NovelToon NovelToon
THE HIDDEN TEARS OF DIRGANTARA

THE HIDDEN TEARS OF DIRGANTARA

Status: sedang berlangsung
Genre:Teen / Keluarga & Kasih Sayang
Popularitas:685
Nilai: 5
Nama Author: Amanda Shakira

Bagi Revanza, rumah bukanlah tempat untuk pulang, melainkan tempat di mana ia selalu menjadi figuran yang terlupakan. Di saat ia pulang dengan tubuh penuh luka akibat jatuh dari motor, pandangan ibunya justru tertuju penuh pada sang kakak, Arkael—si anak emas yang selalu sempurna. Namun, di balik senyuman tenang Arka yang merebut segalanya, ada sebuah rahasia berdarah yang perlahan mulai menggerogoti nyawanya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Amanda Shakira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 14: TUDUHAN MENCURI

Bab 14: Tuduhan Mencuri

Suasana di dalam rumah keluarga Dirgantara sore itu mendadak berubah mencekam. Hujan baru saja reda, meninggalkan aroma tanah basah dan hawa dingin yang menusuk tulang. Revan baru saja melangkah masuk melewati pintu dapur setelah memarkirkan motornya di halaman belakang. Ia baru kembali dari bengkel tempat Miko biasa menyervis motor, berniat untuk langsung naik ke kamarnya di lantai dua dan mengunci diri seperti biasa.

Namun, belum sempat kaki Revan menginjak anak tangga pertama, sebuah lengkingan suara Ibu dari arah ruang tengah menghentikan langkahnya seketika.

"Revan! Sini kamu!"

Suara Ibu terdengar sangat bergetar, dipenuhi kepanikan dan amarah yang membumbung tinggi. Revan menghela napas kasar, memutar tubuhnya dengan malas lalu berjalan menuju ruang tengah. Di sana, Ibu sedang berdiri di depan lemari kayu dengan laci yang sudah terbuka lebar. Beberapa berkas dan kotak penyimpanan tampak berantakan di atas meja. Di sofa, Arka sedang duduk bersandar dengan wajah seputih kapas, menatap Ibu dengan pandangan gelisah.

"Ada apa lagi, Bu? Revan baru pulang, gak usah langsung cari gara-gara," ucap Revan datar, menyilangkan tangan di depan dada.

Ibu melangkah mendekati Revan, matanya merah karena menahan tangis sekaligus amarah. "Ibu gak cari gara-gara, Revan! Ibu tanya sama kamu sekarang, jujur sama Ibu! Kamu kan yang ambil uang tabungan di dalam laci kamar Ibu?!"

Pertanyaan Ibu menghantam dada Revan bagai hantaman batu besar. Revan tertegun sejenak, dahinya berkerut dalam. "Uang? Uang apa? Revan gak ada sentuh laci kamar Ibu."

"Jangan bohong kamu, Revan!" bentak Ibu, suaranya meninggi hingga melengking di langit-langit ruangan. "Uang tunai lima juta rupiah di dalam amplop cokelat hilang sebagian! Tersisa cuma dua juta! Di rumah ini yang sering kelayapan gak jelas, nongkrong sampai malam, dan butuh uang buat foya-foya sama geng motor kamu itu cuma kamu! Siapa lagi kalau bukan kamu yang ambil?!"

Rasa panas yang teramat sangat seketika menjalar dari dada hingga ke ubun-ubun Revan. Kepalan tangannya di dalam saku jaket mencengkeram begitu kuat hingga buku-buku jarinya memutih dan bergetar. Dituduh atas sesuatu yang tidak pernah ia lakukan—oleh ibu kandungnya sendiri—adalah puncak dari segala rasa sakit hati yang selama ini ia pendam.

"Bu, demi Allah, Revan gak ada ngambil uang itu sepeser pun!" sahut Revan, suaranya mulai meninggi, bergetar hebat karena menahan badai emosi yang siap meledak. "Ibu kalau kehilangan uang jangan langsung nunjuk Revan dong! Emang di rumah ini isinya cuma Revan doang?!"

"Lalu siapa?! Abangmu?!" Ibu menunjuk ke arah Arka yang duduk lemas di sofa. "Arka itu jangankan buat kelayapan, buat jalan ke kamar mandi aja dia harus megap-megap nahan lemas! Dia anak baik-baik, gak pernah butuh uang buat macem-macem selain buat beli buku kuliah! Gak mungkin Arka yang ambil!"

Revan tidak pernah tahu—dan Ibu pun sama sekali tidak menyadari—bahwa uang tiga juta rupiah yang hilang itu sebenarnya diambil oleh Ayah tadi pagi-pagi buta. Ayah mengambilnya dengan tangan gemetar sembari menangis di sudut kamar, terpaksa menggunakan uang tabungan belanja Ibu untuk membayar uang muka (DP) prosedur cuci darah Arka di rumah sakit darurat yang jatuh tempo, karena seluruh gaji dan tabungan inti Ayah sudah habis tidak bersisa. Ayah sengaja tidak memberi tahu Ibu karena tidak ingin membuat Ibu semakin stres melihat tabungan mereka yang kian kritis.

Mendengar perdebatan yang kian memanas, Arka memaksakan diri untuk berdiri dari sofa. Tubuhnya yang kurus tampak limbung sejenak sebelum ia melangkah tertatih, mencoba menengahi.

