Sinopsis
Di Alam Fana, hukum rimba adalah satu-satunya kebenaran. Lin Chen, murid pelataran luar Sekte Pedang Awan, menyadari kenyataan pahit ini sejak hari pertama. Bakatnya pas-pasan, sumber dayanya selalu dirampas, dan nyawanya tak lebih berharga dari rumput liar. Saat maut hampir merenggutnya di ujung tebing, sebuah anomali tanpa asal-usul bangkit di dalam benaknya: Sistem Pilihan Takdir.
Sistem ini menolak memberikan kekuatan instan. Setiap krisis hanya akan memunculkan tiga jalur pilihan di matanya, masing-masing membawa risiko dan hadiah yang berbeda. Hadiah tersebut bukanlah pil dewa yang langsung membuatnya kebal, melainkan teknik dasar, petunjuk tersembunyi, atau sekadar kesempatan bertahan hidup sesaat. Semuanya menuntut Lin Chen untuk memeras keringat, darah, dan akalnya sendiri. Dari kerasnya Alam Fana, merangkak naik menuju kemegahan Dunia Tengah para immortal hingga akhirnya mengincar keabadian sejati di alam dewa , Lin Chen mengukir jalannya selangkah demi selang
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon 𝐍𝐞𝐳𝐮𝐤𝐨 i, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 15 badai yang keluar dari dimensi dan kejatuhan sang tuan muda
Sisa dua hari di dalam Hutan Ilusi berlalu dengan keheningan yang mencekam. Reputasi kematian menyebar lebih cepat daripada hembusan angin. Kabar mengenai seorang pemuda berjubah abu-abu compang-camping yang membantai puluhan anggota elit Fraksi Pedang Darah meresap ke telinga setiap kelompok yang tersisa. Ketakutan mengambil alih keserakahan. Tidak ada lagi pertempuran perebutan wilayah; sebagian besar murid memilih bersembunyi di dalam gua atau memanjat pohon kristal tertinggi, berdoa agar waktu segera berakhir dan mereka tidak berpapasan dengan sang Iblis Pelataran Luar.
Jauh di pedalaman hutan, tersembunyi di balik tirai air terjun beracun yang memancarkan pendar keunguan, Lin Chen duduk bersila di atas batu basal yang basah.
Ia tidak membuang waktu satu detik pun untuk beristirahat. Di hadapannya, berserakan isi dari kantong penyimpanan milik si kembar Ma Lei dan Ma Feng. Dua algojo tingkat enam itu ternyata menyimpan kekayaan yang cukup membuat mata murid biasa melotot. Terdapat lima ratus keping Batu Roh Tingkat Rendah, beberapa pil pemulih energi kelas menengah, dan sebuah benda yang paling menarik perhatian Lin Chen: sepasang sarung tangan tempur yang terbuat dari rajutan benang baja fleksibel dan sisik hewan buas.
Sarung tangan itu memancarkan aura elemen logam yang tajam. Bagi petarung tangan kosong, artefak pertahanan tingkat fana kelas menengah ini adalah harta karun.
Saat Lin Chen mengulurkan tangan untuk mengambil sarung tangan tersebut, layar cahaya biru transparan berpendar menyela niatnya.
**[Artefak Tempur Terdeteksi: Sarung Tangan Sisik Baja.]**
**[Peringatan: Elemen logam pada artefak ini berbenturan dengan 'Akar Tanah Besi' murni di dalam tubuh Anda. Memakainya akan mengurangi efisiensi sirkulasi Qi sebesar 30%.]**
**[Silakan tentukan metode pemanfaatan artefak:]**
**[Pilihan 1: Pakai artefak tersebut apa adanya.
Hadiah: Tangan Anda terlindungi sempurna dari goresan senjata tajam. Daya hancur 'Batu Tumbuk' menurun drastis akibat hambatan penyaluran energi ke luar pori-pori.]**
**[Pilihan 2: Simpan artefak ini dan jual ke Bengkel Kawah Api setelah keluar dari dimensi.
Hadiah: Anda mendapatkan kekayaan materi berlimpah. Anda kehilangan kesempatan untuk memperkuat senjata alami Anda (kepalan tangan) sebelum pertarungan besar berikutnya.]**
**[Pilihan 3: Gunakan api Qi murni untuk meleburkan sarung tangan ini. Ekstrak esensi benang baja dan sisik buasnya, lalu serap langsung secara paksa ke dalam lapisan kapalan dan tulang buku jari Anda menggunakan ketahanan 'Akar Tanah Besi'.
