Emma Taylor terpaksa harus melunasi hutang pamannya kepada seorang pria asing kaya raya yang tinggal di rumah besar Anggrek Residen.
Jatuh tempo pembayaran sudah sangat dekat bagi paman Broeri untuk membayar hutang tersebut namun dia tidak mempunyai uang sepeser pun saat dia ditagih oleh pria asing kaya raya itu yang bernama Noah Jones.
Terpaksa Emma yang harus menanggung hutang tersebut kepada Noah Jones pemilik rumah Anggrek Residen.
Karena Emma Taylor juga tidak mempunyai uang buat melunasi hutang paman Broeri maka dia dipaksa membayar dengan rahimnya.
Bagaimana nasib Emma Taylor selanjutnya, sanggupkah dia melunasi hutang milik paman Broeri Goldman atau dia memilih melarikan diri.
Mari kita simak kelanjutan kisah ini dalam novel berjudul Rahim Bayaran Milik Emma.
Salam buat semua pemirsa 🎂
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Reny Rizky Aryati, SE., isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 15 Sepotong Classic Chocolate Cake
Emma Taylor mendengar langkah kaki Noah Jones beserta Alfred menjauh dari balik dinding saat ia bersembunyi.
Langkah kaki itu semakin lama semakin menghilang, Emma memberanikan diri untuk keluar dari balik dinding seraya menatap jauh.
Keinginan Emma yang haus mendadak hilang seketika, ia sudah tidak mau lagi untuk minum. Tapi Emma terus berjalan lurus menuju ruang lainnya yang ia sendiri tidak tahu kemana kakinya melangkah saat ini.
Tampak cahaya terang dari arah depan, Emma mempercepat kakinya berjalan maju. Ia sampai di suatu ruangan, seingatnya kalau ruang makan terdapat pintu kaca kristal tapi ruangan ini tidak tersedia pintu tersebut.
"Rupanya aku ada di pantry, kebetulan sekali aku merasa lapar sekarang." ucapnya. Dari arah perutnya terdengar suara berisik yang menandakan kalau dirinya lapar.
Emma mengedarkan pandangan matanya ke sekitar ruangan pantry sembari berjalan pelan. Pandangan matanya langsung tertuju pada lemari es besar di pojok ruangan.
"Yah, baiklah, aku sekarang haus, coba kulihat isi lemari es ini, mungkin aku bisa menemukan sesuatu buat ku minum atau ku makan."
Emma berucap sembari membuka pintu lemari es di depannya.
Udara segar dari mesin pendingin lemari es langsung keluar menerpa wajahnya yang halus berseri-seri. Emma melihat isi lemari es yang lengkap. Ada sejumlah makanan serta bermacam-macam minuman tersedia di sana.
"Woww!" pekiknya senang saat ia melihat isi lemari es. "Ternyata aku benar-benar beruntung, bisa menemukan banyak makanan serta minuman di sini."
Pandangan matanya tertuju tepat ke arah cake klasik itu.
Alis Emma naik setengah, seperti kaget dan penasaran.
"Ada apa ini?" Matanya mengerling sedikit, memantulkan cahaya lampu kulkas. Tatapannya tidak berkedip-kedip dua detik pertama, mengunci ke cake-nya. Dunia sekitar berubah buram.
Bibir Emma terbuka sedikit, "Looooh..." pelan. Ujung bibir ketarik ke atas mau senyum tapi ditahan biar tetap terlihat kalem.
Emma menahan nafas satu detik, terus keluar suara "Huhuuh..." pelan.
Wangi cokelat bercampur mentega nya sudah sampai duluan di penciuman Emma.
Kepala Emma agak miring ke kiri, badan otomatis condong ke depan. Satu tangan sudah siap-siap pegang sendok di laci.
Ekspresi Emma campuran antara memenangkan hadiah besar.
"Hadiah dari diri sendiri, sama dosa apa yang boleh aku lakukan malam ini." ucapnya senang.