"Bu... udah, Bu... Jangan tuduh Revan dulu," lirih Arka dengan suara yang teramat parau dan putus-putus karena dadanya kembali terasa sesak. "Revan gak mungkin ngambil uang itu... Arka tahu Revan anak baik. Mungkin... mungkin Ayah yang bawa buat keperluan kantor, atau Ibu lupa naruhnya..."

"Kamu gak usah belain adekmu terus, Arka! Dia ini udah kelewatan!" potong Ibu dengan tangis yang akhirnya pecah.

Melihat Arka yang mencoba membelanya, Revan justru merasa itu adalah bentuk penghinaan paling kejam yang pernah ada. Di dalam benak Revan yang sudah dibutakan oleh kabut salah paham, Arka sedang berlagak menjadi pahlawan kesiangan. Arka sedang menggunakan momen ini untuk menunjukkan kepada Ibu betapa mulianya hati sang anak emas, sementara Revan akan semakin terlihat seperti monster bajingan yang tidak tahu diri.

"Gak usah sok suci lo, Bang!" bentak Revan gila-gilaan, suaranya menggelegar memenuhi ruang tengah, memotong kalimat Arka dengan penuh kebencian. Revan melangkah maju, menepis jarak di antara mereka dan menatap mata Arka dengan pandangan menghunus. "Gak usah sok belain gue seolah-olah lo itu malaikat! Jangan-jangan, lo sendiri yang dapet uang itu dari Ibu, atau lo yang pake uang itu buat beli buku-buku mahal lo, terus sekarang lo pura-pura bego biar gue yang disalahin?!"

"Revan... demi Tuhan, gue gak tahu apa-apa soal uang itu..." Arka membalas dengan mata yang berkaca-kaca. Hatinya hancur berkeping-keping melihat betapa dalamnya luka dan kebencian yang bersarang di dada adiknya. "Gue gak pernah minta uang itu sama Ibu..."

"Halah, bacot! Lo emang pinter akting, Bang! Satu rumah ini udah lo bego-begoin pake tampang loyo lo itu!" teriak Revan tepat di depan wajah Arka.

"REVAN! CUKUP! JANGAN BENTAK ABANGMU!"

PLAK!

Satu tamparan keras mendarat di pipi kiri Revan. Suara tamparan itu terdengar begitu nyaring di ruang tengah yang mendadak hening. Ibu berdiri dengan tangan yang masih melayang di udara, gemetar hebat dengan air mata yang mengalir deras di pipinya yang kuyu. Ibu baru saja menampar anak bungsunya demi membela sang anak emas.

Revan tertegun. Kepalanya sedikit tertoleh ke kanan akibat hantaman tangan Ibu. Rasa panas dan perih di pipinya tidak sebanding dengan rasa hancur yang meremukkan seluruh dinding jiwanya saat itu juga. Di rumah ini, dia benar-benar tidak memiliki ruang untuk dipercaya.

Arka yang menyaksikan tamparan itu membelalakkan matanya. "Ibu! Kenapa Ibu tampar Revan?!" pekik Arka histeris. Stres emosional yang luar biasa hebat dan rasa syok itu seketika memicu komplikasi fatal di dalam tubuhnya. Rasa nyeri yang teramat sangat tajam, seolah organ ginjalnya diremas oleh tangan besi, menghantam perut sebelah kanan dan pinggang belakang Arka.

"Ughh..." Arka mengerang kesakitan, wajahnya mendadak berubah menjadi biru keunguan. Ia memegangi perutnya dengan kedua tangan, sepasang kakinya yang kurus tidak lagi mampu menopang berat badannya.

BRUK! Arka jatuh berlutut di atas lantai ubin yang dingin, napasnya tersedat-sedat memburu oksigen yang terasa hilang dari ruangan itu.

"Arka! Ya Allah, Nak!" Ibu langsung berteriak panik, menjatuhkan dirinya di lantai untuk memeluk tubuh Arka yang mulai gemetar hebat menahan sakral. Ibu sama sekali melupakan keberadaan Revan, mengabaikan anak bungsunya yang baru saja ia tampar demi beralih menyelamatkan si anak emas.

Revan perlahan memundurkan langkah kakinya. Ia memegang pipi kirinya yang masih terasa panas berdenyut. Air mata kemarahan dan rasa sakit hati yang teramat dalam akhirnya luruh membasahi pipinya. Ia menatap Ibu yang sedang menangis memeluk Arka di atas lantai dengan pandangan yang kosong dan mati rasa.

Puas kalian, batin Revan, hatinya kini telah resmi membatu dan membeku sepenuhnya. Gue bener-bener gak ada gunanya di rumah ini.

Tanpa mengucapkan sepatah kata pun, Revan berbalik badan. Ia melangkah lebar-lebar menaiki tangga menuju kamarnya dengan dada yang sesak bergemuruh, bersiap untuk mengakhiri semua penderitaannya di rumah ini.

Bersambung...

.

.

.

.

...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

1
tri Harianti
tetep ibunya yang salah
tri Harianti
salah orang tuanya sih ini
tri Harianti
yang salah orang tuanya sih
tri Harianti
kasian
tri Harianti
kasian
awesome moment
arahnya. arka dan ayahnya sm2 meninggoy dan...revan nyesel bin nyesek. smua klo udh lewat batas kemampuan dijamin tumbang.
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!