Tiga puluh tahun lalu, kakak perempuan Rakha tewas secara tragis akibat kejahatan konglomerat Hardi Adi Soetomo. Kini, Rakha telah tumbuh menjadi pengacara kelas atas yang penuh kuasa, namun hidupnya hanya didorong oleh satu tujuan: balas dendam.
Rencananya sempurna. Ia akan menghancurkan Hardi melalui titik lemahnya—sang putri semata wayang, Maharani Ayudia Soetomo, bintang muda yang sedang bersinar. Rakha mendekati Maharani, berniat menjadikannya alat penghancur bagi ayahnya sendiri.
Namun, di tengah intrik dan manipulasi, Rakha goyah. Maharani terlalu polos dan tidak tahu apa-apa tentang dosa masa lalu ayahnya. Saat kebenaran mulai terkuak dan perasaan mulai tumbuh, Rakha terjebak dalam pilihan mustahil: Menuntaskan sumpah dendamnya atau melindungi wanita yang seharusnya ia hancurkan?
Sebuah pertaruhan antara kebencian masa lalu dan cinta yang tak terduga.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mikaelach09, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB TIGA BELAS
Penthouse itu nyaris tanpa suara. Hanya denting halus es batu yang saling berbenturan di dalam gelas bourbon, menambah kesan dingin di ruangan yang luas. Rakha Wiratama duduk di kursi kulit hitam yang megah, tubuhnya sedikit bersandar, dasi sudah terlepas, kemeja gelapnya terbuka dua kancing, menyingkap dada bidangnya. Asap cerutu menari pelan di udara, meninggalkan jejak tipis beraroma tembakau mahal yang menggantung di langit-langit tinggi.
Di depannya, televisi layar lebar menayangkan breaking news. Gambar wajah Maharani Ayudia Soetomo memenuhi layar-matanya sembab, wajahnya tertunduk, blitz kamera wartawan berkilat tanpa ampun, membuat sosok itu tampak rapuh dan tak berdaya. Suara reporter bergema di ruang hening: saham keluarga Soetomo jatuh bebas, investor panik, citra hancur.
Rakha menyeringai, meneguk bourbonnya. Cairan amber itu meluncur membakar kerongkongannya, tapi justru memberinya kepuasan. Tawa pendek, rendah, keluar dari bibirnya.
"Begitu mudahnya... hanya satu video. Satu retakan kecil, dan kerajaan Soetomo sudah goyah. Raja besar itu ternyata cuma berdiri di atas kaca rapuh."
Rakha menyandarkan tubuhnya di kursi kulit, jari-jarinya mengetuk perlahan lengan kursi seiring kilatan berita tentang Maharani yang memenuhi layar televisi. Senyum samar muncul di sudut bibirnya, tapi matanya dingin, kosong.
"Lihatlah dirimu sekarang, Maharani... begitu rapuh di mata dunia. Air matamu menjadi tontonan. Orang-orang mungkin merasa iba, tapi aku? Aku hanya melihat harga yang terus naik. Setiap tangisanmu adalah kunci, yang akan memaksa ayahmu membuka semua pintu yang selama ini ia kunci rapat-rapat."
Ia mengangkat cerutu, mengisap dalam-dalam, lalu menghembuskan asap ke arah layar seakan ingin menutupi wajah Maharani yang terpampang di sana.
"Ayahmu akan menyerah. Ia akan berlutut, menawar, bahkan mengorbankan apa pun yang selama ini ia banggakan. Kasih sayang pada putrinya membuatnya buta... dan kebutaan itulah yang akan kubayar dengan sabar tiga dekade ini."
Rakha menyandarkan kepalanya ke sandaran kursi, menatap layar dengan puas. Suaranya merendah, nyaris seperti bisikan yang ditujukan langsung ke wajah Maharani di balik kaca tipis itu.
"Melihatmu hancur... adalah obat bagiku. Imun yang menjaga aku tetap hidup selama ini. Dan sebentar lagi, dirimu akan tahu, Maharani-segala sesuatu yang kuciptakan hanya untuk satu momen: saat keluargamu jatuh berlutut di hadapanku."
Ia berdiri perlahan, mengambil langkah tenang menuju jendela raksasa yang menghadap kota Jakarta. Malam itu, ribuan lampu kota berkelip seperti bintang yang bisa ia kuasai. Dari pantulan kaca, ia melihat wajahnya sendiri-mata dingin, senyum pongah. Dengan nada getir sekaligus penuh kuasa, ia berbicara seolah menantang bayangan dirinya.
