🍂🍂🍂🍂🍂
Napas gadis itu hangat menyentuh lehernya. Bulu mata Yura tampak basah, alisnya berkerut seolah tengah menahan sesuatu bahkan dalam keadaan tidak sadar.
"Tolong…" suara Yura terdengar lirih, matanya tetap terpejam. "Siapa pun… tolong aku…"
Langkah Alexa terhenti.
"Aku sudah membuat masalah besar… aku malu… seharusnya aku tidak melakukan itu…" gumam Yura terputus-putus. "Sampai Pak Bos mengira dia menyukaiku… padahal itu akibat ajimat… aku salah meletakkannya."
Tubuh Alexa menegang.
🍃🍃🍃🍃🍃
Next.... 👉
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Gledekzz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kejelasan yang berbahaya
...🍂🍂🍂🍂🍂🍂...
Alexa tetap duduk di kursinya. Punggungnya tegak, kedua telapak tangannya menekan permukaan meja, seolah itu satu-satunya cara untuk menahan sesuatu di dalam dadanya yang terus bergejolak panas, nyaris membakar.
Ia tidak bergerak. Tidak bergeser.
Bahkan tidak mengubah posisi duduknya sedikit pun.
Dari luar, ia tampak tenang. Terkendali. Profesional. Namun di dalam dirinya, keadaan sama sekali tidak sesederhana itu.
Pandangan Alexa tertahan pada Yura yang duduk di seberangnya. Ia memperhatikan tanpa benar-benar ingin memperhatikan.
Terlebih karena Leo.
Setiap kali mereka berbicara, Leo selalu mencondongkan tubuh yang terlalu dekat untuk sekadar rekan kerja, terlalu santai untuk ukuran ruang profesional.
Jarak yang bagi orang lain mungkin tidak berarti apa-apa, namun bagi Alexa terasa mengganggu, menyusup ke ruang pikirannya tanpa izin.
Hal-hal kecil. Reaksi kecil. Tatapan singkat. Jeda yang terlalu lama.
Seharusnya ia tidak memikirkan semua itu.
Alexa tahu batasannya. Ia memaksa pikirannya kembali pada kendali, pada aturan yang selama ini selalu ia pegang teguh. Ini kantor. Ini pekerjaan. Bukan ruang untuk perasaan pribadi.
Namun setiap kali ia mencoba menjauh, bayangan Yura justru semakin menetap.
Ini gila, gumamnya dalam hati, berulang-ulang, seolah dengan mengatakannya ia bisa mengusir rasa itu pergi.
Terlebih saat Leo sempat mengangkat tangan, seolah hendak menyentuh wajah Yura. Momen singkat itu saja sudah cukup membuat dada Alexa benar-benar memanas.
Hari ini, perasaan itu mencapai titik yang sulit diabaikan. Saat Leo kembali mendekat. Saat Yura tidak segera berpaling. Saat tatapan Yura tertahan sedikit lebih lama dari seharusnya di wajah pria itu, cukup untuk membuat sesuatu di dada Alexa berdesir tajam.
Namun semakin ia berontak menolak kenyataan bahwa perasaannya mungkin bukan sekadar profesional, semakin jelas satu hal baginya.
Ia tidak sanggup menjauhi Yura. Dan kesadaran itu justru membuat dadanya semakin panas.
Alexa menarik napas dalam, perlahan dan terukur. Ia menegakkan punggungnya lebih tegap, memaksa dirinya kembali ke posisi semula.
Ia memilih mengikuti alur untuk sementara, hingga ia benar-benar yakin apakah masih ada yang bisa ia ubah atau justru tidak sama sekali.
Alexa menautkan jarinya di atas meja, menatap Yura dari seberang dengan ekspresi yang kembali netral, seolah tidak ada apa pun yang barusan bergolak di dalam dirinya.
"Kau sudah tahu," ucapnya akhirnya, suaranya datar dan terkontrol, "Bahwa posisimu sebagai kepala tim telah dikembalikan."
Yura menyandarkan punggung ke kursi. Kepalanya sedikit terangkat, menatap langit-langit beberapa detik sebelum mengembalikan pandangannya ke arah Alexa.
"Sudah, Pak."
"Mulai hari ini," lanjut Alexa tanpa perubahan nada, "Struktur tim kembali seperti semula. Tidak ada perubahan."
Yura tersenyum kecil, senyum yang tidak mengandung lega, apalagi bahagia. "Dan besok?" tanyanya. "Lusa?"
Tatapan Alexa menajam tipis. "Apa maksudmu?"
"Saya ingin tahu," kata Yura tenang, suaranya tidak bergetar, "Apakah ini keputusan tetap, atau saya hanya sedang dipinjamkan kembali jabatan yang bisa Anda tarik kapan saja."
Alexa menghela napas pelan. "Kau meragukan keputusanku?"
"Saya meragukan cara Bapak," jawab Yura cepat. "Bapak menurunkan saya tanpa penjelasan, lalu mengembalikannya seolah tidak pernah terjadi apa-apa."
"Itu evaluasi."
"Bukan," Yura menggeleng pelan. "Itu tarik ulur."
Keheningan menggantung di antara mereka, tebal, dan menekan.
"Apa saya melakukan kesalahan?" tanya Yura kemudian, lebih pelan. "Atau saya memang tidak pernah benar-benar aman di bawah kendali Anda?"
Alexa menatap Yura cukup lama sebelum menjawab. "Kau tidak pernah melakukan kesalahan fatal."