Hadiah: Kepalan tangan Anda bermutasi secara permanen menjadi artefak hidup. Proses ini memicu rasa sakit pembakaran tingkat tinggi. Kekuatan benturan 'Batu Tumbuk' meningkat dua kali lipat.]**
Sistem Pilihan Takdir tidak pernah memberikan celah kenyamanan. Berulang kali ia dihadapkan pada opsi penyiksaan diri. Lin Chen menatap kedua tangannya. Lapisan kulit di buku jarinya memang telah mengeras menjadi kapalan tebal berwarna kemerahan, menghadapi senjata spiritual kelas tinggi milik praktisi tingkat tujuh seperti Zhao Tian, kulit keras saja tidak akan cukup. Tulangnya bisa retak jika berbenturan dengan energi murni tingkat tinggi.
Memodifikasi fisiknya menjadi artefak hidup adalah satu-satunya jalan untuk memangkas jarak kekuatan tersebut.
"Pilihan ketiga," ucap Lin Chen tegas, membiarkan layar biru itu memudar.
Ia memejamkan mata, memutar seluruh Qi di dalam Dantiannya yang kini berada di ambang batas Tahap Kondensasi Qi Tingkat Empat Puncak. Menggunakan elemen tanah besinya, ia menciptakan tekanan suhu tinggi di telapak tangannya. Lin Chen menggenggam sarung tangan baja itu erat-erat.
*Cesss!*
Asap kelabu seketika mengepul dari sela-sela jarinya. Artefak baja itu mulai meleleh akibat tekanan Qi yang dikompresi secara ekstrem. Cairan logam panas dan esensi sisik binatang buas mendidih, membakar kulit telapak tangan Lin Chen hingga melepuh. Alih-alih melepaskan genggamannya, pemuda itu justru mengalirkan *Napas Karang Esensi* secara terbalik, membuka pori-pori kulitnya lebar-lebar, dan menyedot lelehan logam itu masuk ke bawah kulitnya.
Tubuhnya mengejang hebat. Sensasi disuntik logam cair langsung ke dalam aliran darah dan tulang buku jari adalah siksaan yang membuat kewarasan berada di ujung tanduk. Urat-urat nadi di lengan Lin Chen menghitam sesaat sebelum kembali normal, menyerap esensi baja tersebut ke dalam sel-sel tulangnya.
Dua hari terakhir di Hutan Ilusi ia habiskan untuk menyelesaikan proses fusi yang mengerikan itu. Saat pusaran awan ungu di langit akhirnya bergemuruh—menandakan gerbang dimensi akan segera ditarik kembali ke dunia nyata—Lin Chen membuka matanya.
Ia mengangkat kedua kepalan tangannya. Secara kasat mata, tidak ada artefak yang membungkus tangannya. Kulitnya terlihat seperti kulit manusia biasa, warnanya sedikit lebih gelap dengan corak perunggu keabu-abuan. Saat ia mengetukkan kedua buku jarinya satu sama lain, suara yang keluar bukanlah suara daging atau tulang, melainkan dentingan logam padat yang sangat nyaring.
"Persiapan selesai," bisiknya perlahan. Ia berdiri, membiarkan jubah kotornya berkibar tertiup angin dimensi yang mulai tidak stabil. Sang predator bersiap kembali ke sarang utamanya.
Di Alun-alun Pelataran Luar Sekte Pedang Awan, matahari sore memancarkan warna jingga yang hangat. Ribuan murid, mulai dari tingkat satu hingga tingkat akhir, berkumpul membentuk lautan manusia. Tetua-tetua sekte duduk di balkon kehormatan, siap menilai hasil tangkapan dari dimensi Hutan Ilusi.
Di barisan terdepan, Zhao Tian duduk bersandar di kursi berukir kayu mahoni yang sengaja dibawa oleh pelayannya. Pemuda aristokrat berjubah merah marun itu tampak sangat santai. Tangannya memegang kipas lipat sutra. Senyum penuh kemenangan terukir jelas di bibirnya. Ia sedang menunggu momen puncaknya; menunggu Mo Jue dan lima puluh elitnya keluar membawa ribuan batu urat roh dan, yang terpenting, kepala Lin Chen yang terpenggal.
Su Mei berdiri di samping gerbang batu raksasa. Wajah dinginnya menatap pusaran energi ungu yang mulai berputar stabil.
"Waktu perburuan telah habis! Gerbang kembali dibuka!" seru Su Mei. Suaranya diperkuat oleh Qi, menggema ke seluruh alun-alun.
