanya yang lepas hingga matanya menyipit.

Tentang kesabarannya menghadapi sikap buruk Alden yang saat itu terlalu keras kepala untuk memahami perasaannya sendiri.

Dulu ia selalu berpura-pura tidak peduli.

Berpura-pura tidak memperhatikan.

Seolah keberadaan Anjani tidak pernah berarti apa-apa.

Padahal kenyataannya justru sebaliknya.

Anjani adalah orang yang paling sering ia perhatikan.

Dan kini, ketika ia akhirnya menyadari semua itu, gadis tersebut justru menghilang tanpa jejak.

Alden mengembuskan napas panjang.

Dadanya terasa sesak.

Ia belum meminta maaf.

Belum menjelaskan semuanya.

Belum mengatakan bahwa sikap buruknya dulu lahir dari ketakutan dan kebodohannya sendiri.

"Dan sekarang..." gumamnya pelan.

"Saat aku akhirnya sadar dan ingin memperbaiki semuanya... kamu justru nggak ada di mana-mana."

Matanya kembali memanas.

Untuk sesaat ia hanya menunduk, menggenggam foto itu lebih erat.

Ketukan pelan di pintu kamar tiba-tiba memecah lamunannya.

Tiga kali.

Alden buru-buru menyeka sudut matanya dan mengatur napas.

"Mas Alden... kamu sudah bangun?" suara Ranti terdengar dari balik pintu. "Boleh Ibu masuk?"

"Masuk saja, Bu..."

Pintu terbuka perlahan.

Ranti masuk sambil membawa baskom berisi air hangat, handuk kecil, dan beberapa botol obat.

Di belakangnya, Pak Armanto ikut melangkah masuk.

"Kamu nggak apa-apa, Nak?" tanya Pak Armanto. "Kamu terlihat keringatan banyak sekali. Apa sakitnya kambuh lagi?"

Alden menggeleng pelan.

"Nggak apa, Pa. Cuma sedikit kram biasa saja. Mungkin karena terlalu banyak bergerak tadi. Tidak parah kok, sudah mereda sekarang."

Ranti jelas tidak sepenuhnya percaya.

Ia duduk di tepi ranjang dan menyentuh kening Alden sebelum mulai mengelap wajah dan lehernya dengan handuk hangat.

"Duduk yang tegak sedikit ya. Biar Ibu lap bersih, biar kamu terasa lebih segar dan enak badannya."

Alden hanya menurut.

Semakin lama ia merasakan ketulusan Ranti, semakin besar rasa bersalah yang tumbuh dalam dirinya.

"Makasih, Bu..." ucapnya pelan. "Maaf ya, merepotkan sekali."

Ranti langsung menghentikan gerakannya.

“Mas Alden, sudah berapa kali Ibu bilang? Jangan pernah ngomong begitu lagi, ya.”

Tangannya mengusap punggung tangan Alden.

“Ngurus kamu, jagain kamu, nemenin kamu... itu bukan beban buat Ibu."

Ia menggeleng perlahan.

“Justru itu kebahagiaan terbesar Ibu.”

Mata Alden kembali memanas.

“Kamu itu anak Ibu juga, Mas Alden. Jadi jangan pernah merasa merepotkan atau jadi penderitaan buat kami."

Ia menggenggam tangan Alden.

"Ibu sama Papa akan melakukan apa pun demi kamu.”

Pak Armanto ikut duduk di sisi ranjang.

“Benar kata Ibu kamu, Alden. Papa sama Ibu tidak peduli seberapa berat semua ini."

Tatapannya penuh kasih.

“Kami akan tetap ada di samping kamu.”

Alden menunduk. Dadanya kembali terasa sesak.

Lalu Pak Armanto berkata,

“Dan soal permintaan kamu kemarin...”

Alden langsung mengangkat kepala.

“Pa... Papa udah dapat kabar apa?”

Pak Armanto mengangguk pelan.

“Papa sudah hubungi beberapa teman lama. Termasuk beberapa kenalan yang mungkin bisa bantu cari jejak keluarga Bu Rahayu.”