"Lalu kenapa saya diturunkan?"
Alexa terdiam beberapa detik. "Aku ingin melihat bagaimana kau mengendalikan kesalahan-kesalahan kecil yang sering muncul."
Yura terkekeh lirih. "Begitu rupanya. Jadi… kinerja saya masih sedang Anda timbang."
"Sekaligus," lanjut Alexa, "Aku ingin tahu apakah kau akan goyah."
"Dan?" Yura mencondongkan tubuh sedikit ke depan. "Di mata Anda, saya terlihat goyah?"
"Tidak."
"Karena saya bertahan," kata Yura. "Atau karena saya terlihat baik-baik saja?"
Jari Alexa saling mengunci lebih erat. "Aku mengembalikan posisimu karena kau pantas."
"Atau karena Bapak sadar cara Bapak keliru?"
"Aku tidak berniat menjatuhkanmu."
"Tapi itu yang saya rasakan," balas Yura. "Bapak tidak melakukan hal yang sama pada kepala tim lain. Hanya saya."
Alexa tidak langsung menyangkal.
"Itu sebabnya saya mulai bertanya-tanya," lanjut Yura, suaranya tetap tenang meski tekanannya jelas terasa, "Sebenarnya apa yang sedang Anda uji."
Keheningan kembali jatuh.
"Bapak tahu," lanjut Yura pelan, "Saya juga mulai bertanya-tanya… apakah ini benar-benar soal pekerjaan, atau sudah menyentuh urusan pribadi."
Tatapan Alexa mengeras. "Jangan menarik kesimpulan sendiri."
"Saya tidak," jawab Yura tenang. "Saya hanya memperhatikan sikap dan reaksi Bapak akhir-akhir ini."
"Apa yang kau maksud?"
"Yah… cara Anda sering menatap saya. Cara Anda bereaksi setiap kali Leo berbicara dengan saya. Saya tahu Anda mencurigai kami seolah kami sepasang kekasih. Padahal tidak. Kami sama sekali tidak memiliki hubungan apa pun hanya urusan pekerjaan, tidak lebih. Namun Anda terlihat seakan takut kami menyembunyikan sesuatu."
"Itu tidak ada hubungannya," potong Alexa singkat.
"Kalau memang begitu," Yura menatapnya lurus, "Kenapa Bapak terlihat terganggu? Atau di mata Bapak, saya memang selalu menjadi penghalang?"
Karena aku tidak bisa berhenti memperhatikanmu, pikir Alexa, rahangnya mengeras.
"Saya tidak ingin menjadi permainan," lanjut Yura dengan nada tenang, meski tekanan jelas terselip di dalamnya. "Saya hanya ingin kejelasan."
"Apa lagi yang kau inginkan?" tanya Alexa datar. "Bukankah kau sudah mendapatkannya? Posisimu telah dikembalikan."
Yura mengangguk pelan. "Berarti Bapak masih belum memahami maksud saya. Baik. Tapi dengarkan saya baik-baik, Pak. Jika Anda kembali menguji atau mempermainkan saya tanpa berbicara terlebih dahulu, saya tidak akan bertahan. Saya akan mengundurkan diri."
Kalimat itu baru saja keluar dari mulutnya ketika Yura langsung menyadari kesalahannya.
Alexa menatap Yura tanpa sedikit pun perubahan ekspresi. Tidak ada tanda emosi meledak. Justru itu yang membuat Yura merasa dadanya mengencang. Ia mengenal ekspresi itu. Terlalu tenang. Terlalu dingin.
Ini bukan sikap orang yang sedang menahan diri. Ini sikap seseorang yang bisa marah besar kapan saja.
"Silakan," kata Alexa akhirnya, suaranya dingin dan lurus. "Jika kau ingin mengundurkan diri sekarang juga, itu bukan masalah."
Keberanian Yura runtuh seketika.
Dadanya mengempis, nyali yang barusan mengeras mendadak menciut. Ia merasa, satu kata tambahan saja dari mulutnya bisa benar-benar membuat Alexa meledak dan kariernya tamat di tempat. Ia sadar, ia belum benar-benar siap kehilangan semua yang telah ia bangun.
Sudut bibirnya terangkat canggung.
"Saya hanya bercanda, Pak."
Alexa tidak tersenyum. Tidak menanggapi. Ia hanya menatap Yura dengan dingin dan tenang, seolah sedang menilai sesuatu.
Dengan tatapan itu saja sudah cukup untuk membuat Yura tahu bahwa ucapannya barusan sama sekali tidak dianggap sebagai lelucon.
ak g sabar rose kebuka topengy d dipermalukan alexsa....dan....rendra ahhhh....mgkn akn lbh dr menyesal mgkn..
untung dr awal alexsa sdh pernah melihat rose dg rendra
tega ya kamu Rose kamu dukung kamu kasih support Yuna dgn ide" gilamu se-olah" kamu sahabat yg terbaik yg mendukung Yuna dan tidak tahunya kamu lah musuh dalam selimut merendahkan diri Yuna dgn macam" cara dgn kedok kasihan dan tidak tega 😤😏 Rose kamu tu manusia paling munafik untuk apa berbohong demi apa Rose kalau kamu sendiri sering main kuda"an dgn Rendra 🤮😩 kamu jahat orang seperti mu tidak pantas disebut sahabat di depan so mendukung tapi di belakang menusuk hati sampai ke tulang" kejam 👊🥺