“Jangan harap bisa pergi. Sekali kakimu menginjak rumah ini, selamanya kamu adalah milikku.”
Seorang Juragan yang mempunyai segalanya: kekuasaan, kekayaan, dan wibawa. Hanya satu yang tidak bisa ia miliki yaitu hati anak gadis dari salah satu pekerja buru pabrik miliknya.
Ketika lamaran tulusnya dibalas penolakan, sang Juragan melepaskan topeng kesabarannya. Ia tidak butuh izin untuk memiliki apa yang ia mau. Jika dunia menyebutnya penculik, biarlah. Karena baginya, lebih baik melihat gadis pujaan menangis dalam pelukannya daripada melihat gadis itu tersenyum di pelukan pria lain.
Satu janji suci telah terucap. Ijab kabul telah sah di mata agama. Namun, akankah gadis itu menyerahkan hatinya setelah sang Juragan "mencuri" kebebasannya? lalu bagaimana dengan gadis lain yang ingin menikah dengan sang Juragan tampan itu, akankah ia Terima atau membalaskan dendamnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sabia Sky, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Penolakan Kinanti dan Tekad Aditya
Tiga gadis muda duduk saling berhadapan di ruang istirahat toko bunga. Kinanti terisak-isak didalam pelukan Indah, sementara Wulan dan Laras menatapnya penuh keprihatinan.
Keheningan sempat menyelimuti, hanya terdengar isak tangis Kinanti yang tertahan.
"Sebenarnya hubunganmu dengan pria yang disebut 'Mbak' tadi itu apa, Kinan? Kenapa dia melabrakmu dan memintamu menjauhi yang katanya calon suaminya? K-kamu tidak menjadi selingkuhannya, kan?" tanya Laras hati-hati. Wulan segera menyenggol tangan Laras.
"Laras, jaga bicaramu!" tegur Wulan, sementara Laras hanya cengengesan, lalu kembali melanjutkan kegiatannya mengompres pipi Kinanti yang memerah.
"Pria yang dia sebut calon suami itu melamarku. Tapi aku menolaknya, saat tahu gadis tadi sangat ingin menjadi istrinya. Aku menolak lamaran itu karena tak ingin hal buruk terjadi... tapi..." Kinanti berujar lirih, menundukkan kepala.
"Ya ampun, Kinan. Kamu yang sabar, ya," ucap Indah, salah satu rekan kerja lain, yang langsung mendekap tubuh Kinanti. Tangisan Kinanti pun pecah dalam pelukan Indah. Tak bisa berkata-kata lagi, Indah memilih bungkam dan terus mengelus lembut punggung Kinanti agar tenang.
"Apa sebaiknya kamu pulang saja, Kinan? Istirahat di rumah agar pikiranmu tenang," usul Indah.
Kinanti menggeleng pelan. "Tidak usah, tidak perlu. Aku tidak enak kalau harus izin."
Indah benar-benar prihatin. Kinanti tidak bersalah di sini tidak sepantasnya gadis itu mendapat caci maki bahkan tamparan seperti tadi.
✧ ✧ ══✿══╡°˖✧✿✧˖°╞══✿══ ✧ ✧
💥 Amarah Aditya yang Tumpah
"Apa yang mereka katakan?" tanya Aditya kepada kedua orang tuanya yang diam seribu bahasa.
"Ayah? Ibu?" desaknya.
Pak Wijaya yang terlebih dulu mendongak, menatap sang putra. Aditya tampak menyimpan amarah yang seakan-akan siap meledak.
"Nak..."
"Bagaimana, Yah? Mereka bilang apa saja kepada Ayah dan Ibu?"
Pak Wijaya pun akhirnya menceritakan semua perbincangan mereka dengan Pak Tyo dan Bu Effi, tanpa ada yang terlewat sedikit pun. Mendengar penjelasan dari sang ayah, tangan Aditya langsung terkepal kuat, dan wajahnya memerah padam.
"Nak, inilah yang Ibu khawatirkan. Sikapmu membuat Lidia tersinggung hingga mengadu pada orang tuanya," ucap Bu Sarasvati dengan suara serak, matanya berkaca-kaca. Aditya menatap wajah sang Ibu sendu.
