Di koridor kampus berbasis agama di Kota T, Asyifa Humaira menjalani hari-harinya sebagai mahasiswi biasa. Namun, mendadak berubah saat sebuah perjodohan direncanakan untuknya. Sosok calon suaminya bukanlah orang asing di kampus, melainkan Fadhlan Ganendra, dosennya sendiri yang dikenal dingin, killer dan perfeksionis sekaligus pria yang menyimpan kunci masa lalu Syifa.
Sebuah kecelakaan tragis tiga belas tahun silam merenggut memori masa kecil Syifa, menyisakan lubang kosong tepat di bagian yang seharusnya diisi oleh nama "Fadhlan". Bagi Syifa, Fadhlan adalah orang asing yang dingin. Bagi Fadhlan, Syifa adalah kepingan masa lalu yang tak pernah ia lupakan.
Di balik pernikahan ini, keluarga besar menyimpan harapan besar agar Syifa menemukan kembali ingatannya yang hilang.
Akankah ikatan suci ini menjadi matahari yang bersinar membuka kabut masa lalu, ataukah Syifa akan jatuh cinta kembali pada sosok yang sama untuk kedua kalinya tanpa pernah mengingat siapa dia sebenarnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Chani Bae , isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 11
Di belahan kota yang lain, raungan mesin mobil sport Lamborghini Urus berwarna hitam legam membelah jalanan menuju kampung halaman Syifa. Di dalam kabin mewah itu, Fadhlan mengemudi dengan rahang yang mengeras, sementara Aidan duduk di kursi penumpang di sampingnya.
"Sebenarnya ada apa, Fad? Kenapa dari pagi pas rapat direksi Rumah Sakit sampai jamuan makan siang tadi, mukamu ditekuk terus? Konsentrasimu berantakan." tanya Aidan penasaran karena tuan muda yang tidak memberinya clue sama sekali.
"Tidak ada. Hanya sedikit salah paham." Jawab Fadhlan datar, matanya fokus pada jalanan.
"Dengan wanitamu? Syifa?"
"Kemarin dia melihatku dengan Nafisah di panti asuhan."
"Lalu? Dia mengira kau selingkuh? Dia cemburu?" Aidan sontak tertawa kecil, menggeleng-gelengkan kepala.
Mengangguk pelan, ekspresinya mendadak tampak polos seperti anak kecil yang tertangkap basah membuat kesalahan.
"Has she fallen in love with you, bro? (Apakah dia sudah jatuh cinta padamu?)" Aidan tersenyum penuh arti.
"Yes, maybe." Singkat, namun terdengar sangat percaya diri di telinga Aidan.
"Oh God! Dia sedang hilang ingatan tapi masih bisa jatuh cinta pada orang yang sama. So, how about you when suddenly her memories come back? (Bagaimana kalau tiba-tiba ingatannya kembali?)"
"Let the time answer it, Aidan (Biarkan waktu yang akan menjawabnya, Aidan)." Terdengar helaan napas berat.
"Hey, bro. Saranku, jangan terlalu dingin padanya. Sesekali, perlu bersikap hangat seperti Fadhlan di masa kecilnya dulu. Itu juga penting untuk memulihkan ingatannya."
Fadhlan memejamkan matanya sejenak, dan terlihat memijat pelipisnya yang sedikit terasa pening "Yes, I will try (ya, aku akan mencobanya)".
...----------------...
Setibanya di rumah orang tua Syifa, Fadhlan disambut oleh Abi Musthofa, Ummi Salwa, dan Kakek Ali. Namun, netra Fadhlan tidak menemukan keberadaan gadis kecilnya.
Setelah dipersilahkan duduk, Fadhlan dengan tutur kata yang sangat sopan dan runtut menjelaskan detail kejadian yang sebenarnya. Dia menjelaskan siapa Bu Sarah, dan siapa Nafisah (putri kandung tante Sarah) yang mengelola panti asuhan peninggalan keluarga besar Ganendra. Tidak ada hubungan masa lalu apa pun, murni urusan silaturahmi dengan kerabat dari umminya Fadhlan.
