NovelToon NovelToon
DIKIRIM KE PESANTREN, MALAH JATUH CINTA PADA ANAK KYAI

DIKIRIM KE PESANTREN, MALAH JATUH CINTA PADA ANAK KYAI

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Diam-Diam Cinta / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:937
Nilai: 5
Nama Author: putra ilham

Reno Wijaya, CEO muda yang tampan, kaya, dan sangat dingin. Baginya, semua perempuan itu sama saja: matre dan cuma mengincar hartanya. Karena keras kepala dan selalu menolak dijodohkan, Ayah menghukumnya dengan mengirim Reno masuk ke Pesantren Al-Falah di pedalaman Kalimantan.

Awalnya Reno benci sekali, menganggap tempat ini neraka dan isinya orang kampung semua. Sikapnya masih sombong, angkuh, dan meremehkan semua orang. Sampai ia bertemu Zahrana, anak Kyai yang cantik sederhana, lembut, dan tulus. Untuk pertama kalinya, Reno bertemu perempuan yang sama sekali tidak peduli siapa dirinya dan apa kekayaannya.

Perlahan rasa benci berubah jadi penasaran, lalu tumbuh jadi cinta yang mengubah hidupnya total. Reno belajar menjadi rendah hati, berprinsip, dan setia. Meski kembali memimpin perusahaan besar dan dikelilingi banyak wanita cantik, hatinya tetap utuh hanya untuk Zahrana.

Dulu dikirim sebagai hukuman karena sifat buruknya, ternyata justru di sanalah Reno menemukan jati dirinya

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon putra ilham, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 13

Waktu terus berputar, kini memasuki bulan kesembilan Reno berada di Pesantren Al-Falah. Sisa waktu masa pembelajarannya kini tinggal tiga bulan lagi. Bagi orang lain, satu tahun mungkin terasa lama dan membosankan, namun bagi Reno, setiap detik yang berlalu terasa begitu berharga dan penuh makna. Ia sadar, perubahannya belumlah sempurna sepenuhnya. Masih ada sisa-sisa sifat lama yang kadang muncul mengintip, seperti ingin dipuji, ingin diakui, atau merasa lebih karena prestasi yang sudah diraih. Dan kali ini, Kyai Ahmad membimbingnya masuk ke tingkatan yang jauh lebih tinggi dan jauh lebih sulit: Belajar Ikhlas.

Sebuah pagi yang sejuk dan berkabut tipis, selepas shalat Subuh berjamaah, Kyai Ahmad duduk melingkar bersama para santri di halaman masjid. Udara pagi itu terasa dingin menusuk tulang, namun wajah-wajah mereka tampak segar dan siap menerima ilmu.

“Anak-anakku sekalian,” suara Kyai Ahmad terdengar lembut namun menembus ke dalam sanubari, “Kalian sudah belajar banyak hal. Kalian sudah belajar mengolah tanah, belajar menahan diri, belajar sabar, belajar memimpin dan mengayomi. Semua itu ilmu yang luar biasa. Tapi percuma punya kekuatan, percuma punya ilmu, percuma punya kedudukan, kalau satu ini belum dimiliki: Ikhlas.”

Beliau berhenti sejenak, menatap wajah-wajah santri satu per satu, hingga pandangannya jatuh tepat pada Reno.

“Ikhlas itu artinya apa? Bukan cuma rajin bekerja, bukan cuma suka memberi. Ikhlas itu artinya melakukan segala sesuatu semata-mata mengharap ridha Tuhan dan kebaikan sesama, tanpa mengharap pujian, tanpa mengharap balasan, tanpa mengharap pamrih sedikit pun. Memberi tangan kanan, tangan kiri tak boleh tahu. Bekerja keras, tapi tak merasa punya jasa. Berkorban, tapi tak merasa hebat. Dan hari ini, Kyai ingin Saudara Reno memimpin satu tugas khusus yang akan menguji sampai ke dasar hatimu: membantu warga desa yang rumahnya rusak terkena angin kencang kemarin malam.”

Reno mengangguk hormat, namun dalam hatinya sedikit bertanya-tanya. “Membantu membangun rumah? Itu sudah biasa aku lakukan. Apa susahnya?” Ia belum sadar, bahwa tugas ini bukan hanya soal fisik, tapi soal niat di dalam hati.