Pusaran dimensi memuntahkan gelombang pertama murid-murid yang berhasil selamat. Pemandangan itu jauh dari kata heroik. Ratusan murid keluar dengan kondisi mengenaskan; merangkak, memapah rekan yang kehilangan anggota tubuh, jubah robek bersimbah darah, dan wajah pucat pasi dipenuhi teror.
Para tetua mengerutkan dahi. Tingkat cedera tahun ini terlihat jauh lebih parah dari tahun-tahun sebelumnya.
Gelombang demi gelombang murid terus keluar. Setengah jam berlalu. Kelompok demi kelompok telah berbaris di alun-alun untuk menyerahkan hasil buruan mereka.
Zhao Tian mulai menghentikan ayunan kipasnya. Alisnya bertaut. Mo Jue dan pasukan Fraksi Pedang Darah belum juga terlihat. Sebagai kelompok terbesar dan terkuat yang masuk ke dalam sana, seharusnya mereka keluar paling awal dengan arogansi penuh.
Tepat saat kecemasan mulai merayapi hati para pengikut Fraksi Pedang Darah yang menunggu di alun-alun, sebuah kelompok berjubah putih bersih melangkah keluar dari portal. Kelompok itu adalah Fraksi Bunga Teratai, dipimpin oleh Li Xue. Kondisi mereka tidak kalah buruk, penuh luka dan debu, mata para gadis itu memancarkan kelegaan yang luar biasa bisa kembali menatap langit nyata.
Melihat Li Xue, seorang murid kepercayaan Zhao Tian segera berlari menghampiri gadis itu dengan raut wajah mendesak.
"Kakak Li Xue," panggil murid itu dengan nada arogan yang khas. "Tuan Muda Zhao Tian memerintahkanku untuk bertanya. Apakah kalian melihat rombongan Kakak Mo Jue di dalam sana? Mengapa mereka belum keluar?"
Ribuan pasang mata di alun-alun seketika beralih ke arah Li Xue. Suasana mendadak menjadi sangat sunyi. Semua orang menunggu kabar tentang faksi algojo tersebut.
Li Xue menghentikan langkahnya. Ia menatap murid utusan itu, lalu mengalihkan pandangannya ke atas balkon, menatap lurus ke arah Zhao Tian yang sedang duduk memegang kipasnya. Mengingat janjinya pada pemuda berjubah abu-abu di Lembah Seribu Gema, gadis itu menarik napas panjang. Ia mengalirkan Qi tingkat limanya untuk memperkuat volume suaranya.
"Kau mencari Mo Jue dan elit Fraksi Pedang Darah?" suara Li Xue terdengar lantang, memecah keheningan sore itu tanpa keraguan sedikit pun. "Jangan menunggu mereka. Tidak akan ada satu pun dari mereka yang keluar melewati gerbang itu hari ini, atau untuk selamanya."
Kening Zhao Tian berkerut tajam. Ia bangkit berdiri dari kursinya. "Omong kosong apa yang kau bicarakan, Li Xue?! Jangan berani memprovokasi kesabaranku!"
Li Xue tidak mundur selangkah pun dari tekanan aura tingkat tujuh milik Zhao Tian. Pemandangan neraka yang ia saksikan di dalam dimensi telah membuat nyalinya jauh lebih keras.
"Aku tidak membual, Zhao Tian!" balas Li Xue dengan suara yang bergema di seluruh alun-alun. "Lima puluh anggota elitmu, termasuk si kembar Ma dan Mo Jue sendiri, telah musnah! Mereka dimusnahkan hingga tak tersisa oleh satu orang! Fraksi Pedang Darahmu telah dikubur di bawah lumpur Hutan Ilusi!"
Ledakan keributan seketika pecah. Ribuan murid berteriak tidak percaya. Para tetua di balkon kehormatan saling berbisik dengan raut wajah terkejut. Lima puluh elit tingkat menengah dibantai oleh satu orang? Cerita ini terdengar seperti dongeng konyol. Siapa murid pelataran luar yang memiliki kekuatan selevel monster seperti itu?
"Satu orang?" Zhao Tian menggeram, urat lehernya menonjol. Ia melompat turun dari balkon kehormatan, mendarat di alun-alun dengan suara hantaman keras. Hawa membunuhnya meledak tak terkendali. "Katakan padaku siapa orangnya! Akan kucabik-cabik seluruh keluarganya!"
