Ameera, sangat terpukul saat mengetahui suaminya Caleb selingkuh di depan matanya sendiri. senua pengorbanannya selama ini terasa sia-sia.
Ameera tidak bisa merima kenyataan itu dan memilih pergi meninggalkan rumah. meninggalkan Ibu mertua yang sakit. yang menganggapnya tidak lebih dari seorang pembantu.
Saatnya membangun harapan baru, mengejar impian yang selama ini dia hancurkan.
Berhasilkah Ameera meraih mimpi dan cintanya. Apakah Caleb berhasil menemukan istrinya yang minggat dari rumah.
Mohon dukungannya atas cerita ini. Dari awal hingga akhir. Bukan hanya sekedar mampir atau jadi pembaca hantu, tiba-tiba muncul dan tiba menghilang. Tinggalkan jejaknya sebagai tanda cinta buat Emak. Love you untuk kalian semua. Horas!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Linda Pransiska Manalu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 15. Terpuruk
"Lepaskan!" Ronta Jenni pada satpam yang menyeretnya keluar serta ibunya dari dalam butik.
"Awas kamu Ameera!" dengusnya kesal seraya mendorong kursi roda ibunya.
"Ayo, Bu." Jenni mendorong kursi roda ibunya, menjauhi butik Ameera.
"Sudah, kita pulang saja. Ibu sudah lelah, Jenni." keluh Bu Rina.
"Tapi, Bu, Jenni belum membeli gaun itu."
"Lupakan saja soal gaun itu. Kamu itu terlalu pemilih. Maunya yang branded tapi tak mampu." sindir Bu Rina kesal melihat perangai putrinya.
Coba kalau putrinya tadi tidak pake nawar segala kalau memang sudah cocok dengan gaun itu, tidak akan bertemu dengan Ameera dan diusir dari butik.
"Trus Jenni pakai apa nanti, Bu. Gak mungkinkan pake gaun kucel." protes Jenni.
"Koleksi gaun kamu pasti banyak yang belum kepake. Pakai itu saja."
"Aduh, Ibu, ngomong apaan sih. Masa Jenni disuruh pake gaun yang sudah ketinggalan mode. Apa kata dunia, Bu," ucap Jenni melototkan kedua netranya.
"Ibu tidak mau tau. Ibu mau pulang sekarang," Bu Rina ngotot tetap minta pulang. Ada hal yang lebih penting baginya dari sekedar menemani Jenni mencari gaun. Bu Rina sudah tidak sabar mau memberitahu soal Ameera pada, Caleb.
Akhirnya Jenni mengalah, menuruti kemauan ibunya pulang. Wajah ibunya memang sudah tampak lelah karena sudah beberapa jam menemaninya belanja.
Selain itu dia juga kesal atas ulah Ameera dan ingin mengadu pada abangnya kalau dia habis bertemu dengan mantan kakak iparnya.
Jenni memanggil taxi dan selama dalam perjalanan menuju rumah ibunya keduanya saling diam. Sibuk dengan rencana dibenak masing- masing. Tanpa terasa mereka sudah sampai di rumah.
Sepertinya Caleb juga sudah pulang kerja, karena mobilnya parkir di halaman rumah. Baru saja menjejakkan kaki di teras mereka mendengar suara ribut dari dalam rumah.
Jenni dan ibunya saling pandang. Jenni hendak membuka pintu tapi lengannya keburu ditahan Bu Rina. Bu Rina memberi kode jari di mulutnya agar Jenni diam.
"Aku tidak percaya, kamu pasti telah selingkuh dengan laki-laki itu. Buat apa coba kamu berada di hotel itu." teriak Caleb lantang. Bu Rina dan Jenni kembali saling pandang.
"Dia teman lama aku, Bang. Aku tidak sengaja bertemu dia di hotel." kilah Zita tak kalah lantang.
"Kamu masih bohong! Ada urusan apa kamu di hotel itu sehingga tak sengaja bertemu dia. Temanku sudah beberapa kali melihat kamu masuk ke hotel itu." kecam Caleb dan terdengar suara tamparan diiringi jerit kesakitan, Zita.
Jenni segera menerobos masuk, karena takut abangnya bertindak lebih jauh lagi.Caleb dan Zita kaget melihat kemunculan Jenni disusul Bu Rina.
"Ada apa ini? Kalian kok ribut. Tidak malu suara kalian didengar tetangga." kecam Bu Rina.
"Aku minta cerai!" ucap Zita lantas berlari masuk ke kamar.
"Kenapa sih, Bang, kok bisa bertengkar dengan Kak Zita?" ucap Jenni penasaran.
"Dia membohongiku selama ini. Ternyata dia adalah istri simpanan. Pantasan dia menolak diadakan resepsi karena dia takut ketahuan. Tapi dia tetap tidak mau mengaku." jelas Caleb kesal sekaligus terpukul karena tertipu mentah-mentah.
