NovelToon NovelToon
Sebel Tapi Demen

Sebel Tapi Demen

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Kisah cinta masa kecil / Diam-Diam Cinta / Cinta Seiring Waktu / Bad Boy / Idola sekolah
Popularitas:971
Nilai: 5
Nama Author: Azumi Senja

Naura, gadis enam belas tahun yang hidup bersama ayahnya setelah kehilangan sang ibu, menjalani hari-hari yang tak pernah benar-benar sepi berkat Hamka. Jarak rumah mereka hanya lima langkah, namun pertengkaran mereka seolah tak pernah berjarak.
"Tiap ketemu sebelllll..tapi nggak ketemu.. kangen " ~ Naura~

" Aku suka ribut sama kamu ..aku suka dengan berisiknya kamu..karena kalo kamu diam...aku rindu." ~ Hamka ~


Akankah kebisingan di antara mereka berubah menjadi pengakuan rasa?
Sebuah kisah cinta sederhana yang lahir dari keusilan dan kedekatan yang tak terelakkan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Azumi Senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Percikan kecil

Motor Haikal berhenti tepat di luar gerbang.

Naura turun perlahan, lalu menyerahkan helm kepadanya.

“Makasih ya… udah mau repot-repot nganterin sampai sini,” ucapnya lirih. “Padahal tadi aku bisa turun di gang depan aja.”

Haikal hanya tersenyum, seolah jarak bukan masalah baginya.

Naura mengangguk kecil, tapi dadanya terasa tak nyaman. Terlebih saat matanya menangkap sosok Helena di ambang pintu,berdiri diam, seakan baru saja datang, dengan senyum tipis yang sulit dibaca.

Perempuan itu tak berkata apa-apa. Hanya mengamati. Dan entah kenapa, tatapan itu membuat Naura merasa seperti sedang melakukan kesalahan… padahal ia tak merasa berbuat apa-apa.

“Gue cabut dulu ya, Naw,” ujar Haikal. “Kalau besok-besok lo mau gue jemput, gue siap banget.”

Naura menelan ludah. “Hati-hati di jalan.”

Ia tak menjawab tawaran itu. Bukan karena tak ingin,tapi karena ia tahu, satu kata tambahan saja bisa menimbulkan salah paham yang tak ia inginkan.

Haikal mengangguk, lalu motornya menjauh, meninggalkan suara yang perlahan hilang di ujung jalan.

Naura berdiri sesaat, menatap punggung Haikal yang kian menjauh. Sikap laki-laki itu memang selalu lembut. Perhatian tanpa memaksa. Mungkin itulah sebabnya banyak siswi menyukainya. Meski tak sebanyak Hamka, Haikal tetap punya tempat..ia cukup populer karena aktif di berbagai eskul .

“Ekhm… wah, anak gadis kita udah dicuri orang, Bu.”

Suara Babe Ramli membuat Naura tersentak.

“Apaan sih, Be,” sanggahnya cepat. “Dia temen aku. Sekalian lewat.”

Babe tertawa pelan. “Ohhh… hanya teman.”

Kata hanya itu terasa aneh di telinganya.

Belum sempat Naura masuk ke rumah, Bu Tika keluar dari dapur sambil membawa rantang berisi lauk pauk.

“Naw, ini bawa buat makan siang kalian,” ucapnya hangat.

Naura menerima rantang itu, jari-jarinya sedikit bergetar. “Apa ini, Bu… jadi ngerepotin terus.”

“Justru kamu yang direpotin gara-gara ulah putra ibu,” balas Bu Tika, nada suaranya penuh rasa bersalah.

“Kamu tinggal bilang aja kalau merasa nggak nyaman,” potong Babe Ramli. “Biar Babe suruh anak itu pulang ke rumahnya.”

Naura tersenyum kecil. Senyum yang lebih mirip tameng.

Nyaman?

Tidak.

Sejak Helena tinggal di rumah ini, banyak hal yang berubah. Tatapan, suasana, bahkan langkah kakinya sendiri terasa selalu diawasi oleh rasa tak enak.

Tapi jika ia jujur…

ia juga tak tega.

Tak tega melihat Hamka menghadapi semua ini sendirian. Tak tega pada laki-laki yang diam-diam selalu ada, meski tak pernah meminta apa pun.

Padahal Naura tahu.

Helena bukan tanggung jawabnya.

Dan lebih dari itu—Helena juga bukan tanggung jawab Hamka sepenuhnya.

Namun entah kenapa, Naura memilih diam.

Dan diam itu, perlahan, mulai melukai dirinya sendiri.

Naura meraih rantang itu dengan dua tangan. “Makasih banyak, Bu.”