Li Xue menelan ludah, menatap pintu gerbang dimensi yang perlahan mulai menyusut.
"Tidak perlu dicari," ucap Li Xue pelan, menunjuk ke arah pusaran ungu tersebut. "Dia sudah kembali."
Tepat saat pusaran dimensi itu mengecil dan bersiap menutup secara permanen, sebuah siluet tunggal melangkah keluar dari kegelapan portal.
Langkah kakinya terdengar sangat berat.
*Clank... Tap... Clank... Tap...*
Suara benturan logam pelindung di balik jubah beradu dengan batu pualam alun-alun.
Lin Chen berdiri di sana. Penampilannya adalah perwujudan fisik dari mimpi buruk. Jubah abunya hanya tersisa separuh, melilit pinggangnya. Tubuh bagian atasnya terekspos, memperlihatkan otot perunggu yang dipenuhi bekas luka pertempuran ekstrem. Bau darah yang menguar dari tubuhnya begitu pekat hingga membuat beberapa murid di barisan depan mundur tanpa sadar, merasa seolah dicekik oleh hawa pembunuhan yang dibawa pemuda itu dari dimensi lain.
Kerumunan lautan manusia terbelah dengan sendirinya, memberikan jalan lurus dari gerbang dimensi menuju tempat Zhao Tian berdiri. Tidak ada yang berani menghalangi jalurnya. Tatapan mata Lin Chen mengunci Zhao Tian, meniadakan eksistensi ribuan orang lainnya di tempat itu.
"Lin... Chen..." desis Zhao Tian. Matanya memerah, perpaduan antara kebencian absolut dan ketidakpercayaan. Akal sehatnya menolak menerima bahwa pemuda sampah yang baru beberapa minggu lalu dipukuli oleh pesuruh rendahan, kini menjadi algojo yang menghancurkan seluruh fondasi kekuasaannya.
Lin Chen melangkah maju. Ia sama sekali tidak memancarkan fluktuasi Qi untuk mengintimidasi, keberadaan fisiknya saja sudah cukup untuk mendominasi ruang tersebut.
Ia berhenti tepat sepuluh langkah di depan Zhao Tian.
Pemuda itu merogoh sesuatu dari balik sisa jubahnya, lalu melemparkannya ke tanah, tepat di ujung sepatu sutra mewah milik Zhao Tian.
Sebuah kantong penyimpanan milik Mo Jue. Darah mengering di permukaan kantong tersebut.
"Anjing pelacakmu terlalu lemah," suara Lin Chen memecah keheningan, datar dan sangat dingin. "Lain kali, jika kau ingin mengambil nyawaku, pastikan kau datang sendiri, Tuan Muda Zhao."
Provokasi terbuka di depan seluruh tetua dan ribuan murid. Arogansi Lin Chen seperti menampar wajah Zhao Tian secara berulang kali dengan lempengan besi.
Zhao Tian kehilangan kewarasannya. Ia tidak peduli lagi pada aturan alun-alun atau pengawasan para tetua. Raungan binatang buas keluar dari tenggorokannya. Fluktuasi Qi Tahap Kondensasi Qi Tingkat Tujuh meledak bagai badai. Tekanan udara di sekitarnya menjadi sangat berat, membuat lantai pualam di bawah kakinya retak menyebar.
Bilah pedang merah darah, senjata spiritual tingkat menengah, ditarik dari sarungnya. Zhao Tian menerjang maju dengan kecepatan bayangan, mengincar langsung untuk membelah kepala Lin Chen menjadi dua.
"MATI KAU, SAMPAH!"
Melihat serangan mematikan dari praktisi tingkat tujuh, sebagian besar penonton menutup mata mereka. Perbedaan antara tingkat empat dan tingkat tujuh adalah perbedaan antara manusia dan langit. Hukum alam fana menyatakan bahwa serangan itu tidak mungkin ditahan tanpa senjata pelindung tingkat tinggi.
Kenyataannya membalikkan seluruh logika kultivasi.
Lin Chen tidak mundur selangkah pun. Ia tidak mencabut pedang. Ia tidak menunjukkan kepanikan.
Pemuda itu mengalirkan seluruh energi di Dantiannya yang kini berada di Tingkat Empat Puncak. *Napas Karang Esensi* bersinergi sempurna dengan 'Akar Tanah Besi'. Otot-otot di lengan kanannya memuai, kulitnya berubah warna menjadi abu-abu logam pekat. Ia mengepalkan tinjunya yang telah dilebur dengan esensi Sarung Tangan Sisik Baja.
