Zafira adalah perempuan sederhana yang hidup tenang—sampai satu malam mengubah segalanya. Ia dituduh mengandung anak Atharv, pewaris keluarga terpandang.
Bukti palsu, kesaksian yang direkayasa, dan tekanan keluarga membuat kebenaran terkubur.
Demi menjaga nama baik keluarga, pernikahan diputuskan sepihak.
Atharv menikahi Zahira bukan sebagai istri, melainkan hukuman.
Tidak ada resepsi hangat, tidak ada malam pertama—hanya dingin, jarak, dan luka yang terus bertambah.
Setiap hari Zahira hidup sebagai istri yang tak diinginkan.
Setiap malam Atharv tidur dengan amarah dan keyakinan bahwa ia dikhianati.
Namun perlahan, Atharv melihat hal-hal yang tidak seharusnya ada pada perempuan licik:
Ketulusan yang tak dibuat-buat
Air mata yang disembunyikan.
Kesabaran yang tak wajar.
Kebenaran akhirnya mulai retak.
Dan orang yang sebenarnya bersalah masih bersembunyi di balik fitnah itu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon NisfiDA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Lelah dan Muak
Beberapa hari setelah insiden Raisa di mansion utama, gosip dan fitnahnya kembali beredar, kali ini sampai ke telinga keluarga besar Arthav. Zafira merasa seluruh tubuhnya lelah.
Setiap kali ia mencoba menjelaskan, selalu ada orang yang mempertanyakan atau meragukannya. Ia mulai muak, muak dengan fitnah yang tak pernah berhenti, muak dengan rasa sakit yang selalu muncul karena kebohongan Raisa.
Di ruang tamu mansion, Zafira menatap Atharv, matanya lelah tapi penuh tekad.
“Kalau begitu,” ucapnya pelan namun tegas, “kenapa kita tidak coba saja periksa kandunganku dan memeriksa keperawananku? Supaya semua jelas.”
Atharv terdiam sejenak, sorot matanya menatap Zafira. Keheningan terasa tegang, semua orang di ruangan menahan napas, menunggu reaksinya.
“Apa maksudmu sekarang?” tanya Atharv, suaranya rendah tapi tegang.
“Ya,” jawab Zafira, menatapnya dengan mata lurus. “Kalau ini memang soal fitnah dan kebohongan, biar semua jelas. Aku tidak mau lagi ada yang meragukan diriku atau pernikahan kita. Aku lelah, Atharv. Aku muak harus terus menjelaskan dan membela diriku.”
Pak Dharma menatap Zafira dan Atharv, matanya tajam tapi tenang. “Kalau ini bisa menghentikan semua keraguan dan gosip mungkin memang harus dilakukan.”
Nyonya Maharani mengangguk, menambahkan dengan suara lembut tapi tegas. “Kebenaran harus terlihat, jangan biarkan kebohongan menguasai keluarga ini.”
Atharv menunduk sebentar, menatap Zafira. “Kalau ini yang kau mau, aku akan mendukungmu. Kita lakukan ini bersama-sama.”
Zafira menarik napas panjang, dadanya sedikit lega. Meskipun lelah dan muak, ia tahu langkah ini mungkin bisa menjadi akhir dari semua fitnah Raisa. Dan untuk pertama kalinya sejak pernikahan mereka penuh tekanan itu, Zafira merasa ada secercah harapan untuk membuktikan kebenaran dirinya.
Beberapa jam kemudian, suasana di mansion terasa sibuk. Zafira duduk di ruang tamu, tangannya saling meremas, hatinya campur aduk antara gugup, lelah, dan sedikit lega. Atharv berdiri di sampingnya, menatapnya dengan tatapan tegas tapi lembut.
“Kau tidak perlu takut, Zafira,” ucap Atharv, suaranya rendah namun menenangkan. “Aku akan menemanimu. Tidak ada yang akan menyakitimu, apapun yang terjadi.”
