NovelToon NovelToon
Sultan Desa

Sultan Desa

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / CEO / Balas Dendam
Popularitas:7.1k
Nilai: 5
Nama Author: Miss Ra

​"Menikahlah dengannya, atau kamu pergi dari rumah ini tanpa membawa apa pun!"

​Tepat dua hari sebelum pernikahan adiknya, Aira dipaksa menikah dengan pria kusam dari ujung desa demi membuang sial. Dewa, pria yang hanya bermodalkan motor tua dan pakaian lusuh, menjadi suaminya dalam semalam.

​Aira sudah bersiap hidup melarat. Namun, saat ia mulai tulus mencintai sang suami di tengah kemiskinan, sebuah iring-iringan mobil mewah datang menjemput.

​Siapa sangka, pria yang dihina keluarganya sebagai fakir itu ternyata pemegang tahta tertinggi di kota ini. Saat topeng terbuka, mampukah Aira bertahan di dunia suaminya yang penuh intrik, atau justru ia yang akan berbalik meninggalkan kemewahan itu?

Simak Kisah Selanjutnya Di Cerita Novel => Sultan Desa.
By - Miss Ra

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Miss Ra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 7

Pagi itu, udara di dalam kontrakan terasa jauh lebih sunyi tanpa kehadiran Dewa. Aira menatap surat singkat suaminya yang masih tergeletak di atas meja kayu.

Kerja lembur di luar kota. Kalimat itu bagi Aira terdengar seperti usaha putus asa seorang pria yang sedang mencoba menyatukan kembali harga dirinya yang hancur setelah dipermalukan mantan bosnya kemarin.

"Mas Dewa pasti sangat tertekan," gumam Aira sambil meremas ujung daster batiknya.

Ia teringat wajah Dewa yang lelah dan tuduhan tetangga yang menyebutnya pengangguran. Aira tidak bisa hanya berdiam diri. Jika suaminya sedang berjuang di luar sana, ia juga harus bergerak. Ia harus menjadi penyangga, bukan beban.

Aira segera mengambil ponsel tuanya dan menghubungi Bu Lastri, tetangga yang juga bekerja sebagai penyalur tenaga katering lepas untuk acara-acara besar.

"Bu, apakah masih ada lowongan untuk pelayan sore ini?" tanya Aira dengan nada memohon.

"Oh, Aira? Kebetulan sekali! Ada acara syukuran besar di Hotel Grand Mahkota. Salah satu stafku mendadak sakit. Honornya lumayan, 250 ribu untuk satu shift, tapi kamu harus kuat berdiri lama dan melayani tamu-tamu VIP. Bagaimana ?"

"Saya mau, Bu! Saya pasti datang tepat waktu," jawab Aira tanpa ragu. Angka 250 ribu itu baginya setara dengan stok beras dan lauk untuk dua minggu ke depan.

Hotel Grand Mahkota, 19.00 WIB.

Kemegahan hotel itu sempat membuat Aira pusing. Lampu kristal yang menjuntai dari langit-langit memantulkan cahaya yang menyilaukan, sangat kontras dengan lampu neon berkedip di kontrakannya.

Aira mengenakan seragam putih-hitam katering yang sedikit longgar di tubuhnya yang ramping. Rambutnya diikat rapi, ditutup dengan jilbab hitam yang diselipkan ke dalam kerah.

"Ingat, Aira. Jangan banyak bicara, tersenyum, dan pastikan gelas tamu selalu terisi," pesan Bu Lastri sebelum melepaskannya ke area ballroom.

Aira membawa nampan berisi gelas-gelas minuman berwarna keemasan. Ia berjalan dengan anggun, meski kakinya mulai terasa pegal karena harus memakai sepatu pantofel datar yang sedikit kekecilan.

Segalanya berjalan lancar, hingga ia sampai di sebuah meja bundar di pojok ruangan. Di sana, duduk sekelompok wanita muda dengan pakaian bermerek dan tas yang harganya mungkin bisa membeli seluruh gang rumahnya.

"Lho? Mbak Aira?"

Suara itu terdengar melengking dan sangat akrab. Aira membeku. Di hadapannya, duduk Siska, adiknya, bersama dua teman sosialitanya Vanya dan Clarissa. Mereka adalah anak-anak pengusaha sukses yang selalu memandang rendah siapa pun yang berada di bawah level mereka.

Siska menutup mulutnya dengan tangan, berpura-pura terkejut. "Ya ampun, Mbak! Jadi sekarang kau... menjadi pelayan katering?"

Vanya tertawa kecil sambil mengamati Aira dari ujung kaki sampai ujung jilbab. "Siska, ini kakakmu yang menikah dengan kuli itu, ya? Kasihan sekali, baru menikah beberapa hari sudah harus banting tulang jadi pelayan. Suaminya beneran nggak modal, ya?"

Wajah Aira memanas. Ia mencoba mempertahankan profesionalismenya. "Selamat malam. Silakan dinikmati minumannya," ucap Aira sambil meletakkan gelas di depan mereka dengan tangan yang sedikit gemetar.

