NovelToon NovelToon
Dua Garis Waktu

Dua Garis Waktu

Status: sedang berlangsung
Genre:Time Travel
Popularitas:1.1k
Nilai: 5
Nama Author: Putri Shalima

Sebuah kecelakaan tragis menimpa Lin Xinyu, Tuan Putri Kerajaan Beiyan. Pamannya yang haus kekuasaan ingin melengserkannya dari takhta dan mengambil alih Kerajaan Beiyan. Terdesak oleh bahaya yang mengancam nyawanya, Lin Xinyu terpaksa melarikan diri. Dalam keputusasaan, ia akhirnya melompat dari tebing tinggi yang curam.

Namun, ia tidak mati. Jiwanya justru melintasi waktu, terlempar jauh ke masa depan, dan memasuki tubuh Yu Anqi, seorang gadis muda di dunia modern. Di sana, ia bertemu rekan-rekan baru dan berhasil memecahkan banyak kasus yang terjadi di zaman itu.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Putri Shalima, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 15: Penyelidikan Kasus Penculikan

Mereka semua terus bekerja mengumpulkan informasi, memeriksa laporan, dan menyebarkan berita tentang anak yang hilang itu hingga larut malam. Hingga jarum jam menunjukkan pukul sepuluh malam, ruangan kantor masih terisi suara diskusi dan ketikan komputer.

Eric melihat rekan-rekannya yang mulai tampak lelah, lalu berdiri dan berkata, “Sudah malam sekali. Sebaiknya kalian semua pulang dan beristirahat.”

Namun, beberapa dari mereka menggeleng. “Tidak apa-apa, Pak. Kasus ini penting, kami ingin menyelesaikannya secepat mungkin.”

Eric tersenyum tipis sambil menggeleng. “Saya mengerti semangat kalian, tapi tenaga juga perlu dijaga. Besok pagi kita bisa lanjutkan lagi. Sekarang bereskan barang-barang kalian dan pulanglah.”

Setelah semua rekan mulai bersiap, Eric memanggil Anqi yang masih membereskan berkas. “Anqi,” panggilnya pelan. “Aku antar kau pulang.”

Anqi tertegun sejenak, lalu menjawab sambil tetap menunduk, “Tidak perlu, terima kasih. Aku bisa pulang sendiri.” Ia segera mengambil tasnya dan berjalan menuju pintu.

Beberapa rekan kerja yang melihatnya saling bertukar pandang, merasa ada yang berbeda dan agak canggung dengan sikap Anqi malam ini. Salah satu dari mereka bertanya dengan prihatin, “Anqi, kau yakin tidak apa-apa pulang sendiri?.”

Anqi berhenti sejenak, lalu menoleh sambil memaksakan senyum tipis. “Aku baik-baik saja. Hanya sedikit mengkhawatirkan temanku di rumah, mungkin dia sudah menungguku. Selamat malam semuanya,” ucapnya singkat sebelum melangkah keluar dan menutup pintu.

 Sesampainya di rumah, An Na sudah menunggu di ruang makan. Begitu melihat Anqi masuk, ia segera menyambutnya dengan senyum.

“Kau akhirnya pulang juga,” ucap An Na sambil menata piring di meja. “Ayo cepat cuci tangan, makanan sudah siap. Ayo kita makan bersama.”

Anqi mengangguk dan segera berjalan ke wastafel untuk membersihkan tangannya. Sambil menyiapkan lauk dan nasi, An Na mulai bercerita dengan nada gembira.

“Oh, ya, tadi siang aku dapat kabar baik. Aku diterima bekerja di supermarket dekat sini,” katanya. “Memang gajinya tidak terlalu besar, tapi setidaknya cukup untuk memenuhi kebutuhan kita sehari-hari.”

Anqi berhenti sejenak, lalu menoleh dengan wajah berseri. “Benarkah? Itu kabar yang bagus sekali. Tidak apa-apa soal gaji, yang penting pekerjaan itu tidak menyulitkanmu.” Ia kemudian melangkah mendekat dan menambahkan dengan yakin, “Kau juga tidak perlu khawatir soal biaya hidup kita. Aku juga sudah bekerja, jadi aku pasti bisa membantu menambah penghasilan kita.”

An Na tersenyum mendengar semangat Anqi, lalu menarik kursi dan menepuknya pelan. “Baiklah, kalau begitu jangan bicara terus. Ayo duduk dan makan selagi masih hangat.”

Mereka berdua pun duduk berdampingan dan mulai menyantap makanan sederhana itu dengan perasaan yang lebih tenang.