Pagi itu juga, Reno bersama rombongan santri berjalan kaki sekitar dua kilometer masuk ke dalam perkampungan warga yang letaknya agak terpencil. Pemandangan yang menyambut mata mereka sungguh menyedihkan. Beberapa rumah warga yang terbuat dari kayu dan anyaman bambu roboh tertimpa pohon tumbang, atapnya terbang diterpa angin kencang, dan barang-barang isinya berserakan basah terkena hujan semalam.

Salah satu rumah yang paling parah kerusakannya adalah rumah Pak Surya, seorang petani tua yang hidup sebatang kara, miskin, dan pendiam. Saat melihat kedatangan rombongan dari pesantren, Pak Surya hanya menatap dengan tatapan kosong dan pasrah, tak banyak bicara, tak banyak tersenyum, seolah tak peduli siapa yang datang atau mau melakukan apa.

“Pak Surya, kami datang mau membantu memperbaiki dan membangun kembali rumah Bapak. Kami akan kerjakan sampai selesai, sampai Bapak bisa tidur dan berteduh lagi dengan nyaman,” ucap Reno dengan ramah, mencoba menyapa orang tua itu.

Namun respons Pak Surya sangat dingin dan datar. “Terserah kalian saja. Kalau mau kerjakan ya kerjakan, kalau tidak ya tidak. Sudah biasa begini hidup susah, tak ada bedanya,” jawabnya ketus, lalu duduk diam di bawah pohon besar di pinggir halaman, tak mau membantu sedikit pun, bahkan tak mau menawarkan minum sekalipun.

Beberapa santri yang lain mulai bergumam dan menggerutu dalam hati.

“Duh, orang ini aneh sekali. Kita datang mau bantu, dia malah ketus dan dingin. Padahal orang susah biasanya senang kalau dibantu.”

“Kami capek-capek jalan jauh, bawa alat berat, eh dia duduk manis saja, tak ada rasa terima kasih sama sekali. Malas rasanya lanjutkan.”

“Padahal kalau senyum sedikit, hati ini lega. Ini malah kayak kita yang bersalah.”

Reno sendiri awalnya juga merasa tak nyaman. Hatinya sedikit bergetar kesal dan kecewa. “Aku ini anak orang kaya, dulu orang memohon-mohon biar aku datang. Sekarang aku datang membantu dengan tulus, malah diperlakukan seperti angin lalu. Tak ada ucapan terima kasih, tak ada senyum, tak ada penghargaan. Buang-buang tenaga saja rasanya.”

Rasa kesal dan keinginan untuk dipuji itu mulai merayap naik ke dada Reno. Ia hampir saja mau menyuruh teman-temannya berhenti bekerja dan pulang saja. Namun tepat saat egonya mulai bangkit, terbayang kembali wajah Kyai Ahmad, terbayang pesan Zahrana, dan terbayang pelajaran tentang Ikhlas.

“Tunggu Reno! Kamu datang ke sini mau cari apa? Mau cari ucapan terima kasih? Mau cari pujian? Atau mau cari ridha dan membantu sesama makhluk Tuhan? Kalau kamu memberi supaya dipuji, itu bukan sedekah, itu jual beli. Kalau kamu bekerja supaya dihargai, itu bukan pengabdian, itu cari nama. Pak Surya ini ujianmu. Dia kasar, dia dingin, dia tak tahu berterima kasih… tapi justru di situ tempatnya ikhlas diuji.”

Reno menarik napas panjang, membuang jauh-jauh rasa kesal dan egonya. Ia menatap teman-temannya yang tampak malas dan kecewa itu, lalu tersenyum tenang.

“Teman-teman, jangan lihat sikap Pak Surya. Jangan tunggu senyumnya, jangan tunggu terima kasihnya. Kita bekerja bukan buat dia, tapi buat Tuhan dan buat kemanusiaan. Anggap saja dia sedang sakit hati, sedang sedih, sedang lelah. Kita yang muda, kita yang kuat, kita yang harus mengalah dan memberi. Ayo semangat, kerjakan sebaik mungkin, secepat mungkin, biar beliau punya atap lagi malam ini.”

Reno sendiri maju paling depan, masuk ke bagian yang paling kotor, paling rusak, dan paling berat. Ia angkat kayu besar yang tertimpa, ia bongkar sisa bangunan yang hancur, ia gali tanah, ia paku kayu, semuanya ia lakukan dengan senyum dan hati yang lapang, seolah-olah Pak Surya adalah orang yang paling ramah dan paling menghargai di dunia.

