NovelToon NovelToon
Mata Malaikat Dan Titisan Si Buta

Mata Malaikat Dan Titisan Si Buta

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Epik Petualangan / Fantasi
Popularitas:885
Nilai: 5
Nama Author: Iman Darul

Seorang bayi terlahir dalam keadaan cacat buta diberi nama Jalaludin Al Bulqini. Kesaktiannya di dapatkan dari darah sang ibu yang ternyata keturunan Si Buta Dari Gua Hantu.

Di saat bersamaan lahir seorang bayi yang juga buta, yang akan menjadi lawan antara putih dan hitam. baik dan buruk.

mereka memperebutkan mustika yang ternyata tersimpan di dalam tubuh seorang perempuan yang lahir di waktu yang sama, keturunan Ratu Ageng Subang.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Iman Darul, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Mustika itu Bernama Kirana

...Apa yang terlihat oleh mata, belum tentu terasa dalam hati....

...Apa yang terasa nyata, belum tentu lebih berharga dari sebuah cita-cita yang dijunjung tekad....

...Apa yang diinginkan, belum tentu sejalan dengan takdir yang diterima....

...Sampai pada akhirnya, kita harus menerima jalan yang ditentukan....

Sepuluh tahun berlalu...

Seorang pria turun dari sebuah bus, ia melangkah perlahan, menyusuri trotoar, tongkatnya meraba jalan, menunjukkan arah. Sebagian orang memandang dengan tatapan nanar, sebagian menghela napas panjang. Sekelompok wanita sedang berdiri menunggu jemputan berbisik-bisik, "Sayang ya... padahal ganteng, tapi buta." Bisikan itu terbawa angin, mendarat di kuping pria itu, alisnya seketika mengadu. Sedetik kemudian ia berbelok menuju kerumunan tersebut, lalu berdiri tepat di depan wanita tersebut. "Sayang ya... padahal cantik, tapi lemes." Ucapan itu pelan terdengar, tapi membuat mulut-mulut terbuka lebar dan bola mata membesar. Pria itu kembali berjalan menuju pintu gerbang terminal.

Ia adalah Jalal yang sudah berumur 27 tahun. Tubuhnya bertambah tinggi dengan masa otot yang membesar, di rahangnya tumbuh bulu-bulu halus memanjang sampai dagu.

"Ojek, Mas," Seorang ojek berjaket parasut dengan logo motor menghampiri Jalal.

Jalal terdiam, seakan bisa melihat, ia menoleh ke ojek tersebut. "Saya baru saja tiba di Jakarta... lagi nyari alamat saudara, Bapak bisa bantu?" Selembar kertas disodorkan. Ojek itu menerima lalu membacanya.

"Waduh... kayanya Mas, salah terminal, harusnya turun di Kampung Rambutan, sedangkan ini Kali Deres, Mas," ucap Ojek tersebut, sekilas senyum tampak di bibirnya.

Jalal mengerutkan dahi, ia menerima kembali kertas tersebut. "Berarti saya salah terminal?" Tangannya merapikan rambutnya yang turun ke dahi.

"Iya, Mas salah, saya bisa antar sih, cuman..."

Kepala Jalal terangkat, bibirnya melengkung ke atas. Tongkatnya bergerak cepat, menusuk punggung kaki Ojek itu.

"Awww," Ia berteriak kesakitan sambil meloncat-loncat, memegang kakinya yang terasa seperti tertimpa batu. "Mas, lihat-lihat dong!" bentaknya, sambil terduduk menipu kakinya yang merah.

Jalal pura-pura menunduk, memegang bahu si ojek, "Maaf, Mas... saya buta, nggak bisa lihat."

Ojek itu mengangkat pandangannya, melihat wajah Jalal, tiba-tiba bulu kuduknya meremang. "M-maaf Mas, s-saya nggak tahu kalau Mas buta." Ojek itu menelan ludah, merasakan hawa yang membuat sesak napas.

