NovelToon NovelToon
Mahendra'S Possessive Love

Mahendra'S Possessive Love

Status: sedang berlangsung
Genre:Obsesi / Cinta pada Pandangan Pertama / Romansa
Popularitas:720
Nilai: 5
Nama Author: Sonya_860

Dunia akan hancur ketika kita tidak menemukan pemilik hati yang sebenarnya

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sonya_860, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 23

Akhir pekan adalah hari yang paling dinanti-nantikan oleh kebanyakan orang yang memiliki kesibukan, baik mereka yang bekerja maupun bersekolah. Bagi mereka, hari ini adalah kesempatan emas untuk memulihkan energi di rumah, sekadar bersantai, atau berkumpul bersama keluarga—kecuali bagi mereka yang memang harus bekerja penuh selama tujuh hari dalam seminggu.

​Di sinilah Ziva berada, di sudut halaman belakang rumahnya. Kebetulan, area tersebut dipenuhi oleh berbagai jenis bunga yang berwarna-warni; mulai dari merah, kuning, ungu, hingga warna-warna lainnya. Di sana juga tumbuh bunga mawar, bunga favorit Ziva yang sekaligus merupakan bunga kesukaan mendiang ibunya.

Setiap pagi di hari Minggu, Ziva selalu mendatangi area ini. Jika kerinduan pada sang ibu memuncak, ia akan berdiri di taman kecil itu, memandang keindahan mawar, dan menghirup aromanya dalam-dalam. Bagi Ziva, ritual ini mampu mengobati rasa rindunya walau tak sepenuhnya.

​"Sayang sekali di sini tidak ada mawar hitam," gumamnya pelan.

​Sudah sejak lama Ziva menginginkan bunga mawar hitam, namun setiap kali ia mengunjungi toko bunga, stoknya selalu habis. Belum lagi sang ayah yang secara tegas melarangnya menanam mawar hitam. Apa salahnya dengan mawar hitam? Ziva tidak mengerti. Selama ini, ia hanya bisa menikmati keindahan mawar hitam melalui layar ponselnya, mencari gambar-gambar estetik di Google maupun berbagai situs web. Itu adalah keinginan yang hingga kini belum tercapai.

​"Sepertinya aku harus berkebun hari ini agar bunga-bungaku tumbuh semakin cantik dan subur. Ah, iya, aku juga punya biji bunga matahari. Aku tanam saja sekalian biar koleksi bungaku makin banyak," gumamnya antusias.

​Tanpa membuang waktu, Ziva meraih cangkul yang tersandar di pojok rumah dan mulai menggali tanah untuk menanam berbagai jenis bunga baru. Beruntungnya, kondisi tubuh Ziva hari ini cukup sehat dibanding hari-hari sebelumnya. Yang terpenting, suasana rumah terasa sangat sepi karena ayah, ibu tirinya, serta kedua kakaknya sedang pergi berjalan-jalan ke luar rumah—entah ke mana, Ziva tidak tahu. Ia jelas tidak diajak. Apakah ia iri? Tentu saja. Siapa yang tidak merasa sedih melihat keluarganya pergi bersenang-senang tanpa melibatkannya? Namun, Ziva sudah terbiasa dengan pengabaian ini.

​Hanya membutuhkan waktu sekitar dua jam bagi Ziva untuk merampungkan hobinya hari ini, mulai dari menanam biji bunga matahari, memberi pupuk, hingga menyiram seluruh tanaman agar terlihat segar.

​"Huft, akhirnya selesai juga." Ziva mengusap pelipisnya yang sudah basah oleh keringat.

​"ZIVA! ZIVA!"

​Ziva menghela napas panjang dan kasar saat mendengar suara melengking memanggil namanya dari dalam rumah. Siapa lagi kalau bukan ibu tirinya? Sungguh menyebalkan!

​"ZIVA, DI MANA KAMU?!"

​Ibu tirinya itu memang gemar sekali berteriak setiap hari. Ziva sering membatin, apakah ibu tirinya itu merasa suaranya merdu dan mempesona? Bagi Ziva, suara itu justru lebih parau daripada tikus yang terjepit pintu.

​"IYA, SEBENTAR!" sahut Ziva. Ia segera berlari memasuki rumah untuk menemui wanita itu.

