NovelToon NovelToon
Perisai Sang Mafia

Perisai Sang Mafia

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Mafia / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:5.3k
Nilai: 5
Nama Author: Lisa

Reigan Douglas hanya bisa patuh saat Kakek memaksanya menikahi Hana—gadis "kampung" bermata bulat. Pernikahan itu terasa datar dan mati. Bagi Reigan, kehadiran wanita itu hanya akan membatasi geraknya sebagai penguasa Odelgard.

Namun, segalanya berubah ketika sebuah peluru melesat dan nyaris menembus pelipisnya. Reigan pun menyadari satu fakta yang menghantam egonya: peluru penyelamat itu berasal dari senjata milik Vesper—sniper legendaris yang ternyata adalah Hana, istrinya sendiri.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab. 22 Kembali ke pesta

Reigan terpaku di tempatnya berdiri, sepasang netra gelapnya mengunci pergerakan jemari lentik Hana yang baru saja mengantongi botol racun berukuran kecil itu tanpa sedikit pun keraguan. Rasa jengkel yang sempat meletup di dadanya karena Hana mengabaikan perintahnya, mendadak menguap, digantikan oleh debaran asing yang sarat akan ketakjuban yang menggelap.

Jadi senjata? batin Reigan. Dia pintar. Seulas senyum terlihat di bibir Reigan. Ada rasa kagum dan hormat, juga ... Bangga.

"Kita kembali ke pesta," ujar Reigan.

Hana mengangguk setuju. Mereka berjalan menuju aula seakan tidak ada sesuatu terjadi sebelumnya.

Beberapa meter di depan pintu ganda aula utama yang tertutup rapat, sayup-sayup alunan musik klasik dan gemuruh tawa basa-basi para elite klan mulai terdengar.

Koridor luar itu masih terasa sepi, ini menyisakan ketegangan sisa pertempuran yang masih menggantung pekat di antara Reigan dan Hana.

Hana menghentikan langkahnya mendadak, membuat Reigan ikut berhenti dan menatapnya datar.

"Ada apa?" tanya Reigan langsung waspada. Bola matanya beredar ke sekitar.

"Aku harus merapikan bajuku."

Reigan menoleh cepat dan menatap lurus pada wanita ini. "Apa?" tanyanya terkejut.

"Aku harus merapikan diri lebih dulu," tegas Hana dengan tekanan setiap kata-katanya.

"Kau ingin terlihat sempurna di mata orang-orang diluar sana?" Reigan tidak suka dan mencemooh.

"Tidak mungkin aku kembali ke pesta dengan acak-acakan." Hana menjawab dengan santai dan melirik Reigan. "Apa kau ingin aku terlihat berantakan di depan mereka dan membiarkan mereka berpikir liar tentang kita berdua?"

Tatapan mata Hana mengunci mata Reigan. Mendadak pikiran liar memasuki pikiran Reigan.

Brengsek! umpat Reigan paham. Lalu dia membuang muka untuk membiarkan Hana merapikan pakaiannya sebentar. Namun rasa penasaran menyerangnya. Mata Reigan mulai mengawasi dari samping.

Mendadak dengan gerakan impulsif, Reigan mengulurkan tangannya ikut merapikan anak rambut Hana. Ini membuat wanita ini melirik tajam. Seakan-akan perlakuan Reigan adalah penyerangan.

"Aku sedang membantumu," tepis Reigan dengan nada rendah tapi ada geraman. Dia tahu Hana terlihat waspada padanya. "Turunkan dulu bahumu." Reigan meminta Hana rileks sejenak.

"Dimanapun harus selalu waspada, Reigan."

Reigan menatap Hana tajam.

"Aku turunkan kewaspadaan sebentar untuk ini." Hana memberi Reigan kehormatan untuk membantunya.

Reigan kembali merapikan rambut Hana. Sedikit menikmati profil samping wanita ini. "Sudah." Reigan menjauhkan tangannya dari wajah Hana.

"Terima kasih," ujar Hana diplomatis. Kembali menajamkan pandangan untuk waspada.

Setelah memastikan tidak ada lagi jejak kekacauan yang tertinggal, Reigan kembali memasang topeng datarnya yang kaku dan tak tersentuh. Ia menegakkan tubuh tegapnya, lalu berbalik menghadap pintu ganda di depan mereka.

"Seperti sebelumnya." Reigan memberikan lengannya. "Gandeng tanganku."

Kali ini tidak ada cemoohan. Hana langsung patuh. Reigan mengangguk samar. Menyukai kepatuhan Hana tanpa drama. Hana tidak menyahut, ia hanya berjalan berdampingan di sisi Reigan saat pria itu mendorong pintu ganda aula pesta hingga terbuka lebar.

​Aura dingin langsung menyembur dari koridor saat mereka melangkah masuk kembali ke dalam kerumunan.

Aula utama kediaman besar Arthur Douglas masih berdenting riuh oleh tawa basa-basi para elite klan dan petinggi dewan tetua. Alunan musik klasik mengalun halus, mengaburkan fakta bahwa beberapa menit lalu, di lantai atas rumah ini, darah hampir saja tumpah dan konspirasi pembunuhan berdarah dingin hampir merenggut nyawa sang Patriark.

"Tuan muda datang," bisik Rowand. Kakek Arthur menoleh.

Dari jarak sepuluh meter, di dekat meja bar bundar, siluet pria dengan setelan tuksedo abu-abu mahal tampak berdiri sembari menyesap sampanyenya.

Leon.

Reigan langsung mengunci pandangannya pada pria asing itu. Rahang Reigan mengeras kaku, dan sepasang manik mata gelapnya menajam penuh kilat amarah. Ia bisa merasakan geraman rendah tertahan di pangkal tenggorokannya.