"Jadi kemarin Bu Sarah tidak bisa ikut waktu kamu datang mengkhitbah Syifa ya, Nak Fadhlan?" Tanya Ummi Salwa setelah mendengar penjelasan calon menantunya.
"Betul, Ummi. Beliau sedang kurang sehat waktu itu. Niat Fadhlan kemarin silaturahmi ke sana murni untuk memberitahu Tante Sarah tentang tanggal acara pernikahan kami, ummi. Karena hanya beliau keluarga dari ummi Aminah yang masih menjalin silaturrahmi dengan Fadhlan dan om Romi"
Kakek Ali menghela napas panjang, mengetukkan tongkatnya pelan ke lantai dengan raut wajah tidak enak hati kepada cucu sahabatnya itu "Astaghfirullah, Syifa... Apa yang anak itu pikirkan sampai bisa salah faham sejauh ini?"
"Ya Allah Syifa, seharusnya kamu tabayyun dulu nak" lirih Abi Musthofa menggelengkan kepala, gundah setelah mendengar penjelasan dari calon menantunya,
Kakek Ali menoleh ke arah menantunya "Salwa, coba hubungi Syifa sekarang. Tanyakan dia sedang di mana, suruh dia cepat pulang."
"Nggih, Abah. Ini Salwa telepon sekarang."
...----------------...
Setelah mendengar penjelasan langsung dari Ibu Sarah dan Nafisah di panti asuhan, gunung es di hati Syifa runtuh seketika. Rasa malu yang luar biasa kini menggantikan kecemburuan yang kemarin membakar dadanya. Nafisah bukan masa lalu calon suaminya, melainkan sepupu dari Fadhlan. Dan Bu Sarah adalah adik kandung dari Umminya Fadhlan.
"Insyaa Allah nanti kami datang ke pernikahan kalian. Kemarin dia sudah mengantarkan undangan ke sini" Nafisah tersenyum dan menggenggam tangan Syifa.
"Terimakasih Nafisah"
"Fadhlan itu pria yang baik, Nak. Tante yakin, kamu adalah jodoh terbaik yang Allah persiapkan untuknya," ucap Bu Sarah sembari menggenggam tangan Syifa, memberikan restu yang menyejukkan hati.
Namun, ketenangan itu tak bertahan lama. Sebuah telepon dari Ummi Salwa membawa kabar yang membuat jantung Syifa serasa merosot ke perut, Fadhlan sudah berada di rumahnya.
...----------------...
Syifa sampai di rumah dengan perasaan campur aduk, ditemani Jihan dan Adiba yang tampak ketar-ketir. Benar saja, sebuah mobil mewah sudah terparkir di halaman. Di teras, Fadhlan berdiri tegak dengan kedua tangan di saku celana, memancarkan aura wibawa yang membuat Jihan ingin menghilang dari bumi saat itu juga.
"Assalamu'alaikum" ucap mereka kompak.
"Wa'alaikumussalam" jawab Fadhlan dan Aidan.
"Kalian tunggu di dalam, aku panggilkan ummi sama abah dulu ya" ujar Syifa tanpa menghiraukan keberadaan Fadhlan di sana.
"Permisi pak.." Jihan dan Adiba menyapa Fadhlan sambil sedikit membungkukkan badan namun ekspresi Fadhlan hanya datar.
Setelah Jihan dan Adiba berpamitan pada kedua orang tua Syifa dan kakek, mereka hendak langsung pulang. Tetapi Fadhlan meminta izin pada abah dan kakek untuk berbicara dengan Syifa dan kedua temannya di ruang tamu.
Fadhlan berdiri dengan memasukkan kedua tangan ke saku celananya, memperlihatkan kesan pria yang mempunyai kuasa dan wibawa. Sedangkan Syifa, Jihan juga Adiba duduk di sofa tanpa berani menatap Fadhlan.
"Kenapa diam saja? Saya sudah ada di depan kalian, sepertinya kemarin ada yang menuduh saya berbohong?" sindir Fadhlan.