"Eh, tunggu dulu," Clarissa menahan tangan Aira. "Gelas ini kurang penuh. Tuangkan lagi."

Saat Aira mencondongkan tubuh untuk menuangkan jus jeruk dari teko kaca, Vanya sengaja menggerakkan sikunya dengan kasar, menghantam tangan Aira.

Prang!

Teko itu terlepas dari genggaman Aira, isinya yang dingin dan lengket tumpah sepenuhnya ke atas gaun Vanya, namun sebagian besar justru menyiram bagian depan seragam Aira.

Jus jeruk itu meresap ke dalam kain putih seragamnya, membuatnya basah kuyup dan transparan di beberapa bagian.

"Aduh! Bajuku! Kamu tahu tidak harga gaun ini berapa?" teriak Vanya histeris, padahal hanya sedikit bagian bawah gaunnya yang terkena percikan.

"Maaf, Nona... saya tidak sengaja. Tadi tangan saya tersenggol," Aira panik, ia segera mengambil tisu dan mencoba membersihkan tumpahan di meja.

"Jangan sentuh aku dengan tangan kotormu itu!" bentak Vanya sambil menepis tangan Aira.

Siska tertawa puas melihat kakaknya dipermalukan di depan umum. "Mbak, Mbak... kalau memang miskin itu tahu diri. Jangan memaksakan diri bekerja di tempat mewah kalau akhirnya cuma bikin malu. Lihat tuh, baju Mbak jadi kayak orang habis kehujanan got. Menjijikkan."

Manajer katering datang berlari-lari. Melihat keributan itu, ia langsung membentak Aira tanpa bertanya. "Aira! Kamu ini bagaimana? Cepat ke belakang! Kamu dipecat! Jangan harap dapat honor hari ini!"

Aira menunduk dalam. Air mata mulai menggenang di pelupuk matanya. Ia tidak hanya kehilangan 250 ribunya, tapi ia juga kehilangan harga dirinya di depan adiknya sendiri.

Kontrakan, 22.30 WIB.

Hujan deras mengguyur kota saat Aira berjalan kaki dari halte bus menuju gang kontrakannya. Seragam putihnya yang basah kini bercampur dengan air hujan, membuatnya menggigil hebat. Mata bengkaknya tidak bisa lagi menyembunyikan rasa sakit hati yang ia rasakan.

Begitu sampai di depan pintu, ia melihat sebuah motor tua terparkir. Dewa sudah pulang.

Aira mencoba mengusap wajahnya, mengatur napas agar suaranya tidak parau. Ia tidak ingin Dewa tahu apa yang terjadi. Ia tidak ingin menambah beban suaminya.

Aira membuka pintu dengan perlahan. Di dalam, lampu sudah menyala. Dewa sedang duduk di kursi kayu sambil membaca sesuatu di ponsel lamanya. Begitu mendengar pintu terbuka, Dewa mendongak.

Wajah Dewa yang tadi tenang, seketika berubah menjadi sangat gelap. Ia berdiri perlahan, matanya menatap tajam pada kondisi istrinya.

Aira berdiri mematung di ambang pintu. Rambut yang keluar dari jilbabnya lepek, bajunya basah kuyup, berbau jus jeruk yang asam, dan matanya merah karena terlalu banyak menangis.

"Aira... kamu dari mana?" suara Dewa rendah, namun ada getaran kemarahan yang sangat dalam di sana.

"Tadi... tadi ada kerjaan katering mendadak, Mas. Terus kehujanan di jalan," suara Aira bergetar, ia mencoba tersenyum meski bibirnya membiru karena kedinginan.

Dewa melangkah maju, mendekati Aira. Ia memegang bahu istrinya yang gemetar. Ia bisa melihat noda kekuningan di baju putih Aira. Ia bukan orang bodoh, ia tahu itu bukan sekadar air hujan. Itu adalah bekas tumpahan minuman.

"Siapa yang melakukannya?" tanya Dewa, suaranya kini terdengar sangat dingin, seolah es dari kutub merayap ke dalam ruangan itu.

"Enggak ada, Mas. Tadi cuma kecelakaan kecil..."

"Siapa, Aira?!" Dewa sedikit membentak, membuat Aira terlonjak.

Aira akhirnya luruh. Ia menutup wajahnya dengan tangan dan menangis sesenggukan. "Siska... teman-temannya... mereka bilang aku pelayan rendahan. Mereka bilang suamiku nggak modal. Aku cuma mau cari uang buat kita, Mas... tapi mereka..."

Dewa menarik Aira ke dalam pelukannya. Ia memeluk istrinya dengan sangat erat, membiarkan bajunya ikut basah. Rahang Dewa mengeras, matanya berkilat penuh amarah yang mematikan.

Selama ini ia membiarkan dirinya dihina, namun melihat Aira diperlakukan seperti sampah hanya karena kemiskinan yang ia ciptakan sebagai sandiwara, itu adalah garis batas yang tidak boleh dilewati siapa pun.

"Mas... maafkan aku. Aku gagal dapat uangnya," isak Aira.