Siang berlalu, panas mulai menyengat, keringat membasahi seluruh tubuh Reno, bajunya basah kuyup, kotor penuh lumpur dan serbuk kayu. Tenggorokannya kering, perutnya lapar, dan otot-ototnya mulai menjerit lelah. Pak Surya masih saja duduk diam di tempatnya, kadang menatap mereka dengan tatapan kosong, kadang membuang muka, tak pernah sekalipun menawarkan air minum atau sekadar ucapan semangat.

Teman-teman santri makin tak habis pikir, tapi melihat Reno yang tetap semangat, tetap bekerja, dan tetap tersenyum tanpa sedikit pun tampak kecewa, mereka pun ikut tertular semangat itu. Mereka sadar, ini ujian hati, bukan ujian fisik.

Menjelang sore, bangunan rumah itu sudah berubah drastis. Yang tadinya hancur berantakan, kini sudah berdiri kokoh, rapi, atapnya sudah terpasang, dindingnya sudah tertata, dan terasnya sudah bersih. Hasilnya sangat bagus, jauh lebih baik dari kondisi rumahnya sebelumnya.

Reno berjalan mendekati Pak Surya yang masih duduk diam. Ia tersenyum tulus, menunduk hormat.

“Pak Surya, Alhamdulillah rumahnya sudah selesai diperbaiki dan diperindah. Malam ini Bapak sudah bisa tidur nyenyak dan aman. Semoga Bapak senang dan diberi kesehatan selalu.”

Dugaan Reno, pasti Pak Surya akan senang, akan berterima kasih, akan berlutut menangis haru. Tapi kenyataannya, Pak Surya hanya menoleh sebentar, melirik rumah barunya, lalu berkata dengan suara datar dan biasa saja: “Oh… sudah selesai ya. Baguslah. Terima kasih.” Singkat, kering, tanpa emosi, tanpa senyum, lalu ia masuk ke dalam rumah seolah tak ada hal besar yang baru saja terjadi.

Banyak santri yang langsung kecewa berat, wajahnya masam, hatinya panas.

“Duh! Cuma dapat ‘terima kasih’ begitu saja? Capek seharian, jalan jauh, panas-panas, dikasih tenaga dan pikiran, eh dibalas sepatah kata datar begitu saja. Sakit hati rasanya!”

“Sia-sia saja kita berbuat baik kalau balasannya begini. Besok-besok malas rasanya mau bantu lagi.”

Reno sendiri awalnya juga merasa ada sedikit rasa kecewa yang mengganjal di dada. “Sudah kita beri yang terbaik, sudah kita kerjakan seikhlas mungkin, tapi responnya kosong melompong. Rasanya ada yang kurang.” Namun ia segera sadar, rasa kecewa ini sisa penyakit hati yang harus dibuang.

Ia menoleh ke teman-temannya, tersenyum lega dan damai.

“Teman-teman, lihatlah hati saya. Awalnya saya juga kecewa, merasa rugi, merasa tak dihargai. Tapi coba kita renungkan: kita ini mau jual harga diri kita seharga ucapan terima kasih dan senyum orang lain? Kalau dia senyum kita jadi baik, kalau dia marah kita jadi jahat? Itu namanya hati yang goyah, belum ikhlas.”

Reno melanjutkan dengan suara yang makin lembut dan dalam.

“Coba lihat rumah ini. Dulu rusak, sekarang bagus. Dulu dia tak punya tempat berteduh, sekarang aman. Itu hasil kerja kita. Itu pahala kita. Kalau dia berterima kasih, itu rezeki tambahan buat kita. Kalau dia tidak, berarti kita sudah lunas bayar kewajiban kita sebagai manusia. Justru karena dia tak tahu berterima kasih, amal kita jadi lebih mahal di mata Tuhan, karena kita memberi tanpa pamrih sedikit pun. Ayo pulang dengan hati yang senang, jangan bawa beban rasa kecewa. Kita sudah menang hari ini.”

Mendengar penjelasan Reno, hati teman-temannya perlahan menjadi adem dan damai kembali. Mereka melihat Reno sudah sampai di tingkatan yang jauh di atas mereka, tingkatan di mana memberi itu menjadi kebutuhan hati, bukan untuk mencari pujian.

Sore itu, saat mereka kembali ke pesantren dengan badan yang lelah tapi hati yang ringan, Reno berjalan paling belakang, menikmati perjalanan pulang dengan rasa syukur yang meluap. Ia merasa baru saja lulus satu ujian yang paling berat dan paling mahal harganya.