Lin Chen melontarkan pukulan lurus ke atas, menyambut tebasan pedang mematikan Zhao Tian secara frontal menggunakan kepalan tangan kosong.
*TTRRRANGGG!!!*
Bukan suara daging terpotong, melainkan suara benturan dua logam solid yang bertabrakan dengan kecepatan tinggi. Gelombang kejut dahsyat meledak dari titik benturan, menciptakan pusaran angin yang menghempaskan puluhan murid di barisan terdepan hingga jatuh terjungkal.
Udara bergetar hebat.
Di tengah pusaran debu, pemandangan luar biasa tersaji. Tinju Lin Chen membeku di udara, beradu langsung dengan bilah pedang merah darah milik Zhao Tian. Pedang spiritual itu gagal menggores kulit buku jari Lin Chen barang satu milimeter pun. Kulit pemuda itu lebih keras dari senjata tempaan ahli.
Zhao Tian membelalakkan matanya ngeri. Tangannya yang memegang gagang pedang bergetar hebat, merasakan gaya pantul yang sangat brutal merambat naik menyiksa urat lengannya. Serangan kekuatan penuhnya dihentikan oleh tinju telanjang.
"Tingkat tujuh," ucap Lin Chen pelan, menatap lurus ke dalam mata Zhao Tian yang panik. "Apakah hanya sebatas ini kesombongan Fraksi Pedang Darah?"
Sebelum Zhao Tian sempat menarik pedangnya untuk melancarkan serangan kedua, sebuah tekanan aura yang ribuan kali lipat lebih mengerikan jatuh dari langit, menindih arena alun-alun seperti gunung tak kasat mata.
*Bruk! Bruk!*
Hampir seluruh murid yang berdiri di alun-alun, termasuk Zhao Tian, jatuh berlutut menghantam lantai pualam. Paru-paru mereka serasa diremas kuat. Fluktuasi Qi mereka terkunci sepenuhnya.
Hanya Lin Chen yang menolak untuk berlutut. Otot kakinya yang terbiasa menahan seratus kilogram Baja Hitam merintih, tulang punggungnya berderit, ia tetap berdiri tegak dengan gigi terkatup rapat, membiarkan urat di lehernya menonjol hingga nyaris pecah demi menahan tekanan tersebut.
Dari atas langit, sosok seorang pria tua berjanggut putih turun melayang tanpa menggunakan senjata spiritual apa pun. Ia mendarat di tengah-tengah Lin Chen dan Zhao Tian. Pria itu adalah Tetua Kepala Pelataran Luar, Tetua Agung Mo. Eksistensi yang berada di puncak Tahap Inti Emas, setengah langkah menuju ranah Jiwa Lahir.
"Apakah kalian menganggap Pelataran Luarku sebagai pasar jalanan tempat kalian bisa saling membunuh sesuka hati?" suara Tetua Agung Mo pelan, menggema di dalam benak setiap orang yang hadir.
Zhao Tian yang masih berlutut menggertakkan giginya. Ia menundukkan kepala. "Tetua Agung... pemuda ini membantai lima puluh anggota faksiku secara licik di dalam dimensi! Dia harus dihukum mati sesuai aturan sekte tentang pembunuhan massal terencana!"
"Hukum di Hutan Ilusi adalah kelangsungan hidup," potong Tetua Agung Mo tegas, melirik sekilas ke arah Zhao Tian dengan tatapan kecewa. "Jika lima puluh elitmu bisa dibantai oleh satu orang murid tanpa dukungan faksi, maka faksi kalianlah yang pantas dipertanyakan kualitasnya. Aku tidak akan menghukum seseorang karena dia lebih kuat dari mangsanya di alam liar."
Mendengar keputusan mutlak itu, rahang Zhao Tian mengeras. Kebenciannya terhadap Lin Chen kini telah mencapai titik di mana air dan api tidak bisa lagi berada dalam satu wadah.
"Jika sekte tidak menghukumnya," geram Zhao Tian, mengangkat wajahnya menatap Tetua Agung. "Maka biarkan aku yang menyelesaikan urusan kehormatan faksiku. Aku, Zhao Tian, menantang Lin Chen dalam Duel Hidup dan Mati di Puncak Pedang Terkutuk tiga puluh hari dari sekarang! Di bawah saksi langit dan bumi, di hadapan seluruh sekte, pemenang berjalan keluar, yang kalah menjadi debu!"