Bu Tika menepuk pundak Naura lembut. “Makan yang bener. Jangan telat.”

Naura mengangguk, lalu melangkah masuk ke rumah. Begitu pintu tertutup, senyap langsung menyergap.Senyap yang terasa lebih berat dari biasanya.

Helena berdiri tak jauh dari sana. Senyum tipisnya masih bertahan, tapi matanya mengamati Naura terlalu lama untuk sekadar basa-basi.

“Teman eskul?” tanya Helena akhirnya, nada suaranya ringan.

Naura menaruh rantang di meja. “Iya. Haikal.”

Helena mengangguk pelan. “Orangnya baik, ya.”

Naura tak langsung menjawab. Ia membuka tutup rantang, pura-pura sibuk memperhatikan isinya. “Dia emang gitu. Ke semua orang.”

“Kelihatannya nggak,” balas Helena lirih.

Naura menoleh. “Maksud lo?”

Helena tersenyum lagi, kali ini lebih samar. “Nggak apa-apa. Cuma kelihatan perhatian.”

Naura menarik napas kecil. Ia tak tahu kenapa penjelasan sederhana itu terasa perlu. “Dia cuma temen.”

Helena tak membantah. Ia justru melangkah mendekat dan ikut melihat ke dalam rantang. “Wangi banget. Ibunya Kak Hamka baik, ya.”

“Iya,” jawab Naura singkat.

Mereka makan dalam diam. Sendok sesekali beradu dengan piring, tapi tak ada percakapan berarti.

Naura sadar,suasana di rumah ini berubah,bukan karena kehadiran Helena semata, tapi karena semua hal yang tak lagi bisa ia anggap biasa.

Tak lama kemudian, suara motor berhenti tepat di depan rumah.

Naura refleks menoleh ke arah jendela. Dadanya tiba-tiba mengencang, seolah ada sesuatu yang tak siap ia hadapi. Padahal, ia bahkan belum memastikan siapa yang datang.

“Kak Hamka,” ucap Helena pelan, lalu bangkit berdiri. Nada suaranya berubah—lebih hidup, lebih hangat.

Helena segera melangkah keluar halaman, menghampiri Hamka dengan wajah yang tak bisa menyembunyikan kebahagiaannya. Senyum itu terbit begitu saja, seakan lelah dan khawatir yang selama ini ia pendam akhirnya mendapat jeda.

Naura masih diam di tempatnya.

Ia berdiri di balik jendela, memperhatikan interaksi mereka tanpa berniat ikut keluar. Cara Helena berbicara, cara Hamka menunduk sedikit agar bisa mendengar, semuanya terasa… dekat. Terlalu dekat untuk diabaikan.

Entah kenapa, dada Naura semakin tak nyaman.

Ia mengalihkan pandangan, lalu bangkit perlahan menuju kamarnya. Ia tak ingin tahu lebih jauh, juga tak ingin mengerti perasaan apa yang tiba-tiba menyeruak tanpa izin.

Di luar, wajah Hamka terlihat lelah. Lingkar tipis di bawah matanya jelas tampak. Namun Helena terus mengajaknya bicara—tentang rumah sakit, tentang kakaknya, tentang hal-hal kecil yang seolah tak ada habisnya.

Hamka mendengarkan. Atau lebih tepatnya, berusaha mendengarkan. Ia menjawab seperlunya, kepalanya masih terasa berat oleh hari yang panjang.

Seusai pulang kerja, ia langsung menyempatkan diri ke rumah sakit. Dokter yang menangani Fariz menghubunginya, memberi kabar yang membuat langkahnya terasa lebih ringan..Fariz mulai sadar, kondisinya menunjukkan peningkatan.

Lelahnya tak sepenuhnya hilang, tapi bercampur lega.

“Kakak lo udah sadar,” ucap Hamka akhirnya, suaranya rendah. “Tadi gue ke rumah sakit.”

Mata Helena membulat. Wajahnya langsung berubah antara kaget, haru, dan tak percaya. Sementara di dalam rumah, Naura yang sudah sampai di depan kamar berhenti melangkah.

Kata-kata itu menembus dinding, masuk ke telinganya…

Haruskah ia senang jika mungkin tak lama lagi Hamka akan terlepas dari tanggung jawab yang membebaninya itu ?

1
Lani Triani
Lanjuut thoorrr😍
Azumi Senja
Ceritanya ringan ..manis ..bikin salting guling -guling... seruuu..rekomend deh pokoknya ❤️
Sybilla Naura
nah loo...😄
Sybilla Naura
jadi ikutan sediihh
Sybilla Naura
ngakakk 🤣🤣
Sybilla Naura
Baru baca baca aja udah seruuuu...
Sybilla Naura
Seruuuu 😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!