Alden langsung menatapnya penuh harap.

“Papa juga sempat hubungi teman Papa yang bekerja di kantor catatan sipil. Papa minta tolong dibantu cari data perpindahan kependudukan mereka.”

“Terus... hasilnya gimana, Pa?”

“Belum ada yang benar-benar pasti, Nak.”

Harapan di mata Alden sedikit meredup.

“Tapi...” lanjut Pak Armanto, “setidaknya Papa dapat petunjuk kecil.”

Alden kembali menegakkan tubuhnya.

“Dulu waktu mereka pindah, kabarnya mereka menuju ke Kalimantan Selatan.”

Napas Alden langsung tertahan.

“Tepatnya ke Banjarbaru.”

Ruangan mendadak hening.

Banjarbaru.

Akhirnya ada satu petunjuk nyata.

“Katanya ada kerabat dekat Bu Rahayu yang tinggal di sana. Kemungkinan besar dulu mereka sempat tinggal atau menumpang di rumah kerabat itu setelah pindah.”

Mata Alden perlahan berbinar.

“Banjarbaru... Kalimantan Selatan...”

Ia mengulang nama itu seperti seseorang yang baru menemukan secercah cahaya setelah bertahun-tahun berjalan dalam gelap.

“Jadi mereka ada di sana?”

“Belum tentu mereka masih ada di sana sampai sekarang, Mas,” ujar Ranti lembut.

“Itu kabar dari sembilan tahun yang lalu. Bisa saja setelah itu mereka pindah lagi ke tempat lain. Atau mungkin kembali ke Pulau Jawa.”

Alden terdiam.

“Tapi setidaknya sekarang kita punya petunjuk pertama.”

Ranti menggenggam tangannya.

“Setelah bertahun-tahun nggak ada kabar sama sekali, akhirnya ada arah yang bisa dicari.”

“Tentu saja itu awal yang bagus, Bu!”

Baru kali ini wajah Alden terlihat hidup kembali.

“Setidaknya sekarang Alden tahu harus cari ke mana. Alden akhirnya punya tujuan.”

“Banjarbaru...”

Lalu ia berkata penuh keyakinan, “Alden akan ke sana. Alden akan cari dia di sana.”

“Tentu saja kita akan ke sana, Nak,” potong Pak Armanto tegas.

“Kalau memang petunjuknya ada di sana, berarti di situlah kita harus mencari mereka.”

Ia menepuk pundak Alden.

“Papa akan urus semuanya. Papa juga akan hubungi beberapa kenalan Papa di sana buat bantu cari informasi lebih rinci.”

Pak Armanto berhenti sejenak.

“Kita tidak akan berhenti sampai menemukan jejak yang jelas.”

Mata Alden kembali memanas.

Ia tak menyangka kedua orang tuanya akan mendukung keinginannya sejauh ini.

“Terima kasih... terima kasih banyak, Papa, Bu...”

Suaranya bergetar.

“Alden janji... Alden akan berjuang lebih keras lagi.”

Ia menarik napas panjang.

“Alden bakal makan lebih teratur, minum obat tepat waktu, dan istirahat yang cukup.”

Tatapannya berpindah kepada kedua orang tuanya.

“Alden akan jaga kesehatan sebaik mungkin supaya kuat buat perjalanan ini.”

“Alden janji.”

“Itu baru anak Papa,” ujar Pak Armanto sambil mengusap kepalanya.

“Ingat satu hal. Tujuan itu yang akan bikin kamu bertahan.”

“Jadi jangan pernah lepaskan tujuan itu.”

Ranti kemudian menyerahkan obat-obatan yang sudah disiapkan.

“Nah, karena tadi sudah janji, sekarang minum obatnya dulu, ya.”

Ia tersenyum hangat.

“Nanti Ibu bawakan makanan lagi. Yang penting jangan sampai telat makan dan telat obat.”

Sorot matanya melembut.

“Demi Papa dan Ibu... demi diri kamu sendiri... dan demi orang yang sedang kamu cari itu.”