Dia tidak menyangka kalau Zita sampai tega membohonginya. Setau dia Zita memang sudah menjanda beberapa tahun. Ternyata dia masih terikat pernikahan siri dengan seorang pria.
Caleb merasa harga dirinya terkoyak, terlebih berita ini sudah merebak di tempat kerjanya. Entah kemana wajahnya akan disembunyikan. Bertubi masalah datang terus menghampiri dirinya. Belum lagi kelar masalah pekerjaan yang berimbas dia kena mutasi ke bagian lain. Istrinya pun berulah ketahuan selingkuh.
Apakah semua ini karma atas perbuatannya pada Ameera? Meskipun belum pernah bertemu secara langsung, tapi Caleb sudah mengetahui kalau mantan istrinya itu tengah menapak tangga kesuksesan.
Dia sungguh tidak menduga kalau Ameera mempunyai bakat terpendam dalam dunia fashion. Memang awal mereka menikah, Ameera pernah minta izin padanya supaya belajar modiste. Untuk mengisi waktu luangnya supaya tidak terbuang percuma.
Namun, Caleb menolak keinginan istrinya karena biayanya cukup besar. Mana keuangan mefeka waktu itu belum stabil.
Caleb waktu itu masih karyawan biasa di pabrik konveksi. Di tahun kedua pernikahan mereka juga ibunya terserang stroke. Sehingga menderita lumpuh dan Ameera juga mengalami keguguran.
Sejak ibunya tinggal bersama mereka, Ameera lebih fokus merawat ibunya dan keinginan istrinya pun tertunda. Belum lagi ibunya selalu turut campur urusan rumah tangganya.
Kalau dilihat lagi kebelakang, betapa gigihnya Ameera mendukung karirnya masa itu sehingga dia dipercaya menjadi manajer. Ameera selalu memberinya ide-ide kreatif yang dia terapkan dalam pekerjaannya.
Seiring berkembangnya perusahaan tempat dia bekerja, kesibukannya pun makin meningkat. Waktu luang untuk keluarganya semakin minim. Terlebih karena ibunya lebih butuh perhatiannya karena sakit.
Hasutan dari ibu dan saudarinya perlahan merasuki jiwa dan pikirannya. Ibunya bilang Ameera adalah istri pembawa sial dalam keluarga mereka karena asa-usulnya yang tidak jelas. Karena ibunya sakit justru setelah mereka menikah.
"Aku pergi dari rumah ini."
Lamunan panjang Caleb terputus saat mendengar suara Zita. Zita berdiri di depannya dengan koper disisi tubuhnya. Karena Caleb diam saja, Zita menyeret kopernya berlalu dari hadapan
Caleb.
Jenni dan Bu Rina hanya diam saja, tidak berani bicara walau hanya sekedar basa-basi.
Kesunyian begitu mencekik dalam ruangan itu. Jelas Caleb sangat terpukul sekali, karena rumah tangganya hancur untuk yang kali yang kedua.
"Sudahlah Bang, jangan dipikirin lagi. Biar saja dia pergi kalau memang tidak setia." ucap Jenni lirih. Ikut prihatin juga akan nasib abangnya.
"Apa kamu sudah punya bukti kalau Zita selingkuh, Cal?" ucap Bu Rina lembut.
Caleb tetap bungkam. Baginya foto yang dikirimkan temannya itu sudah lebih dari cukup sebagai bukti. Belum lagi temannya itu memang pernah melihat istrinya beberapa kali memasuki kawasan hotel itu sebelum dan sesudah mereka menikah.
Caleb bangkit dari duduknya. Masuk ke kamarnya. Selang beberapa saat keluar lagi dan pamit pergi. Bu Rina tidak bisa berbuat apa-apa dan membiarkannya pergi. Caleb butuh waktu dirinya sendiri.
Caleb menyalakan mesin mobilnya, kemudian melaju di jalan raya dengan hati dan pikiran yang kacau. Sekuat rasa dia mencoba tenang. Untuk pertama kalinya dia merasa hidupnya begitu tak berdaya.
Entah pada siapa hendak bercerita rasanya semua kawan menghilang pergi.
Caleb memarkir mobilnya mampir di sebuah cafe. Memesan beberapa botol minuman di tempat khusus. Setiap tegukkan yang masuk ke dalam tenggorokan seperti serpihan beling. Karena bayangan wajah Ameera dan putrinya silih beganti hadir di pupil matanya.
"Maafkan Papa nak. Entah seperti apa wajahmu sekarang. Papa rindu padamu." ucap Caleb lirih. Bayangan wajah Ameera dan Celia seolah tersenyum mengejek Caleb. Lalu berubah jadi tawa yang menyakitkan telinga . Caleb menutup kedua telinganya dan mendadak jatuh pingsan. ***