Dewa mengepalkan tangannya di belakang punggung Aira. Di dalam saku celananya, ponsel rahasianya bergetar. Sebuah pesan dari Bara masuk.

"Tuan Muda, Nyonya Widya baru saja membeli hotel Grand Mahkota tempat Nyonya Aira bekerja tadi. Beliau menyuruh manajer di sana untuk memecat Nyonya Aira secara tidak hormat."

Dewa melepaskan pelukannya perlahan. Ia mengusap air mata di pipi Aira dengan ibu jarinya. Tatapannya kini tidak lagi seperti kuli bangunan yang lemah. Ada sorot mata seorang predator yang siap menerkam mangsanya.

"Masuklah, mandi air hangat. Aku sudah masakkan air," ucap Dewa dengan suara yang tiba-tiba sangat tenang, ketenangan yang justru lebih menakutkan daripada amarah meledak-ledak.

Aira mengangguk dan berjalan menuju kamar mandi.

Begitu pintu kamar mandi tertutup, Dewa merogoh ponsel rahasianya. Ia menelepon Bara.

"Bara," ucap Dewa dingin saat telepon diangkat.

"Ya, Tuan Muda ?"

"Hotel Grand Mahkota... hancurkan karier manajer yang memecat istriku malam ini. Dan soal Siska..." Dewa menjeda, senyum sinis tersungging di bibirnya. "Batalkan semua kerjasama logistik antara Pradipta Group dengan perusahaan suaminya. Katakan pada mereka, itu adalah harga yang harus mereka bayar karena telah menyentuh istriku."

"Baik, Tuan. Lalu soal Nyonya Besar ?"

"Katakan pada Ibuku... jika dia ingin bermain perang, maka aku akan memberinya perang yang sesungguhnya. Besok pagi, aku akan membeli seluruh saham perusahaan konstruksi yang mencoba menggusur gang ini. Jangan ada satu buldozer pun yang berani menyentuh tanah ini sebelum aku mengizinkannya."

Dewa menutup teleponnya. Ia menatap pintu kamar mandi di mana suara kucuran air terdengar.

"Tunggu sebentar lagi, Aira," bisik Dewa pada kegelapan malam. "Mereka akan tahu, bahwa pelayan katering yang mereka hina malam ini adalah pemilik dari seluruh kemewahan yang mereka banggakan."

...----------------...

To Be Continue ....

1
ρυтяσ kang'typo✨
malu kali Ai kalo Dewa jujur dia cembokur🤣🤣🤣
ρυтяσ kang'typo✨
hanya di novel ini... 🥺🥺🥺Dewa bener" mengikuti Ai yang sederhana, dan cinta itu tumbuh di kehidupan mereka yang sederhana dulu di gang sempit, semoga tak pernah berubah yaaa, bahagia selalu
Yunita Asep
waktu itu kan Aira, panggilnua ayah kok jadi ppah y..
Yunita Asep
lanjuutt...
ρυтяσ kang'typo✨
weeeh datang" mau minta mahar buat anak'y, lah wong anak'y saja di usir setelah akad ko😏😏apa kau pantas di sebut ayah??? g punya kaca ya pak di rumah 🤦‍♀️😌🤪
ρυтяσ kang'typo✨
sesayang itu Dewa sama Ai🥰🥰🥰MasyahAllah
Patrish
manis sekali kalian berdua...biarkan saja para tikus got berulah..ga akan ngefek
Patrish
aku membayangkan..kok dasternya Aira seperti punyaku ya😩😩😩
Patrish: kandhani ora percoyo
total 2 replies
Yunita Asep
lanjuutt dong authorr ceritanya baguuss aku suka...
Yunita Asep
alhmdulillah Aira, berbahagialah kamu, nikmati menjadi istri sultann...
Yunita Asep
Naah gitu dong seneng bcnya...
Yunita Asep
ya... mmhnya Dewa sakit, pasti gk tega trus pulang dah jngn ap nggk thorr...
Yunita Asep
lanjuutt.,
Yunita Asep
syukurin lu Arvin Siska... songong sih... lanjuutt...
Yunita Asep
dngn kebohongnnya justru dia akn kehilangn istrinya...
Yunita Asep
ketauan aj sih gpp y thorr, udah ketauan in Aira mah bukan wanita matre...
Yunita Asep
kasih panjang umur ayahnya Aira thorr bir tau syp sbnrnya suami Aira...
Yunita Asep
asyeekk nih certa baru serru... kasih tau Siska.. y.,
Yunita Asep
mampirr y thorr.
ρυтяσ kang'typo✨
Good Ai...jangan biarkan mereka merendahkan mu hanya karna baju dan rantang di tangan, dikira haku dan gila🤦‍♀️😌hadeeeh...padahal orang kampung lebih jujur dari pada orang kota yang sok baik di balut dengan baju mewah'y namun hati'y busuk🤭🤭🤭nak kan u harus siap mentak lagi Ai, di rumah ada tamu tak di undang yang mau kembali sam suami mu
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!