Zafira menunduk sebentar, menarik napas panjang.
“Aku, aku hanya ingin semuanya jelas. Aku muak, muak dengan fitnah Raisa yang selalu menekan aku. Kalau ini bisa mengakhirinya, aku rela menghadapi semuanya.”
Atharv meletakkan tangannya di bahu Zafira, lembut namun penuh kepastian. “Kita lakukan bersama. Tidak ada yang perlu disembunyikan. Semua akan terlihat nyata.”
Sari yang sedang menyiapkan beberapa dokumen dan catatan medis menoleh.
“Tuan, Nona jika ingin, aku bisa membantu menyiapkan semua agar proses pemeriksaan nanti lancar.”
Zafira menatap Sari, tersenyum tipis.
“Terima kasih, Sari. Aku benar-benar butuh ini biar semua percaya bahwa aku tidak pernah berbohong.”
Atharv menatap Zafira lagi, sorot matanya berubah menjadi sedikit hangat.
“Kalau kau kuat, aku akan selalu ada untukmu. Kita hadapi ini, dan aku akan memastikan semua fitnah itu berhenti.”
Zafira menunduk sejenak, merasakan sedikit ketenangan yang belum pernah ia rasakan sejak pernikahan mereka penuh tekanan.
“Baik, mari kita mulai. Aku lelah tapi aku siap.”
Keheningan yang mengikuti terasa berbeda. Bukan lagi canggung, bukan lagi penuh ketegangan, tapi ada rasa tekad bersama bahwa kebenaran akan terbukti, dan bahwa fitnah Raisa tidak akan lagi menguasai hidup mereka.
Atharv menatapnya lagi, dan kali ini, Zafira bisa merasakan bahwa niatnya tulus. Sedikit demi sedikit, meskipun hati Zafira masih rapuh, ada secercah harapan baru yang mulai tumbuh di antara mereka.
Beberapa menit kemudian, Zafira dan Atharv duduk bersama di ruang keluarga, membicarakan langkah-langkah yang harus dilakukan. Zafira masih menahan gugupnya, sementara Atharv terlihat serius dan penuh fokus.
“Aku akan mengatur janji dengan dokter,” ujar Atharv, suaranya rendah tapi mantap. “Kita lakukan ini secepatnya agar semua jelas.”
Zafira mengangguk pelan.
“Baik, tapi aku ingin semuanya dilakukan dengan tenang. Aku tidak ingin orang lain ikut campur sebelum waktunya.”
Atharv menatapnya tajam, lalu sedikit tersenyum tipis.
“Tenang. Aku yang akan memastikan tidak ada gangguan. Tidak ada Raisa, tidak ada orang lain. Ini hanya kita dan kebenaran.”
Zafira menarik napas panjang, rasa lega sedikit terasa.
“Terima kasih, Arthav. Aku, aku benar-benar ingin ini selesai. Aku muak. lelah harus menghadapi fitnah yang sama terus-menerus.”
Atharv menepuk bahu Zafira lembut.
“Aku mengerti. Dan aku di sini, Zafira. Kita hadapi ini bersama. Tidak ada yang bisa memisahkan kita, selama kita berdiri bersama.”
Keheningan yang muncul setelah itu terasa lebih hangat. Zafira menatap Atharv, untuk pertama kalinya merasakan sedikit rasa aman di tengah badai fitnah yang selama ini menekannya. Hatinya masih waspada, tapi tekadnya untuk membuktikan kebenaran mulai membara.
“Kalau begitu, ayo kita persiapkan semuanya,” bisik Zafira pelan. “Hari ini aku ingin memulai babak baru. Tidak ada lagi kebohongan yang akan menahan hidupku.”
Atharv mengangguk mantap, dan untuk pertama kalinya dalam waktu lama, mereka duduk berdampingan tanpa ada jarak yang memisahkan hanya rasa tekad untuk menghadapi semuanya bersama.