Emma duduk di kursi makan sembari menatap piring berisi Classic Chocolate Cake yang lezat.
Penampilan cake berwarna cokelat gelap pekat, permukaannya halus mengkilap kena ganache. Sewaktu dipotong, terlihat tiga layer sponge cake yang lembut. Buttercream di sela layer warnanya cokelat susu, tebal tapi tidak berlebihan. Remahan cake halusnya menempel sedikit di pinggir, tanda cake-nya moist.
Begitu sendok kue menancap, cake-nya tenggelam pelan. Tidak padat seperti bantat, tapi fluffy. Remahnya lembut, langsung lumer di lidah. Ganache diatasnya sangat pas, tidak keras, tidak cair. Lumer bersamaan cake-nya. Buttercream di tengahnya dingin, ringan, jadi penyeimbang rasa cokelatnya.
Gigitan pertama, terasa di lidah Emma, rasa cokelat pekat tapi tidak pahit. Ada hint vanilla dan sedikit garam biar rasanya menggigit nikmat. Manisnya pas, tidak bikin eneg. Sehabis ditelan masih ada after taste cokelat yang nagih. Kalau disandingkan sama kopi panas, rasanya... kombo maut.
Aroma wangi cokelat dan mentega panggang menyebar saat cake masuk ke mulut Emma. Hangat serta wanginya membuat lapar terus.
Sensasi itu serta merta membangkitkan semangat Emma, membuat ujung bibirnya melengkung tajam, membentuk senyum puas.
Tangan Emma tidak berhenti menyendokkan setiap bagian cake klasik ke dalam mulutnya. Ia begitu menikmati tiap gigitan cake seakan-akan lupa daratan.
"Tap... !"
Suara langkah kaki terhenti, terdengar suara seseorang berdehem pelan.
"Apa kau menikmatinya sampai-sampai kamu tidak menyadari seseorang masuk kemari, Emma."
Emma segera mengangkat kepalanya seraya menghadap ke arah suara itu berasal.
Betapa terkejutnya Emma ketika ia mendapati Noah Jones yang tidak disangka-sangka olehnya berdiri tegak di depan jalan masuk pantry. Dan menatap tajam ke arah dirinya.
Emma ter gugup cepat, ia buru-buru menutupi potongan cake dengan kedua telapak tangannya, berusaha menyembunyikannya.
Noah Jones melirik tajam ke arah meja makan yang berantakan, penuh remahan cake dimana-mana. Ada sepiring besar berisi potongan cake klasik tergeletak di dekat piring Emma.
Ia menarik nafas dalam-dalam lalu menunduk pelan.
"Rupanya aku kecurian cake di rumah ku sendiri..." ucapnya sembari tersenyum simpul kemudian melangkahkan kaki maju.
"A-aku akan mengganti cake-nya, kau tidak perlu khawatir karena aku akan membayar cake milikmu ini, Tuan Jones." sahut Emma.
Alis Noah Jones naik setengah, tidak berkedip satu detik dan ujung bibirnya agak terangkat naik.
Pandangan Noah Jones teralihkan pelan ke arah Emma yang duduk di dekat meja makan sembari menatap canggung ke arah dirinya.
"Kau tidak perlu membayarnya, aku merelakan cake-nya untukmu. Jangan khawatir karena aku tidak mempermasalahkan soal cake kesukaanku diambil seseorang tanpa izin dariku." ucapnya ringan.
"Ma-maaf... Aku tidak sengaja memakannya, tiba-tiba saja aku merasa sangat lapar sehingga aku berniat pergi ke dapur tapi yang aku temukan justru tempat mewah ini..." sahut Emma gugup.
Emma melirik canggung ke arah potongan cake klasik cokelat yang hampir habis di piring makannya. Tak sengaja, ia menelan ludah setelah cake terakhir di tenggorokannya turun.