"Kamu pikir kamu abadi, Hardi? Lihatlah... putrimu, yang dirimu junjung seperti mutiara, kini jadi pintu masukku. Bidak terindahmu sudah kugenggam. Sebentar lagi, giliranmu yang jatuh tersungkur."
Ia mengangkat cerutu ke bibir, menarik dalam-dalam, lalu menghembuskan asapnya tepat ke arah bayangan itu. Wajahnya tampak lebih suram di balik kabut asap.
"Maharani... manis sekali dirimu. Kamu bahkan tidak sadar, setiap air mata yang jatuh hanya menaikkan nilaimu di meja tawar-menawar. Bertahanlah. Aku ingin dirimu tetap hidup... supaya kamu bisa saksikan sendiri bagaimana ayahmu berlutut di depanku."
Seolah semesta menjawab, ponsel di meja marmer tiba-tiba bergetar, lampunya berkedip di ruang remang. Nama Reno muncul di layar. Rakha berbalik perlahan, mengangkat ponsel dengan satu tangan, gerakan santai seperti predator yang baru saja memangsa buruannya.
Suara Reno pecah di ujung telepon, panik, terburu-buru, nyaris tercekik.
"Pak... keadaan di hotel makin gawat. Wartawan makin nekat-ada yang nyamar jadi tamu, bahkan coba masuk ke suite Maharani. Dan barusan Maharani terima ancaman baru. Mereka bilang... besok akan ada video lain yang bocor. Lebih kotor, lebih sulit dibendung."
Ia terdengar mengatur napas, suara kertas tergesek di belakang.
"Maharani makin drop, Pak. Saya lihat sendiri, matanya kosong, tangannya gemetar. Kalau terus begini, dia bisa benar-benar hancur. Dan... saya dengar kabar, keluarga Soetomo mulai panik. Ada kemungkinan besar mereka akan bawa ini ke polisi. Kalau itu benar-"
Reno menelan ludah, suaranya mengecil, ketakutan jelas merambat di nadanya.
"Itu bisa jadi titik balik, Pak. Semua mata akan terbuka, semua orang akan ikut campur. Saya... saya khawatir situasi ini lepas kendali."
Suara Reno menembus melalui gagang telepon; nadanya pecah, tiap kata terseret oleh kecemasan. Rakha menutup mata sesaat, lalu membiarkan suaranya yang tenang-terlalu tenang-mengisi celah itu.
"Bagus," katanya pelan, hampir lembut. "Biarkan saja. Semakin besar tekanan, semakin mahal harga yang bisa mereka bayar."
Reno mengerang di seberang, suaranya kering. "Pak... wartawan menembus ke lantai suite. Ada yang nyamar. Ancaman lain masuk-katanya besok akan ada video lagi. Maharani... dia makin lemah. Keluarga Soetomo mungkin akan lapor polisi. Mereka tak lagi hanya menonton, Pak. Mereka-"
Rakha memutus kata-kata Reno dengan senyum kecil yang tak pernah mencapai matanya. Ia menyalakan cerutu baru dengan korek perak, gerakannya lambat, penuh perhitungan. Asap melingkar, menempel di udara seperti lembar Rencana yang tak perlu ditandatangani.
"Polisi hanyalah pertunjukan formal," katanya, suaranya landai tetapi setiap kata menancap. "Media? Mereka lapar. Mereka menggigit lebih dalam daripada hukum bisa mencakar. Biarkan mereka mengamuk. Biarkan mereka mengerumuni. Ketika tak ada lagi tempat bersembunyi, pertanyaan yang muncul bukan lagi soal bukti - tapi soal siapa yang bisa menutup kasus itu paling cepat."
Reno bersuara lebih pelan, ketidakyakinan terdengar jelas. "Jadi... kita tidak melakukan apa-apa? Kita hanya... mengamati?"
Rakha menghela napas, menutup mata sambil mendengar gema berita yang menayangkan potongan wajah Maharani-mata yang dulu berkilau kini dipenuhi pasir kelelahan. Ia membayangkan ayah Maharani, langkahnya yang semakin berat, bendera kebanggaan yang mulai koyak. Gambaran itu membuat senyum Rakha melebar, dingin.
"Awasi saja," jawabnya. "Jangan ikut campur. Kepanikan itu alat. Ia menggerogoti dari dalam: reputasi, harga diri, keyakinan. Orang yang panik membuat kesalahan. Orang yang panik menawar tanpa logika. Orang yang panik memberi janji yang besar. Biarkan mereka luruh sendiri."
