NovelToon NovelToon
Yang Hilang Tanpa Pergi

Yang Hilang Tanpa Pergi

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyesalan Suami / Penyelamat / Single Mom
Popularitas:2.9k
Nilai: 5
Nama Author: Green_Rose

Merlin percaya bahwa cinta cukup untuk membuat seseorang tetap tinggal disisinya. Sampai suatu hari, ia menyadari bahwa, cinta tidak selalu kalah oleh cinta pada orang ketiga. Melainkan, ia kalah oleh tanggung jawab.

Reyno tidak pernah benar-benar pergi dari sisinya. Dia masih pulang. Masih memanggil nama Merlin seperti biasa.

Tapi perlahan, kehadirannya berubah. Perhatiannya terbagi. Waktunya bukan lagi milik satu hati. Dan tanpa disadari, Merlin mulai kehilangan seseorang yang masih ada di sisinya.

Di antara kewajiban dan perasaan,
siapa yang seharusnya dipilih?
Dan ketika semuanya sudah terlambat,
apakah cinta masih punya tempat untuk kembali?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Green_Rose, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Yhtp *8

Dan yang paling menyakitkan dari semuanya. Reyno bahkan belum menyadarinya sedikitpun. Pria itu masih berpikir semuanya baik-baik saja. Masih berpikir Merlin akan selamanya ada di sana, menunggu, mengerti, dan melepaskan.

Padahal perlahan namun pasti, hati Merlin mulai terbiasa dengan rasa kehilangan itu. Terbiasa sepi. Terbiasa dingin. Dan terbiasa menjadi nomor dua.

Hari-hari mulai berjalan dengan irama yang berbeda setelah kejadian-kejadian itu berlalu. Perubahannya begitu pelan, begitu halus, dan hampir tidak terlihat oleh mata telanjang.

Namun bagi Merlin, yang hidupnya begitu dekat dan menyatu dengan Reyno selama bertahun-tahun, perubahan itu terasa begitu nyata, begitu berat, dan cukup jelas untuk membuatnya sadar akan satu hal penting. Ada sesuatu dalam rumah tangga mereka yang mulai bergeser, yang mulai berubah bentuk.

Reyno masihlah pria yang sama. Secara fisik, sikap, dan perilaku dasarnya tidak berubah. Ia masih sosok yang perhatian, masih pulang ke rumah ini setiap hari, masih mencium kening Merlin sebelum tidur, dan masih berbicara dengan nada lembut seperti dulu.

Tapi kini, sebagian besar pikiran dan perasaannya tidak lagi tinggal sepenuhnya di rumah itu. Sebagian dirinya, sebagian waktunya, dan sebagian hatinya selalu pergi ke tempat lain. Ke seseorang yang lain. Ke Yara.

Dan Merlin bisa merasakan pergeseran itu hingga ke tulang sumsumnya.

Malam itu, Merlin sedang duduk di tepi tempat tidur, sibuk melipat pakaian bersih mereka yang baru saja ia ambil dari jemuran. Di kamar mandi terdengar suara air mengalir, tanda Reyno sedang mandi untuk membersihkan diri setelah seharian bekerja. Suasana hening dan tenang, hingga tiba-tiba suara notifikasi pesan singkat terdengar berulang kali dari arah meja rias mereka. Ting! Ting! Ting! Berturut-turut.

Awalnya Merlin tidak berniat melihat atau peduli. Ia berusaha tetap fokus melipat kain di tangannya. Namun layar ponsel yang menyala terang itu seolah memaksa menarik perhatian matanya. Tanpa sengaja, ia menangkap nama pengirim yang terpampang jelas di sana. Siapa lagi itu kalau bukan, Yara.

Pesan-pesan itu muncul berurutan, terbaca samar namun cukup jelas bagi Merlin yang duduk tidak jauh dari situ.