"A-apa kau mau? A-aku bisa mengambilkannnya untukmu jika kamu mau, Tuan Jones." tawar Emma berusaha menyembunyikan kecanggungan dirinya karena tertangkap basah telah mengambil cake klasik di rumah mewah ini.
Emma menyodorkan piring kue kosong ke arah Noah Jones lalu tersenyum kaku.
"Tidak." sahut Noah Jones dengan menggelengkan kepala pelan. "Sekarang ini, aku tidak berminat memakan cake-nya. Ambil saja, cake-nya buatmu saja. Kamu bisa habiskan jika kamu mau, Emma."
Noah Jones mendekat ke arah Emma lalu duduk di sebelahnya, memandangnya sejenak kemudian menatap lurus.
"Kau ini... Malam-malam begini, bisa-bisanya makan besar. Tidak takut badanmu melar dan dikira hamil sama orang-orang di sini." ucapnya sembari tersenyum tipis.
"Aku tidak takut meski badanku akan berubah melar. Kenikmatan mencicipi rasa cake klasik yang jarang-jarang aku dapatkan, tidak akan pernah aku lewatkan kesempatan manis ini, Tuan Jones."
Emma menyahut penuh semangat seraya mengangkat dua tangannya, sedangkan salah satu tangannya memegang erat sendok kue yang belepotan buttercream.
Fokus pandangan matanya tertuju lurus pada Classic Chocolate Cake yang lezat tanpa memperdulikan kehadiran Noah Jones yang teramat dekat dengannya saat ini.
Noah Jones hanya tertawa pendek, sambil menopang dagu. Ia menatap Emma.
"Kau benar-benar suka cake, ya? Kukira kau hanya kelaparan saja maka kau habiskan hampir sepotong besar cake-nya." ucapnya.
"Oh, ti-tidak... tidak... Aku tidak menghabiskannya. Cake-nya sudah tinggal sepotong sewaktu aku menemukannya di dalam lemari es tadi." sanggah Emma membela diri.
"Oh, ya, benarkah itu?!" sahut Noah Jones dengan menaikkan setengah alisnya. "Tapi aku melihat cake-nya tinggal sebagian kecil sekarang sewaktu aku memesannya di toko kue langgananku."
"Oh, tidak... tidak... Yang anda katakan itu tidak betul, Tuan Jones. Tadi aku melihat cake-nya memang tinggal separuh, jadi aku berani mengambil cake-nya daripada cake-cake lainnya yang masih utuh." sahut Emma.
Emma memperagakan tangannya ketika ia mengambil cake klasik dari lemari es sekitar dua puluh menit yang lalu kepada Noah Jones sedangkan pria tampan yang selalu berpenampilan necis itu hanya duduk tenang di sebelah Emma Taylor sebagai pendengar yang baik. Dan sesekali ia mengangguk paham setiap kali Emma mengulangi ucapannya.
Emma tersadar lalu terdiam karena Noah Jones tidak bereaksi dengan ucapannya.
"Apa anda mengira aku pencuri di rumah ini?" tanyanya. Ia memandang serius ke arah Noah Jones.
"Tidak, aku tidak beranggapan demikian. Dan aku sangat tulus merelakan cake-nya buatmu, dan aku sama sekali tidak mempersoalkan hal itu." sahut Noah Jones.
"Terimakasih atas pengertian mu, tapi aku juga minta maaf karena tidak meminta izin terlebih dahulu jika aku memakan makanan milikmu yang ada di lemari es itu, Tuan Jones." kata Emma.
"Bukan masalah." sahut Noah Jones.
"Tapi aku akan membayar cake-nya dengan uang gajian pertama yang kamu berikan padaku. Sebab aku merasa tidak enak hati karena telah memakan cake-nya." kata Emma.
"Sudah aku katakan kalau aku tidak mempermasalahkan hal itu lagi." tegas Noah sembari menatap serius ke arah Emma.