Alden mengangguk.

Ia menelan obat-obatan itu tanpa membantah, tanpa kesal, tanpa merasa dipaksa. Dan anehnya, malam itu rasa pahit obat yang biasanya begitu menyiksa terasa jauh berkurang.

Seolah obat-obatan itu bukan lagi pengingat bahwa dirinya sakit, melainkan bekal untuk bertahan, untuk terus berjalan dan untuk menemukan Anjani.

Saat Ranti dan Pak Armanto akhirnya meninggalkan kamar, suasana kembali hening.

Alden duduk diam beberapa saat sambil menatap pintu yang baru saja tertutup.

Lalu perlahan tangannya bergerak ke bawah bantal.

Dari sana ia mengeluarkan sebuah foto yang sudah mulai kusam di bagian sudutnya karena terlalu sering disentuh.

Foto Anjani.

Foto yang selama bertahun-tahun ia simpan cukup dalam, satu-satunya benda yang tersisa tentang Anjani, yang sengaja ia tinggal bertahun-tahun untuk melupakan semua masa lalunya, kini hadir tidak pernah benar-benar jauh darinya.

Tatapannya langsung melembut.

Untuk sesaat, semua rasa sakit yang masih tersisa di tubuhnya seolah menjauh.

Jemarinya menyentuh permukaan foto itu dengan hati-hati, seakan takut merusak satu-satunya benda yang selalu berhasil memberinya kekuatan.

"Aku nemuin petunjukmu, Jan..." bisiknya pelan.

Sudut bibirnya terangkat tipis. Senyum yang jarang sekali muncul akhir-akhir ini.

Perlahan ia mendekap foto itu ke dadanya.

Seolah dengan begitu ia bisa merasakan kehadiran Anjani didekatnya dan menjadi sumber kekuatan baginya untuk bertahan.

Alden membiarkan dirinya berhenti memikirkan semua kesalahan yang pernah ia lakukan.

Berhenti mengingat pertengkaran mereka.

Berhenti mengingat air mata Anjani di hari terakhir itu.

Dan membiarkan dirinya membayangkan sesuatu yang selama ini terasa mustahil.

Bagaimana jika Anjani sudah memaafkannya?

Bagaimana jika suatu hari nanti mereka benar-benar bertemu kembali?

Bagaimana jika semua luka itu akhirnya bisa diperbaiki?

Di dalam bayangannya, Anjani tersenyum seperti dulu.

Tidak marah, tidak kecewa, tidak pergi menjauh.

Hanya tersenyum hangat sambil berkata bahwa semuanya baik-baik saja.

Bahwa ia sudah memaafkannya.

Bahwa Alden tidak perlu lagi terus menghukum dirinya sendiri.

Air mata kembali menggenang di pelupuk matanya.

Namun kali ini bukan karena penyesalan, melainkan karena harapan.

Harapan yang selama bertahun-tahun nyaris padam.

Perlahan ia menundukkan kepala hingga dahinya menyentuh foto itu.

"Aku cuma ingin ketemu kamu sekali lagi, Jani..." bisiknya lIrih.

Suaranya nyaris tak terdengar.

"Biar aku bisa minta maaf dengan benar."

Dadanya terasa hangat sekaligus sesak.

"Biar aku bisa jelasin semuanya."

Kelopak matanya menutup perlahan.

"Dan setelah itu..."

Kalimatnya menggantung. Karena bahkan Alden sendiri tidak tahu apakah ia masih punya cukup waktu.

Yang ia tahu hanya satu.

Ia ingin melihat Anjani baik-baik saja. Ia ingin tahu bahwa gadis itu bahagia. Itu saja sudah lebih dari cukup.

Sebuah senyum tipis muncul di wajah pucatnya, bayangan tentang Anjani tidak lagi datang sebagai hukuman, melainkan sebagai alasan untuk terus bertahan.

Bersambung...

1
Wawan
wow...
naydiendee
makasih 😍
bantu follow dan baca ya🙏
Wawan
Menarik 💪✍️
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!