*Kak Rey, aku takut tidur sendiri di sini.*

*Lampu apartemen aku mati lagi, gelap banget.*

*Boleh nggak aku telepon sebentar? Aku takut banget. *

Jari-jari Merlin berhenti bergerak. Tatapannya terpaku pada layar yang perlahan kembali gelap itu selama beberapa detik. Ada rasa perih kecil yang menusuk dadanya, namun secepat kilat ia berusaha memalingkan wajah dan kembali melanjutkan pekerjaannya. Ia merasa tidak enak hati karena sudah membaca pesan pribadi orang lain tanpa izin. Ia merasa bersalah karena sempat merasa terganggu.

Tak lama kemudian, pintu kamar mandi terbuka. Reyno keluar dengan rambut yang masih basah, menggosok-gosokkannya dengan handuk kecil. Belum sempat ia duduk, ponselnya kembali berbunyi. Kali ini berdering panjang, tanda ada panggilan masuk.

Dengan gerakan yang begitu cepat, begitu naluriah, dan seolah sudah menjadi kebiasaan lama, tangan Reyno langsung meraih benda pipih itu. Saat ia melihat nama di layar, ekspresi wajahnya yang tadinya santai langsung berubah menjadi cemas dan khawatir.

“Yara takut sendirian lagi,” gumamnya pelan, lebih kepada dirinya sendiri, namun cukup terdengar oleh Merlin.

Merlin hanya tersenyum kecil, senyum yang dipaksakan agar terlihat biasa saja.

“Oh,” jawabnya singkat.

“Katanya apartemennya mati lampu lagi. Listriknya sering gangguan di situ,” tambah Reyno sambil melihat jam dinding, tampak bingung antara harus mengangkat telepon itu atau menunggu sebentar.

Merlin mengangguk pelan, matanya tetap menatap kain yang sedang ia lipat rapi.

“Ya udah, angkat aja atau telepon balik. Kasihan kalau dia takut sendirian di sana,” ucapnya lembut.

Reyno menatap istrinya sekilas, terlihat sedikit ragu dan lega sekaligus. “Gapapa kalau aku ngomong agak lama? Nggak ganggu kamu istirahat?”

Merlin menoleh, menatap wajah suaminya yang penuh kekhawatiran akan orang lain itu, lalu tersenyum tipis.

“Hm ... nggak, gapapa? Kan dia lagi butuh. Urus aja dulu sampai dia tenang.”

Pria itu akhirnya menghela napas panjang, seolah beban berat baru saja terangkat dari bahunya. Ia duduk di tepi sisi tempat tidur yang jauh dari Merlin, lalu menempelkan ponsel ke telinganya, memanggil balik gadis itu.

Hening kembali menyelimuti ruangan itu, namun kali ini terasa berbeda. Di sebelahnya, Reyno berbicara dengan nada suara yang sangat lembut, sangat sabar, dan penuh penenangan. Ia mendengarkan keluh kesah, ketakutan, dan tangis gadis itu lewat sambungan telepon, seolah tidak peduli sudah berapa lama waktu berlalu.

Dan malam itu, untuk pertama kalinya sejak mereka menikah, Merlin memutuskan untuk tidur lebih dulu tanpa menunggu dipeluk atau didekap oleh Reyno. Ia memunggungi suaminya, memejamkan mata, dan berusaha membiarkan telinganya tuli. Karena suaminya yang sah itu, masih sibuk menenangkan perempuan lain hingga larut malam.

 ***

Beberapa hari kemudian, pada sore hari yang cukup cerah. Merlin sedang berjalan-jalan di supermarket besar yang letaknya tidak jauh dari apartemen mereka. Ia mendorong troli belanja berisi kebutuhan rumah tangga dan bahan makanan mingguan. Ia sedang memilih sayuran segar saat ponselnya yang ada di tas berbunyi nyaring. Nama “Reyno” terpampang di layar.

Merlin tersenyum sedikit, mengangkat teleponnya. “Halo? Kamu belum pulang kantor?” sapanya ramah.

“Mer … kamu di mana sekarang?” suara Reyno terdengar dari seberang, terdengar tergesa-gesa, berat, dan penuh kecemasan.