Duel Hidup dan Mati di Puncak Pedang Terkutuk. Itu bukan arena biasa. Itu adalah altar persembahan kuno. Sekali seseorang melangkah naik ke sana, formasi pelindung akan mengunci altar. Tidak ada tetua yang bisa ikut campur, tidak ada kata menyerah. Pertarungan hanya berakhir ketika salah satu pihak benar-benar terbunuh dan jiwanya dihancurkan. Mengajukan tantangan ini berarti memutus segala jalan kompromi.
Seluruh alun-alun menahan napas. Perbedaan kekuatan antara keduanya masih sangat jelas, meskipun Lin Chen baru saja menahan satu serangan. Zhao Tian belum mengeluarkan seni bela diri tingkat tinggi atau pusaka keluarganya. Waktu tiga puluh hari tidak akan cukup bagi praktisi tingkat empat untuk mengejar ketertinggalan menuju tingkat tujuh.
Tetua Agung Mo mengalihkan pandangannya pada Lin Chen. Ia mengamati keteguhan tubuh pemuda yang masih bersusah payah berdiri di bawah tekanannya itu. Ada apresiasi tersembunyi di balik mata tuanya.
"Duel semacam itu membutuhkan persetujuan kedua belah pihak. Lin Chen, kau berhak menolak, dan sekte akan melindungimu dari pembalasan di luar ring," tawar Tetua Agung Mo.
Tepat saat Lin Chen hendak membuka suara, layar biru transparan yang telah membimbingnya melewati neraka kembali berpendar dengan intensitas warna merah yang menyala-nyala.
**[Peristiwa Takdir Utama Terdeteksi: Puncak Pertarungan Alam Fana Menengah.]**
**[Musuh: Zhao Tian (Tahap Kondensasi Qi Tingkat 7). Waktu Persiapan: 30 Hari.]**
**[Silakan tentukan nasib Anda:]**
**[Pilihan 1: Tolak tantangan. Berlindung di bawah sayap sekte.
Hadiah: Anda hidup tenang sebagai murid pengecut. Sistem Pilihan Takdir akan menganggap Anda tidak layak dan memisahkan diri dari jiwa Anda. Kultivasi Anda hancur permanen.]**
**[Pilihan 2: Terima tantangan, berencana melarikan diri dari sekte di tengah malam sebelum hari duel tiba.
Hadiah: Anda menjadi buronan sekte. Hidup dalam pelarian. Dikejar oleh Tetua Penegak Hukum hingga ke ujung dunia sebelum akhirnya dieksekusi.]**
**[Pilihan 3: Terima tantangan mutlak. Gunakan waktu tiga puluh hari untuk menyelesaikan penyiksaan 'Mandi Urat Nadi Naga' di Kawah Vulkanik sekte belakang. Lepaskan belenggu Baja Hitam pada hari duel dan hancurkan sang aristokrat di depan mata dunia.
Hadiah: Anda meraih gelar 'Penguasa Pelataran Luar'. Hadiah rahasia untuk membuka jalan menuju Tahap Inti Emas. Fragmen Peta Dunia Tengah.]**
Membaca barisan teks bercahaya itu, senyum miring yang begitu kejam dan penuh antisipasi terbentuk di wajah Lin Chen. Tiga puluh hari persiapan. Mandi lava vulkanik. Sebuah rute penyiksaan baru telah disiapkan untuknya, rute yang menjanjikan kekuatan pembantai dewa di ujung jalannya.
Layar merah itu memudar. Tekanan di udara masih membelenggu fisik Lin Chen, tidak dengan semangatnya.
Pemuda itu mengangkat kepalanya tinggi-tinggi, menatap lurus ke arah Zhao Tian yang sedang berlutut memendam amarah. Suara Lin Chen kemudian bergema, memecah keheningan alun-alun dengan ketegasan yang menggetarkan jiwa setiap orang yang mendengarnya.
"Aku menerima tantanganmu," ucap Lin Chen mantap. "Tiga puluh hari dari sekarang, siapkan pusara terbaik untuk keluargamu, Zhao Tian. Karena Puncak Pedang Terkutuk akan menjadi kuburan massal bagi kesombonganmu."
Gema suaranya memantul di dinding gedung-gedung pelataran luar, menandai dimulainya hitung mundur menuju pertempuran paling berdarah dalam sejarah generasi sekte tersebut. Iblis Pelataran Luar tidak pernah mundur dari bayangan maut; ia justru menari bersamanya. Permainan takdir kini memasuki babak yang sesungguhnya.