Keesokan harinya, Anqi dan An Na terbangun dengan kaget, ternyata mereka kesiangan.

“Anqi, bangun! Sudah jam delapan!” teriak An Na sambil menggoyangkan tubuh Anqi yang masih tidur. “Kita terlambat!” ucap An Na.

Mereka berdua segera bergegas, mandi dan bersiap secepat mungkin tanpa banyak bicara.

# Lembaga LPPA

 Sesampainya di kantor, Anqi tiba di ruang rapat dengan napas terengah-engah dan keringat di dahi. Salah satu rekannya menoleh dan tersenyum melihat keadaannya.

“Kau kenapa? Apa kau dikejar penjahat?,” canda rekannya itu.

Anqi menggeleng sambil mengatur napas. “Tidak apa-apa, hanya buru-buru saja.” Ia segera duduk dan mengambil sebotol air mineral di meja untuk menenangkan diri.

Tak lama kemudian, Eric masuk ke ruangan. Semua orang terdiam dan siap mendengar.

“Baiklah, kita lanjutkan penyelidikan kasus bayi yang hilang kemarin,” buka Eric. “Hari ini kita akan memeriksa rekaman CCTV di dalam supermarket dan juga di semua jalan keluarnya. Itu bisa memberi petunjuk ke mana mereka membawa anak itu.”

Ia menoleh ke arah Anqi. “Anqi, ayo kita pergi ke sana sekarang.”

“Baik,” jawab Anqi singkat sambil mengangguk, lalu segera berdiri mengikuti Eric.

Di dalam mobil, suasana terasa hening. Anqi menatap ke luar jendela, berusaha menghindari pandangan Eric. Pria itu menyadari sikapnya yang dingin dan menjaga jarak, lalu akhirnya memberanikan diri bertanya.

“Anqi,” panggilnya pelan sambil tetap menyetir. “Apakah kau marah padaku?”

Anqi terkejut sejenak, lalu menoleh sekilas sebelum kembali menatap jalanan. “Hah? Tidak, untuk apa aku marah?” jawabnya dengan nada datar. “Lagipula setiap orang berhak menentukan pilihannya sendiri, bukan? Aku benar-benar tidak marah.”

Eric mengangguk pelan, tidak memaksa lebih jauh. “Baiklah, kalau begitu. Terima kasih sudah jujur.” Suasana kembali hening sepanjang sisa perjalanan.

Sesampainya di ruang pengawasan CCTV supermarket, Eric dan Anqi duduk di depan layar besar. Mereka memutar rekaman dari waktu kejadian, menelusuri setiap sudut dengan cermat. Tak lama kemudian, mereka melihat dua orang wanita yang dicurigai membawa bayi itu menuju pintu keluar.

“Itu dia!” seru Anqi sambil menunjuk layar. “Lihat, mereka berdua yang membawa bayi itu keluar.”

Eric mengangguk setuju. “Benar. Kita perbesar gambarnya, lihat apakah ada ciri-ciri yang jelas.”

Mereka memperbesar tampilan, dan ternyata salah satu wanita itu tidak mengenakan penutup wajah. Wajahnya terlihat jelas dalam rekaman.

“Bagus sekali,” ucap Eric lega. “Karena wajahnya terekam dengan jelas, polisi bisa dengan mudah mencocokkannya dengan data kependudukan dan mengidentifikasi siapa dia sebenarnya.”

Setelah mendapatkan informasi itu, mereka melanjutkan pemeriksaan. Eric berkata, “Sekarang kita cek rekaman di semua pintu keluar dan area parkir, untuk melihat ke arah mana mereka pergi dan kendaraan apa yang digunakan.”

Mereka menelusuri satu per satu rekaman dari berbagai sudut, dari pintu utama hingga jalan keluar samping, mencatat setiap detail yang terlihat.

“Lihat di sini,” tunjuk Anqi pada layar lain. “Mereka berjalan menuju area parkir sebelah timur.”

“Iya, catat waktu dan plat nomor kendaraan yang terlihat di sekitar sana,” perintah Eric. “Semua ini akan menjadi petunjuk penting untuk melacak jejak mereka.”

Mereka terus meneliti setiap sudut rekaman dengan teliti, memastikan tidak ada detail yang terlewat agar pencarian bayi itu bisa segera dilanjutkan.

Setelah semua rekaman ditinjau dan informasi yang dibutuhkan berhasil didapatkan, Eric dan Anqi berdiri untuk berpamitan.

