NovelToon NovelToon
Jerat Nurani

Jerat Nurani

Status: sedang berlangsung
Genre:Transmigrasi
Popularitas:374
Nilai: 5
Nama Author: Si tupai yang merokok

Hino dijebak obat oleh Irmi, kenyataannya Hino sudah punya istri bernama Erni. Bagaimana nasibnya, apakah cerai atau mati?.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Si tupai yang merokok, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 2. Barter Nyawa

Hino menatap pintu kamarnya yang tertutup rapat. Di balik kayu tipis itu, Erni kini terlelap, membawa serta mimpi tentang masa depan bayi mereka. Sementara ia? Ia melangkah menjauh, menuruti detak jarum jam yang seolah menertawakan kehancurannya. Sepuluh malam adalah janji yang tak bisa ia ingkari.

Setibanya di lantai dua, ia tidak mengetuk. Irmi sudah menunggunya dengan pintu yang terbuka separuh, seolah tahu persis kapan mangsanya akan datang.

"Kau pikir aku peduli dengan air matamu, Hino? Dunia ini tidak punya tempat untuk pria yang cuma bisa menangis."

Irmi berdiri di dekat jendela, membelakangi Hino. Suara gelang emas di pergelangan tangannya beradu, menciptakan denting yang tajam. Hino berdiri mematung di ambang pintu, aroma cendana yang pekat langsung memenuhi indra penciumannya.

"Aku sudah jujur pada Erni tentang posisi kita. Dan dia... dia tidak akan membiarkanmu melakukan sesukamu," ucap Hino, suaranya parau. Ia tidak lagi memiliki energi untuk berpura-pura.

Irmi berbalik, seringai tipis menghiasi wajahnya. Ia tidak terlihat marah, justru tampak sangat terhibur. "Jujur? Kau pikir kejujuran itu mata uang yang berharga di sini? Erni adalah orang yang paling kau sakiti sekarang. Kau memberinya harapan sebagai istri satu-satunya, sementara kau tahu ada nyawa lain yang tumbuh dari hasil 'jamu' itu di rahimku."

"Apa yang sebenarnya kau mau, Irmi? Uang? Kekuasaan? Jangan hancurkan masa depan Erni hanya karena kau kesepian."

Irmi melangkah mendekat, memangkas jarak. Ia menyentuh dada Hino, lalu perlahan turun ke perutnya sendiri. "Aku tidak ingin menghancurkannya. Aku ingin kita hidup dalam tatanan yang baru. Mulai malam ini, kau bukan lagi sekadar penghuni kosan. Kau adalah pelindung bagi dua bayi yang akan lahir dari rahim yang berbeda. Dan sebagai gantinya, aku akan memastikan Erni hidup dengan nyaman, tanpa harus mencuci piring tetangga lagi."

"Itu bukan tawaran, itu penjara," desak Hino, suaranya kini lebih rendah namun bergetar.

"Ini realita," sahut Irmi, suaranya berubah tajam, sedingin es. "Ingat, Hino. Erni tidak tahu bahwa kau meminum jamu itu bukan karena kau tidak sadar, tapi karena kau sebenarnya menginginkan kehangatan lain di luar kamar sempit kalian. Kalau kau membantah, aku akan pastikan Erni tahu bahwa ini bukan kecelakaan, melainkan pengkhianatan yang terencana."

Hino terdiam, lidahnya kelu. Setiap kata Irmi adalah jebakan. Ia teringat Erni yang tadi memeluknya dengan begitu tulus. Jika Erni tahu bahwa Hino sempat menikmati godaan Irmi, dunianya akan hancur lebur tanpa sisa.

"Apa kau akan memberitahu Erni soal malam itu?" bisik Irmi, menantang.

Hino menatap mata Irmi, mencoba mencari secercah belas kasihan, namun yang ia temukan hanyalah kekosongan. "Kau iblis, Irmi."

"Mungkin," jawab Irmi santai, kembali duduk di kursi beludrunya. "Tapi ingat, Iblis inilah yang memegang kunci untuk rumah tangga kecilmu. Jadi, apa keputusanmu? Mau tetap menjadi suami yang bangga dengan harga dirinya, atau menjadi pria yang rela melakukan apa saja demi melihat istrinya tetap bisa makan besok pagi?"

Hino berbalik menuju pintu, tangannya gemetar saat memegang gagang pintu. Ia menatap pintu kamarnya sendiri di ujung lorong, di mana Erni mungkin sedang memimpikan masa depan untuk anak mereka. Ia menyadari satu hal: ia baru saja menjual kebebasannya sendiri.

"Jangan pernah menyentuh Erni," ucap Hino tanpa menoleh.

"Aku tidak akan menyentuhnya," sahut Irmi di balik pintu. "Selama kau tahu di mana tempatmu setiap malam setelah jam sepuluh."

Hino menutup pintu kamar Irmi dengan kasar. Di lorong yang sunyi itu, ia tersadar bahwa ia tak punya jalan keluar. Ia berjalan menuju kamarnya, namun langkahnya terhenti saat melihat sosok berdiri di depan kamarnya. Bu Linda, dosen yang baru saja pindah ke kosan ini. Wajahnya yang tajam menatap Hino seolah dia tahu persis apa yang baru saja terjadi di kamar lantai dua.

"Ada urusan apa, Bu?" tanya Hino, berusaha menjaga suaranya stabil.

Bu Linda tersenyum tipis—sebuah senyuman yang jauh lebih mengancam daripada ancaman Irmi. "Aku hanya sedang meneliti perilaku sosial di tempat ini, Hino. Dan sepertinya, aku baru saja menemukan subjek penelitian yang sangat menarik."

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!