Di layar, seorang presenter menampikan jeda berita, memberi ruang pada potongan video yang membuat ruang tamu Rakha terasa lebih sarat dengan napas asing. Rakha mencondongkan badan, menatap gambar Maharani yang sedang dibantu masuk ke mobil-gerak yang lambat, dramatis, dihias musik latar yang disetel untuk mengaduk simpati publik.
"Ketika mereka sudah sampai pada titik itu-kehabisan pilihan, terpojok-aku yang akan datang," ucap Rakha, suaranya mendadak rendah, kering, seperti logam yang digosok. "Bukan untuk menolong secara cuma-cuma. Tapi untuk menulis syaratnya. Untuk menuntut segalanya dengan satu cap-aku menepati janji. Mereka akan menatapku sebagai penyelamat karena mereka tak lagi punya pilihan lain. Padahal yang kulakukan hanyalah menukar keadaan mereka dengan harga yang kubuat sendiri."
Reno menarik napas panjang yang terdengar seperti menghisap udara di dasar sumur. "Dan Maharani, Pak? Dia-"
Rakha memandang ke arah televisi sekali lagi, lalu ke gelas bourbon di meja. Matanya fokus, tanpa belas kasihan. "Maharani adalah papan catur, bukan korban yang tak berarti. Setiap kepingan emosinya adalah langkah untuk memindahkan figur-figur besar di papan itu. Kamu lihat sekarang-tangisannya adalah perintah, bukan kelemahan. Dan ketika mereka berlutut, itu bukan karena aku memaksa; itu karena aku menunggu dengan sabar sehingga mereka sendiri memutuskan untuk menyerah."
Di ruang itu, antara asap cerutu dan bisik televisi, Rakha mengangkat gelasnya setengah, seolah bersulang untuk sesuatu yang baru lahir: rencana yang kini berdenyut, hidup, dan tak bisa dibatalkan.
"Terus awasi," bisiknya rendah, hampir seperti gumaman doa gelap. Lalu ia mencondongkan tubuh, menatap ke arah telepon yang masih menempel di telinganya. Senyumnya tipis, tapi sorot matanya penuh tuntutan. "Dan kabari aku, Reno. Sekecil apa pun. Setiap gerak, setiap ancaman baru, setiap reaksi keluarga itu-aku ingin tahu. Jangan sisakan apa pun. Aku yang tentukan kapan aku masuk sebagai penolong ."
Reno hanya mampu menjawab lirih, suaranya kecil seperti sisa nyala. "Baik, Pak."
Rakha menutup telepon, menatap layar yang kini menayangkan ulang potongan wawancara keluarga Soetomo-wajah-wajah yang tampak tegar namun retak. Ia tersenyum samar, penuh kemenangan yang sunyi. Di lubuk hatinya, sebuah ketenangan dingin tumbuh: permainan ini hampir sempurna. Dan ketika akhir datang, ia tahu benar betapa manisnya mendengar lutut-lutut itu berdecit di lantai, satu per satu.
Panggilan terputus. Ruangan kembali hening, hanya suara televisi dan detik jam yang berjalan pelan. Rakha menaruh ponselnya kembali di meja, lalu berdiri di depan jendela, membiarkan bayangan dirinya kembali menatapnya.
Ia mengangkat gelas bourbon, seolah bersulang dengan pantulan samar wajah Maharani di kaca. Senyum miring mengembang, tajam, penuh kemenangan.
"Untukmu, Maharani Soetomo. Jangan cepat menyerah. Karena setiap rasa sakitmu... adalah bahan bakar untuk kemenanganku."
Rakha menenggak bourbon itu sampai habis, menaruh gelas dengan suara keras di atas meja marmer. Tangannya mengepal di sisi tubuh, wajahnya menegang dengan sorot mata dingin.
Di benaknya, papan catur permainan itu semakin jelas. Dan kali ini, semua bidak sudah bergerak sesuai kehendaknya.
Penthouse lantai teratas itu begitu hening. Lampu gantung kristal menyebarkan cahaya keemasan di atas meja marmer, sementara asap cerutu masih melayang di udara, menyatu dengan aroma bourbon yang tajam.
Rakha Adiwangsa Wiratama baru saja meneguk bourbonnya ketika ponselnya kembali berdering. Getarannya memecah kesunyian ruang, layar menyala menampilkan nama Reza.