Jalal mengangguk, "Makanya Mas, pamali nipu orang, apalagi yang buta, seperti saya." Ia meninggalkan ojek tersebut yang menunduk, sambil memegang kakinya yang bengkak.

Sepasang mata melihat kejadian itu dari sebuah mobil yang terparkir di pinggir jalan. Ia melemparkan sebutir Sukro ke dalam mulutnya, mengambil ponsel dari atas dashboard.

"Bos, Jalal sudah tiba."

"Bagus, ikuti terus... jangan sampai hilang." Terdengar suara berat yang parau, memberikan perintah.

Ia pun menyalakan mobil, menginjak gas perlahan, mengikuti mobil angkot yang dinaiki Jalal.

----

Sementara Satya sedang duduk di sebuah ruang VIP sebuah hotel milik keluarga Wijaya. Tubuhnya pun mengalami perubahan, rambutnya yang tergerai panjang, diikat oleh sebuah tali dengan hiasan naga emas. Ia mengenakan setelan jas putih lengkap dengan sepatu pantofel putih. Tangannya berulangkali mengetuk meja di depannya.

Ibu dan Ayahnya duduk dihadapannya dengan kepala tertunduk. Seolah bisa melihat, kepala bergerak ke arah keduanya–bergantian.

"Ibu... Jalal sudah tiba, sepertinya ia pun mengincar mustika tersebut. Apakah ibu sudah menemukan dimana letaknya?"

Alexa mengangkat wajahnya, mukanya pucat. "Maafkan ibu, Satya, sudah 50 anak yang lahir pada hari itu, diperiksa dan dibawa... tapi–"

BRAAK

Satya memukul meja, "Aku tidak mau tahu, periksa lagi! Kalau perlu serang kantor catatan sipil, siapapun yang lahir hari itu, culik! jangan sampai Jalal yang menemukannya terlebih dahulu."

Alexa berdiri dengan lutut gemetar, "Baik, Satya ibu akan cari lagi." Ia berjalan tergesa, seolah detik akan menelan nyawanya.

Wijaya–Ayah Satya membeku di kursinya, bahunya bergoyang pelan. Semenjak ia terbangun dari komanya lima tahun yang lalu, ia kehilangan sifat kejamnya, sekarang ia hanya boneka bagi Satya–anaknya yang telah memberi tanda hitam di setengah badannya.

"Ayah..."

Wijaya bergoyang–terkejut mendengar panggilan itu.

"Besok, ayah boleh kembali ke kantor, pimpin kembali perusahaan kita... tapi selalu ingat, kalau ayah mengkhianatiku lagi, kali ini bukan ranjang rumah sakit, tapi liang kubur yang akan menyambut ayah."

Tenggorokan Wijaya tercekat, napasnya tercekik. Ia hanya mampu mengangguk.

"Sekarang... ayah boleh istirahat," ujar Satya dengan nada pelan.

Wijaya bangun dari kursinya, sama dengan istrinya, ia berjalan tergesa, seperti melihat malaikat maut ada di hadapannya.

----

​Jalal duduk di pojok angkot yang pengap. Suara deru mesin tua yang tidak sinkron, teriakan kernet yang parau, dan bau keringat penumpang lain menjadi peta sensorik bagi panca inderanya. Ia tidak butuh mata untuk tahu bahwa sebuah mobil sedan hitam dengan mesin halus terus menjaga jarak tiga mobil di belakang angkot ini sejak mereka meninggalkan Terminal Kali Deres.

Bibirnya melengkung membentuk senyum tipis yang tak terlihat oleh siapa pun. ​Ia meraba tongkatnya, merasakan serat kayu yang sudah menghalus karena gesekan tangannya selama sepuluh tahun terakhir, dimana ia bersemedi di puncak gunung Semeru, di tempat yang tidak bisa dicapai oleh pendaki biasa dan dibimbing oleh seorang guru yang ditakdirkan melatihnya.

​"Kiri, Bang," ucap Jalal tenang.