“Lagi di supermarket, mau belanja sedikit. Ada apa?”

“Oh …” terdengar helaan napas di sana. “Bisa nggak kamu ke Rumah Sakit Permata sekarang? Cepat sedikit kalau bisa?”

Langkah kaki Merlin langsung berhenti mendadak. Ia menegakkan badan, rasa penasaran bercampur khawatir mulai muncul.

“Rumah sakit? Kenapa? Kamu sakit? Atau ada apa?”

“Bukan aku,” jawab Reyno cepat. “Yara kambuhan maag-nya. Katanya sakit banget sampai lemas. Aku masih ada rapat penting sama klien dari luar kota, nggak mungkin banget aku cabut sekarang. Tapi dia sendirian banget di sana, Mer.”

Hening sejenak. Merlin diam mematung di lorong sayuran yang dingin itu.

“Dia sendirian di UGD?” tanyanya pelan.

“Iya. Nggak ada siapa-siapa. Dia cuma bisa telepon aku. Tolong ya, Mer? Kamu ke sana dulu, nemenin dia, urus administrasi atau apa dulu sampai aku selesai rapat. Aku nggak tenang kalau dia sendirian.”

Suara Reyno terdengar begitu penuh rasa bersalah, namun juga begitu mendesak. Dan lagi-lagi, seperti yang selalu terjadi setiap kali ada nama Yara disebut, Merlin tidak bisa menolak. Ia tidak bisa berkata tidak, tidak bisa marah, tidak bisa menuntut haknya.

“Iya … aku ke sana sekarang. Kamu tenang aja rapatnya,” jawab Merlin akhirnya lirih.

“Makasih banget, Mer. Nanti aku nyusul secepat mungkin.”

1
Himna Mohamad
👍👍👍👍👍
Moms Shinbi
lanjut thor
Himna Mohamad
gass kk
Green_Rose: yuhu... esok yah. insyaallah
total 1 replies
rh
lanjut thor
Green_Rose: oke siap. tapi esok yah. insyaallah
total 1 replies
Moms Shinbi
keren thor
Gricelda Pereira
oiiiiiiiii lanjuuuut dong thoor
Moms Shinbi
gasss thor
Green_Rose: yuhu, esok ya esok. insyaallah
total 1 replies
rh
lanjut thor
Green_Rose: Oke, siap.

makasih banyak udah mau mampir
total 1 replies
Wayan Sucani
Nyesek
Green_Rose: makasih banyak. 😭😭😭😭😭 terharu aku tuh
total 1 replies
rh
lanjut thor
Green_Rose: siap laksakana
total 1 replies
Moms Shinbi
cepat pergi merlin buat ray menyesal tpi jngn mo kenbali padanya.
Green_Rose: hiks hiks hiks.
total 1 replies
Moms Shinbi
astaga dadaku rasanya sesak bnget pasti saki jdi marlin
🥹🥹
Green_Rose: huhuhu... banget. merlin cukup sabar yah. kalo aku, mmm entahlah
total 1 replies
Moms Shinbi
ayo lnjtut thor buat rey nyesel
Green_Rose: siap. entar kita bikin dia jungkir balik ngejar
total 1 replies
Alia Chans
keren😍
Green_Rose: yuhu🌹🌹🌹🌹🌹
total 1 replies
Himna Mohamad
merlin tinggalin aja laki2 seperti itu
Green_Rose: iy ih... udah aku katakan gitu sama Merlin. eh... tu anak kekeh sih
total 1 replies
Himna Mohamad
notif yg ditunggu2
Green_Rose: Ya allah. makasih banyak udah mau mampir. 😭 pen nangis rasanya saat dapat komen di karya aku. aku pemula
total 1 replies
Moms Shinbi
pergi saja tingglin suamimu biar dia sadar
Green_Rose: Ya Allah makasih banyak buat komen pertama yang datang ke karya aku. makasih udah mau mampir
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!