Setelah lima tahun menikah, miliarder Axel Stone yakin bahwa istrinya, Olivia Stone, tidak mencintainya. Olivia juga yakin bahwa suaminya masih mencintai mantannya dan pernikahan mereka hanyalah pernikahan demi kepentingan semata. Axel menyerahkan surat gugatan cerai kepadanya, tetapi segera menyesali keputusan impulsifnya itu. Dalam upaya putus asa untuk memenangkan hatinya kembali, Axel menunda proses perceraian tersebut. Olivia, yang sudah muak dengan pertemuan-pertemuan suaminya dengan mantannya, memutuskan untuk tetap melanjutkan proses perceraian.
Apa yang akan dilakukan Axel ketika ia menyadari bahwa ia telah membuat kesalahan terbesar dalam hidupnya? Akankah Olivia membuatnya membayar atas pengkhianatannya atau justru jatuh cinta padanya lagi?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Minaaida, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab. 15 Pemikiran Yang Mendalam
Olivia....
Aku tahu apa yang ku ucapkan pada Alex terlalu kasar dan kejam, tapi aku sudah terlalu marah. Kata-kata itu meluncur keluar begitu saja dari mulutku. Aku bisa melihat luka di matanya, aku tak sanggup menatapnya, maka aku pun bergegas pergi meninggalkan kamarku.
Kepalaku masih pening sehingga aku memutuskan untuk turun ke bawah untuk mengambil air minum. Aku melihat ada Nani, koki kami sedang memasak di dapur.
Ketika dia melihatku, dia terkekeh pelan dan aku terpaku. "Nani, apa yang lucu?" tanyaku seraya menautkan alis.
Dia terdiam sejenak sebelum akhirnya dia menjawab pertanyaanku. "Kemarin malam, kamu mabuk berat sampai-sampai tak mampu berjalan. Tuan Alex yang menggendongmu sampai ke atas." Lalu dia mulai tertawa lagi.
Tadinya aku sangat kesal, tapi mau tak mau, aku mendatanginya juga. Aku dan Nani berteman baik meskipun dia hanya koki di rumah ini.
"Gadis bodoh!" ucapku sambil tertawa dan meletakkan gelas di meja. Tapi pertanyaan Nani berikutnya membuat aku benar-benar tidak bisa berkutik.
"Apakah kau dan Alex baik-baik saja?" tanyanya dengan wajah penuh kecemasan dan juga ingin tahu.
Nani adalah orang yang asyik diajak ngobrol, tapi hubungan kami belum sampai pada tahap di mana aku bisa menceritakan masalah pernikahanku kepadanya.
Dia pasti menyadari ketegangan antara Alex dan aku, atau mungkin dia mendengar percakapan kami saat kami bertengkar.
Aku tahu dia benar-benar peduli, tapi aku tidak merasa nyaman membicarakan hal itu.
"Yeah, tidak ada yang perlu dikhawatirkan," dustaku, sambil meletakkan gelas di atas meja, "Masakanmu baunya harum sekali," ucapku kemudian, mencoba mengalihkan pembicaraan.
Nani mengerti jika aku tidak ingin membicarakan masalahku maka dia pun tidak lagi bertanya. "Terima kasih. Hari ini aku memasak sesuatu yang istimewa." ucapnya sambil mengangguk.
Tak lama kemudian, aku meninggalkan dapur menuju ke kamarku di lantai atas. Untung saja, Alex sudah pergi dari kamarku. Aku berjalan masuk ke kamarku dan mengunci pintu.
Aku kembali merebahkan diri di tempat tidur dan membuka ponselku. Aku ingin melihat blog - blog yang memberitakan tentang pernikahan kami dan juga komentar - komentar mereka.
Sebenarnya itu bukanlah hal yang baik untuk dilakukan namun aku tidak peduli. Postingan mereka mengenai pernikahanku sangat brutal namun komentar yang mereka berikan lebih buruk lagi. Orang-orang banyak yang membicarakan hal itu dan mereka bahkan menikmati pemberitaan itu.