​Ia turun di sebuah persimpangan yang ramai, tepat di depan sebuah pasar tradisional yang mulai tutup. Tanah becek dan bau sisa sayuran menyambut langkahnya. Jalal sengaja tidak langsung menuju alamat yang ada di kertasnya. Ia ingin bermain sedikit. Ia melangkah masuk ke dalam labirin pasar, tongkatnya mengetuk lantai semen yang licin dengan ritme yang konsisten.

​Di belakangnya, seorang pria berpakaian kasual dengan mulut yang masih sibuk mengunyah camilan Sukro keluar dari mobil dan mulai membuntuti dengan langkah terburu-buru. Pria itu adalah salah satu "mata" milik Satya, dididik khusus untuk tidak terdeteksi. Namun, bagi Jalal, langkah pria itu terdengar sekeras suara genderang perang di tengah kesunyian.

Jalal menghentakkan kaki, melesat ke dalam pasar, orang-orang yang sedang berbelanja hanya menoleh sebentar, merasakan angin kencang yang menerpa mereka sesaat.

Melihat itu, pria tadi langsung membuang bungkus camilan. "Sial!" Ia langsung berlari mengejar Jalal yang masih terlihat bayangan punggungnya.

Setelah beberapa puluh meter, pria itu berhenti, napasnya tersengal, matanya mengawasi keadaan sekitar, lalu kembali berlari ke arah Utara.

Jalal keluar dari balik bangunan kayu sebuah toko, ia seperti menatap langit. "Dimana mustika itu? sepertinya... bukan di kota ini." Tongkatnya kembali di gerakkan perlahan, seperti mencari jalan dengan mata batin yang terbuka lebar.

----

Desa Kragan, Kabupaten Tuban.

"Cah Ayu... lagi opo?" Miranti mencolek pipi seorang anak berumur sepuluh tahun, yang sedang duduk di atas bangku bambu.

"Aku lagi ngenteni, ibuku, Mbak Ranti, lawang omahe neng gembok," jawab anak tersebut. Mata anak itu selalu berbinar, dengan senyum yang selalu menghiasi wajahnya yang cantik.

Miranti menghembuskan napas, melihat Kirana yang masih memakai seragam sekolah. Ia mengeluarkan sebungkus nasi kucing yang sengaja ia beli untuk Kirana.

"Ini, Mbak beli nasi, sengaja untuk kamu. Makan dulu, sudah hampir ashar." serunya.

Kirana tersenyum semakin lebar, "Wah, Mbak Ranti selalu tahu, kalau Kirana lapar. makasih ya." Ia menjawab senang. Tangannya langsung membuka bungkus nasi, dan makan dengan lahap.

"Mbak, pulang dulu ya... habisin makannya." Tangan Miranti mengelus kepala Kirana, matanya selalu berkaca-kaca, melihat anak itu. Anak yang selalu dijauhi oleh tetangga sekitar, karena kelahirannya menyebabkan banjir bandang yang menelan korban, termasuk Mas Joko–kakaknya sekaligus ayah dari Kirana.

Miranti melangkah pulang, setelah menoleh ke arah Kirana yang sibuk dengan nasinya.

"Semoga kamu kuat, Kirana." ucap Miranti lirih.

1
Muqimuddin Al Hasani
💪 terimakasih
T28J
semangat a' /Rose//Rose//Rose//Rose/
T28J
keren pembukaan nya kak 👍👍👍
Muqimuddin Al Hasani
Sebuah karya yang diambil dari legenda Indonesia
T28J
👍👍👍
Muqimuddin Al Hasani
tadinya mau dioplos mbg
Muqimuddin Al Hasani
🤣🤣 untung nggak pake pestisida
T28J
anjay dioplos pakek darah
Muqimuddin Al Hasani
🤣🤣🤣 teu nyaho ieu rek komedi
T28J
eleuh eleuh si risma.. /Facepalm/
T28J
ngegeledak sia langsung mencret 🤣
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!