NovelToon NovelToon
Gluttony Sovereign

Gluttony Sovereign

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Reinkarnasi / Mengubah Takdir
Popularitas:675
Nilai: 5
Nama Author: Xian Nying

Dunia baru, aturan baru: yang kuat makan, yang lemah dimakan.

Yudha terbangun di dunia asing dengan membawa Apocalypse Hunger System—kekuatan yang bisa melahap apa saja untuk menjadi lebih kuat, tapi dengan harga: ia harus selalu lapar, atau dunia ini yang akan menanggung akibatnya.

Dingin, pragmatis, dan tidak percaya pada siapa pun, ia hanya punya satu tujuan: bertahan hidup, menjadi yang terkuat, dan tidak akan pernah lagi merasakan kelaparan atau diinjak-injak seperti masa lalunya.

Segalanya berubah saat ia bertemu Carmelia—anak kecil polos yang ia anggap hanya sebagai petunjuk jalan dan alat bantu. Di balik senyum dan sikap lembutnya, tersembunyi sesuatu yang jauh lebih tua, jauh lebih gelap, dan jauh lebih berbahaya daripada sistem yang ada di dalam tubuh Yudha sendiri.

Dari pemangsa, ia perlahan sadar: ia mungkin bukan yang berburu... tapi justru yang sedang diburu.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Xian Nying, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 15 : Memancing di Air Keruh

Gw gak sebodoh itu buat langsung balik ke permukaan setelah ngebantai puluhan Ksatria Suci dan seekor monster tingkat raja. Trik pura-pura jadi korban yang trauma atau ngumpet ketakutan itu udah terlalu murahan, udah pernah gw pake pas di istana dulu. Kalau gw pake lagi, anjing-anjing penjaga kota yang jeli pasti bakal curiga kenapa gw selalu ada di tiap tempat kejadian perkara.

Sebelum melangkah naik dari lorong busuk ini, gw mastiin semua jejak bener-bener bersih tanpa sisa, termasuk perkara bau badan.

Sisa-sisa zirah emas milik para ksatria yang udah hancur gw kumpulin jadi satu, lalu gw siram pake sisa-sisa cairan asam korosif dari kantung empedu Plague Rat King yang baru gw belah. Cesss! Besi-besi mengkilap itu langsung meleleh, menyusut jadi rongsokan hitam gak berbentuk yang menyatu sama lumpur parit. Artefak komunikasi sihir mereka? Semuanya udah gw hancurin pakai injakan tumit zirah naga hitam gw sampai jadi serpihan debu.

Begitu kita bertiga keluar dari lubang saluran pembuangan lewat jalur belakang Sektor Selatan, penampilan kita rapi. Gak ada bau darah, gak ada sisa racun miasma yang tertinggal. Proses Gluttony semalam otomatis mengisap habis sisa racun korosif yang nempel di zirah gw untuk diubah jadi energi murni, ditambah manipulasi frekuensi getaran ultrasonik dari Lyra yang sukses ngerontokin sisa darah kering dan partikel bau busuk sampai bersih tanpa sisa. Sedikit sisa bedak penetral hawa yang dibeli Carmelia kemarin melengkapi alibi fisik kita. Pihak berwenang gak bakal punya bukti sekecil apa pun.

Matahari baru aja mau terbit pas kita sampai di kamar penginapan kumuh yang gw sewa lewat nama samaran. Begitu pintu dikunci, gw langsung ambruk di atas kasur keras, sementara Lyra langsung duduk bersandar di pojokan sambil meluk biolanya, napasnya masih agak berat tapi kondisinya jauh lebih mendingan setelah minum ramuan tadi.

Gw memejamkan mata, fokus ke layar semi-transparan yang berkedip di balik kelopak mata gw.

Sistem, buka status baru gw setelah proses Gluttony semalam.

[Menampilkan Status Pengguna (Yudha):]

[Kekuatan Fisik: 185 -> 225]

[Kelincahan: 140 -> 172]

[Kapasitas Mana: 90 -> 110]

[Level Pengguna: Melonjak drastis (Tingkat Tinggi Menengah)]

Gw mendengus puas. Aliran energi murni dari dua puluh empat ksatria ditambah inti energi sang raja tikus bener-bener bikin otot gw padat luar biasa. Rasa lelah gw langsung hilang digantikan hawa dingin kekuatan yang mengalir di sepanjang tulang belakang gw. Tapi ada satu hal yang bikin gw ganjil.

Sistem, jelasin ke gw soal kejadian semalam. Kenapa lu mendadak eror pas Carmelia berubah?

[Akses Ditolak. Otoritas Pengguna Terlalu Rendah Untuk Membuka Data Inti Kiamat.]

[Peringatan: Jangan mencoba memicu kesadaran Inti secara paksa jika jiwa Pengguna belum siap menampung tekanan.]

Bangsat. Sistem ini mendadak jadi bisu dan ketakutan tiap kali gw sebut nama Carmelia. Kalimat penolakannya aneh... jiwa pengguna belum siap menampung tekanan? Memangnya seberapa besar beban yang ada di dalam diri bocah itu?

Gw membuka mata, langsung ngelirik ke arah pojok kamar. Di sana, Carmelia lagi duduk di lantai sambil megang sepotong roti gandum kering dengan lahapnya. Pipinya gembul kotor kena remahan roti, matanya bulat polos tanpa dosa — bener-bener balik jadi bocah kecil lemah yang gw temuin di desa waktu itu. Dia sama sekali gak inget kalau beberapa jam yang lalu, dia baru aja membekukan waktu dan bikin monster raksasa segede rumah nunduk gemeteran kayak cacing.