​Sesampainya di depan ibu tirinya, Ziva melihat di kedua tangan wanita tersebut terdapat dua paper bag—satu kecil dan satu besar. Di tangan anak gadis kesayangan ayahnya pun terdapat beberapa kantong belanjaan yang lebih banyak lagi. Namun, tidak ada sang ayah di sana; mungkin ayahnya masih ada urusan di kantor. Ziva bisa menyimpulkan bahwa mereka baru saja menghabiskan waktu berbelanja di mal.

​"Kamu, tolong pergi ke pasar. Beli sayuran dan kebutuhan dapur yang habis," perintah sang ibu dengan menyodorkan beberapa lembar uang kertas ke arah Ziva.

​"Kenapa tidak minta tolong pada asisten rumah tangga saja, Bu?" tanya Ziva heran. Padahal di rumah mereka ada pembantu. Lagi pula, jika ibu tirinya merasa kasihan pada pembantu, mengapa ia tidak membeli kebutuhan tersebut di mal atau setidaknya mampir ke supermarket saat pulang tadi?

​"Kenapa? Kamu tidak mau? Harusnya sebagai anak, kamu membantu orang tua. Kalau orang tua menyuruh, ya dilaksanakan, bukan malah membantah!" sentak ibu tirinya dengan pandangan yang tajam.

​Ziva menerima uang itu dan mengangguk pelan. "Iya, Bu, Ziva akan ke pasar. Kalau begitu, Ziva mandi dulu."

​"Jangan lama-lama mandinya! Ingat, kamu harus ke pasar tradisional di ujung kota. Mengerti?" tekan wanita itu.

​"Tapi itu terlalu jauh, Bu," protes Ziva lirih. Pasar tradisional di ujung kota sangat jauh, bisa menempuh waktu lebih dari satu jam. Itu pun jika jalanan lancar. Mengingat hari ini adalah hari Minggu, Ziva yakin jalanan akan sangat macet. Belum lagi sepeda motornya yang belum selesai diservis dan menunggu ojek daring akan memakan waktu yang lama. Padahal, di sekitar rumah mereka ada banyak tukang sayur dan toko kelontong yang lengkap. Mengapa harus dipersulit?

​"Saya tidak peduli. Tugasmu hanya beli sayuran dan keperluan dapur di sana. Di sana lebih murah dan kamu harus irit!"

​Ziva tertegun. Irit? Kalimat itu terasa sangat ironis mengingat ibu tirinya baru saja pulang dengan menenteng berbagai barang belanjaan mewah dari mal. Ziva hanya bisa menggigit bibir bawahnya.

​"Sudah sana pergi, ingat jangan lama-lama!"

​"Iya," jawab Ziva pendek, lalu melangkah menuju kamarnya untuk bersiap melakukan perjalanan panjang.

​Pasar tradisional adalah tempat di mana kegiatan jual-beli dilakukan secara langsung dalam bentuk eceran. Pasar ini berkembang pesat di masyarakat dengan pedagang asli pribumi. Biasanya, pasar tradisional terbagi menjadi berbagai jenis menurut waktunya, seperti pasar harian, mingguan, bulanan, dan tahunan. Kali ini, Ziva mengunjungi pasar mingguan, yang aktivitas jual-belinya hanya dilakukan sekali dalam seminggu.

​Setelah melalui perjalanan yang panjang dan melelahkan di bawah sengatan matahari, Ziva akhirnya sampai di depan pasar tersebut. Ia terkejut. Ziva sempat membayangkan pasar ini akan kumuh dengan sampah berserakan, namun nyatanya pasar ini sangat terawat dan bersih. Dengan semangat yang kembali muncul, Ziva melangkahkan kakinya masuk. Aroma daging, sayuran segar, dan berbagai makanan langsung menyambut indra penciumannya dengan wangi yang menggugah selera.

​"Pak, saya beli daging ayam, daging sapi, dan telur ya," ucap Ziva pada seorang pedagang.

​"Oh iya, Neng. Mau berapa beratnya?"

​"Satu kilogram saja untuk daging ayam dan sapinya. Telurnya juga satu kilogram saja, Pak. Tolong dipotong agak besar ya biar mudah saat dimasak."