“Terima kasih banyak atas bantuannya dan kerja samanya ini,” ucap Eric dengan sopan kepada petugas pengawas dan manajer supermarket. “Informasi ini sangat berharga untuk melacak keberadaan bayi itu.”

Manajer itu mengangguk, raut wajahnya tampak prihatin. “Sama-sama. Sebenarnya kami juga merasa bersalah karena kejadian ini bisa terjadi di tempat kami. Kami sudah berusaha menjaga keamanan, tapi tetap saja ada celah yang dimanfaatkan orang jahat.” Ia menghela napas pelan dan menambahkan, “Saya sangat berharap bayi itu bisa segera ditemukan dalam keadaan selamat.”

“Kami akan berusaha semaksimal mungkin. Sekali lagi terima kasih atas waktunya.” Jawab Eric.

Setelah berpamitan, keduanya berjalan menuju tempat parkir dan masuk ke dalam mobil.

Di tempat Lain

 Terlihat sebuah taksi sedang melaju di jalan raya, di dalamnya ada dua orang wanita dengan sikap yang agak mencurigakan. Salah satunya sedang menggendong bayi yang terus menangis sepanjang perjalanan.

“Sudah, sayang... tenang ya. Sebentar lagi kita sampai,” ucap wanita itu dengan nada lembut yang dibuat-buat, berusaha menenangkan bayi itu.

Namun tangisan bayi itu tak kunjung reda. Sopir taksi yang mendengarnya mulai merasa ada yang janggal. Ia menoleh sekilas ke kursi belakang dan berkata, "Bu, sepertinya bayi itu terus menangis karena merasa tidak nyaman. Bisa jadi ia lapar, atau mungkin popoknya sudah basah."

Wanita itu tertegun sejenak, lalu diam-diam membuka selimut yang menutupi bayi itu. Benar saja, popoknya penuh dan membuatnya tidak nyaman. “Baiklah, Pak. Tolong berhenti sebentar di SPBU depan ya. Kami mau mengganti popoknya dulu,” pinta wanita itu.

Sesampainya di SPBU, keduanya turun dan masuk ke toilet untuk membersihkan dan mengganti pakaian bayi. Saat mereka masih di dalam, sopir taksi teringat pesan berita yang baru saja ia lihat di ponselnya, tentang bayi yang hilang. Ia merasa ciri-ciri bayi di belakang tadi sangat mirip dengan yang diinformasikan. Tanpa membuang waktu, ia segera menelepon kantor polisi terdekat.

“Halo, Pak Polisi? Saya sopir taksi. Ada dua wanita yang membawa bayi rewel di sini, sikap mereka mencurigakan. Saya curiga ini berkaitan dengan kasus bayi hilang yang sedang dicari. Mereka sedang di toilet SPBU sekarang, tolong segera kirim petugas ke sini!” lapornya dengan nada tergesa namun jelas.

Belum lama ia menutup telepon, kedua wanita itu sudah keluar dari toilet dan berdiri tepat di belakangnya. Sopir itu sedikit terkejut dan sempat panik, takut percakapannya tadi terdengar. Namun melihat wajah mereka yang biasa saja ia lega, ternyata mereka tidak mendengar apa-apa.

“Pak, kita sudah siap. Bisa kita lanjutkan perjalanan?” tanya salah satu wanita itu.

“Baik, silakan masuk dulu,” jawab sopir sambil berpura-pura tenang. Begitu mereka masuk ke dalam mobil, ia langsung memutar kunci kontak dan berpura-pura ada masalah. “Eh, tunggu sebentar sepertinya bensinnya hampir habis. Saya isi dulu sebentar ya.”

Ia sengaja berlama-lama dan bahkan mengunci pintu dari dalam agar mereka tidak bisa turun sembarangan.

“Kenapa lama sekali, Pak? Kita harus segera sampai,” protes salah satu wanita itu mulai tidak sabar.

“Saya juga tidak tahu, Bu. Sepertinya selang pompa bensinnya agak bermasalah, jadi agak lambat,” jawabnya berbohong.

Tiba-tiba kedua wanita itu menyadari pintu terkunci. “Hei! Kenapa pintunya dikunci? Buka ini, kami mau turun!” teriak mereka sambil menarik-narik pegangan pintu dengan marah.

Belum sempat mereka berusaha lebih keras, terdengar suara sirine dari kejauhan. Beberapa mobil patroli tiba dan berhenti tepat di depan taksi itu. Para petugas polisi segera turun dan mengepung kendaraan tersebut.

1
Putri Shalima
Mohon dukungannya ya teman-teman 😊
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!