Gw merinding tipis tiap kali natap dia sekarang. Gw sadar, gw gak lagi megang pisau berharga yang bisa gw setel sesuka hati. Gw lagi melihara sumbu bom waktu yang kalau meledak, bisa nelan jiwa gw sendiri sampai gak bersisa.

Tapi yang bikin gw gak habis pikir, kenapa sistem lapar di kepala gw — yang asalnya dari konsep kiamat — justru tunduk total seolah-olah dia cuma pelayan yang baru aja ngeliat majikan aslinya pulang? Siapa sebenernya anak ini? Kenapa sistem kiamat gw malah berafiliasi dengan jiwanya? Gw harus jadi jauh lebih kuat secepatnya sebelum teka-teki gila ini balik menghancurkan gw.

TOK! TOK! TOK!

Ketukan pintu yang konstan dan berat mendadak memecah kesunyian kamar. Carmelia langsung berhenti ngunyah, badannya menegang ketakutan sambil ngumpet di balik punggung Lyra.

Gw gak megang senjata. Gw cuma berdiri tenang, lalu jalan ngebuka pintu kamar dengan santai. Gw tahu ini bukan militer kota. Kalau militer yang datang, mereka gak bakal ngetuk pintu dengan sopan, melainkan langsung mendobraknya bareng puluhan penyihir. Lagi pula, gw gak mendaftarkan misi pembersihan semalam lewat jalur resmi Guild, jadi posisi nama gw bersih di atas kertas.

Begitu pintu terbuka, sesosok pria jangkung dengan jubah hitam pekat dan topeng perak setengah wajah berdiri di depan gw. Hawa keberadaannya tipis banget, khas seorang pembunuh bayaran atau intelijen kelas tinggi.

"Yudha," suara pria itu berat, datar, dan langsung mengenali muka gw. "Atau gw harus manggil lu dengan nama samaran yang lu pake di gerbang kota?"

Gw menyipitkan mata, bersedekap di ambang pintu. "Lu siapa kocak? Kalau mau nyari masalah, mending lu siapin peti mati dulu di bawah."

Pria bertopeng itu terkekeh pelan, sebuah kekehan dingin yang gak ada rasa takutnya. Dia ngangkat tangan kanannya, nunjukin sebuah cincin perak dengan lambang ular melingkari belati hitam. Faksi Bangsawan Hitam — kelompok elit bayangan di Aethelgard yang jadi saingan politik terberat bagi faksi Ksatria Suci dan Gereja yang korup. Gw dapet informasi soal faksi ini dari sisa memori si mata-mata yang gw peras semalam.

"Gw datang bukan buat bertarung," kata pria itu sambil menurunkan tangan. "Kota lagi gempar luar biasa pagi ini. Puluhan Ksatria Suci beserta Komandan mereka hilang tanpa bekas di saluran pembuangan Sektor Selatan. Militer lagi bingung setengah mati kayak ayam kehilangan induk."

"Terus? Apa urusannya sama gw?persetan gw ama urusan kalian pada...mending gw turu" tanya gw, pura-pura gak peduli.

"Informan kami di jalanan tahu kalau lu dan dua orang yang sama-sama lu bawa adalah salah satu dari sedikit orang yang punya kemampuan bertarung tinggi yang terlihat di sekitar Sektor Selatan semalam sebelum kejadian. Majikan gw... tidak peduli apakah lu yang ngebunuh mereka atau mereka mati dimakan monster. Yang majikan gw tahu... hilangnya si Komandan Tambun adalah berkah besar."

Pria itu maju satu langkah, berbisik tepat di samping telinga gw.

"Ada kekosongan kekuasaan yang besar di hierarki militer atas sekarang. Majikan gw mau menyewa jasa lu secara personal. Tugas lu simpel: bersihkan sisa-sisa perwira setia pengikut si Komandan Tambun di permukaan sebelum faksi Gereja sempat nunjuk penggantinya. Setiap kepala yang lu bawa... dihargai dengan koin emas murni dan akses bebas ke area elite kota."

Gw diem sebentar. Otak manipulatif gw langsung tersenyum lebar di dalam hati.

Ini jauh lebih berkelas daripada taktik pura-pura trauma. Dengan menerima tawaran dari Faksi Bangsawan Hitam, gw otomatis dapet perlindungan politik yang kuat. Militer gak bakal berani lancang meriksa atau menggeledah gw karena gw ada di bawah ketiak bangsawan besar. Dan yang paling penting: gw dapet legalitas penuh buat ngebantai target-target besar Ksatria Suci lainnya atas nama tugas rahasia.

Ksatria-ksatria berlevel tinggi di atas sana... mereka bukan lagi ancaman bagi gw. Mereka adalah tumpukan "daging premium" gratisan yang siap gw lahap lewat Gluttony buat naikin status fisik gw ke level dewa.

Gw mundur selangkah, lalu membuka pintu kamar gw lebih lebar, ngasih isyarat buat pria bertopeng itu masuk.

"Masuk," kata gw dengan senyum sinis yang mulai mengembang di wajah gw. "Aduhhh gw tadi kurang sopan anjirrr hehehehe...sini sini cooo kita bahas tiap per kepala kepala anjing anjing busuk itu hehehehee~"

Malam ini pesta di bawah tanah emang udah selesai. Tapi besok pagi... orkestra pembantaian yang jauh lebih besar bakal gw mulai tepat di atas permukaan kota Aethelgard.

1
We wok
sampai tamat yah/Frown/
Xian Nying: Udah Baca Emangnya Kenapa?
total 3 replies
Xian Nying
Singkat aja: CERITA INI GAK ADA OBATNYA ENAK BANGET. Karakter, alur, bahasanya, semuanya pas. Gak sabar liat Yudha makan kekuasaan, makan dunia, makan apa aja deh pokoknya. LANJUT BOS, GW DUKUNG TERUS! 🔥"
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!