​Setelah membayar total belanjaan, Ziva melanjutkan perjalanannya mencari sayur-mayur. Ia membeli kangkung, kol, sawi, kentang, wortel, tahu, dan tak lupa tiga bungkus tempe kedelai panjang. Ziva memang sangat menyukai tempe. Baginya, tempe adalah bahan makanan paling fleksibel—dibuat nasi goreng pakai tempe, makan mi pakai tempe, rasanya selalu pas di lidah.

​Tempe, sebagai makanan hasil fermentasi kedelai dengan ragi, memang telah menjadi makanan pokok bagi Ziva. Sejak ia sering kali hanya diberikan lauk tempe oleh ibu tirinya, Ziva justru mengembangkan kecintaan tersendiri pada makanan ini. Ia tidak merasa kekurangan gizi atau sedih; selama ada tempe, nafsu makannya selalu terjaga dengan lahap.

​Lelah setelah berkeliling, Ziva duduk di bangku kayu di dekat area pasar sambil meletakkan belanjaannya di samping. Matanya tertuju pada jajanan pasar yang dibungkus daun pisang di tangannya.

​"Ini namanya apa ya? Cenil atau apa?" Ziva bertanya pada dirinya sendiri, tampak bingung melihat makanan bulat kecil berwarna-warni yang disiram air gula merah.

​Saat Ziva sedang asyik mencicipi kenyalnya makanan tersebut, seseorang berdiri di hadapannya.

​"Hai, gue boleh duduk di sini, nggak?" tanya gadis itu.

​Ziva mendongak, melihat seorang gadis yang terlihat ramah. "Em, boleh," jawab Ziva dengan mulut yang masih penuh makanan.

​Gadis itu terkekeh. "Kenalin, nama gue Jeska. Nama lo siapa?"

​"Gue Ziva," jawab Ziva setelah menelan makanannya.

​"Lo di sini sendirian? Orang tua lo mana? Lo nggak tersesat, kan atau mau gue bantu cariin ortu lo?" tanya Jeska sembari menatap sekeliling.

​Ziva memelototkan matanya. "Ye enak aja! Gue baru selesai belanja, bukan tersesat!"

​Jeska tertawa lepas. "Ya ya sorry, abisnya tubuh lo mungil banget, mirip anak SD."

​Ziva mendengus kesal. Ia membuang muka, merasa tersinggung sekaligus malu. Jeska pun mengeluarkan bungkusan plastik berisi makanan serupa, namun berwarna hijau.

​"Lo lagi makan cenil?" tanya Jeska.

​"Cenil? Gue pikir namanya centil," ujar Ziva polos.

Jeska terbahak hingga matanya menyipit. "Ya kali namanya centil! Itu mah sebutan buat orang yang gatel!"

​Ziva pun menjelaskan bahwa ia membelinya dari seorang nenek tua, dan ia hanya mendengar samar kata "cenil".

Jeska kemudian menunjukkan miliknya. "Ini namanya klepon. Jajanan tradisional dari tepung ketan, isi gula merah, dan taburan kelapa parut. Pas digigit, gula merahnya lumer di mulut."

​Terdengar sangat lezat.

Ziva memberanikan diri meminta sedikit, dan Jeska dengan senang hati memberikan satu porsi klepon miliknya.

"Buat lo aja, gue masih punya satu lagi di rumah," ujar Jeska.

​Mereka pun bertukar jajanan. Ziva memberikan cenil miliknya sebagai balasan. Di tengah hiruk-pikuk pasar yang panas, pertemuan singkat itu terasa sangat berharga bagi Ziva.

​"Makasih ya," ucap Ziva tulus.

​"Sama-sama. Gue senang bisa ketemu lo di sini. Kalau bukan karena disuruh belanja sama ibu tiri gue, mungkin hari ini gue cuma bakal melamun di rumah," ungkap Ziva pelan.

Jeska tersenyum bijak. "Kadang hal-hal terbaik datang dari situasi yang paling kita benci, kan?"

​Ziva mengangguk setuju. Hari Minggu itu, di antara keramaian pasar tradisional, Ziva menemukan teman baru dan sepiring kebahagiaan sederhana yang tak akan ia lupakan.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!