NovelToon NovelToon
Dendam 172

Dendam 172

Status: sedang berlangsung
Genre:Bullying di Tempat Kerja
Popularitas:1.4k
Nilai: 5
Nama Author: SOPYAN KAMALGrab

andi dikejar waktu mengungkapkan siapa pelaku teror yang menyebabkan kematian di berbgai tempat...

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon SOPYAN KAMALGrab, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 15

Aku masih berada di ruang kepala sekolah. Setelah memberikan jaminan keamanan kepada Ibu Marlina dan keluarganya, kulihat ia mulai mengemasi barang-barangnya. Sepertinya hari ini adalah hari terakhirnya bertugas. Wajahnya tampak tegang dan dipenuhi kecemasan. Aku yakin itu bukan karena ia harus berhenti menjabat sebagai kepala sekolah, melainkan karena kekhawatiran terhadap keselamatan keluarganya.

“Pak, tolong jaga keluarga saya,” pintanya lirih.

Aku hendak menjawab, tetapi ponselku tiba-tiba berdering. Nama Pak Haris muncul di layar.

“Bagaimana, Andi?” tanyanya tanpa basa-basi.

“Aku sudah mengantongi daftar calon korban, Pak,” jawabku tegas.

“Bagus. Sekarang kamu ikut rapat di Polsek Pasar Rebo. Di sana sudah ada tim gabungan dari Polda dan Polres. Aku menunggumu di sini,” ucap Pak Haris.

Aku melirik jam tangan. Jarumnya tepat menunjukkan pukul dua belas siang. Artinya, masih ada satu jam krusial untuk melakukan pengamanan terhadap para calon korban.

“Saya akan ikut rapat kalau permintaan saya dituruti,” kataku mantap.

“Apalagi? Apa operasional kamu masih kurang?” balasnya dengan nada sedikit ketus.

“Aku akan kirim daftar nama calon korban. Tolong sampaikan agar segera dilakukan pengamanan,” jelasku.

Tidak ada jawaban. Dadaku terasa panas. Dalam situasi genting seperti ini, seharusnya tindakan lapangan lebih diutamakan daripada rapat.

Beberapa detik kemudian, suara Pak Haris terdengar kembali. “Baik. Pak Nurdin dari Polda siap mengerahkan anggota untuk mengamankan lima belas orang itu.”

Aku menghembuskan napas lega.

“Satu lagi, Pak,” pintaku.

“Apa lagi?” sahutnya.

“Aku minta anggota dikirim untuk mengawal Ibu Marlina dan keluarganya. Kasus ini melibatkan orang-orang besar dan berkuasa,” ucapku dengan nada serius.

Aku berharap permintaan itu dikabulkan. Jika tidak, lebih baik aku menarik diri dari penanganan kasus ini.

Tidak ada jawaban. Sepertinya Pak Haris sedang berkonsultasi kembali dengan pihak lain.

“Baik,” katanya akhirnya. “Pak Nurdin akan mengirim beberapa anggota untuk melindungi Ibu Marlina. Tenang saja, ini sudah menjadi atensi Wakapolda. Tidak boleh ada yang mengintimidasi saksi.”

Dadaku terasa jauh lebih ringan setelah mendengar itu.

Aku kembali melihat jam. Pukul dua belas lewat lima belas menit. Pengamanan kini telah diambil alih oleh Polda dan Polres. Setidaknya, untuk sementara, aku bisa bernapas lega.

“Baik, Pak. Saya merapat ke sana sekarang,” ucapku menutup pembicaraan.

Sambungan terputus. Aku menatap Ibu Marlina sekali lagi, lalu melangkah keluar dari ruangan dengan pikiran yang masih penuh kewaspadaan.

Aku keluar dari ruang kepala sekolah. Dugaan itu langsung terjawab. Beberapa anggota sudah berjaga dan mengawal Ibu Marlina. Pemandangan itu sedikit mengendurkan ketegangan di dadaku. Setidaknya, untuk sementara, ia dan keluarganya aman.

Aku mengedarkan pandangan, mencari Andika. Tak jauh dari pintu keluar, ia berdiri sambil memegang ponsel. Wajahnya terlihat cemas. Biasanya, hanya telepon dari ibunya yang mampu membuat ekspresinya berubah seperti itu. Padahal, istriku sedang berada di kampung sejak beberapa hari lalu.

Aku merogoh ponselku. Beberapa pesan dari Ratna masuk bertubi-tubi, menanyakan keberadaan Andika. Belum sempat kubalas, Andika sudah mendekat.

“Yah, aku harus pulang,” ucapnya pelan.

Aku menatapnya heran. “Nak, ayah mau rapat di Polsek Pasar Rebo. Kenapa kamu tiba-tiba mau pulang?”

Padahal sejak kemarin, dialah yang paling antusias ikut denganku. Sekarang justru ia yang ingin pergi.

“Mamah sudah ada di rumah,” jawabnya sambil menunduk.

Aku menghela napas. Andika memang tidak pernah takut pada siapa pun, kecuali pada ibunya.

“Yah, gimana dong. Ayah harus rapat,” kataku ragu.

“Aku bisa pulang sendiri, Yah. Naik taksi online,” katanya meyakinkan.

Hatiku bimbang. Rasanya tidak tega membiarkan dia pulang sendiri, apalagi di situasi seperti ini.

“Ayah harus fokus sama kasus ini,” lanjutnya. “Aku benar-benar bisa pulang sendiri.”

Aku menarik napas panjang. Kali ini aku harus belajar percaya. Lagipula, kalau ibunya sudah menyuruh pulang, Andika pasti langsung ke rumah.

“Baik. Kalau sudah sampai rumah, hubungi ayah,” pesanku sambil menyodorkan selembar uang seratus ribu.