Bahkan ada nitizen yang bilang aku tak punya peluang melawan model itu. Ada lagi komen yang mengatakan bahwa Alex hanya memanfaatkan aku untuk mengisi waktu saja. Yang paling menyakitkan adalah ketika aku membaca sebuah komentar yang mengatakan bahwa aku mengharapkan sebuah kalung dari Alex namun Alex memberikannya pada wanita lain yang lebih baik.
Air mataku jatuh membasahi pipi setelah aku membaca semua komentar - komentar kasar itu, setiap kata-kata yang mereka ucapkan bagaikan pisau yang menusuk di hatiku. Aku tak percaya mengapa ada orang-orang itu begitu kejam.
Seharusnya aku sudah terbiasa berpikir seperti itu karena hidupku selalu menjadi sorotan publik, tapi tak ada seorang pun yang bisa terbiasa dengan hal itu.
Mereka memang pernah membicarakan aku di blog-blog sebelumnya, tapi tidak separah ini. Aku ingin membalas mereka, tapi aku tahu itu sia-sia; berdebat dengan mereka hanya akan memperparah situasi.
Aku menarik napas panjang, mencoba untuk menenangkan diri. Aku mengingatkan diri sendiri bahwa orang-orang itu tidak mengenal diriku, mereka tidak tahu mengenai kehidupanku, dan kata-kata mereka tidak berarti.
Aku tahu, aku harusnya berhdi enti membaca komentar-komentar tersebut tapi aku tidak bisa. Aku terus menscroll dan menscroll lagi, terus membaca dan terus menyiksa diriku sendiri dengan semua komentar - komentar kejam itu.
Tiba-tiba ponselku berdering, aku terkejut, tersadar dari lamunanku. Aku bahkan tidak sadar kalau airmataku sudah mengalir sejak tadi.
Aku mengusap air mataku dan buru - buru mengangkat telpon. Itu telepon dari Sarah. Aku belum pernah berbicara lagi dengan keluargaku sejak aku marah setelah acara makan siang itu.
"Hei, aku nelpon untuk mengecek bagaimana keadaanmu," ucap Sarah, suaranya dipenuhi oleh kecemasan. "Kamu sedang apa?" tanya Sarah lagi, suaranya kini terdengar lembut dan pelan.
"Aku baik-baik saja. Kamu gimana?" jawabku, suaraku bahkan masih terdengar serak dan sendu.
"Olivia, kau tahu, kau bisa cerita padaku semua. Jangan pendam semuanya sendiri." ucap Sarah ketika dia menyadari keadaanku.
Aku menghela nafas. "Sarah, aku terlalu lelah untuk membahas masalah itu. Bukankah kamu sudah melihat semua postingan dan komentar - komentar itu." ucapku, air mataku mulai meluncur lagi.
"Kupikir, kita sudah sepakat untuk menghindari bagian komentar yang menyangkut tentang dirimu." Suara Sarah penuh kekhawatiran dan juga frustrasi.
"Aku tahu, tapi aku tidak bisa menahan diri." aku menghela nafas.
"Apa Alex mengatakan sesuatu tentang semuanya." tanya Sarah.
"Dia mengatakan bahwa semua itu tidak berarti apa-apa. Katanya itu hanya reuni dua teman lama yang bertemu untuk minum kopi."
"Apa kamu percaya padanya?" Tanya Sarah dan aku hanya mengangkat bahu.
"Aku tidak tahu, aku ingin mempercayainya tapi aku tidak bisa.
Dari cara Alex mengatakan situasi yang terjadi aku percaya dia tidak berbohong. Tapi aku tidak bisa menerima begitu saja karena ada bagian dari diriku yang tidak lagi percaya padanya."
"Aku harap semua ini segera berlalu." ucap Sarah.
Dia benar, aku memang sudah lelah dengan semua ini dan aku ingin move on pada tahap selanjutnya dalam hidupku ini.
Di benakku, dipenuhi oleh pemikiran yang mendalam mengenai pernikahanku. Apakah aku ingin memperbaiki pernikahan kami atau bercerai dengan Alex?