Tubuh tinggi kekarnya bangkit dari duduk. Dengan langkah penuh wibawa, ia berjalan cepat keluar rumah untuk meluapkan amarahnya yang memuncak. Melihat kepergian sang putra, Bu Sarasvati diam-diam berdoa semoga masalah ini segera selesai, sementara Pak Wijaya hanya terdiam menatap putranya dengan sendu.
✧ ✧ ══✿══╡°˖✧✿✧˖°╞══✿══ ✧ ✧
😔 Isak Tangis dan Keterkejutan Pak Wisnu
Di tempat lain, di rumah sederhananya, Kinanti masih menangis terisak-isak di dalam kamar. Ia belum berganti pakaian sejak pulang kerja. Gadis cantik itu duduk di tengah kasur, terisak pilu. Ponselnya tergeletak di atas nakas, beberapa kali suara notifikasi dan panggilan masuk tak dihiraukan. Kinanti menenggelamkan wajahnya ke dalam lipatan kaki. Kepalanya bergerak-gerak karena isak tangis. Dadanya terasa sakit, sangat sakit.
"Hiks hiks," lirihnya, suaranya parau karena terlalu lama menangis.
Tak lama kemudian, Pak Wisnu tiba di pekarangan rumah. Ia membuka pintu dan memanggil putrinya.
"Kinan!"
"Nak!"
"Kinanti!"
"Ke mana anak itu? Sepedanya ada," gumamnya cemas.
Pak Wisnu berjalan menuju kamar putrinya. Tangan kanannya mencoba membuka pintu, tetapi terkunci.
"Nak, buka pintunya."
"Kinan..."
Mendengar sang ayah memanggil, Kinanti bergegas membuka pintu, membiarkan Pak Wisnu masuk. Melihat mata Kinanti yang sembap, Pak Wisnu tampak panik.
"Nak, ada apa? Kok menangis begini? Habis jatuh, kah?" Pak Wisnu menuntun Kinanti duduk di pinggir kasur dan memeluknya. Tangisan Kinanti makin menjadi-jadi di dalam pelukan Pak Wisnu.
"Pak, Kinanti menolak lamaran Juragan Aditya. Kinan tidak mau menikah dengan Juragan Aditya," suara Kinanti serak setelah menangis panjang.
"Ya ampun, kenapa, Nak?"
"Gadis yang menyukai Juragan Aditya melabrak Kinan di tempat kerja. Dia juga menampar Kinanti di depan umum."
"Astaghfirullah! Nak, kok bisa tahu tempat kerjamu, Nak?" Pak Wisnu terkejut. Ia melepaskan pelukan dan menatap putri tunggalnya.
"Kinan tidak tahu, Pak," Kinanti menggelengkan kepala sembari menunduk dengan tatapan sedih.
"Ya sudah, Nak. Nanti Bapak akan bicara dengan Juragan Jaya."
"Jangan bilang masalah ini, Pak," pinta Kinanti cepat.
"Iya, Nak. Ya sudah, kamu mandi, lalu istirahat. Tidak usah masak, nanti Bapak akan beli makanan untuk makan malam," ujar Pak Wisnu. Ia bangkit lalu keluar dari kamar sang putri.
✧ ✧ ══✿══╡°˖✧✿✧˖°╞══✿══ ✧ ✧
👑 Ilusi Kemenangan Keluarga Effi
Sepasang suami istri dan anak semata wayangnya tengah duduk bertiga di ruang keluarga.
"Mama dan Papa sudah bicara dengan Tante Saras dan Om Jaya, Nak," ujar Bu Effi.
"Kita tinggal tunggu keputusan mereka," tambah Pak Tyo.
"Cih! Kata Om Jaya, Adi sangat mencintai gadis lain. Dia juga sudah melamar gadis itu, tapi ditolak! Jadi, kamu jangan cemas, Nak. Kamu jauh lebih segalanya dibandingkan gadis itu, jadi pasti akan sangat mudah bagi Aditya untuk berpaling memilihmu," ujar Bu Effi, menyuntikkan keyakinan palsu. Sang anak tersenyum tipis mendengar itu.
"Tentu saja Tante Saras dan Om Jaya pasti akan memilihku dibandingkan gadis lain, kan, Pa, Ma?"
*Tentu saja. Putri tunggalku ini sudah cantik dan berpendidikan tinggi, kurang apa lagi? Harusnya Saras itu memilihkan calon istri yang sepadan untuk Aditya, seperti Lidia,* batin Bu Effi, tersenyum miring.