“Terima kasih, Yah,” ucapnya tulus.

Zaki yang sejak tadi memperhatikan akhirnya bertanya, “Ini anak kamu, Di?”

Aku mengangguk.

“Kamu bakal jadi orang hebat, Nak,” kata Zaki sambil tersenyum.

“Terima kasih, Om. Tolong bantu Ayah memecahkan kasus ini,” balas Andika dengan sopan.

Aku menangkap tatapan Zaki ke arahku. Pasti ia mengira aku sengaja melibatkan anakku dalam kasus ini.

“Nanti aku ceritakan,” kataku singkat.

Tak lama kemudian, Andika memesan taksi online dan langsung mendapatkannya. Setelah memastikan ia masuk ke mobil, aku sempat berpesan kepada sopirnya agar mengantar dengan hati-hati.

“Aku ikut kamu, Di. Mobilku mogok,” kata Zaki tiba-tiba.

Aku menepuk jidat. “Lu terlalu jujur jadi polisi, sampai kehabisan bensin,” ledekku.

“Ah, lu kan yang ngajarin,” balasnya santai.

Kami berdua tertawa kecil. Zaki masuk ke mobil, dan aku duduk di kursi pengemudi. Jam di dashboard menunjukkan pukul dua belas lewat empat puluh menit.

“Kamu melibatkan anak kamu?” tanya Zaki, nadanya penuh selidik.

Aku menghela napas, lalu menceritakan semuanya. Zaki adalah salah satu teman seangkatanku yang paling aku percaya. Kami sering berbagi masalah, baik urusan pekerjaan maupun pribadi.

“Anak lu hebat, Di. Jangan sia-siakan bakatnya,” kata Zaki setelah mendengar ceritaku.

Aku menggaruk kepala, bukan karena gatal, tapi karena pikiranku kusut. Pandanganku tetap fokus ke jalan.

“Entahlah. Aku harus bangga atau justru khawatir,” jawabku jujur.

“Andai saja anakku laki-laki, pasti sudah kujadikan teman diskusi,” ucap Zaki. Ia memang memiliki dua anak perempuan.

“Disyukuri saja,” kataku.

“Gimana kalau kita jodohkan saja anak kita?” katanya tiba-tiba.

“Dasar gila. Anak gue kencing aja belum lurus, sudah ngomongin jodoh,” sahutku sambil terkekeh.

“Gue serius. Anak lu bakal jadi orang hebat,” ujar Zaki penuh keyakinan.

Aku terdiam sesaat. Orang lain saja bisa melihat potensi Andika, lalu kenapa aku masih sering ragu. Atau mungkin aku bukan ragu, hanya terlalu khawatir sebagai seorang ayah.

Tepat pukul 13.00 kami tiba di Polsek Pasar Rebo. Deretan mobil dinas berjajar rapi di halaman, menandakan tim gabungan dari Polda dan Polres sudah lama berkumpul. Suasana tampak serius dan penuh kesiagaan.

Aku dan Zaki langsung masuk ke ruang rapat. Di dalam, Pak Nurdin terlihat berdiri di depan ruangan sambil memimpin jalannya rapat. Beberapa perwira tampak fokus memperhatikan penjelasannya.

“Nah, ini Andi baru datang,” ujar Pak Haris menyambutku.

Aku mengangguk singkat lalu duduk di samping Zaki. Pak Nurdin sempat melirik ke arahku sekilas sebelum kembali melanjutkan rapat.

“Pak Andi, terima kasih atas informasinya. Lima belas orang ini sudah kami kirimkan anggota untuk pengamanan. Kami juga menyiapkan beberapa tim penyergap. Begitu pelaku muncul, akan langsung kita sergap,” jelas Pak Nurdin dengan suara tegas. “Kita tetap harus menjaga stabilitas keamanan. Jangan ada pengumuman berlebihan kepada masyarakat. Sekarang kita fokus menentukan siapa pelaku teror ini.”

Pandangan Pak Nurdin tertuju padaku. “Bagaimana pendapat kamu, Pak Andi? Menurut kamu, siapa pelakunya?”

Sebelum menjawab aku melihat jam sudah jam 13:10 dan sepertinya tidak terjadi apa-apa, tidak ada korban lagi

walau masih ragu karena kemarin juga aku mengira tidak ada korban tapi ternyata ada, dan bukan tidak terjadi tapi aku yang terlambat menyadari

1
Nurr Tika
makin penasaran
Nurr Tika
sebanarnya meraka maunya pa
Nurr Tika
sebenarnya siapa mereka
Nurr Tika
apakah mereka terlibat akan teror itu
Intan Melani
iya kan si anak y di tolong kakek
Nurr Tika
lanjut,,,,,,
Nurr Tika
diantara mereka ada yg jd mata" siapa ya, lanjut
Nurr Tika
lanjut thor,,,,,,
Nurr Tika
lanjut thor semakin seru
Fitur AI
Semangat ya pak , nanti jangan lupa mampir kenovel aku hehehe...🙏😊
Fitur AI
seharus nya bersukur punya cowo begini
Nurr Tika
lanjut thor
Nurr Tika
benarkah nirmala msh hidup
Nurr Tika
lanjut thor
Intan Melani
aqkya pernah baca thor kayanya y si Nirmala di buang ke jurang sama 2orang cwo. di temuin sama kakek2 terus di obati terus di ajarin bela diri bwt balas dendam.
Nurr Tika
lebih banyak dong thor up nya
Nurr Tika
bikin penasaran thor lanjut
Nurr Tika
lanjut thor,,,,,, apakah ini yg bls dendam pcaranya atau ibunya.
Nurr Tika
lanjut,,,,,
Nurr Tika
makin seru lanjut thor
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!