Sesampainya di pesantren, seperti biasa, sosok yang paling ditunggu sudah menunggu di pinggir jalan dengan nampan berisi air hangat dan makanan ringan. Zahrana.

Dari wajah Reno yang tenang dan damai, Zahrana seolah sudah tahu apa yang baru saja terjadi. Ia tersenyum manis, menyodorkan handuk basah untuk menyeka keringat Reno.

“Selamat pulang, Mas Reno. Saya dengar ceritanya dari teman-teman. Saya dengar Pak Surya begitu dingin dan tak tahu berterima kasih. Tapi saya lihat Mas Reno pulang dengan wajah yang paling bersih dan paling damai dari biasanya. Kenapa bisa begitu?” tanya Zahrana lembut, matanya menatap penuh kekaguman.

Reno tersenyum lebar, menatap gadis itu dengan pandangan yang penuh rasa syukur.

“Zahra, hari ini aku belajar pelajaran paling mahal seumur hidupku. Aku belajar bahwa memberi itu indah sekali, tapi memberi tanpa mengharap balasan itu jauh lebih indah dan jauh lebih membahagiakan. Aku tadi sempat kecewa, sempat sakit hati, tapi aku sadar, sakit hati itu karena aku mau minta bayaran. Begitu aku buang keinginan dibalas itu, rasanya hati ini jadi luas sekali, lega sekali, seolah terbang bebas di langit. Aku jadi paham, kenapa kamu dan Bapak selalu senang melayani siapa saja tanpa membeda-bedakan. Karena bahagia itu ada di dalam proses memberi, bukan di respon penerima.”

Zahrana mengangguk bangga, matanya berbinar-binar senang.

“Mas Reno sudah sampai di gerbang emasnya kebaikan. Ikhlas itu puncaknya segalanya. Orang yang ikhlas hatinya, tak akan pernah miskin, tak akan pernah sedih, tak akan pernah kecewa. Karena apa pun yang terjadi, dia sudah merasa cukup dan bahagia karena sudah berbuat baik. Dan saya bangga sekali, kamu sudah lulus ujian ini dengan nilai sempurna. Hari ini kamu bukan cuma membangun rumah orang lain, tapi kamu baru saja membangun kemuliaan yang paling tinggi di dalam jiwamu sendiri.”

Malam itu, Kyai Ahmad memanggil Reno ke ruangannya. Wajah Kyai Ahmad tampak sangat puas dan bersinar bahagia.

“Nak Reno, hari ini kemenangan terbesarmu bukan membangun rumah itu, tapi menaklukkan egomu sendiri. Kyai tahu betul betapa sakitnya hati diperlakukan dingin padahal sudah berbuat baik. Itu ujian paling berat. Dan kamu berhasil melewatinya dengan mulus. Ingatlah Nak, sifat ikhlas ini yang akan menyelamatkanmu nanti saat kamu kembali ke dunia luar. Di sana banyak orang yang curang, banyak orang yang berkhianat, banyak orang yang tak tahu berterima kasih. Kalau kamu belum ikhlas, hatimu akan sakit terus, marah terus, dan hidupmu menderita. Tapi kalau kamu sudah ikhlas, kamu akan tetap tenang dan bahagia seberat apa pun cobaan yang datang.”

Reno menunduk hormat, hatinya penuh rasa syukur yang tak terhingga. Ia merasa makin lengkap, makin matang, dan makin siap menghadapi apa pun. Sisa waktu dua bulan ke depan akan ia gunakan untuk memoles sifat ini sampai benar-benar melekat di jiwa, sampai bernapas saja ia sudah ikhlas.

Dan di dalam hatinya, rasa cintanya pada Zahrana pun ikut berubah makin murni dan suci. “Zahra, aku belajar memberi tanpa pamrih ini pun awalnya karena kamu. Aku ingin mencintaimu dengan cara yang paling indah, yang paling tulus, yang tak minta balasan apa pun selain kebahagiaanmu dan ridha Tuhan. Aku ingin mencintaimu dengan hati yang ikhlas, sama seperti aku belajar memberi pada orang lain. Tunggu aku, sayang.

1
Rima R P
katanya anak kiyai dan pesantren ko ga pake hijab ka di liatin cowo bukan nya buru" nyari hijab ini santuy aja 🤣
T28J
baiklah 👍👍👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!