Rara Wijaya, seorang perawat muda berbakat di RS Bunda, hidup dengan luka yang dalam akibat kehilangan kedua orang tuanya. Ibu yang berhati lembut meninggal karena penyakit langka, sementara ayahnya, seorang dokter, tewas dalam kecelakaan mobil saat menolong korban tabrakan. Meskipun penuh dendam, Rara tumbuh menjadi perawat yang sangat berdedikasi.
Namun, kehidupannya berubah total ketika RS Bunda mendatangkan dokter spesialis bedah baru, dr. Arkan Pratama. Dokter muda ini dikenal dingin dan perfeksionis, yang sering meremehkan perawat. Awalnya, Rara dan Arkan selalu bertikai, sampai suatu hari Rara mengetahui bahwa Arkan adalah putra dari dokter yang menyebabkan kematian ayahnya 15 tahun lalu.
Konflik mereka memuncak ketika mereka harus bekerja sama menangani pasien kritis. Di tengah badai, mereka terjebak di rumah sakit tua yang sudah tidak terpakai - tempat yang sama di mana ayah Rara terakhir kali bekerja. Di sana, rahasia keluarga mereka terbongkar satu per satu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Candra Arista, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 5 : Pengakuan di Tengah Hujan
Malam itu, hujan deras mengguyur kota, membuat atap rumah sakit berbunyi seperti drum yang dipukul tanpa henti. Rara berdiri di depan pintu masuk rumah sakit, memandang genangan air yang semakin meluas di area parkir. Shift malamnya baru saja selesai, namun hujan ini membuatnya ragu untuk pulang.
"Kamu terjebak juga? "
Suara itu membuat Rara berbalik. Arkan berada di sampingnya, rambutnya sedikit basah karena tetesan air hujan yang masuk melalui atap kanopi.
"Shift kamu sudah selesai juga? " tanya Rara.
Arkan mengangguk. "Sudah 36 jam. Aku perlu tidur. "
"Kamu seharusnya sudah pulang satu jam yang lalu," Rara berkata sembari mengernyitkan dahi. "Apakah ada pasien lagi? "
"Tidak," Arkan tidak menatapnya. "Aku. . . menunggumu. "
Rara merasa terkejut. "Menungguku? "
"Kamu ingat janji kita untuk melanjutkan kencan? " Arkan akhirnya memandangnya. "Aku punya sesuatu untukmu. "
Dia mengeluarkan paket kecil dari saku jas dokternya dan menyerahkannya kepada Rara. "Ini."
Rara membuka paket tersebut dengan hati-hati. Di dalamnya terdapat martabak manis mini dalam wadah plastik transparan.
"Kamu bilang ini adalah makanan kesukaanmu," kata Arkan sambil mengalihkan pandangannya. "Aku meminta perawat malam yang baru pulang untuk membelinya. " Rara merasakan kehangatan di dadanya. "Kamu ingat? "
"Aku ingat semuanya tentangmu, Rara Wijaya," Arkan akhirnya menatapnya. "Aku tahu kamu suka kopi dengan sedikit gula. Kamu selalu menggigit bibir bawah saat merasa gugup. Kamu juga menyelipkan rambutmu ke belakang telinga kiri saat berpikir keras. "
Rara terdiam. Ia tidak menyadari bahwa Arkan mengamati dirinya dengan seksama.
"Dan aku ingat," lanjut Arkan, "betapa beruntungnya aku bisa mengenalmu. "
Hujan semakin deras, menghasilkan suara yang hampir mengganggu. Namun bagi Rara, saat ini terasa hanya ada mereka berdua di dunia ini.
"Aku. . . " Rara berusaha berbicara, namun kata-katanya tersangkut di tenggorokan.
"Kita perlu berbicara," Arkan menarik napas dalam-dalam. "Tentang. . . kita. "
"Kita? "
"Saya tidak ingin terburu-buru," Arkan berbicara dengan hati-hati. "Tapi saya juga tidak mau membuang waktu. Setelah semua yang kita lalui. . . aku ingin menanyakan. . . "
"Ya? " Rara hampir tidak dapat mendengar suaranya sendiri di tengah hujan.
"Apakah kamu mau berkencan denganku? Bukan sebagai rekan kerja. Tapi. . . lebih dari itu."
Hujan terus mengalunkan melodi di atap rumah sakit. Rara memandang Arkan yang berdiri di depannya, matanya dipenuhi ketidakpastian yang jarang terlihat pada wajah dokter yang sangat sempurna itu.
"Aku. . . " Rara menghela napas. "Aku tidak yakin apakah ini ide yang baik. "
Arkan mengerutkan kening. "Ada apa ini? "
"Kita adalah tim," Rara berusaha untuk menjelaskan. "Hubungan antara dokter dan perawat itu. . . cukup rumit. "
"Tetapi kita bukan hanya dokter dan perawat," Arkan melangkah lebih dekat. "Kamu pasti menyadari hal itu."
"Aku menyadari," Rara mengangguk. "Namun, aku juga tidak ingin kehilanganmu hanya karena situasi yang sulit ini."
"Kita tidak akan terpisah," Arkan menggenggam tangannya. "Aku berjanji. "
Sebuah kehangatan mengalir dari genggaman Arkan. Rara ingin sepenuhnya merasakan perasaan ini. Namun ada sesuatu yang menghalanginya.
"Ada satu hal lagi," Rara mengambil napas dalam-dalam. "Tentang ayahmu. . . "
"Ayahku? " Arkan terlihat terkejut. "Kamu tahu tentang ayahku? "
"Aku. . . " Rara terdiam sejenak. Bagaimana ia bisa mengatakan bahwa ayah Arkan adalah penyebab kematian ayahnya sendiri?
"Apa yang kamu ketahui tentang ayahku? " Arkan bertanya dengan nada lebih tinggi.
"Belum sekarang," Rara lembut menarik tangannya. "Aku perlu pulang. "
"Rara—"
"Maaf, aku harus pergi," Rara memotong Arkan sebelum berlari ke tengah hujan, meninggalkan Arkan yang bingung di tempatnya.
Hujan yang dingin membasahi Rara, tetapi tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan rasa bersalah yang menggerogoti hatinya. Dia tahu bahwa dia harus memberi tahu Arkan tentang kebenarannya suatu saat nanti. Namun, malam ini bukanlah saat yang tepat.
Malam ini seharusnya dirasakan sebagai pelukan hangat Arkan yang melindunginya dari hujan, bagaimana tangan besar itu menutupi kepalanya dari tetesan air, dan saat mereka berdiri di bawah atap rumah sakit yang bocor—terlalu dekat dan akrab untuk hanya dianggap sebagai rekan kerja.
Malam ini adalah tentang bagaimana Arkan tidak menanyakan mengapa dia menangis, hanya menyeka lembut air mata dan hujan dari pipinya sambil berkata, "Aku ada di sini. " Dan untuk saat ini—hanya untuk saat ini—itu sudah lebih dari cukup. Kebenaran dapat ditunda hingga esok hari. Atau mungkin lusa.
Atau mungkin sama sekali tidak. Karena di tengah hujan ini, saat Arkan menatapnya seolah ia adalah satu-satunya yang berarti di dunia, Rara merasa ragu untuk merusak semua ini.
Bersambung....