Diantara Jihan dan Adiba tidak ada yang berani menjawab, lain halnya dengan Syifa.
"Kalian pulang saja, biar aku yang selesaikan" ujar Syifa pelan namun masih bisa di dengar Fadhlan.
"T-tapi Syif" potong Jihan.
"Maaf pak, biarkan mereka pulang. Hari sudah semakin sore"
"Oke, biar Aidan yang mengantar mereka pulang" pandangannya tertuju pada Syifa.
"Tidak usah pak terimakasih, kami naik taxi saja" tolak Adiba segan.
"Aidan, kamu antar mereka berdua pulang. Saya ingin bicara empat mata dengan calon istri saya" titahnya menekankan sebutan calon istri.
'habis lah, pasti Syifa bakal di marahin pak dosen' batin Jihan khawatir.
"Kita pulang dulu ya Syif" kata Adiba memeluk Syifa.
"Jangan sedih lagi, kalau ada apa-apa telfon kita" celetuk Jihan.
"Iya, terimakasih Diba, Jihan. Kalian hati-hati ya"
Akhirnya mau tidak mau karena hari sudah semakin petang, Jihan dan Adiba pamit untuk pulang.
......................
Setelah Adiba dan Jihan berpamitan dan "dipaksa" pulang dengan mobil Fadhlan yang dikendarai Aidan, kini tinggal lah Syifa dan Fadhlan yang duduk di teras rumah, Syifa merasa canggung dan malu jika pembicaraanya nanti didengar oleh abi, ummi juga kakeknya kalau masih duduk di ruang tamu.
"Asyifa Humaira, saya minta maaf sudah membuatmu salah paham," ucap Fadhlan membuka suara.
Syifa tertegun. 'Kenapa dia yang meminta maaf?' pikirnya. Dengan suara nyaris tak terdengar, Syifa membalas, "Maaf... maaf sudah menuduh dan berprasangka buruk."
"Apa? Saya tidak dengar," goda Fadhlan, sengaja mendekat untuk menjahili calon istrinya yang kini menunduk dalam.
"Saya bilang MAAF!" seru Syifa kesal, wajahnya memerah karena merasa dipermainkan.
Fadhlan terkekeh pelan. "Sekarang, masih cemburu kah, Gadis Kecil?"
"Saya tidak cemburu!" sanggah Syifa cepat, meski rona merah di pipinya berkata sebaliknya.
Suasana mendadak berubah serius saat Fadhlan bertanya, "Mahasiswa yang bicara denganmu kemarin... apakah dia kekasihmu?"
Syifa tersentak. Jadi, Fadhlan juga melihatnya dengan Hasbi? "Bukankah Bapak bilang tidak peduli apakah saya punya kekasih atau tidak? Segalanya akan berjalan sesuai rencana, bukan?" balas Syifa mencoba balik menjahili.
Fadhlan melangkah lebih dekat, membungkuk sedikit hingga suaranya hanya bisa didengar oleh Syifa. "Kalau begitu, apa saya juga harus mencari kekasih?"
"Terserah!" jawab Syifa ketus, meski hatinya bergetar hebat saat melihat senyuman manis yang jarang diperlihatkan dosennya itu.
Sebelum berpamitan, Fadhlan secara refleks mengusap lembut puncak kepala Syifa yang tertutup hijab. "Besok, datanglah ke butik Tante Silvi dengan Ummi. Saya akan kirim supir pribadi ntuk menjemput."
Syifa terkesiap, segera menjauhkan diri dengan wajah serius. "Maaf, Pak. Tolong jaga batasan sebelum kita sah."
Fadhlan terdiam sejenak, lalu mengulas senyum bangga. "Oke, I’m sorry," ucapnya tulus. Di dalam hatinya, kekagumannya pada Syifa semakin berlipat ganda. Gadis kecilnya sekarang sudah tumbuh menjadi wanita yang bukan hanya cantik, tapi juga menjaga kehormatannya dengan sangat baik.
...****************...