"Kamu benar, Nak. Saras pasti akan memilihmu dan meminta Aditya untuk segera menikahimu. Kamu pasti akan menjadi Nyonya Muda di keluarga Wijaya," ucap Bu Effi penuh harap. Mendengar istri dan putrinya, Pak Tyo terdiam.
*Apa ini semua sudah benar?* batinnya sedikit terusik.
✧ ✧ ══✿══╡°˖✧✿✧˖°╞══✿══ ✧ ✧
🤝 Keyakinan dan Dukungan
"Bu," panggil Pak Wijaya.
"Ya, Ayah?" Bu Sarasvati menoleh ketika mendengar panggilan dari suaminya yang sedang membuat kopi.
"Ayah kemarin datang ke rumah Pak Wisnu membahas lamaran Aditya," ujar Pak Wijaya. Bu Sarasvati terdiam, tak lama kemudian senyum tipis tersungging di bibirnya.
"Baguslah. Bagaimana? Pak Wisnu setuju?" Bu Sarasvati menatap mimik wajah sang suami yang terlihat sendu.
"Kenapa, Ayah?" Melihat wajah istrinya, Pak Wijaya menghela napas panjang.
"Ayah juga menceritakan semua tentang perjodohan yang diajukan Tyo, Bu," jawab Pak Wijaya. Bu Sarasvati tertegun.
"Ayah tidak mau Wisnu berpikir macam-macam kalau seandainya mereka kembali berulah."
Mimik wajah Bu Sarasvati langsung berubah sendu. Ia kembali menatap suaminya.
"Kita berdoa, semoga mereka tidak kembali berulah, Yah," Bu Sarasvati berujar penuh harap.
"Ayah juga sangat berharap semoga Adi lekas memberikan pengertian kepada mereka, Bu," timpal Pak Wijaya.
Bu Sarasvati mengangguk setuju. Wanita paruh baya itu mendekat dan memeluk tubuh suaminya.
"Kebahagiaan Adi terlihat jelas saat bertemu Kinanti. Ibu tidak mau melihat binar bahagia itu meredup, Yah," bisik Bu Sarasvati.
Pak Wijaya pun merasakannya. Kinanti sangat penting dalam hidup putra sulungnya itu.
"Kalau keduanya memang berjodoh, mau ada badai sekencang apa pun, pasti tetap bersatu, Bu. Apa pun cobaannya."
✧ ✧ ══✿══╡°˖✧✿✧˖°╞══✿══ ✧ ✧
🛡️Penolakan dan Tekad Balas Dendam
Esok pagi, setelah mengantar putri tunggalnya, Pak Wisnu meluncur ke tempat kerjanya. Sesampai di sana, Pak Wisnu menemui Pak Wijaya terlebih dahulu.
"Assalamualaikum."
"Waalaikumsalam, Nu. Ada apa ke sini? Ayo, masuk," tanya Pak Wijaya.
"Begini, Juragan. Ini soal lamaran Juragan Adi," ucap Pak Wisnu, tampak menundukkan kepala.
"Mohon maaf, Juragan. Kinanti tetap tidak bisa menerima lamaran dari Juragan Aditya, dengan alasan yang sama," ucap Pak Wisnu sungkan.
Pak Wijaya hanya bisa menghela napas panjang. Walaupun berat, dia harus tetap menerima keputusan itu.
"Baiklah, Nu. Aku terima keputusan itu," ujar Pak Wijaya.
"Maaf, Juragan. Saya tidak bisa memaksa putri saya karena ini adalah keputusan yang sangat berat baginya," ujar Pak Wisnu.
"Tidak apa-apa, Nu. Aku hargai itu. Terima kasih," ucap tulus Pak Wijaya.
"Baik, Juragan. Kalau begitu, saya permisi dulu untuk kembali ke pabrik," pamit Pak Wisnu.
Setelah kepergian Pak Wisnu, kini Pak Wijaya terdiam dengan pikiran melayang. Tanpa disadari, Aditya, putra sulungnya, mendengar seluruh pembicaraan mereka.
"Sepertinya aku harus bertindak sekarang," gumam Aditya, wajahnya mengeras.
Pria tampan itu bertekad akan memberikan pelajaran setimpal kepada orang tua Lidia karena telah berani mengusik keluarganya, dan tak menjadi penghalang hubungannya dengan Kinanti.
Bersambung__
____