Bajingan itu berdiri di sana seolah tangannya benar-benar bersih di rumah kakek Douglas, padahal laporan kegagalan siber dari jalur gelap "Phantom"—nama kode misterius yang pergerakannya selalu mengarah pada satu sosok tak tersentuh—baru saja dikirimkan otomatis ke sistemnya.

Merasakan intensitas tatapan yang menghujamnya, Leon perlahan membalikkan tubuh. Pria itu sama sekali tidak terkejut atau panik. Sebaliknya, sudut bibir Leon terangkat, mengulas sebuah senyuman tipis yang sangat tenang, menyebalkan, dan sarat akan ejekan terselubung.

Leon tahu rencananya gagal, dan dia sengaja membiarkan Reigan tahu bahwa dialah eksekutornya, menantang sang Putra Mahkota untuk membuktikannya di depan dewan tetua yang saat ini memenuhi aula jika mampu. Sebagai pion utama dari jaringan Phantom, Leon tahu persis cara menghapus jejak taktisnya dengan rapi.

Hana yang berdiri di sisi Reigan ikut menangkap arah pandang suaminya. Sepasang mata bulatnya memicing, menatap lurus ke arah Leon dengan sorot es yang tajam dan analitis. Bagi Hana, senyuman Leon tidak lebih dari sekadar target baru yang perlu dipetakan pergerakannya.

Melihat Hana ikut memperhatikan musuhnya, senyum di wajah Leon justru berkembang semakin lebar. Pria itu sedikit mengangkat gelas sampanyenya ke udara.

Bajingan itu, desis Hana.

Leon sengaja melihat ke arah mereka berdua, sebuah gestur ramah yang seakan-akan sedang menyapa sepasang kawan lama yang sudah sangat ia rindukan.

Sifat main-mainnya yang psikopat terlihat jelas dari bagaimana ia menikmati setiap detak ketegangan di area kekuasaan Kakek Arthur ini.

Sret.

Sentuhan kaku namun sarat akan tenaga mendadak mendarat di pinggang Hana.

Hana melirik. Tersentak dengan apa yang dilakukan Reigan.

Tanpa peringatan, Reigan melepaskan tautan lengan mereka dan beralih mengunci pinggang ramping istrinya dengan tangan kekar. Ia menarik tubuh Hana dalam satu sentakan dominan hingga pinggul mereka merapat tanpa jarak di tengah aula pesta. Gerakan posesif yang mutlak dan penuh penekanan.

Reigan tidak mengalihkan pandangan gelapnya dari Leon. Melalui gestur itu, Reigan tidak hanya sedang menahan amarahnya agar tidak melompat mencekik leher penyusup itu di depan umum, melainkan juga sedang mengirimkan sinyal perang yang jelas kepada Leon: Jangan berani-berani menyentuh apa yang sudah menjadi milikku.

Hana sedikit tersentak saat tubuhnya menempel pada bidang dada keras Reigan. Ia membiarkan tangan pria itu mengurung pinggangnya, karena paham situasi yang terjadi. Wajahnya tetap datar, sementara matanya tetap mengunci setiap detail senyuman licin milik Leon di seberang ruangan.

Kakek Arthur yang sejak tadi melihat mereka tersenyum tipis. Seperti mendapat kemenangan.

"Itu pemandangan bagus, Rowand," ujar Kakek Arthur Douglas.

"Benar, Tuan." Rowand mengangguk setuju.

Di seberang ruangan, senyum di sudut bibir Leon membeku selama satu ketukan napas saat melihat cengkeraman erat tangan Reigan di pinggang Hana.

Sinyal kepemilikan yang ditunjukkan sang pewaris tunggal Douglas terlalu benderang untuk diabaikan. Rasa tidak nyaman yang samar mulai merayap di balik topeng tenang milik Leon.

Reigan sengaja memperdalam tekanan jemarinya, merasakan kehangatan tubuh Hana yang menembus kain merah marun gaunnya. Sudut matanya menangkap bagaimana para tetua klan mulai berbisik-bisik, menilai kedekatan intim mereka berdua.

1
Idah Faridah
dtunggu thor up nya
Idah Faridah
ternyata hana bukan perempuan biasa👍
Lady Ve: Terima kasih Sudah mampir untuk baca🙏
total 1 replies
Riri
reigan ketagihan dialog sama Hana...
Riri
aura gadis desa itu...
Riri
POV Marco: dikira jaman purba
Riri
😂😂😂
Riri
kayak horor punya suami kek Regan
Kusyanti Handayani
thorrr llamnnjuttt lah
E F
lanjuttttt thor dobleeeee🙏💪😍
E F
lanjuttt thor💪😍
Lady Ve: Terima kasih tetap baca.
total 1 replies
Anonim
❤️❤️❤️
Kusyanti Handayani
semangat ladyyyy lanjooootttt
E F
tq thor🙏😍
semangattttt
lanjutttt😄💪
Anonim
❤️❤️❤️
pawon ngebul
kakak othor pokoknya getar hrs update biar g getir nungguinya😩🥺🥺🥺🥺🙏🙏🙏🙏
Lady Ve: 🤣🤣🤣🤣. iya tenang ....
total 1 replies
Kusyanti Handayani
bikin bedebar hanaaaa
Kusyanti Handayani
lanjuttttt
Herlin
Hana..... Sangaaar
Lady Ve: 🔥🔥🔥🔥🔥
total 1 replies
E F
tq thor🙏😍
lanjuttt
smangattt💪😄
Lady Ve: Terima kasih😊
total 1 replies
E F
lanjuttt thor🙏😍dobleeee💪😄
Lady Ve: Siap. terima kasih sudah baca.
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!